“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Orang Ketiga?
“Nasya, apa kabar kamu? Makin cantik aja kalau Kakek liat,” sapa Priyangga yang paling dihormati di rumah ini sekaligus kakek Elgan.
Nasya bersalaman terlebih dahulu. “Nasya selalu baik asal ada Mas Elgan, Kek. Soalnya kalau ada dia, rasanya gak ada yang perlu dikhawatirkan. Kakek bagaimana?” balas Nasya.
“Senang dengarnya. Kakek baik juga, cuma kadang rindu dengan nenek yang sudah tenang disana. Iri melihat kalian,” jawab kakek bangga.
Nasya tersenyum mendengar balasan kakek. Di dalam keluarga ini, sepertinya hanya kakek saja yang mendukungnya. Dengan ketidaktahuannya bagaimana hubungan sebenarnya antara dirinya dan Elgan. Ada dua orang lagi yang sudah duduk, yakni papa Elgan yang berwajah datar dan Iren yang tak peduli.
“Kerjaan aman, El?” celetuk Edward, papanya.
Elgan sudah tidak kaget dengan pertanyaan ini. Papanya pasti akan menanyakan pekerjaan untuk pertama kali. Tidak peduli dengan keberadaannya, asalkan pekerjaan baik dan lancar. Edward tidak terlalu dekat, tapi tidak juga jauh. Dia hanya menjaga jarak karena kejadian masa lalu yang menimpa keluarganya. Entah kesalahan Elgan atau bukan, sikap Edward berubah sejak saat itu.
“Aman, Pa. Aku bisa menanganinya sendiri jika pun ada masalah,” balasnya.
Dari arah belakang Elgan, ada seorang anak perempuan yang bersemangat berlari memeluk paha Elgan karena tinggi badannya hanya sebatas itu. Elgan sedikit terkejut, tiba-tiba Lala datang dan menangis. Memeluknya semakin erat. Elgan menggendong dan memangkunya seraya mengusap-usap pucuk kepala Lala dengan lembut.
“Lala kenapa menangis?” tanya Elgan.
“Sebenarnya Lala tidak ingin cengeng, tapi Lala rindu Om. Om sudah lama tidak main bersama Lala,” jawab Lala dengan khas cara bicaranya.
Nasya mengusap pipi Lala yang basah. Dengan cekatan Iren melarangnya. “Tidak perlu kamu usap. Pipi Lala sensitif,” tegurnya.
“Oh, maaf. Aku gak tahu, Kak.” Nasya segera menurunkan tangannya.
“Sejak kapan?” tanya Elgan.
“Hari ini,” jawab Iren dingin.
“Kalau bicara dipikir dulu, Ren,” sahut Priyangga.
Priyangga menghela napas berat menyaksikan suasana yang tidak diinginkannya. Tidak ingin menutup mata, awal pernikahan Elgan memang sudah tidak ada yang setuju. Hingga akhirnya hari ini ketika mereka berkumpul harus bersitegang. Iren yang selalu mendukung apapun yang mamanya lakukan. Sedangkan, Edward tidak terlalu peduli dengan urusan Elgan.
“Udah-udah, kita makan dulu. Kasihan Kakek yang dari tadi udah nungguin Elgan. Kamu gak tahu kalau Kakek lagi gak enak badan, kan? Makanya, terkesan dadakan ngajak kumpul gini, El. Sampe papanya Lala lagi tugas di luar kota gak bisa ikut,” kata Alina.
“Sudah panggil dokter, Kek?” tanya Elgan khawatir.
“Sudah, dong. Namanya udah tua, jadi ada aja penyakitnya. Gak usah dipikirin, melihat kalian berkumpul begini saja sudah sangat menyenangkan untuk Kakek,” jawabnya sumringah
Elgan manggut-manggut paham dan masih memeluk keponakannya. Kakeknya memang paling pintar untuk menutupi segala keresahan hatinya. Namun, Elgan yang paling dekat dengan Priyangga mengetahui ada keresahan. Entah itu tentang rindu pada sang istri yang sudah tiada dan juga keadaan keluarga.
“Lala, turun. Waktunya makan,” ucap Iren pada Lala dengan tegas.
Lala menunduk pasrah mengikuti ucapan mamanya. Berpindah tempat pada kursi yang sudah disiapkan Iren. Nasya yang baru pertama kali ikut makan bersama di keluarga Elgan. Mulai menilai situasi yang sedang terjadi. Ternyata tidak seindah yang dipikirkannya. Tidak sehangat yang dia kira. Kekayaan yang dimiliki tidak menjamin hubungan baik di dalam keluarganya.
***
“Lala, mau ngapain? Sini, Tante bantuin,” ucap Nasya menghampiri Lala yang mencoba mengambil air minum.
Lala menggeleng. “Lala bisa sendiri. Kata Mama, Lala tidak boleh manja. Tidak boleh bergantung pada orang lain,” jawabnya yang masih tidak bisa menjangkau wadah air minum.
Nasya mengambil gelas di tangan Lala perlahan. “Lala kan tidak sampai. Makanya, perlu dibantu. Lala memangnya kelas berapa sekarang?” tanya Nasya.
“Tapi jangan bilang Mama, ya. Lala kelas enam.” Lala menyahuti, tapi ada rasa takut.
Sesuai dengan ketakutan Lala, gelas yang baru saja diarahkan pada Lala dan hendak dicapainya terjatuh. Gelas itu sudah tidak utuh lagi, pecah berserakan. Iren datang sengaja menyenggol tangan Nasya. Lala sampai menutup telinganya serta memejamkan matanya.
“Kamu tidak paham dengan peringatan tadi, ya? Tidak boleh menyentuh pipi, berarti tidak boleh juga memberikan apapun dari tanganmu!” tandas Iren penuh penegasan.
“Aku cuma mau bantu aja, Kak.” Nasya ingin sekali berjalan maju untuk menenangkan Lala, tapi dia tidak berani untuk itu.
“GAK PERLU! Tau bahasa manusia, kan?!” sahut Iren lagi nada suaranya meninggi.
Alina dari arah ruang keluarga berjalan dengan langkah besar mencari tahu apa yang terjadi. Matanya membelalak sempurna, membawa Lala dalam pelukannya. Sedangkan, Iren menatapnya tajam. Nasya merasa bersalah, bukan pada Iren maupun Alina. Tetapi, pada Lala yang sangat terkejut dan bisa saja terluka tanpa sengaja.
“Kamu lagi yang membuat masalah. Kayaknya kalau ada kamu, gak ada ketenangan,” kata Alina masih menahan karena masih ada Lala.
“Nenek, Ante Nasya tidak melakukan kesalahan. Lala saja yang pendek tidak bisa ambil minum sendiri,” bisik Lala takut jika Iren mendengarnya.
“Lala mending sana, deh. Kumpul sama Om, katanya mau ketemu Om Elgan. Jangan bikin masalah, lah,” titah Iren yang mengikuti langkah berat Lala.
Alina berdiri, menyilangkan kedua tangannya. Dia pun merasa aman jika memberi tekanan pada Nasya. Terutama Elgan yang sibuk mengobrol dengan kakek. Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu Alina datang juga. Menyulitkan, menginginkan Nasya menyerah, dan meninggalkan Elgan. Alina tidak ingin memakai satu cara, dia akan mencoba berbagai cara tanpa menyerah.
“Bersihkan semuanya, tanpa kecuali kekotoran di dapur dan sekitarnya. Jangan harap ada pembantu yang akan membantumu. Hari ini harimu, Nasya. Bekerja menjadi menantu baik dengan menuruti perkataan mertua.” Alina tertawa pelan saking puasnya.
“Lihat, cucian piring, pecahan gelas yang kamu sebabkan, lantai kotor, meja yang belum dibersihkan, dan sekalian pel lantai. Kalau bisa hal-hal kecil yang perlu dibersihkan. Segera bersihkan. Tenang saja, Mama akan menjaga Elgan untukmu,” lanjut Alina dengan perkataan yang sekaligus meninggalkan Nasya.
Nasya tidak bisa menyanggah apapun lagi jika sudah ditinggalkan begini. Dengan hati-hati, Nasya membersihkan yang berserakan di lantai terlebih dahulu karena takut jika membahayakan orang yang lewat. Setelah selesai, dia menuju ke meja makan yang masih berantakan. Ketika akan membawa piring kotor ke dapur, tiba-tiba Iren mendatanginya.
“Aku kasih tahu sekali lagi, ya. Meskipun, kamu sudah menikah dengan Kak Elgan. Kamu gak akan ada tempat disini. Aku minta juga, jangan pernah menyentuh dan mendekati Lala. Aku tidak mau dia kenapa-napa,” ujar Iren.
“Aku tau dan aku akan berusaha untuk diterima sampai kamu mau memanggilku kakak. Sekarang, mungkin belum waktunya. Lagipula, aku cuma mau kenal dan gak akan membahayakan Lala,” jawab Nasya bertahan dengan perlakuan Iren.
“Gak sekarang, tapi bisa berbahaya kapan saja, kan? Aku tidak mau juga Lala terpengaruh menjadi wanita murahan yang mau menjadi orang ketiga dihubungan orang yang mau serius. Najis gak sudi!” Iren bergidik ngeri mengatakannya.
“Maksudnya apa, ya? Orang ketiga?” Nasya tak menyangka dia akan mendengar ungkapan itu dari Iren yang bahkan tak mengenalnya sama sekian.