Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Dira menggigit bibirnya agar isaknya tak terdengar. Di dalam hatinya, ia sendiri tidak tahu apakah yang ia rasakan hanya rasa terima kasih, rasa kehilangan, atau sesuatu yang jauh lebih dalam. Yang ia tahu hanyalah satu. Sejak Adrian pergi, dunia terasa jauh lebih sepi.
Bu Emi tersenyum lembut. Ia tetap menggenggam tangan Dira, membiarkan gadis itu menenangkan tangisnya terlebih dahulu. " Dira," ucapnya pelan.
Dira membuka mata perlahan. Kelopak matanya sembap karena terlalu banyak menangis.
"Di usia seperti kamu, merasakan kagum kepada lawan jenis itu adalah hal yang wajar." Bu Emi menggenggam tangan Dira. "Tidak perlu malu dengan perasaanmu. Banyak orang pertama kali merasakan kekaguman ketika ada seseorang yang berbuat baik kepada mereka, apalagi jika orang itu hadir pada saat hidup mereka sedang berada di titik paling sulit."
Air mata Dira kembali menetes.
"Adrian menyelamatkanmu, memberimu kesempatan untuk sekolah, dan memperlakukanmu dengan hormat. Tidak mengherankan kalau kamu sangat menghargainya." Bu Emi tersenyum tipis. "Yang penting, jangan biarkan perasaan itu membuatmu berhenti menjalani hidupmu sendiri."
Dira menatap wajah Bu Emi.
"Ingat, Nak. Orang yang benar-benar ingin kamu banggakan tidak akan senang melihatmu terus-menerus larut dalam kesedihan."
Dira menggigit bibirnya.
"Kalau memang suatu hari nanti takdir mempertemukan kalian lagi, bukankah akan lebih baik jika Adrian melihatmu sebagai perempuan yang telah berhasil berdiri di atas kakinya sendiri?"
Kalimat itu membuat Dira perlahan mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak Adrian pergi, ia merasa dadanya sedikit lebih ringan. Ia sadar, merindukan seseorang adalah hal yang manusiawi. Namun ia juga harus tetap melangkah, karena kesempatan yang diberikan Adrian hanya akan berarti jika ia benar-benar mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
Tangis Dira makin deras. Ia tak lagi mampu menahan sesak yang selama ini dipendam sendirian. Gadis itu langsung memeluk Bu Emi erat-erat, menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat bersandar. Isaknya memenuhi kamar. "Bu..."
"Iya, Nak. Menangislah. Tidak apa-apa."
Dira menggeleng berkali-kali, seolah merasa bersalah atas perasaannya sendiri. "Bu... aku memang tidak tahu diri..." ucapnya di sela-sela isak tangis. "Aku... aku berani berharap pada Mas Adrian...."
Bu Emi mengusap punggung Dira dengan lembut. "Berharap apa, Nak?"
Dira menundukkan kepala semakin dalam.."Aku ingin suatu hari nanti bisa bertemu lagi dengannya. Aku ingin dia melihat kalau aku sudah berubah. Tapi... siapa aku, Bu?" Tangisnya semakin keras. "Aku cuma gadis jalanan... anak seorang pemabuk... Mas Adrian orang baik, orang kaya, berpendidikan.... Aku bahkan tidak pantas memikirkannya."
Bu Emi mengangkat wajah Dira perlahan. "Dengarkan Ibu."
Dira menatapnya dengan mata yang merah dan basah.
"Kamu tidak salah karena memiliki perasaan kagum kepada seseorang. Dan kamu juga tidak perlu merendahkan dirimu seperti itu. Tapi yang perlu kamu ingat, jangan jadikan harapan itu sebagai alasan untuk berhenti menghargai dirimu sendiri." Bu Emi tersenyum hangat. "Kalau memang kamu ingin membuat Adrian bangga, lakukan dengan cara yang benar. Belajarlah sungguh-sungguh, jadilah perempuan yang mandiri, dan bangun masa depanmu. Bukan demi mengejar seseorang, tetapi demi dirimu sendiri."
Dira menggigit bibirnya sambil mengangguk pelan.
"Kalau nanti takdir mempertemukan kalian lagi, biarlah itu menjadi hadiah dari perjuanganmu. Tapi kalau pun tidak, semua kerja kerasmu tetap akan membuat hidupmu jauh lebih baik."
Dira kembali memeluk Bu Emi. "Terima kasih, Bu..." Di pelukan perempuan yang telah ia anggap seperti ibunya sendiri itu, Dira menangis hingga semua sesak di dadanya perlahan mengalir bersama air mata. Untuk pertama kalinya, ia mengakui perasaannya, meski hanya kepada Bu Emi dan kepada dirinya sendiri.
Bu Emi mengusap air mata di pipi Dira, lalu menggenggam kedua tangannya. "Dira, dengarkan Ibu baik-baik."
Gadis itu mengangguk pelan.
"Kamu memang kehilangan sosok yang membuatmu merasa aman. Tapi jangan sampai kesedihan itu membuatmu lupa pada kesempatan yang sudah Tuhan berikan."
Dira menatap Bu Emi dengan mata yang masih sembap.
"Coba pikirkan. Kalau malam itu Adrian tidak lewat, apa yang akan terjadi padamu?"
Dira langsung menundukkan kepala. Dadanya kembali terasa sesak. Mungkin hidupnya sudah hancur. Mungkin ia tidak akan pernah menginjak bangku sekolah. Bahkan mungkin ia tidak akan memiliki masa depan.
"Karena itu, bersyukurlah, Nak," lanjut Bu Emi. "Hari ini kamu masih diberi kesempatan untuk belajar, tinggal di tempat yang aman, makan dengan layak, dan mengejar cita-citamu. Tidak semua anak seberuntung kamu."
Air mata Dira kembali mengalir, tetapi kali ini ia mengangguk pelan.
"Jangan sia-siakan kesempatan itu hanya karena kamu sedang merindukan seseorang." Bu Emi tersenyum lembut. "Kalau kamu benar-benar menghormati Adrian, balaslah semua kebaikannya dengan menjadi perempuan yang tangguh. Kejarlah semua ketertinggalanmu. Belajarlah lebih giat daripada siapa pun. Buktikan bahwa pertolongan yang diberikannya tidak sia-sia."
Dira mengepalkan kedua tangannya.
"Suatu hari nanti, ketika kamu berdiri dengan kakimu sendiri, kamu akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa semua perjuangan ini telah mengubah hidupmu."
Dira menarik napas panjang. "Baik, Bu," ucapnya dengan suara serak. "Aku akan belajar lebih keras. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan kepadaku."
Bu Emi tersenyum bangga. "Itulah Dira yang Ibu kenal. Ingat, masa lalu bukan untuk terus diratapi. Masa lalu adalah alasan mengapa kamu harus terus melangkah menuju masa depan."
Dira mengusap sisa air matanya, lalu mengangguk mantap. Ia sadar, Bu Emi benar..Jika ia terus tenggelam dalam kesedihan, ia tidak akan menjadi siapa-siapa. Namun jika ia berjuang mengubah nasibnya, setidaknya masih ada harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti ia bisa bertemu kembali dengan Adrian sebagai seseorang yang telah berhasil mengubah hidupnya.
Harapan itu kembali menyalakan semangat di dalam dirinya. Sejak hari itu, Dira menjalani rutinitas yang nyaris tidak masuk akal. Ia bangun sebelum fajar untuk belajar. Sepulang sekolah, ia langsung mengikuti kelas pendamping di yayasan. Malam harinya, ia kembali membuka buku hingga larut, mengulang pelajaran yang belum dipahami dan mengerjakan latihan soal tanpa henti.
Sering kali, ketika anak-anak lain sudah terlelap, lampu kamar Dira masih menyala. Ia baru memejamkan mata menjelang dini hari. Bahkan ada hari-hari ketika ia hanya tidur sekitar dua jam.
Bu Emi berkali-kali mengingatkannya untuk menjaga kesehatan. "Dira, belajar memang penting. Tapi tubuhmu juga butuh istirahat."
"Aku tidak apa-apa, Bu," jawab Dira sambil tersenyum. "Aku hanya ingin mengejar waktu yang sudah hilang."
Bu Emi hanya bisa menghela napas. Ia melihat tekad yang luar biasa dalam diri gadis itu, meski sesekali tetap memaksanya beristirahat agar tidak jatuh sakit..