SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 – Keputusan Kapten
Ruangan kembali sunyi.
Hologram Elias Voss telah menghilang.
Tidak ada suara.
Hanya cahaya putih redup yang menerangi meja bundar.
Reza memecah keheningan.
"Jadi kita disuruh pulang?"
Kapten Idris tidak langsung menjawab.
Kael berjalan mendekati meja.
"AURA, apakah semua rekaman berhasil disalin?"
"Berhasil."
"Bagus."
Lyra masih menatap koordinat yang tersisa di layar.
"Koordinat itu memang mengarah ke Galaksi Asterion."
"Tapi bukan ke pusat galaksi."
"Melainkan ke salah satu sistem bintang di pinggirannya."
---
Di ESS Horizon, Niko mulai menghitung rute.
"Kalau kita langsung menuju koordinat itu..."
"...perjalanan sekitar tiga puluh dua hari."
Darius bersandar di kursinya.
"Kalau kita kembali ke wilayah PPM?"
"Dua puluh lima hari."
Leo tersenyum kecil.
"Jadi pulang justru lebih dekat."
"Tapi tidak semudah itu," sahut Rina.
Semua menoleh kepadanya.
"Mesin kapal kita masih belum bisa digunakan."
---
Di ruang mesin, Owen mencoba menghubungkan kembali sistem penggerak.
Tetap gagal.
"Aneh."
Darius menghampiri.
"Apa sekarang?"
"Reaktor kita menghasilkan tenaga."
"Listrik menyala."
"Gravitasi normal."
"Tapi setiap kali daya dialirkan ke mesin..."
"...energinya hilang."
"Hilang ke mana?"
Owen menunjuk hasil pembacaan sensor.
"Masuk ke struktur ini."
---
Sementara itu, di ruang pertemuan...
Robot kecil yang sejak tadi diam tiba-tiba bergerak lagi.
Ia berjalan menuju dinding sebelah kanan.
Berhenti.
Lalu memancarkan cahaya biru.
Sebuah pintu rahasia perlahan terbuka.
Di baliknya terdapat lift berbentuk silinder.
"Sepertinya dia ingin kita ikut lagi," kata Kael.
Reza menghela napas.
"Robot ini lebih banyak memberi perintah daripada bicara."
Lyra tersenyum tipis.
"Karena memang dia tidak bisa bicara."
---
Kapten Idris melihat lift itu beberapa saat.
Kemudian ia menekan tombol komunikasi.
"Darius."
"Ya, Kapten."
"Apa kapal sudah bisa bergerak?"
"Belum."
"Kalau begitu kami lanjut menyelidiki."
"Baik."
---
Keempat orang memasuki lift.
Begitu pintu tertutup...
lift bergerak turun.
Tidak terasa getaran sedikit pun.
"AURA."
"Ya."
"Kedalaman kita?"
"Dua puluh meter."
"Tiga puluh meter."
"Lima puluh meter."
Angkanya terus bertambah.
Seratus meter.
Dua ratus meter.
Tiga ratus meter.
Kael mulai mengernyit.
"Struktur ini ternyata jauh lebih dalam."
Lyra mengangguk.
"Kalau bagian bawahnya sebesar bagian atas..."
"...tempat ini benar-benar luar biasa."
---
Lift akhirnya berhenti.
Pintu terbuka perlahan.
Di depan mereka terbentang sebuah aula yang sangat luas.
Langit-langitnya hampir tidak terlihat.
Di tengah aula berdiri puluhan kapsul transparan.
Tingginya sekitar tiga meter.
Tersusun rapi membentuk dua barisan panjang.
Semua kapsul tertutup rapat.
Lyra berjalan mendekat.
Di dalam salah satu kapsul...
terbaring seorang manusia.
"Kapten..."
Suara Lyra terdengar pelan.
Yang lain segera menghampiri.
Seorang pria berseragam PPM sedang tertidur di dalam kapsul.
Wajahnya tampak damai.
Tidak ada tanda penuaan yang berarti.
Mira yang mengamati melalui kamera langsung berkata,
"Kalau data visualnya benar..."
"...usia biologis orang itu sekitar empat puluh tahun."
Kael terdiam.
Padahal Pos Observasi Tujuh telah ditinggalkan lebih dari satu abad.
---
"AURA."
"Identifikasi wajah."
Beberapa detik berlalu.
"Hasil ditemukan."
Semua menunggu.
"Nama: Daniel Cross."
"Jabatan: Teknisi Energi."
"Pos Observasi Tujuh."
"Tahun penugasan: 2361."
Lyra perlahan mundur selangkah.
"Itu berarti..."
"...dia seharusnya sudah meninggal lebih dari seratus tahun yang lalu."
---
Reza memeriksa kapsul lain.
"Di sini juga ada."
Kael ikut melihat.
Lalu kapsul berikutnya.
Dan berikutnya lagi.
Setiap kapsul berisi satu orang.
Pria.
Wanita.
Berbagai usia.
Semuanya mengenakan seragam Pos Observasi Tujuh.
Tidak ada satu pun yang tampak membusuk.
Tidak ada kerusakan pada kapsul.
Rina yang melihat dari kapal mulai menghitung.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
"..."
"Seratus dua belas."
Ruangan mendadak hening.
Jumlahnya sama persis dengan daftar personel yang ditemukan di arsip.
Tidak kurang.
Tidak lebih.
---
Lyra mendekati salah satu panel di samping kapsul.
"Masih menyala."
Ia membaca data yang muncul.
"Denyut jantung..."
"...normal."
"Suhu tubuh..."
"...normal."
Reza langsung menoleh.
"Maksudmu..."
Lyra mengangguk pelan.
"Mereka..."
"...masih hidup."
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Selama seratus dua puluh enam tahun...
seluruh penghuni Pos Observasi Tujuh ternyata tidak pernah mati.
Mereka hanya...
tertidur.