Setelah menghadiri pesta pertunangan Rias Gremory sahabat kecilnya yang berakhir digagalkan oleh Sekiryuutei:Issei Hyoudou. Sona sitri di dorong oleh kakaknya Serafall untuk mencari keluarga baru demi menambah kekuatan tempur garis depan.
Menanggapi itu Sona mengamininya, lalu saat kembali ke dunia manusia. Dia menyaksikan seorang pemuda dengan sacred gear [Imperial Tiger Mantle] bertarung dengan malaikat jatuh tingkat tinggi.
Remaja itu mati terbunuh dan Sona membalas kematiannya dengan membunuh malaikat jatuh itu. Lalu mereinkarnasikan remaja itu yang ternyata masih murid akademi Kuoh sekelas dengan Issei sang sekiryuutei.
Inilah kisah Yudi sang Pawn Sitri yang bersumpah untuk selalu menjaga janjinya demi melindungi rekan-rekannya dari berbagai masalah.
Update rutin, kalau mendesak mungkin 1 chapter [Harap Maklum] Janga ragu Subscribe guys, kalau bisa pencet tombol likenya ya👍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Di ruang OSIS yang kini diterangi oleh lampu gantung utama akibat cahaya matahari senja yang telah pudar, Sona Sitri masih duduk kaku di kursi kebesarannya. Tangan kanannya baru saja membanting laci meja dengan keras, menyegel tumpukan kertas kontrak di dalamnya.
Dadanya naik turun, berusaha menstabilkan ritme jantungnya yang berpacu liar akibat teriakan melengking pemuda di seberang meja. Ia melirik tajam ke arah bidak Pawn barunya melalui sudut lensa kacamatanya.
Yudi tidak mempedulikan tatapan membunuh tersebut. Ia justru mencondongkan tubuhnya semakin jauh melewati tepi meja, menyatukan kedua telapak tangannya di depan hidung, dan menggosokkannya dengan gerakan memohon yang sangat dramatis.
"Kaichou, aku mohon dengan sangat... beritahukan padaku kisah tentang sisa dua Maou lainnya dong," rengek Yudi, suaranya dipanjangkan dengan intonasi memelas. Kepalanya dimiringkan ke kanan. "Tolong jangan buat aku penasaran setengah mati dan menggantung ceritanya di tengah jalan seperti ini. Aku janji akan diam dan mendengarkan!"
Sona memejamkan matanya rapat-rapat. Urat halus di pelipisnya berkedut pelan. Selama lima detik penuh, tidak ada suara yang keluar. Hanya terdengar suara ketukan pelan jari telunjuk Sona di atas permukaan meja kayu mahoni.
"Hah..."
Sebuah desahan napas panjang yang sarat akan kepasrahan akhirnya keluar dari sela bibir Sona. Ia membuka matanya, menyerah pada keras kepalanya pemuda itu. Ia menegakkan kembali postur punggungnya dan merapikan lipatan kerah seragamnya.
"Baiklah. Aku akan melanjutkan sisa informasinya," ucap Sona, nadanya kembali datar dan dingin. Matanya memicing, menyorot tajam lurus ke kornea Yudi. "Namun, dengarkan peringatanku baik-baik. Berhentilah membuat respons fisik atau suara teriakan yang berlebihan. Jika kau melanggarnya satu kali saja, aku bersumpah akan menyuruh Tsubaki untuk membekukan mulutmu."
Mendengar ancaman literal tersebut, Yudi segera menarik tubuhnya mundur. Ia duduk tegak dengan punggung menempel di sandaran kursi, mengangkat tangan kanannya setinggi telinga, membentuk gestur hormat ala militer.
"Siap, laksanakan, Kaichou!" balas Yudi dengan semangat yang ditekan, bibirnya tertutup rapat menahan senyum.
Sona mendecih sangat pelan. Pemuda ini bahkan belum genap satu menit berjanji, namun nada bicaranya yang terlampau bersemangat itu secara tidak langsung sudah melanggar instruksinya untuk bersikap tenang.
Namun, Sona memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah. Ia menggeser tumpukan dokumen di atas mejanya ke samping, membersihkan area pandangnya.
"Di posisi selanjutnya..." Sona kembali memulai narasinya dengan intonasi akademis. "...yang menempati kursi Beelzebub saat ini adalah seorang keturunan langsung dari pilar bangsawan Astaroth. Ia dikenal sebagai eksistensi yang memiliki kejeniusan tak tertandingi di seluruh dunia bawah, serta seorang ahli mutlak dalam memanipulasi geometris sihir iblis maupun ruang fisik dimensi manusia."
Sona melirik sekilas ke arah Yudi, memastikan pemuda itu tetap diam. "Dia adalah sosok tunggal yang menciptakan dan menyempurnakan sistem Evil Pieces—bidak catur yang ada di dalam tubuh kita—serta merancang sistem Rating Game dari nol. Namanya adalah Ajuka Beelzebub. Berkat kecerdasannya yang melampaui batas logika, ia dijuluki sebagai 'Sang Maestro Iblis'."
Usai menyebutkan nama dan pencapaian sang Raja Iblis ketiga, Sona kembali melirik ke arah Yudi. Dalam hati, Sona diam-diam menghitung detik. Ia sengaja memberikan jeda dramatis, berharap sekaligus menunggu reaksi ledakan antusiasme, lompatan, atau teriakan kekaguman dari pemuda tersebut seperti yang terjadi sebelumnya.
Namun, Sona kembali harus mendecih kecil tanpa suara. Harapannya meleset total. Bukan karena ia menyukai teriakan Yudi yang mengagetkan, melainkan jika Yudi berteriak lagi, Sona bisa mendapatkan alibi yang sah dan rasional untuk menghentikan seluruh pembahasan ini sekarang juga.
Ia sangat tidak ingin menyampaikan informasi terakhir mengenai siapa sosok yang duduk di kursi Raja Iblis keempat.
Keengganannya ini bukan berakar pada rasa benci terhadap sosok Maou terakhir tersebut, melainkan ia sangat tidak ingin melihat perubahan sikap dari Yudi nantinya.
Sona tidak ingin pemuda yang berani membantah dan meruntuhkan egonya siang tadi tiba-tiba berubah menjadi canggung, merasa sungkan, atau mendadak bersikap sangat hormat dan tunduk padanya hanya karena mengetahui fakta bahwa ia adalah adik kandung dari salah satu entitas terkuat di dunia supranatural.
Terteriaklah, Yudi. Tolong berteriaklah yang keras agar aku bisa mengusirmu dari ruangan ini sekarang juga, batin Sona, matanya terus mengunci pergerakan Yudi. Akan tetapi, remaja itu sepertinya memang telah digariskan takdir untuk selalu bertindak melenceng dari segala probabilitas kalkulasi Sona. Alih-alih berteriak antusias mendengar pencipta sistem sihir bereinkarnasi, Yudi justru menyandarkan punggungnya dalam-dalam, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menundukkan kepalanya merenung.
"Dia bisa menciptakan sebuah sistem sihir Evil Pieces yang bisa mengubah ras manusia menjadi iblis dari nol... dan merancang sistem kompetisi Rating Game berskala benua..." gumam Yudi pelan pada dirinya sendiri, suaranya nyaris menyerupai bisikan. Matanya menatap kosong ke lantai kayu. "Orang bernama Ajuka itu pasti seorang ilmuwan jenius tingkat dewa. Apa... kira-kira suatu saat nanti aku bisa memintanya waktu luang untuk sesi wawancara eksklusif? Aku sangat ingin tahu rahasia pola pikir strukturalnya..."
Sona hanya bisa terdiam membisu mendengar gumaman gila tersebut. Mengajak wawancara seorang Raja Iblis seolah-olah dia adalah seorang CEO perusahaan rintisan biasa.
Setelah merasa puas dengan renungan dan gumamannya sendiri, Yudi mendongakkan kepalanya. Ia kembali menatap Sona dengan mata yang jernih, sama sekali tidak terpengaruh oleh nama-nama besar yang baru saja ia dengar.
"Baiklah, aku sudah paham profil tiga orang itu," ucap Yudi ringan. Ia kembali mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lalu, siapa sosok terakhir yang menduduki kursi keempat, Kaichou?"
Tidak ada jalan mundur. Sona memejamkan matanya selama dua detik. Ia menarik napas perlahan, menekan dalam-dalam perasaan tidak amannya.
"Kursi Leviathan..." Sona membuka suaranya, nadanya terdengar sedikit lebih pelan dan berat dari sebelumnya. "...diduduki oleh seorang iblis wanita. Ia dijuluki sebagai 'The Great Woman of All Time' (Wanita Terhebat Sepanjang Masa), karena kapasitas dan kemampuannya dalam memanipulasi elemen es bersuhu absolut nyaris menyamai kekuatan murni dari Longinus Zenith Tempest atau Absolute Demise."
Sona membuka matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Yudi. "Namanya adalah Serafall Leviathan. Namun, nama aslinya sebelum naik tahta adalah... Serafall Sitri."
Sona segera menutup bibirnya rapat-rapat, mengakhiri rentetan jawaban dari seluruh pertanyaan Yudi. Udara di dalam ruangan terasa semakin berat. Sona menahan napasnya, menunggu dengan otot bahu yang menegang keras.
Di seberang meja, gerakan Yudi terhenti. Matanya sedikit melebar. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali secara beruntun.
"Sitri...?" beo Yudi pelan. Alisnya bertaut. "Hn... eh? Tunggu sebentar..."
Yudi mengangkat telunjuk tangan kanannya di udara. Otaknya bekerja dengan cepat merangkai dua informasi genetik yang sangat identik tersebut. "Sitri... bukannya itu adalah nama marga keluargamu sendiri, Kaichou? Kalau nama aslinya adalah Serafall Sitri, dan usianya lebih tua karena ikut dalam revolusi perang... lalu margamu juga Sitri... jangan-jangan..."
"Dia adalah kakak perempuan kandungku."
Sona memotong ucapan Yudi dengan cepat dan pelan sebelum pemuda itu berhasil menyelesaikan deduksinya secara lantang. Suara Sona bergetar halus, sangat berbeda dengan nada otoritatifnya yang biasa. Matanya tidak berkedip, terus mengawasi setiap pergerakan sekecil apa pun dari otot wajah Yudi untuk membaca arah reaksi psikologisnya.
Mendengar konfirmasi langsung yang mengejutkan tersebut, Yudi perlahan menarik tangannya yang berada di udara. Ia menurunkan wajahnya dalam-dalam hingga poni rambutnya menutupi seluruh matanya. Kedua tangannya kini bergerak naik, telapak tangannya menutupi kedua matanya sendiri. Ia membungkuk dalam diam.
Melihat perubahan drastis postur tubuh Yudi yang tiba-tiba tertunduk lesu tersebut, manik mata ungu pekat milik Sona bergetar kecil. Rahangnya menegang.
Ia sangat tahu arti dari gestur tersebut. Ia sudah terlalu sering melihatnya sepanjang hidupnya. Itu adalah bahasa tubuh universal yang menandakan munculnya kesadaran akan hierarki.
Itu adalah gestur penyesalan, rasa inferioritas, dan ketakutan karena baru saja menyadari bahwa selama ini mereka telah bersikap melampaui batas dan tidak sopan terhadap keluarga dari sosok dewa dunia bawah.