Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.
Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .
Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.
Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.
Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"
Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengemas Kenangan
Langit malam yang pekat perlahan-lahan mulai memudar di ujung timur, digantikan oleh semburat warna kelabu keunguan yang menandakan fajar akan segera tiba.
Udara pagi itu terasa luar biasa menggigit, membawa kabun tipis yang menyelimuti jalanan kota yang masih tertidur. Sebuah taksi tua berhenti sekitar lima puluh meter dari gang masuk menuju rumah Aluna.
Sopir taksi sengaja tidak masuk lebih dalam karena jalanan yang terlalu sempit dan dipenuhi oleh motor-motor warga yang diparkir di depan teras.
Aluna turun terlebih dahulu, diikuti oleh Elvan yang melangkah dengan waspada. Ketegangan yang melanda Aluna sejak di rumah sakit belum juga surut. Setiap kali ia memikirkan ancaman Doni, jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.
Ia merapatkan jaket rajut usang yang baru saja ia ambil dari tas kerjanya, mencoba menghalau rasa dingin sekaligus rasa takut yang kian merayap.
"Mas Elvan, kita harus cepat," bisik Aluna sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang asing yang mencurigakan di sekitar gang mereka. "Saya takut anak buah rentenir itu sudah mengintai di sekitar sini."
Elvan mengangguk tenang. Pria itu berjalan sedikit di depan Aluna, memposisikan tubuh tegapnya sebagai perisai alami jika tiba-tiba ada serangan mendadak.
Sepasang mata elangnya menyapu setiap sudut gang dengan sangat jeli. Sebagai seorang yang biasa hidup di lingkungan bisnis yang penuh intrik dan ancaman penculikan korporat, Elvan memiliki insting kewaspadaan yang jauh lebih tinggi daripada orang awam. Ia tahu bagaimana membaca tanda-tanda bahaya dari gerak-gerik lingkungan sekitar.
"Tenanglah, Aluna. Jangan berjalan tergesa-gesa seperti orang bersalah, itu justru akan menarik perhatian warga atau orang yang mungkin sedang mengintaimu. Berjalanlah dengan wajar. Saya ada di belakangmu," ucap Elvan dengan suara baritonnya yang rendah dan sangat menenangkan.
Mendengar ucapan itu, Aluna sedikit menarik napas dalam-dalam. Keberadaan Elvan di sampingnya terasa seperti sebuah keajaiban yang nyata. Pria asing yang beberapa jam lalu tidak ia kenal sama sekali, kini berjalan bersamanya sebagai seorang suami sah yang siap melindunginya.
Aluna melirik penampilan Elvan dari samping, kaus polos hitamnya kini sedikit kusut, dan celana jinsnya tampak berdebu, namun aura kepemimpinan dan wibawa yang terpancar dari pembawaannya sama sekali tidak bisa disembunyikan oleh pakaian murah tersebut. Aluna kembali meyakinkan dirinya bahwa Elvan adalah orang baik yang dikirimkan Tuhan untuk membantunya.
Mereka akhirnya tiba di depan pagar besi rumah Aluna yang catnya sudah banyak yang terkelupas. Pintu depan rumah masih tampak tertutup rapat, persis seperti saat Aluna meninggalkannya bersama petugas ambulans beberapa jam lalu.
Aluna merogoh saku roknya, mengeluarkan anak kunci dengan tangan yang gemetar. Butuh waktu beberapa detik bagi Aluna hanya untuk memasukkan kunci ke dalam lubangnya karena jarinya yang terus bergetar hebat akibat luapan emosi.
Klik.
Pintu terbuka dengan suara derit yang pelan. Begitu melangkah masuk ke dalam ruang tamu, pemandangan memilukan dari babak belur ayahnya kembali tergambar jelas di benak Aluna.
Noda darah kering di atas lantai semen tampak seperti tato kelam yang mengingatkannya pada kekejaman Doni.
Meja yang terbalik dan pecahan vas bunga masih berserakan di sudut ruangan, menciptakan atmosfer rumah yang terasa sangat asing, dingin, dan tidak lagi ramah.
Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya bernaung dan menyimpan sejuta kenangan manis bersama mendiang ibunya dan ayahnya, kini telah berubah menjadi zona berbahaya yang harus ia tinggalkan demi keselamatan jiwanya.
"Mas Elvan, tolong tunggu di luar atau di ruang tamu sebentar. Saya akan langsung ke kamar Ayah untuk mengambil dokumen penting dan uang tabungan yang Ayah sebutkan tadi," ujar Aluna dengan suara serak.
"Saya ikut ke dalam," potong Elvan dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Kita tidak tahu apakah kakak tirimu sempat kembali ke sini setelah saya dan kamu pergi ke rumah sakit, atau mungkin ada orang lain yang bersembunyi di dalam kamar."
Aluna terdiam, lalu mengangguk lemah. Ia menyadari kebenaran ucapan Elvan.
Dengan langkah yang sangat hati-hati, mereka berjalan melewati ruang tengah menuju kamar utama milik ayahnya.
Pintu kamar tersebut sedikit terbuka. Elvan mendorongnya perlahan dengan ujung jarinya, lalu melangkah masuk terlebih dahulu sebelum mempersilakan Aluna masuk.
Kamar itu tampak sepi dan rapi, tidak tersentuh oleh amukan Doni semalam karena Doni hanya fokus menyerang ayahnya di ruang tamu untuk merebut sertifikat rumah yang disimpan di tempat lain.
Aluna langsung menuju lemari pakaian kayu tua yang berada di pojok kamar. Dengan tangan yang masih gemetar, ia membuka pintu lemari yang mengeluarkan aroma kapur barus yang khas.
Ia menyingkirkan beberapa potong kemeja batik usang milik ayahnya dan tumpukan kain sarung yang tersusun rapi di bagian paling bawah. Jantungnya berdegup kencang saat jemarinya menyentuh sebuah benda tebal di balik tumpukan sarung tersebut.
Sebuah amplop cokelat berukuran besar.
Aluna menarik amplop itu keluar. Ketika ia membukanya, air matanya kembali menetes.
Di dalam amplop itu terdapat seberkas dokumen penting, kartu keluarga, akta kelahirannya, kartu jaminan kesehatan ayahnya, dan seikat uang tunai pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu rupiah yang diikat dengan karet gelang.
Jumlahnya tidak terlalu banyak, mungkin sekitar lima atau enam juta rupiah, namun bagi Aluna, uang ini adalah tetesan keringat dan cinta terakhir dari ayahnya yang rela menyisihkan sisa uang pensiun kecilnya demi mempersiapkan masa depan pelarian putrinya.
"Uangnya ada, Mas," bisik Aluna sambil mendekap amplop cokelat itu erat-erat ke dadanya, seolah sedang memeluk ayahnya sendiri.
Elvan yang berdiri di dekat jendela kamar sambil memperhatikan situasi luar melalui celah gorden, menoleh perlahan. Ia menatap Aluna dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa simpati. "Baguslah.
Masukkan dokumen dan uang itu ke dalam tasmu sekarang. Jangan biarkan tergeletak di luar. Setelah itu, ambil beberapa pakaianmu dan ayahmu yang paling penting. Kita tidak bisa membawa banyak barang, cukup satu tas ransel atau koper kecil saja agar pergerakan kita tidak terhambat."
Aluna mengangguk patuh. Ia bergegas menuju kamarnya sendiri yang berada tepat di sebelah kamar ayahnya. Di dalam kamar kecil berukuran dua kali tiga meter itu, Aluna mengambil sebuah tas ransel hitam yang biasa ia gunakan saat kuliah dulu.
Dengan gerakan cepat dan efisien, ia memasukkan beberapa potong pakaian kerja, pakaian santai, peralatan mandi, dan beberapa lembar pakaian milik ayahnya.
Setiap kali ia memasukkan sepotong baju, hatinya terasa teriris. Ia sedang mengemas hidupnya ke dalam sebuah tas ransel kecil, meninggalkan seluruh kenyamanan dan sejarah hidup yang sudah ia bangun di rumah ini.
Saat sedang mengemas pakaian, mata Aluna tidak sengaja tertuju pada sebuah bingkai foto kecil yang terletak di atas meja belajarnya. Itu adalah foto dirinya bersama Kafka yang diambil setahun lalu saat mereka merayakan hari jadi hubungan mereka di sebuah taman kota. Di dalam foto itu, Kafka tampak tersenyum manis sambil merangkul pundaknya, sebuah senyuman yang dulu selalu berhasil membuat seluruh rasa lelah Aluna hilang seketika.
Rasa perih dan amarah yang sempat teredam oleh kepanikan urusan ayahnya kini kembali menyeruak ke permukaan dengan intensitas yang sama hebatnya. Aluna mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih.
Pria di dalam foto itu adalah pengkhianat busuk yang berniat menjadikannya alat pemuas kebutuhan finansial untuk membiayai wanita lain.
Dengan kemarahan yang meluap-luap, Aluna mengambil bingkai foto tersebut, lalu menghempaskannya dengan keras ke dalam keranjang sampah di bawah meja. Kaca bingkainya pecah berantakan, merusak wajah Kafka di dalam foto itu, persis seperti bagaimana pria itu menghancurkan kepercayaan dan ketulusan hati Aluna.
"Tidak akan ada lagi air mata untukmu, Kafka. Kamu sudah mati di hidupku," bisik Aluna dengan nada suara yang dingin dan penuh dendam.
Elvan yang mendengar suara pecahan kaca dari arah kamar Aluna langsung melangkah cepat menghampiri. Ia berdiri di ambang pintu dengan wajah waspada. "Aluna, ada apa? Apa yang terjadi?"
Aluna menoleh, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat mengeras. Ia tersenyum tipis yang dipenuhi rasa bersalah. "Tidak apa-apa, Mas Elvan. Cuma bingkai foto lama yang tidak sengaja terjatuh saat saya merapikan barang. Semuanya sudah selesai. Saya sudah siap untuk pergi."
Elvan menatap keranjang sampah sejenak, melihat pecahan kaca dan foto yang robek di dalamnya. Pria cerdas seperti Elvan tentu saja langsung bisa menebak apa yang baru saja terjadi. Wanita ini sedang membuang masa lalunya yang menyakitkan. Elvan tidak berkomentar apa-apa, ia menghormati privasi istri barunya itu. Ia hanya mengangguk, lalu mengambil alih tas ransel hitam yang tampak cukup berat dari tangan Aluna, menyampirkannya di atas pundaknya yang tegap dengan sangat mudah.
"Mari kita pergi dari sini sebelum matahari benar-benar terbit dan orang-orang mulai beraktivitas," ajak Elvan sambil berjalan memimpin jalan keluar dari rumah.
Aluna mengikuti dari belakang, melangkah keluar melewati ruang tamu untuk terakhir kalinya. Sebelum menutup pintu depan, Aluna membalikkan badannya dan menatap ke dalam ruangan rumahnya yang gelap dan sunyi selama beberapa detik.
Di dalam hatinya, ia mengucapkan selamat tinggal pada masa lalunya yang penuh dengan kesialan bertubi-tubi. Ia menutup pintu kayu itu perlahan, menguncinya rapat-rapat, dan menyerahkan kunci rumah tersebut ke dalam tasnya.
Begitu mereka melangkah keluar dari pagar halaman rumah dan berjalan menyusuri gang yang mulai remang-remang diterangi cahaya fajar, Aluna merasakan sebuah genggaman hangat di tangan kanannya. Ia tersentak kecil dan menoleh ke samping.
Elvan telah menggenggam jemarinya yang dingin dengan sangat erat, memberikan sebuah kepastian dan perlindungan yang sangat nyata tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Genggaman tangan itu terasa begitu kokoh, seolah-olah sedang menyalurkan kekuatan baru ke dalam tubuh Aluna yang sudah di ambang batas kelelahan. Di bawah langit subuh yang perlahan mulai terang, Aluna melangkah maju berdampingan dengan suami dadakannya.
Mereka sedang berjalan menuju ketidakpastian, mencari pelarian dan sebuah tempat tinggal baru yang aman dari kejaran rentenir, memulai sebuah lembaran hidup baru yang penuh dengan rahasia besar yang belum terungkap.