NovelToon NovelToon
Harusnya Aku Yang Disana

Harusnya Aku Yang Disana

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penawar Luka dalam Sujud yang Murni

​Di bawah pohon besar yang tumbuh kokoh di sudut taman kota asing itu, Kirana masih meringkuk pasrah. Dunia di sekelilingnya mendadak terasa begitu sunyi dan hampa. Suara bising dari deru kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya kejauhan terdengar sangat samar, seolah-olah raganya sengaja ditarik masuk ke dalam sebuah gelembung kedap udara yang hanya menyisakan gema isak tangisnya sendiri.

Dinginnya tanah yang dia duduki perlahan merembet naik, namun rasa dingin itu sama sekali tidak mampu mengalahkan rasa beku yang telah menjalar hebat di dalam ulu hatinya.

​Bahunya terguncang hebat tanpa henti. Setiap kali dia mencoba menarik napas, dadanya terasa sangat sesak seakan-akan pasokan oksigen di sekitarnya sengaja diangkat paksa.

Memori-memori masa lalu bersama Dimas kembali berkelebat tanpa bisa dia cegah. Senyum manis pria itu, tatapan matanya yang dahulu terasa begitu meneduhkan, serta barisan janji manis yang pernah diucapkan dengan penuh keyakinan selama dua tahun ini, kini menjelma menjadi bilah-bilah pisau tak kasat mata yang terus-menerus mengoyak batinnya hingga hancur lebur tanpa sisa. Semua kemewahan perhatian yang dulu dibanggakannya, kini terbukti hanyalah sebuah racun manis yang sengaja disuntikkan untuk melumpuhkan akal sehatnya.

​"Kenapa harus aku yang mengalami ini semua? Apa salahku?" ratap Kirana dengan suara yang sangat parau, hampir habis tertahan di tenggorokan yang terasa kering kerontang.

​Air matanya terus mengalir deras, membasahi kain penutup kepalanya yang kini sudah tampak sedikit berantakan. Di tengah kepedihan yang luar biasa hebat itu, di saat jiwanya merasa telah berada di titik paling nadir, tiba-tiba sebuah suara yang teramat merdu memecah keheningan sore kota asing tersebut. Gema panggilan suci untuk beribadah berkumandang dengan sangat syahdu dari sebuah rumah ibadah yang terletak tidak jauh dari area taman. Lantunan suara itu merambat perlahan melalui embusan angin sore, menembus sekat-sekat kesunyian di dalam batin Kirana, lalu menyentuh relung hatinya yang paling dalam dengan kehangatan yang tak biasa.

​Kirana perlahan mendongakkan kepalanya yang terasa sangat berat. Dengan pandangan yang masih mengabur karena genangan air mata di kelopak, dia menatap lurus ke arah menara bangunan suci yang berdiri kokoh di balik rimbunnya pepohonan taman. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama menjalani proses pencarian spiritual, Kirana tidak lagi merasakan adanya dorongan egois untuk memeluk keyakinan baru ini hanya demi menyamakan arah sujud dengan Dimas. Keinginan semu yang selama ini menjadi bahan bakarnya untuk bertahan, kini telah mati sepenuhnya, ikut terkubur bersama runtuhnya panggung pelaminan mewah sang pria pengkhianat di gedung pertemuan tadi.

​Namun, di atas puing-puing kematian keinginan egoisnya itu, sebuah rasa rindu baru muncul secara perlahan di dalam dadanya. Rasa rindu yang sangat murni, bersih, dan tidak lagi tercampur oleh ambisi keduniawian. Itu adalah rasa rindu pada sebuah tempat bersandar yang sesungguhnya—sebuah tempat yang tidak akan pernah mengkhianati ketulusannya, dan sebuah dekapan hangat yang tidak akan pernah melepaskannya meskipun seluruh dunia memilih untuk pergi mencampakkannya.

​"Aku... aku selama ini telah melangkah di jalan yang salah," bisik Kirana lirih pada dirinya sendiri, sementara setitik air mata kembali jatuh membasahi pipinya yang pucat.

"Aku telah menempatkan seorang manusia biasa sebagai pusat dari segalanya di dalam hatiku. Aku telah mencintai ciptaan-Mu jauh melebihi rasa cintaku kepada-Mu yang telah menciptakan diriku."

​Sadar akan kekeliruan fatal yang selama ini dia lakukan, Kirana merasa bagai baru saja ditampar keras oleh kenyataan hidup. Dia menyadari sepenuhnya bahwa selama ini, perjuangannya untuk mempelajari keyakinan baru ini, serta setiap langkah kakinya saat menghadiri kelompok kajian spiritual, semuanya murni dia lakukan hanya demi mendapatkan restu dan cinta dari seorang Dimas. Dan sekarang, ketika sosok yang dia dewakan itu terbukti berkhianat dengan sangat keji, batin Kirana langsung terasa kosong melompong. Dia baru sadar bahwa rumah baru yang sedang dia bangun di dalam jiwanya belum benar-benar diisi oleh rasa cinta yang tulus kepada Sang Pemilik Kehidupan.

​Di tengah lamunan duka yang begitu mendalam, sebuah sentuhan hangat yang sangat lembut tiba-tiba mendarat di pundaknya yang masih gemetaran. Kirana tersentak kecil, lalu perlahan menolehkan kepalanya ke belakang. Di sana, berdiri Aisyah dengan napas yang masih memburu tidak teratur. Penampilan sahabat barunya itu tampak cukup berantakan; penutup kepalanya sedikit miring dan peluh tampak membasahi keningnya, membuktikan seberapa keras usahanya berlari mengitari area luar gedung demi mencari keberadaan Kirana yang pergi begitu saja tanpa pamit.

​"Kirana... astaga, akhirnya aku bisa menemukan kamu!" ucap Aisyah dengan suara yang bergetar menahan rasa cemas.

​Tanpa mengajukan satu pun pertanyaan yang menuntut, dan tanpa meminta penjelasan apa pun mengenai kekacauan dramatis yang baru saja terjadi di dalam gedung tadi, Aisyah langsung mendudukkan dirinya di atas rumput taman tepat di samping Kirana. Dia langsung menarik tubuh ringkih sahabatnya itu ke dalam sebuah pelukan yang sangat erat dan tulus.

Aisyah membiarkan pundaknya basah oleh air mata Kirana yang kembali tumpah dengan begitu derasnya. Dalam keheningan sore itu, pelukan hangat Aisyah seolah menjadi satu-satunya pelindung yang menjaga agar tubuh Kirana tidak runtuh berantakan di atas tanah.

​Kirana merasa sangat tersentuh dengan ketulusan yang ditunjukkan oleh sahabat barunya itu.

"Aisyah... aku... duniaku benar-benar telah hancur rata dengan tanah," isak Kirana di sela-sela tangisnya yang tertahan di dada Aisyah.

​"Aku tahu, Kirana. Aku sangat tahu," bisik Aisyah dengan nada suara yang teramat lembut, menenangkan batin yang sedang terluka layaknya seorang kakak yang merangkul adiknya.

"Kamu tidak perlu menceritakan apa pun kepadaku sekarang jika itu membuat dadamu terasa semakin sakit. Tapi tolong ingat satu hal ini baik-baik, kamu tidak pernah benar-benar sendirian di dunia ini. Kamu memiliki Sang Pencipta yang akan selalu memeluk erat hati setiap hamba-Nya yang sedang terluka."

​Setiap patah kata yang diucapkan oleh Aisyah terasa bagaikan siraman air es yang sangat sejuk di atas bara api yang sejak tadi membakar rongga dada Kirana. Kirana merasakan debaran jantungnya yang semula sangat kacau perlahan-lahan mulai kembali teratur. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba sekuat tenaga untuk meredakan isak tangisnya yang sempat menguasai seluruh raganya.

​"Aisyah... tolong antar aku ke rumah ibadah itu sekarang," pinta Kirana dengan nada suara yang meskipun masih terdengar parau, namun kini sudah memiliki sebuah ketegasan yang baru. "Aku ingin bersujud di sana. Kali ini, langkahku bukan karena ingin mengejar siapa-siapa lagi. Aku hanya ingin bersujud... benar-benar hanya untuk mencari kedamaian dan menyembuhkan jiwaku yang sudah terlanjur terluka."

​Mendengarkan permintaan tulus tersebut, seulas senyuman bahagia langsung merekah indah di wajah Aisyah. Dia menganggukkan kepalanya dengan mantap, lalu membantu Kirana untuk bangkit berdiri tegak kembali. Mereka berdua kemudian berjalan beriringan dengan langkah perlahan menuju bangunan suci yang berdiri anggun di balik pepohonan taman.

​Suasana di dalam bangunan suci tersebut terasa sangat tenang, damai, dan sarat akan energi positif yang menyejukkan batin. Kirana melangkah pelan menuju tempat membasuh diri. Dia mengambil air penyuci dengan gerakan yang sangat perlahan, meresapi setiap tetesan air dingin yang menyentuh kulit wajah, tangan, hingga kakinya. Sensasi dingin air tersebut seolah ikut menghanyutkan sisa-sisa debu duka dan air mata pengkhianatan yang sempat melekat erat di wajahnya sejak siang tadi.

​Saat Kirana akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang utama ibadah dan berdiri tegak di atas selembar sajadah yang bersih, dia tidak lagi memikirkan sosok Dimas. Bayangan tentang kemegahan pesta pernikahan, gaun beludru hitam yang gagah, serta senyuman palsu sang pria pengkhianat kini telah menguap sepenuhnya dari benaknya. Fokusnya kini murni terarah pada keberadaan Sang Pencipta yang senantiasa menanti kepulangannya dengan penuh kasih sayang.

​Dalam gerakan sujudnya yang teramat panjang dan khusyuk, air mata Kirana kembali jatuh membasahi permukaan alas ibadahnya. Akan tetapi, kali ini air mata yang menetes bukan lagi representasi dari rasa sesak akibat dikhianati atau rasa terhina karena dibohongi selama dua tahun penuh. Itu adalah air mata kelegaan yang luar biasa luas. Kirana merasa seluruh beban berat tak kasat mata yang selama ini menghimpit pundaknya hingga membuatnya sulit bernapas, kini telah diangkat sepenuhnya tanpa tersisa. Dia telah berhasil memutuskan rantai keterikatan egonya pada sosok manusia, dan kini dia siap memulai sebuah ikatan pengabdian yang baru dan murni hanya kepada Tuhannya.

​"Ya Tuhan, terima kasih banyak atas rasa sakit yang amat sangat mendalam ini. Karena jika Engkau tidak mematahkan hatiku dengan cara seperti ini, mungkin aku tidak akan pernah tersadar bahwa jiwaku sudah sangat rindu untuk pulang ke rumah-Mu yang sesungguhnya," doa Kirana di dalam keheningan batinnya dengan sangat khusyuk.

​Usai menyelesaikan sembahyangnya dengan sempurna, Kirana perlahan bangkit berdiri. Dia merasakan tubuhnya kini jauh lebih ringan, dan ada sebuah kekuatan baru yang mengalir di dalam pembuluh darahnya. Aisyah yang sejak tadi setia menunggu dengan sabar di teras bangunan suci, langsung menyambutnya dengan seulas senyuman hangat yang meneduhkan.

​"Sudah merasa jauh lebih baik?" tanya Aisyah lembut.

​Kirana menganggukkan kepalanya dengan sangat mantap, mengulas sebuah senyuman tulus yang baru pertama kali muncul di wajahnya setelah berbulan-bulan lamanya didera rasa insecure dan penantian sepi. "Aku merasa sudah menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini menyiksa batinku, Aisyah. Ternyata, penawar dari segala bentuk luka hati di dunia ini tidak akan pernah bisa kita temukan di tangan manusia, melainkan di dalam sebuah kepasrahan sujud yang murni hanya kepada-Nya."

​Aisyah kembali merangkul pundak Kirana dengan erat, berjalan bersama meninggalkan pelataran bangunan suci itu menuju masa depan yang baru. Kirana tahu bahwa jalan kehidupan yang membentang di hadapannya di kota asing ini tidak akan berjalan dengan mudah, namun kini dia memiliki keyakinan penuh bahwa selama dia menjaga kemurnian arah sujudnya, tidak ada satu pun badai pengkhianatan di dunia ini yang akan mampu meruntuhkan kewarasannya lagi.

1
falea sezi
🤣🤣 nenek tua gatel
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
iya ini keputusan yang besar,Kirana tidak cerita ke keluarga
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
ayahnya Dimas udah berjuang untuk membalas Ratna
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas korban keegoisan keluarga tapi Kirana ga ada hubungannya malahan kena juga karena dimas
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas Dimas sadar Kirana udah bukan hak mu lagi weh
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas ga ada otak😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
keluarga kaya tapi minim adab😭
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Ratna itu emang ga ada sadar dirinya
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Ratna ga sadar diri banget
udah merebut malahan dia merasa korban😄
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
itu hasil yang kalian tanam sndri
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
wkwkwk Ratna itu hasil kerja kerasmu itu merebut hak yang awalnya bukan milikmu
rasakan akibatnya sendiri
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
mau alasan kaya apa aja
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas ga tau masa lalu
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Kirana Tuhan tau kamu kuat makanya diksh cobaan ini
ayo tetap semangat
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
penyesalan emang diakhir kirana
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
anjay Dimas lebih memilih menikah dengan Ratna secara diam diam
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
ceritanya bagus
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
Dimas udah banyak alasan ini
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
demi Dimas dia rela ninggalin agamanya iya😭
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
pst ada sesuatu sama Dimas itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!