NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Suasana di ruang makan sore itu terasa hangat dan tenang. Aroma masakan yang baru saja matang memenuhi seluruh penjuru ruangan, menciptakan rasa nyaman yang khas di rumah keluarga besar. Alena dan Elio baru saja turun dari lantai dua, langkah mereka masih terasa sedikit canggung dan wajah mereka menyimpan senyum yang sulit disembunyikan—sisa dari momen keintiman yang baru saja mereka lalui di kamar mandi tadi.

Begitu melangkah masuk ke ruang makan, mereka terkejut melihat sosok Kakek Baskara yang sudah duduk di kursi kebiasaannya, sedang membaca koran sambil sesekali menyesap teh hangat. Wajahnya terlihat segar, seolah baru saja membersihkan diri setelah beraktivitas seharian.

“Kakek sudah pulang?” tanya Elio terkejut, lalu segera mendekat dan mencium tangan kakeknya. Alena pun mengikuti, menyapa dengan sopan dan hormat.

Kakek Baskara menurunkan korannya, lalu tersenyum lebar melihat kedua anak muda itu. “Baru saja sampai sepuluh menit yang lalu. Tadi rencananya mau pulang lebih larut, tapi urusan di kantor selesai lebih cepat, dan teman-teman juga pulang lebih awal. Jadi aku memutuskan untuk segera kembali ke rumah.”

Mereka pun segera duduk di meja makan yang sudah terhidang lengkap dengan berbagai lauk yang lezat. Selama makan malam, suasana terasa sangat akrab. Kakek Baskara terus mengajak mengobrol, menanyakan bagaimana kegiatan mereka di sekolah, kejadian apa saja yang terjadi, dan apakah Alena merasa nyaman selama tinggal di rumah ini.

“Alena, jangan sungkan ya. Anggap saja rumah ini seperti rumahmu sendiri. Kalau ada yang kurang atau ingin apa saja, bilang saja pada Elio atau langsung pada Kakek,” ujar Kakek Baskara sambil menyendokkan lauk ke piring Alena.

“Terima kasih banyak, Kek. Aku sangat nyaman di sini. Semuanya baik-baik saja,” jawab Alena dengan senyum tulus, meskipun sesekali ia melirik Elio di sampingnya, dan setiap kali pandangan mereka bertemu, keduanya akan menahan senyum agar tidak terlihat mencurigakan.

Setelah makan malam selesai, Alena meminta izin untuk kembali ke kamar guna membereskan sedikit barang dan beristirahat. “Maaf, Kek, Elio. Aku mau naik ke atas dulu, rasanya agak lelah hari ini.”

“Baiklah, istirahatlah yang cukup,” jawab Kakek Baskara, sementara Elio hanya mengangguk sambil menatap punggung Alena hingga menghilang di ujung tangga.

Setelah Alena pergi, Kakek Baskara menatap cucunya dengan tatapan yang lebih serius namun tetap hangat. “Elio, duduklah sebentar. Kakek ingin bicara sesuatu denganmu.”

Elio mengernyitkan dahi sedikit, lalu duduk kembali menghadap kakeknya. “Ada apa, Kek? Apakah ada masalah?”

Kakek Baskara tersenyum tipis, lalu menyesap tehnya lagi sebelum berbicara. “Tidak ada masalah, justru kabar baik. Tadi siang Kakek sudah menghubungi Kakek Wijaya. Kami sudah membicarakan banyak hal, terutama mengenai hubunganmu dengan Alena. Melihat bagaimana kalian berdua sekarang, Kakek merasa sangat lega. Dulu Kakek khawatir perjodohan ini hanya akan membuat kalian terus bertengkar, tapi ternyata takdir bekerja dengan cara yang indah.”

Elio mendengarkan dengan seksama, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang mendengar arah pembicaraan itu. “Jadi… apa yang sudah kalian putuskan, Kek?”

“Kami sepakat untuk tidak menunda lebih lama lagi,” jawab Kakek Baskara mantap. “Begitu kedua keluarga kembali dari luar negeri nanti, kami berencana segera mengadakan acara pertunangan. Kami ingin mengikat janji kalian secara resmi, agar hubungan kalian lebih jelas dan terjaga. Bagaimana menurutmu? Apakah kamu bersedia?”

Wajah Elio seketika bersinar cerah. Ia sudah mencintai Alena sepenuh hati, jadi berita ini bukanlah hal yang mengejutkan, melainkan keinginan yang sudah lama ia harapkan. “Aku sangat setuju, Kek. Aku mencintai Alena, dan aku ingin menjadikannya pendamping hidupku selamanya. Aku hanya berharap Alena juga akan menerima keputusan ini dengan senang hati.”

“Kakek yakin dia akan menerimanya,” ujar Kakek Baskara sambil menepuk bahu cucunya dengan bangga. “Dia menatapmu dengan cara yang sama seperti kamu menatapnya. Cinta itu terlihat jelas dari mata, Nak. Sekarang, jalani saja hubungan ini dengan baik, jaga dia, dan buat dia bahagia.”

Percakapan itu berlanjut hingga larut malam, membahas hal-hal seputar masa depan dan harapan keluarga. Hati Elio terasa sangat ringan dan bahagia, membawa kabar gembira ini dalam hatinya saat ia akhirnya naik ke lantai dua untuk beristirahat.

 

Keesokan harinya adalah hari Sabtu, hari libur sekolah yang ditunggu-tunggu. Pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja terbit dan menyebarkan cahaya keemasan yang lembut, Elio sudah mengetuk pintu kamar Alena dengan nada ceria.

“Alena, bangun! Kalau mau olahraga pagi, sekarang waktunya yang paling pas. Udara masih segar dan belum terlalu panas.”

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Alena keluar dengan mengenakan pakaian olahraga berwarna biru muda yang terlihat sangat serasi. Rambutnya diikat rapi, dan wajahnya terlihat segar setelah tidur yang cukup.

“Kamu benar-benar rajin sekali,” kata Alena sambil tersenyum, mengikuti Elio melangkah keluar menuju halaman rumah.

“Olahraga pagi itu menyehatkan tubuh dan menyegarkan pikiran. Lagipula, ini kesempatan bagus untuk berjalan-jalan santai berdua tanpa gangguan tugas sekolah atau orang lain,” jawab Elio sambil tersenyum menggoda.

Mereka berdua pun mulai berlari santai menyusuri jalan lingkungan yang sepi dan asri, menuju taman kota yang tidak jauh dari rumah. Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol ringan, tertawa, dan sesekali saling berlomba lari jarak pendek yang berakhir dengan tawa lepas.

Begitu tiba di taman yang luas dan rindang, mereka memperlambat langkah, berjalan santai sambil menikmati pemandangan bunga yang bermekaran dan suara kicauan burung. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah suara ceria memanggil nama Elio dari arah depan.

“Elio! Benar sekali dugaanku, pasti kamu ada di sini pagi-pagi begini!”

Mereka berdua menoleh dan melihat seorang gadis berjalan mendekat dengan langkah lincah. Gadis itu mengenakan pakaian olahraga yang modis, rambutnya terurai indah, dan wajahnya terlihat sangat ramah namun juga penuh percaya diri.

Elio tertegun sejenak, lalu segera mengenali sosok itu. “Jena? Kamu sudah kembali ke kota ini?”

Jena tersenyum lebar, lalu langsung mendekat dan memeluk lengan Elio dengan akrab seolah tidak ada orang lain di sekitarnya. “Sudah seminggu yang lalu aku pulang dari sekolah di luar kota. Aku sudah bertanya ke rumahmu, tapi kata pembantu kamu sering lari pagi ke sini. Ternyata benar dugaanku!”

Melihat adegan itu, senyum di wajah Alena perlahan memudar. Ia berdiri sedikit di belakang, menatap gadis yang bernama Jena itu dengan perasaan yang tiba-tiba terasa aneh—ada rasa tidak nyaman, sedikit cemas, dan jelas terasa rasa cemburu yang mulai menggelitik hatinya.

Elio segera melepaskan pelukan itu dengan halus, lalu menoleh ke arah Alena dan memperkenalkan keduanya. “Jena, ini Alena. Dia… tinggal di rumahku untuk sementara waktu. Alena, ini Jena, sahabat masa kecilku. Kami sering bermain bersama saat masih kecil, sebelum dia pergi melanjutkan sekolah ke luar kota.”

Jena menatap Alena dari atas ke bawah dengan pandangan yang ramah namun sedikit menyelidik, lalu mengulurkan tangannya. “Hai Alena, senang bertemu denganmu. Aku sering mendengar cerita tentang Elio sejak kecil, jadi rasanya sudah seperti keluarga sendiri.”

Alena menyambut uluran tangan itu dengan sopan namun tetap menjaga jarak. “Senang juga bertemu denganmu, Jena.”

Sejak saat itu, suasana berubah sedikit. Jena terus berjalan di sisi Elio, mendominasi pembicaraan dan menceritakan segala hal yang ia alami selama berada di luar kota. Setiap kali berbicara, ia selalu mendekatkan wajahnya, tertawa keras, dan sesekali menyentuh lengan atau bahu Elio seolah hal itu adalah hal yang biasa dilakukan.

“Elio, ingat tidak saat kita masih kecil? Kamu selalu memanjat pohon mangga itu untuk mengambilkan buahnya untukku, padahal kamu sering jatuh dan lututmu berdarah,” kenang Jena sambil tertawa riang, lalu menepuk-nepuk bahu Elio dengan santai.

Elio hanya tertawa kecil mengingat kenangan itu, namun ia terus melirik ke arah Alena yang berjalan sedikit di belakang, wajahnya terlihat datar dan mulutnya mengerucut sedikit. Ia tahu betul tanda-tanda bahwa gadis itu sedang merasa cemburu, dan hal itu justru membuatnya ingin tertawa karena terlihat sangat menggemaskan.

“Wah, itu sudah lama sekali, Jena. Sudah banyak hal yang berubah sejak saat itu,” jawab Elio sambil memperlambat langkahnya agar bisa sejajar kembali dengan Alena.

Namun, Jena seolah tidak menyadari suasana itu. Ia terus saja bertingkah manja dan dekat. “Tapi rasanya tidak ada yang berubah, kan? Kita tetap akrab seperti dulu. Oh iya, Elio, nanti malam ada acara reuni teman-teman lama. Kamu pasti datang, kan? Aku sudah menunggu kesempatan ini untuk bisa bertemu lagi denganmu.”

Sebelum Elio sempat menjawab, Alena yang sudah tidak tahan lagi menyela dengan nada santai namun sedikit tajam. “Maaf, Jena. Sepertinya malam ini Elio sudah ada janji denganku. Kami akan mengerjakan tugas sekolah bersama, jadi rasanya tidak bisa pergi ke mana-mana.”

Mendengar itu, Jena menoleh ke arah Alena dengan pandangan terkejut, lalu menatap Elio meminta penjelasan. “Benarkah itu, Elio?”

Elio tersenyum dalam hati, merasa sangat senang melihat Alena yang berani membela posisinya sendiri. Ia segera mengangguk mantap. “Ya, benar. Tugasnya cukup banyak dan harus dikumpulkan minggu depan. Jadi aku tidak bisa meninggalkannya sendirian.”

Wajah Jena terlihat sedikit kecewa, namun ia berusaha tetap tersenyum. “Baiklah kalau begitu. Kalau lain waktu kamu sudah kosong, kabari aku ya. Aku masih punya banyak hal yang ingin diceritakan padamu.”

Selama sisa waktu di taman, Jena terus berusaha menarik perhatian Elio, bercerita hal-hal yang sepele, bahkan sesekali meminta bantuan untuk membetulkan tali sepatu atau mengangkat air minum, yang membuat Alena semakin mengerutkan kening dan melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi yang jelas menunjukkan ketidaksukaannya.

Akhirnya, setelah merasa cukup lama, Elio berpamitan dengan alasan sudah waktunya pulang. “Kita harus pulang sekarang, Jena. Sampai jumpa lain kali ya.”

“Baiklah, hati-hati di jalan! Sampai bertemu lagi, Elio!” seru Jena sambil melambaikan tangan, menatap punggung Elio dengan tatapan yang penuh kekaguman.

Begitu mereka berjalan menjauh dan cukup jauh dari jangkauan pendengaran Jena, Alena langsung mempercepat langkahnya, berjalan di depan Elio tanpa menoleh sedikit pun. Wajahnya terlihat cemberut dan bibirnya masih mengerucut.

Elio tertawa kecil melihat tingkah laku itu, lalu segera menyusul dan menarik tangan Alena agar berhenti berjalan. “Hei, kenapa berjalan begitu cepat? Kenapa wajahmu seperti itu? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu.”

Alena menarik tangannya dengan halus, lalu menatap Elio dengan pandangan yang sedikit kesal namun juga terlihat cemburu. “Tidak ada apa-apa. Tadi terlihat sangat asyik mengobrol dengan sahabat masa kecilmu itu sampai lupa ada orang lain di sampingmu.”

Elio semakin terbahak melihat reaksi itu. Ia mendekatkan wajahnya, lalu mencubit lembut pipi Alena yang terlihat memerah karena emosi. “Jadi… kamu cemburu, ya?”

Alena langsung memalingkan wajah, berusaha menyangkal namun gagal. “Siapa yang cemburu? Aku hanya melihat saja dia terlalu dekat dan akrab denganmu, seolah-olah tidak ada batasan. Dia juga terlihat sangat menyukaimu, Elio. Jangan bilang kamu tidak menyadarinya?”

Elio mengangkat kedua tangannya seolah pasrah, lalu memeluk bahu Alena erat-erat dan menariknya mendekat. “Dengar baik-baik ya. Jena memang sahabat masa kecilku, dan aku menghormatinya sebagai teman. Tapi tidak lebih dari itu. Hanya kamu yang ada di hatiku, hanya kamu yang aku cintai. Perhatiannya padaku tidak akan pernah mengubah perasaanku padamu, mengerti?”

Kata-kata yang tulus dan tatapan yang jujur itu perlahan melunakkan hati Alena. Ia menunduk malu, menyadari bahwa reaksinya tadi terlihat berlebihan dan lucu. “Maaf… aku tidak bermaksud bersikap seperti ini. Hanya saja… melihat dia dekat-dekat denganmu, rasanya ada yang tidak enak di dada.”

Elio mencium kening Alena dengan lembut, lalu tersenyum lebar. “Tidak perlu minta maaf. Justru aku senang melihatnya. Itu tandanya kamu sangat menyayangiku dan takut kehilanganku, kan? Jangan khawatir, tidak ada siapa pun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Tidak ada.”

Mendengar penjelasan itu, perasaan tidak nyaman di hati Alena perlahan menghilang, digantikan oleh rasa tenang dan bahagia. Ia memeluk pinggang Elio, melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah yang lebih ringan dan senyum yang kembali terukir indah di wajahnya.

Meskipun pertemuan dengan Jena tadi membuat suasana sempat sedikit tegang dan cemburu, hal itu justru semakin memperjelas perasaan mereka satu sama lain. Mereka sadar bahwa cinta yang tumbuh di antara mereka bukanlah hal yang mudah tergoyahkan, dan rasa cemburu itu sendiri hanyalah bukti betapa dalamnya rasa sayang yang mereka miliki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!