Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Langkah kaki mereka menggema ganjil di dalam terowongan stasiun bawah tanah yang luas. Udara di bawah sini terasa jauh lebih pengap, bercampur bau besi berkarat dari rel kereta kuno dan sisa-sisa pembusukan. Cahaya biru fajar dari Lightning Iron Gauntlet milik Joni menjadi satu-satunya penerang, memantul di dinding-dinding keramik stasiun yang sudah retak dan dipenuhi coretan grafiti usang.
"tempat ini bener-bener kayak sarang hantu. Sepi banget, tapi bulu kuduk gue merinding dari tadi," bisik Gondrong sambil celingukan, tangan kanannya memegang erat pedang besar jarahan mereka tadi untuk berjaga-jaga.
"Tahan suara lo, Ndrong. Kita udah hampir sampai di jalur empat," sahut Joni pelan.
Mereka melewati sisa-sisa gerbang tiket yang hancur dan menuruni peron menuju area rel kereta. Di sana tertulis angka "4" besar yang sudah berkarat dan nyaris copot dari dinding.
Namun, pemandangan di jalur nomor empat ini sama sekali di luar dugaan mereka.
Di atas rel kereta yang sudah mati, tidak ada gerombolan zombie liar seperti di atas. Justru di sana terdapat sebuah meja kayu kecil dengan lampu minyak yang menyala temaram. Dan di balik meja itu, duduk seorang pria paruh baya berbadan kekar dengan kaos kutang putih dan celana kargo loreng. Dia sedang asyik menyeruput kopi hitam dari cangkir seng sambil membaca koran lama.
Siapa lagi kalau bukan Master Johan.
"Lama banget kalian. Jalan kaki apa merangkak?" celetuk Master Johan tanpa mengalihkan pandangannya dari koran.
"Master!" Joni langsung melangkah mendekat. "Kenapa Master bisa ada di dalam Sacred Gate Hole? Bukannya instruktur kampus dilarang masuk ke zona liar tanpa izin Dewan Penyelaras?"
Master Johan menurunkan korannya, lalu menatap Joni dengan seringai tipis yang biasa bikin bulu kuduk Joni merinding saat latihan beban.
"Dewan Penyelaras aturan itu buat instruktur menye-menye yang takut mati, Joni," kata Master Johan sambil meletakkan cangkir kopinya. Tatapannya kemudian beralih ke pergelangan tangan Joni, mengamati kilatan petir dari gauntlet baru muridnya itu. "Hmm, boleh juga. Lightning Iron Gauntlet. Hasil memeras Bruise Master, hah?"
"yap bener, Master! Joni yang mukul, saya yang bagian nyundul dahi bosnya!" sahut Gondrong bangga, ikutan nimbrung.
Master Johan terkekeh rendah, lalu pandangannya beralih ke arah Laras yang sejak tadi berdiri agak di belakang, tampak agak gelisah. "Nona Laras, cincin es itu cocok untuk memperkuat buff Qigong milikmu. Tapi ingat, di tempat seperti ini, jangan pernah lengah bahkan pada bayanganmu sendiri."
Laras membungkuk hormat. "Baik, Master. Terima kasih atas peringatannya."
Joni kembali ke inti persoalan. "Master, tadi kami diselamatkan oleh seorang Assassin bertopeng rubah. Dia bilang dia murid Master, dan dia tahu soal pergerakan Tian Baskoro hari Senin nanti. Sebenarnya ada apa ini?"
Raut wajah Master Johan mendadak berubah serius. Seringai santainya hilang, digantikan oleh tatapan tajam seorang veteran petarung jalanan. Beliau berdiri dari kursinya, membuat aura *Ki* di dalam tubuhnya yang masif mendadak menekan udara di sekitar terowongan hingga terasa berat.
"Si topeng rubah itu memang anak didikku di luar akademi. Dan alasan aku menyuruhnya menjemput kalian..." Master Johan berjalan ke pinggir peron, menunjuk ke arah kegelapan terowongan jalur empat yang lebih dalam.
"Joni, Gondrong, Laras. Coba kalian lihat ke arah sana dengan fokus."
Joni memicingkan matanya, mengalirkan energi petir ke matanya untuk meningkatkan daya pandang di dalam kegelapan. Di ujung terowongan rel nomor empat yang gelap gulita, ia melihat sesuatu yang mengerikan.
Bukan monster, melainkan sebuah gerbang besi raksasa modern berkode digital yang ditanam paksa di dalam dinding terowongan kuno tersebut. Di atas gerbang itu, terdapat logo sebuah perusahaan yang sangat mereka kenal: Baskoro Mining Corp.
Dari sela-sela bawah gerbang besi ilegal itu, mengalir cairan hitam pekat berenergi magis murni yang baunya persis seperti aroma dimensi monster, mengalir masuk ke saluran pembuangan stasiun.
"Itu..." Joni mengepalkan tinjunya hingga petir birunya berkerit kencang. "Tambang ilegal milik keluarga Baskoro?"
"Tepat," jawab Master Johan dingin. "Keluarga Baskoro diam-diam menjebol dinding pembatas dimensi dari bawah stasiun ini untuk mengeruk kristal energi hitam secara ilegal. Sialnya, Dewan Penyelaras terlalu lambat bertindak, sementara Om Remon-mu itu masih sibuk nyari bukti formalitas."
Master Johan menatap Joni dalam-dalam. "Senin nanti, Tian Baskoro sengaja menantangmu duel di arena kampus bukan cuma soal harga diri, Joni. Dia mau mematahkan mentalmu agar kau tidak ikut campur dalam urusan tambang ini, karena dia tahu kau adalah muridku. Tian sudah disuntik esensi kristal hitam buatan. Kekuatannya hari Senin nanti bukan lagi level mahasiswa biasa."
"Sekarang, kalian bertiga pulang," perintah Master Johan, suaranya kembali datar namun penuh otoritas. Beliau melirik jam tangan spiritualnya. "Waktu operasional Dimensi Monster untuk mahasiswa sebenarnya sudah tutup dari tiga puluh menit yang lalu. Kalau kalian ketahuan keluyuran di sini oleh patroli Dewan Penyelaras, urusannya bisa panjang."
"Tapi Master, gerbang tambang *Baskoro Mining Corp* itu—"
"Itu bukan urusan kelas teri selevel kalian untuk sekarang," potong Master Johan cepat, menatap Joni tajam. "Urusanmu adalah hari Senin nanti. Kalau melawan Tian saja kau keok, jangan mimpi bisa menyentuh gerbang besi itu."
Master Johan kemudian merogoh saku celana kargonya, mengeluarkan sebuah batu kristal kecil berwarna hijau pudar. Beliau melemparkannya ke tengah rel kereta. Begitu kristal itu menyentuh tanah, sebuah portal vertikal berwarna biru cerah mendadak terbuka dengan suara mendengung halus.
"Wihhh Master punya kuasa bikin portal dadakan langsung ke lobi kampus? Praktis bener," bisik Gondrong dengan mata berbinar.
"Jangan banyak tanya. Cepat masuk," gerutu Master Johan.
Namun, sebelum Joni melangkah mendekati portal, Master Johan menepuk pundak kokoh muridnya itu. Cengkeraman tangan sang guru terasa sangat berat, menyalurkan sedikit kehangatan energi Ki.
"Joni, dengar baik-baik. Berlatihlah lebih keras di luar kampus. Fisikmu sudah bagus berkat rompi badak dan gauntlet petir itu, tapi Tian yang sekarang sudah terkontaminasi esensi kristal hitam. Dia bukan manusia normal lagi."
Master Johan menghela napas pendek, lalu melanjutkan, "Aku sudah berkoordinasi dengan pamanmu, Om Remon. Beliau yang akan mengambil alih latihanmu di luar lingkungan akademi selama beberapa hari ke depan. Aku sudah memberikan izin khusus kepada Dewan Penyelaras: selama sisa lima hari ini, kau dibebaskan dari seluruh jam kuliah."
Joni tertegun. Libur kuliah lima hari penuh berturut-turut hanya untuk fokus berlatih di bawah bimbingan Om Remon? Ini artinya ancaman dari keluarga Baskoro memang sudah di tahap yang sangat kritis.
"Gunakan lima hari ini dengan bijak, Joni. Jangan bikin malu faksi Brawler," ucap Master Johan sambil berbalik memunggungi mereka, kembali berjalan ke arah meja kopinya.
"Siap, Master. Terima kasih," jawab Joni mantap.
Joni menatap Laras dan Gondrong, lalu memberikan anggukan kecil. Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam portal biru dadakan tersebut. Rasa pusing sesaat akibat perpindahan dimensi langsung menyerang, sebelum akhirnya pandangan mereka kembali benderang.
WUSH!
Mereka mendarat dengan mulus tepat di tengah lobi utama kampus Sacred Gate yang sudah sepi senyap karena malam telah larut. Hanya ada beberapa lampu pilar yang menyala temaram.
Gondrong langsung meregangkan kedua tangannya sambil menggendong dua senjata jarahan mahal milik anak Mythic Peak tadi. "Hehehe... mendarat dengan selamat! Jon, lima hari libur kuliah mah namanya surga dunia, tapi kalau yang ngelatih Om Remon dari divisi penyelidikan... gue rasa badan lo bakal remuk lebih parah dari latihan Master Johan."
Laras tersenyum tipis, meski rona khawatir masih membekas di wajahnya. "Tapi ini kesempatan bagus, Kak Joni. Dengan bantuan Om Remon, kita bisa mempersiapkan taktik tersembunyi yang tidak akan bisa dibaca oleh mata-mata Tian di kampus."
Joni mengepalkan Lightning Iron Gauntlet nya, membiarkan percikan listrik birunya meredup perlahan seiring hilangnya status pertempuran di jam tangannya.
"Lima hari," gumam Joni, matanya menatap tajam ke arah gerbang luar kampus yang mengarah ke kota. "Gue bakal pastiin, di hari Senin nanti, Tian Baskoro bakal nyesel karena udah pernah nantang seorang Brawler."