"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan mata elang dan rahasia yang bergetar
Staf HRD yang memandu para mahasiswa langsung menghentikan langkahnya dan membungkuk hormat dengan sangat dalam begitu melihat sang CEO berjalan ke arah mereka. "Selamat pagi, Pak Rayyan," ucapnya dengan suara penuh rasa hormat yang tinggi.
Lima mahasiswa lainnya ikut membungkuk dengan gugup, merasa sangat tegang bisa melihat orang terkaya di kota ini dari jarak yang begitu dekat. Hanya Aira yang berdiri sedikit lambat karena rasa syok yang menjalar di sekujur tubuhnya, sebelum akhirnya dia buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambutnya yang terurai.
Rayyan Wijaya menghentikan langkah kakinya tepat beberapa meter di depan kelompok mahasiswa tersebut. Pandangan matanya yang tajam bak elang menyapu sekilas ke arah rombongan kecil itu.
Sebenarnya, Rayyan sudah tahu bahwa hari ini adalah hari orientasi bagi para anak magang baru. Dia sengaja mengatur jadwal keluarnya dari ruang rapat agar bisa berselisih jalan dengan kelompok ini. Matanya dengan cepat memindai barisan mahasiswa, dan dalam hitungan detik, fokusnya langsung mengunci pada sosok gadis kecil yang berdiri di barisan paling belakang dengan kepala menunduk dalam.
Aira.
Sudut hati Rayyan bergetar melihat gadis itu kembali. Setelah berbulan-bulan hanya bisa memandangi fotonya lewat laporan anak buah, kini wanita itu berdiri nyata di depannya.
Namun, alis tebal Rayyan perlahan mengernyit sedikit ketika dia memperhatikan penampilan Aira hari ini. Pria itu memiliki kemampuan observasi yang sangat detail. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak biasa dari cara berpakaian Aira. Gadis itu memakai blazer dan kemeja yang ukurannya tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang mungil, membuat sosoknya terlihat seolah tenggelam di dalam pakaian tersebut. Ditambah lagi, cara Aira memegang map dokumen di depan tubuhnya terlihat sangat protektif, seolah dia sedang menyembunyikan sesuatu di balik lipatan kain longgar itu.
Rayyan tidak mengucapkan sepatah kata pun pada direktur di sampingnya. Dia melangkah maju dua kali, mendekati kelompok mahasiswa tersebut, membuat suasana di koridor itu semakin mencekam karena tekanan auranya.
"Bagaimana persiapan untuk anak-anak magang baru dari universitas?" tanya Rayyan, suaranya yang berat dan bariton menggema di koridor, terdengar begitu berwibawa.
"Semuanya sudah siap, Pak Rayyan. Hari ini adalah orientasi keliling gedung, dan besok mereka akan langsung ditempatkan di divisi masing-masing," jawab staf HRD dengan nada bicara yang bergetar karena gugup.
"Bagus," ucap Rayyan pendek. Mata elangnya tidak beralih sedikit pun dari puncak kepala Aira yang masih menunduk. "Pastikan mereka mendapatkan bimbingan yang terbaik. Wijaya Group hanya menerima hasil kerja yang sempurna."
"Baik, Pak. Dimengerti."
Rayyan melangkah perlahan melewati kelompok itu. Saat tubuh tegapnya berada tepat di samping Aira, Rayyan sengaja memperlambat langkahnya. Aroma parfum maskulinnya yang khas—campuran kayu cendana dan kesegaran laut yang sangat maskulin—langsung menerpa indra penciuman Aira. Aroma yang sama dengan malam di kamar nomor 309, aroma yang selalu membuat janin di dalam perut Aira bergetar aneh.
Aira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, meremas map dokumen di depan perutnya hingga kertas di dalamnya sedikit berkerut. Dia bisa merasakan tatapan intens Rayyan yang membakar puncak kepalanya. Dia berdoa dalam hati agar pria itu tidak menyadari keanehan pada bentuk tubuhnya atau mendengar detak jantungnya yang berdegup sangat kencang saking takutnya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti siksaan yang manis bagi Aira, langkah kaki Rayyan kembali terdengar menjauh, diikuti oleh rombongan direksinya menuju lift eksekutif.
Begitu pintu lift eksekutif tertutup rapat, Aira langsung mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya. Tubuhnya lemas hingga dia harus sedikit bersandar pada dinding koridor. Di balik blazer longgarnya, tangan kecil Aira perlahan turun, menyentuh perut buncitnya yang tersembunyi dengan perasaan lega sekaligus duka yang mendalam. Dia berhasil melewati pertemuan pertama, namun dia tahu, bulan-bulan magang di bawah atap yang sama dengan Rayyan Wijaya akan menjadi perjuangan yang jauh lebih berat bagi rahasia besarnya.