NovelToon NovelToon
Jodoh Kok Bikin Emosi

Jodoh Kok Bikin Emosi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seranovelle

Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 - Mantan yang Datang Tanpa Undangan

Dua hari berlalu sejak kunjungan mereka ke lokasi proyek.

Hubungan Nadira dan Arga memang belum bisa disebut akrab. Mereka masih saling menyindir, masih sering berbeda pendapat, tetapi kini pertengkaran kecil mereka selalu berakhir dengan tawa tipis.

Setidaknya... tidak lagi dipenuhi rasa kesal seperti hari pertama.

Pagi itu, Nadira datang lebih awal ke kantor. Ia ingin menyelesaikan revisi proposal sebelum rapat siang nanti.

Baru saja ia meletakkan tas di meja, suara Rina terdengar dari belakang.

"Dir."

"Hm?"

"Ada yang nyariin Arga."

"Terus?"

"Cantik."

Nadira mengangkat bahu.

"Ya bagus."

"Tinggi."

"Oh."

"Elegan."

Nadira menoleh sambil mengernyit.

"Rin, kenapa kamu lapor ke aku?"

"Soalnya..." Rina menyeringai jahil. "Kamu sekarang partner paling dekat sama dia."

"Bukan urusanku."

Rina terkekeh lalu berjalan pergi.

Namun entah kenapa, tanpa sadar pandangan Nadira mengarah ke lobi kantor.

Seorang perempuan berambut sebahu berdiri di sana mengenakan blazer putih dan rok hitam. Penampilannya sederhana, tetapi berkelas.

Perempuan itu tersenyum ketika melihat Arga keluar dari lift.

Senyum yang terlalu akrab.

---

"Arga."

"Halo, Celine."

Mereka berjabat tangan.

"Maaf datang mendadak."

"Nggak apa-apa."

"Aku kebetulan ada meeting di gedung sebelah."

"Lalu mampir?"

"Iya."

Celine mengangguk sambil tersenyum.

"Kangen teman lama."

Nadira yang sedang mengambil dokumen di dekat resepsionis mendengar percakapan itu tanpa sengaja.

Ia tidak berniat menguping.

Tetapi jarak mereka memang terlalu dekat.

"Masih suka lupa sarapan?" tanya Celine.

Arga tertawa kecil.

"Masih."

"Masih ceroboh juga?"

"Kayaknya itu nggak bisa diubah."

Celine ikut tertawa.

Tawa mereka terdengar begitu alami.

Seolah sudah saling mengenal bertahun-tahun.

Nadira buru-buru berbalik dan kembali ke mejanya.

"Aneh."

Ia bahkan tidak tahu kenapa dadanya terasa sedikit sesak.

---

Sekitar sepuluh menit kemudian, Arga masuk ke ruang kerja.

"Morning."

Beberapa orang menyapa.

Celine ikut masuk di belakangnya.

"Nah, kenalin."

Arga menoleh ke arah tim.

"Ini Celine."

"Teman kuliah?"

"Teman lama."

Celine tersenyum ramah kepada semua orang.

Saat pandangannya bertemu Nadira, ia mengangguk sopan.

"Hai."

"Hai."

"Ini Nadira."

Arga memperkenalkan mereka.

"Partner kerjaku."

Celine mengulurkan tangan.

"Senang kenal."

"Senang kenal."

Jabat tangan itu berlangsung singkat.

Namun Nadira menangkap sesuatu dari tatapan Celine kepada Arga.

Tatapan yang sulit dijelaskan.

Hangat.

Dekat.

Dan... penuh kenangan.

---

Saat jam makan siang, Nadira memilih makan di pantry kantor.

Ia sedang membuka bekal dari rumah ketika Rina duduk di sebelahnya.

"Kamu kenapa?"

"Kenapa apanya?"

"Murung."

"Nggak."

Rina menatapnya beberapa detik.

"Kamu cemburu?"

Nadira hampir tersedak.

"Apa?"

"Sama Celine."

"Ngaco."

"Iya deh."

Rina membuka botol minumnya.

"Tapi tadi aku dengar."

"Dengar apa?"

"Celine itu mantannya Arga."

Sendok di tangan Nadira berhenti.

"Mantan?"

"Iya."

"Katanya mereka hampir tunangan."

Deg.

Entah kenapa, satu kata itu membuat dadanya terasa aneh.

Padahal...

Apa hubungannya dengan dirinya?

---

Sore harinya, Nadira pergi ke ruang arsip untuk mengambil beberapa dokumen.

Lorong menuju ruang arsip cukup sepi.

Saat hendak kembali, ia mendengar suara percakapan dari balkon kecil di samping kantor.

Bukan sengaja.

Suara itu terdengar jelas karena pintunya terbuka sedikit.

"...Aku senang lihat kamu baik-baik saja."

Suara Celine.

Nadira refleks berhenti.

"Aku juga."

Suara Arga terdengar pelan.

"Masih sendiri?"

Celine tersenyum tipis.

"Masih."

"Kamu?"

Arga tidak langsung menjawab.

"Belum kepikiran."

"Kamu bohong."

"Hah?"

"Kalau benar belum kepikiran..."

Celine menatap Arga sambil tersenyum penuh arti.

"...kamu nggak akan sesering itu cerita tentang partner kerjamu."

Nadira membeku.

Arga... sering cerita tentang dirinya?

Ia menunggu tanpa sadar.

Arga mengembuskan napas pelan.

"Nadira cuma teman kerja."

"Yakin?"

"Iya."

"Kalau cuma teman..."

Celine tertawa kecil.

"...kenapa waktu aku datang tadi, matamu malah beberapa kali mencari dia?"

Nadira buru-buru melangkah menjauh.

Ia tidak sanggup mendengar kelanjutannya.

Jantungnya berdetak terlalu cepat.

Ia bahkan tidak tahu kenapa.

---

Menjelang pulang, Arga menghampiri meja Nadira.

"Besok jadi survei lagi?"

Nadira tetap menatap layar laptop.

"Jadi."

"Jam delapan?"

"Terserah."

Arga mengernyit.

"Kamu kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Kamu marah?"

"Nggak."

"Kalau aku punya salah bilang aja."

Nadira akhirnya mengangkat kepala.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sesaat, Nadira ingin bertanya.

**Celine itu siapa sebenarnya?**

Namun kalimat itu hanya berhenti di ujung lidah.

Ia tidak punya hak.

Mereka bukan siapa-siapa.

"Besok jangan telat."

Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Arga masih menatapnya bingung.

"Oke."

Ia pergi dengan langkah pelan.

Sementara Nadira memejamkan mata.

Ia menggeleng kecil pada dirinya sendiri.

*"Kenapa aku jadi kepikiran soal mantannya?"*

*"Harusnya itu bukan urusanku."*

Sayangnya, semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas wajah Celine muncul di benaknya.

Dan untuk pertama kalinya...

Nadira mulai merasakan emosi yang tidak bisa ia jelaskan.

Bukan marah.

Bukan sedih.

Melainkan rasa tidak nyaman ketika membayangkan Arga memiliki masa lalu dengan seseorang.

**Bersambung ke Episode 8...**

1
Dewi Sinta
lusa hari senin dong.. kan mau ngerayain ultahnya mamanya arga hari minggu mesti nya besok😂
Seranovelle: "Ya ampun, bener juga. 🤣 Untung ada Kakak, kalau enggak Arga ngerayain ulang tahun mamanya lompat hari. 😂"
total 1 replies
Dewi Sinta
ayah tiri ya thoor, krn di bab sebelumnya ayah arga udah meninggal
Seranovelle: Cobaa tebak kak, ayah arga sudah meninggal atau belum yaa kak?
total 1 replies
Dewi Sinta
perasaan masih pagi thoor 😂
Seranovelle: Perjalanan dangat jauh ni kak, waktu pagi terasa singkat.. dan tibatiba sudah masuk jam makan siang deh kaa 🤭
total 1 replies
Dewi Sinta
Gar.. apa itu thor.. sy kira arga.. mesti nya bilang Ar..😌
Seranovelle: Btw kak, Gar itu nama panggil argaa yaa kak 😬🤍
total 2 replies
Dewi Sinta
sudah bertemu 3 kali thoor 😂
Seranovelle: Author lagi kena efek butterfly. Pertemuan ketiga tiba-tiba menghilang. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!