Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Begitu mereka semua duduk, suasana di meja itu mendadak terasa janggal, seolah ada sesuatu yang menggantung di udara namun tidak ada satu pun yang mau memulai pembicaraan.
Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang canggung, hanya diisi suara samar dari sendok yang sesekali beradu dengan cangkir, serta bisikan pelan dari pengunjung lain di kafe.
Lalu sebuah cubitan tiba-tiba mendarat di lengan Louis.
“Aduh!” teriaknya refleks, tubuhnya langsung menegang kaget.
Beberapa kepala di sekitar mereka spontan menoleh. Tatapan penasaran mulai berdatangan dari berbagai arah.
Louis panik seketika. Ia tersenyum kaku, berusaha menutupi reaksinya yang terlalu berlebihan. “Tikus.. ada tikus..” ucapnya terbata, meski jelas alasan itu terdengar tidak meyakinkan sama sekali.
Suasana justru semakin canggung.
Di sampingnya, Yvaine sudah menarik tangannya kembali dengan santai, seolah ia sama sekali tidak melakukan apa-apa. Ekspresinya tenang, bahkan nyaris tidak berubah. Ia lalu menoleh ke arah Sofia dengan senyum sopan yang tipis namun terkontrol.
“Ini?” tanyanya ringan, pura-pura tidak tahu.
Sofia yang ditanya langsung menegakkan punggungnya. Auranya berubah seketika, elegan dan penuh percaya diri, seolah ia memang sudah menunggu momen ini sejak awal.
“Halo,” ucapnya dengan suara halus namun tegas. “Saya Sofia kekasih Tobias.”
Kata kekasih ia tekankan dengan jelas, seolah ingin memastikan tidak ada yang salah paham mengenai posisinya.
Namun reaksi yang ia harapkan tidak muncul.
Yvaine hanya mengangguk pelan, ekspresinya tetap santai tanpa sedikit pun tanda terganggu. Tidak ada kecemburuan, tidak ada perubahan emosi yang berarti. Ia bahkan tampak terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
Dan justru itulah yang membuat Sofia sedikit terkejut.
Dalam hati, ia mengernyit. 'Ini.. tidak sesuai ekspektasi.'
Tobias, yang sejak tadi memilih diam dan mengamati, akhirnya membuka suara. Tatapannya yang dingin perlahan bergeser ke arah Louis, tajam dan penuh tekanan.
“Dan ini?” tanyanya singkat, suaranya datar namun mengandung otoritas yang kuat.
Louis langsung menegang. Tenggorokannya terasa kering seketika.
“Aku” ia mencoba menjelaskan, tetapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
“Dia cinta baruku.”
Suara Yvaine memotong tanpa ragu, ringan namun jelas terdengar oleh semua orang di meja itu.
“Pff!”
Sofia spontan menutup mulutnya dengan majalah yang ia pegang, bahunya bergetar menahan tawa yang hampir lolos. Situasi ini benar-benar berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik dari yang ia bayangkan.
Ini bukan lagi pertemuan biasa, ini jelas merupakan perang terbuka.
Sementara itu, Louis hanya bisa menunduk dalam diam, pura-pura sibuk mengaduk kopi yang sejak tadi tidak ia minum. Ia sama sekali tidak berani menatap Tobias, seolah satu pandangan saja bisa membuatnya hancur di tempat.
Di sisi lain, ekspresi Tobias perlahan mengeras. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya menjadi semakin tajam dan gelap, seperti badai yang mulai terbentuk di kejauhan.
Suasana di meja itu berubah drastis.
Ketegangan menyebar begitu cepat hingga bahkan pengunjung di sekitar mereka mulai berbisik lebih jelas, diam-diam menikmati drama yang tersaji di depan mata.
Namun di tengah semua itu, Yvaine tetap duduk dengan tenang.
Ia menatap Tobias langsung, tanpa menghindar sedikit pun. Tatapannya lurus, mantap, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Senyum tipis terukir di bibirnya, samar namun penuh arti, seolah ia sedang menantang sesuatu yang hanya mereka berdua yang mengerti.
Akhirnya, Tobias kembali berbicara.
“Di mana perjanjian perceraian?” tanyanya dingin, langsung menuju inti tanpa basa-basi.
Yvaine tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka tasnya dengan gerakan tenang, lalu mengeluarkan sebuah dokumen yang sudah ia siapkan sejak awal. Dengan perlahan, ia meletakkannya di atas meja, tepat di antara mereka.
Itulah dokumen yang dimaksud.
Tobias mengulurkan tangan untuk mengambilnya, gerakannya tegas dan tanpa ragu, namun sebelum jemarinya sempat menyentuh kertas itu, tangan Yvaine lebih dulu bergerak.
Ia menekan dokumen tersebut dengan telapak tangannya.
“Tunggu.”
Suaranya rendah, namun cukup untuk menghentikan segalanya.
Tobias menyipitkan mata, jelas tidak menyukai interupsi itu.
“Ada apa lagi?” tanyanya, nada suaranya mulai berubah, lebih berat dan berbahaya.
Ia sudah menduga semuanya tidak akan berjalan semudah ini.
Dan benar saja..
Yvaine mengangkat pandangannya, menatapnya lurus ke dalam mata, seolah ingin memastikan setiap kata yang ia ucapkan tertanam dengan jelas.
Senyumnya perlahan muncul kembali, tipis namun penuh perhitungan.
“Bagaimana kalau..” ucapnya pelan, suaranya tenang namun mengandung sesuatu yang sulit diabaikan, “setelah kita bercerai.. kamu menyimpan dendam padaku?”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada kalimat itu untuk meresap.
Lalu melanjutkan dengan nada yang sama, “Dan suatu hari nanti kamu memutuskan untuk membalasnya pada aku atau pada Joy?”
Udara di sekitar mereka seolah membeku.
“Presiden Tobias,” lanjut Yvaine, suaranya tetap terkendali, tetapi setiap kata yang keluar terdengar jelas dan terukur, “Anda tentu paham.. begitu saya dan Joy keluar dari keluarga Raguel, status kami tidak lebih dari seorang wanita yang bercerai dan seorang anak tanpa perlindungan.”
Ia tidak berbicara dengan nada memohon, tidak juga dengan emosi yang berlebihan.
Justru karena ketenangannya itulah, kata-katanya terasa jauh lebih menekan.
“Dalam posisi seperti itu.. bukan hal mustahil jika akan ada orang-orang yang mencoba mengganggu kami.”
Tobias menatapnya tanpa berkedip.
Sorot matanya perlahan mendingin, dan di sudut bibirnya muncul bayangan ejekan yang sangat tipis.
“Menurut Anda,” ujarnya pelan, suaranya rendah dan berat, “apakah saya memiliki begitu banyak waktu luang sampai harus memikirkan hal-hal seperti itu?”
Cara ia berbicara begitu arogan, dingin, dan penuh jarak, seolah menegaskan satu hal yang sangat jelas, bahwa Yvaine tidak cukup penting untuk dipikirkan apalagi untuk dibalas.
Jawaban itu membuat suasana di meja semakin tegang.
Namun alih-alih tersinggung atau terpancing emosi, Yvaine justru menyipitkan matanya sedikit. Wajahnya perlahan berubah dingin, dan sekilas kilatan tajam melintas di balik tatapannya, cepat namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak selemah yang terlihat.
Ia mendengus pelan.
“Baiklah,” katanya kemudian, nada suaranya kembali ringan, bahkan terdengar sopan, “Presiden Tobias memang seorang pebisnis. Orang seperti Anda tentu menjunjung tinggi integritas.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata integritas menggantung di udara.
Tatapannya kemudian beralih perlahan ke sekeliling kafe, menyapu orang-orang yang diam-diam memperhatikan mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
“Dan karena Anda sudah mengatakan hal tersebut,” lanjutnya dengan senyum tipis yang sulit ditebak maknanya, “ditambah lagi begitu banyak saksi di sini”
Ia kembali menatap Tobias, kali ini dengan ketenangan yang lebih dalam.
“Sekarang saya bisa merasa jauh lebih tenang.”
Kalimat itu terdengar sederhana, namun dampaknya tidak sederhana sama sekali.
Suasana di kafe berubah secara halus namun nyata. Beberapa orang yang tadinya hanya sekadar menonton kini mulai saling berpandangan, seolah menyadari makna tersembunyi di balik percakapan itu.
Ucapan Yvaine memang terdengar seperti ungkapan lega, namun di balik semua itu, Ia sedang menjebaknya
Karena saat Tobias mengucapkan kata-katanya tadi di depan begitu banyak orang, ia tanpa sadar telah mengikat dirinya sendiri pada pernyataan itu.
Jika suatu hari nanti terjadi sesuatu pada Yvaine atau Joy, maka nama pertama yang akan muncul dalam kecurigaan orang-orang adalah Tobias.
Dengan kata lain, tanpa meminta secara langsung, Yvaine telah berhasil memaksa Tobias untuk menjadi pelindung mereka.
cerita nya bagus