Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.
happy reading💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DESIRAN DI BALIK KESADARAN
Aisyah segera bangkit berdiri untuk membukakan pintu kayu itu. Begitu daun pintu terbuka, sosok Fatih berdiri dengan senyuman tipis di wajahnya yang bersih, lengkap dengan helm yang sudah ia jinjing di tangan kiri. Namun, pandangan mata Fatih sempat melirik sekilas ke dalam ruangan, menatap Maira yang masih duduk bersila di atas karpet dengan Al-Qur'an kecil yang masih terbuka di pangkuannya.
Fatih melangkah masuk satu baris ke dalam teras setelah dipersilakan oleh adiknya. “Assalamu’alaikum,” sapanya lagi dengan nada lembut.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Maira dan Aisyah berbarengan. Maira bergegas menutup mushafnya dengan hati-hati, lalu ikut bangkit berdiri menyambut kedatangan lelaki yang kemarin sore telah menjadi pelindungnya itu.
Fatih membetulkan posisi jaketnya, lalu menatap Maira dengan pandangan hangat yang meneduhkan. “Gimana? Udah selesai kursus ngajinya hari ini?” tanya Fatih membuka obrolan.
Maira mengangguk pelan sembari merapikan sedikit ujung hijab segi empatnya yang agak bergeser. Sebuah senyuman ceria yang tulus terukir di bibirnya. “Iya, nih, Fatih. Ini udah satu jam berlalu, tapi rasanya gak kerasa ya... cepat banget. Padahal tadi gue ngerasa otak gue sempat macet pas ngeja hurufnya,” ucap Maira jujur, kembali menunjukkan sifat aslinya yang ekspresif di depan kakak-beradik itu.
Fatih mengangguk-angguk paham, ada gurat kebahagiaan yang samar di kedua matanya. “Alhamdulillah ya, Mbak Maira. Pintu hidayahnya pelan-pelan udah Mbak buka, dan sekarang Mbak sudah melangkah masuk ke dalamnya. Belajar Al-Qur'an itu memang butuh proses, yang penting istiqomah.”
Maira tersenyum kecil mendengar apresiasi tersebut. Rasanya sangat dihargai, berbeda jauh dengan perlakuan Rayn yang selama bertahun-tahun ini hanya tahu cara memanfaatkannya.
Namun, belum sempat Maira membalas ucapan itu, Fatih tiba-tiba menyunggingkan sebuah senyuman jahil yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain. Tatapan matanya yang teduh kini berubah menjadi sedikit jenaka.
“Tapi... kalau nanti Mbak Maira lagi diuji sama Allah lagi, atau lagi ada masalah berat... tolong jangan mikir ke jembatan lagi, ya?” seloroh Fatih dengan nada santai. “Lompatnya dari kursi ke teras rumah aja, Mbak, biar gak sakit.”
Mendengar candaan spontan itu, mata Maira langsung membelalak sempurna. Pipinya mendadak memanas karena teringat kembali malam memalukan di mana ia menangis histeris di pinggir jembatan dan nyaris melakukan tindakan bodoh sebelum digagalkan oleh Fatih.
Sementara itu, Aisyah yang berdiri di samping kakaknya langsung mengerutkan kening dalam-dalam. Ia menatap heran ke arah Fatih dengan mulut sedikit terbuka. “Jembatan? Jembatan apa, Mas? Kok lompat-lompat?” tanya Aisyah yang bingung total karena sama sekali tidak tahu-menahu soal kejadian malam itu.
Maira yang cemas rahasia masa lalunya terbongkar, langsung memotong pembicaraan dengan wajah cemberut yang dibuat-buat. Ia menatap Fatih dengan pandangan ketus untuk menutupi rasa salah tingkahnya. “Ternyata... seorang Fatih bisa bercanda juga, yah? Kirain bisanya cuma ceramah doang kayak bapak-bapak,” ketus Maira sinis, namun matanya memancarkan binar geli.
Mendengar ketusan Maira yang ceplas-ceplos itu, pertahanan Fatih runtuh. Lelaki alim yang biasanya selalu bersikap formal dan berwibawa itu seketika terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar sangat renyah dan tulus, membuat suasana sore di teras kontrakan Maira yang tadinya kaku berubah menjadi sangat cair dan hangat.
Aisyah yang melihat interaksi tak biasa di antara kakaknya dan Maira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pasrah. “Ih, Mas Fatih mah mulai aneh deh. Rahasia-rahasiaan sama Mbak Maira. Ya udah ah, yuk kita pulang, Mas. Udah mau magrib, entar Umi nyariin.”
Fatih meredam tawa kecilnya, lalu kembali memasang wajah sopannya. “Iya, ayo. Kalau begitu, kami pamit dulu ya, Mbak Maira. Besok-besok kalau mau belajar lagi, kabari Aisyah saja.”
“Iya, Makasih banyak ya buat hari ini. Hati-hati di jalan, Syah,” ucap Maira melepas kepergian mereka.
“Dahhh Mbak Maira! Sampai ketemu besok di kafe!” seru Aisyah riang seraya melambaikan tangannya sebelum naik ke jok belakang motor matic Fatih. Fatih memberikan anggukan hormat terakhir kepada Maira sebelum memakai helmnya, lalu perlahan memutar gas motornya, membelah jalanan sore yang mulai temaram.
Maira berdiri terpaku di ambang pintu, matanya lurus menatap kepergian motor matic Fatih hingga kendaraan itu benar-benar hilang di tikungan jalan. Suasana mendadak menjadi hening, meninggalkan Maira sendirian di bawah lampu teras yang baru saja ia nyalakan.
Maira menyentuh dadanya sendiri. Tepat di balik tulang rusuknya, ada sebuah desir hebat yang bergejolak tanpa bisa ia kendalikan. Bayangan bagaimana Fatih pasang badan melindunginya dari ancaman Rayn kemarin, hingga bagaimana Fatih terkekeh pelan saat menggodanya tadi, berputar-putar di dalam kepalanya bak kaset rusak.
Senyuman manis Fatih sore itu benar-benar melekat kuat di dalam ingatannya. Ada rasa hangat yang asing, sebuah getaran manis yang belum pernah Maira rasakan selama hidupnya.
Namun, kegembiraan sesaat itu tidak bertahan lama. Sedetik kemudian, Maira menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan berat. Senyuman di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh gurat kesedihan yang teramat dalam. Maira tersadar dari lamunannya, dan rasa sadar diri itu seketika menghantam dadanya dengan telak, menyisakan rasa sesak yang pilu.
“Gak, Mai... lo gak boleh berharap lebih,” bisik Maira lirih pada dirinya sendiri.
Ia menundukkan kepala, menatap lantai semen terasnya yang dingin. Rasa minder dan rasa bersalah atas masa lalunya kembali mencuat ke permukaan. Siapa dirinya? Dia hanyalah Maira, seorang mantan wanita malam yang terbiasa hidup bebas di kelab, yang tubuhnya pernah disentuh oleh lelaki berengsek, dan yang membaca kitab suci pun masih harus dieja layaknya anak balita.
Sementara Fatih? Fatih adalah sosok lelaki yang teramat alim, bersih, memiliki pemahaman agama yang kuat, dan selalu menjaga pandangannya dengan terhormat. Mereka bagaikan minyak dan air, bagaikan bumi dan langit yang tidak akan pernah bisa disatukan.
Maira meremas ujung jilbabnya dengan erat. “Gue gak pantas buat cowok sepadan dan sealim Fatih. Mengharapkan dia cuma bakal bikin gue makin tahu diri kalau gue ini penuh dengan kotoran masa lalu.”
Dengan hati yang mendadak diselimuti rasa pilu, Maira melangkah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat, mencoba menepis jauh-jauh desiran cinta yang baru saja mekar di hatinya sebelum rasa itu tumbuh terlalu besar dan menggoreskan luka baru.