Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekar Datang Lagi ( Revisi )
" Ada apa ini?" ketiga perempuan yang sedang terlibat obrolan pun menoleh ke arah sumber suara. "Mama, Marsya, kalian disini?" Kais yang melihat ibu dan istrinya Marsya datang ke kantor sedikit terkejut. "Kalian ke sini kenapa nggak kabarin aku?" Kais melangkah mendekati sang ibu dan kemudian mengalaminya dengan takzim.
"Apa mama harus membuat appointment ke sekertaris kamu buat ketemu anak sendiri?" dengan nada ketus Sekar menatap tajam ke arah sang putra dengan menautkan kedua tangan nya di depan dadanya.
"Bukan begitu ma, Kais cuma nggak mau mama datang sia-sia kesini untuk ketemu Kais. Coba kalau mama kesini pas Kais meeting. Pastinya mama akan tunggu lama, bukan?" Kais bicara dengan lembut dengan merangkul bahu sang mama.
"Kai, kamu baru datang? Semalam kamu tidur dimana, aku pulang dari Bali terus sampai rumah ternyata kamu nggak ada di rumah. Kata bibi malah kamu nggak pulang beberapa hari." Sekar mendengar ucapan menantunya kembali menatap sang putra dengan penuh selidik.
Sedangkan Marsya menatap nya menuntut jawaban. "Aku baru pulang dari luar kota. Tinjau proyek disana, pulangnya aku ke rumah Rendi. Kalau nggak percaya, tanya Rendi. Ya kan Ren?"
Rendi yang tadi datang bersama Kais pun langsung mengangguk tapi matanya melirik ke arah Anisa yang saat ini menundukkan kepalanya.
"Oh gitu, aku kesini sebenarnya mau ijin sama kamu. Kalau nanti malam aku harus ke Singapura. Aku telpon ponsel kamu nggak aktif makanya aku kesini. Telpon nomer Anisa juga dari semalam nggak aktif." Marsya menatap ke arah Reksa dan beralih ke Anisa yang saat ini mendongakkan kepalanya menatap ke arah Marsya.
"Kamu mau ke Singapura? Berapa lama? Bukannya kamu baru pulang dari Bali, apa nggak capek?" Marsya menggelengkan kepalanya melirik ibu mertuanya. "Terserah kamu, aku cuma pesan jangan terlalu memforsir diri. Ingat, kamu sekarang sedang program. Jadi, jaga kesehatan kamu." Marsya mengangguk dan tersenyum menatap sang suami.
"Mama sebenarnya mau lihat kamu saja. Mama ingin kamu sama Marsya ke rumah. Tapi, karena Marsya lebih memilih pergi ke Singapura, ya udah...nggak apa-apa. Lain waktu kalian bisa kerumah mama. Kalau gitu mama pergi dulu." Sekar berpamitan pada Kais.
"Aku juga mau pulang Kai, kita bareng ma." Sekar mengangguk dan kemudian melangkah pergi. Disusul oleh Marsya.
...----------------...
Sore hari setelah semua pekerjaan Anisa beres, dia pun berniat untuk berpamitan pulang pada Kais. Anisa mengetuk pintu ruangan kerja Kais.
Terdengar dari dalam suara Kais memintanya untuk masuk. Saat membuka pintu ruangan itu, terlihat Kais saat ini berdiri membelakangi anisa. Terlihat pria itu menatap ke luar , di sana terlihat lampu-lampu jalanan dan lampu-lampu gedung pencakar langit mulai menyala.
"Pak, ini dokumen untuk meeting besok pagi dan ini proposal dari klien baru kita. Saya sudah cek dan pak Rendi pun sudah cek dan beliau sudah acc. Tinggal bapak double cek saja. Sekalian saya permisi pulang, bapak mau lembur atau tidak? kalau lembur mau saya buatkan kopi dulu sebelum pulang?" Ucapan Anisa yang panjang lebar itu belum juga di respon oleh Kias.
Anisa pun berinisiatif untuk mendekat ke arah Kais yang masih berdiri diam membelakangi nya. Terlihat bahu Kais terangkat sedikit menghela nafas panjang lalu dia berbalik arah berdiri tepat di depan Anisa.
"Pak, Aaaggghhh...!!" Anisa memekik kala Kais menarik tangan nya dan kemudian memposisikan Kais memeluk tubuh Anisa dari belakang.
"Kamu mau kemana hemm? Mau menemui laki-laki itu, tidak akan aku biarkan Nis. Aku nggak akan pernah biarkan kamu pergi dari ku.." suara penuh penekanan itu terdengar jelas di telinga Anisa. Rasanya tubuhnya merinding saat Kais memegang dagunya dan menci*m leher jenjang Anisa.
"Pak___aaa..hhh___
Kais tersenyum tipis saat Anisa merespon dengan sebuah de*ahan. Kais mendaratkan ci*man dibibir Anisa dengan dalam dan penuh gai*ah bahkan cenderung kasar. Anisa berusaha untuk menolak tapi, lagi-lagi tubuhnya mengkhianati hatinya. Tangan Anisa mencengkram kuat bahu Kais.
Ciu*man itu semakin panas dan terkesan layaknya pertandingan antara keduanya. Bahkan nafas mereka terputus-putus saat kain yang membalut tubuh mereka melayang berserakan di lantai ruangan itu. Dengan gerakan cepat Kais mengangkat tubuh Anisa keatas meja kerja nya.
Kais kembali mereguk indahnya malam bersama Anisa. Tak ada rasa bosan atau lelah untuk sebuah tujuan yang tersembunyi. Kais tak ingin melepaskan Anisa, dia sadar dia punya Marsya tapi,dia tak bisa membendung gejolak yang membuat dia lupa diri jika bersama Anisa. Apalagi saat ini mereka sudah sah menjadi suami istri. Dia tak ingin Anisa di sentuh laki-laki lain.
Satu jam mereka menyelesaikan kegiatan panas mereka. Anisa menatap jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Kais memeluk tubuh Anisa yang sedang berdiri merapihkan penampilan nya. "Aku masih merindukan mu, kita ke apartemen.." Anisa membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Kais.
"Tidak bisa, aku nggak mungkin tinggal di sana. Bagas__
"Jangan bahas dia kalau kamu sedang bersama ku, mengerti?" dengan wajah kesalnya Kais memprotes kala Anisa menyebut nama Bagas di obrolan mereka.
"Mas____
"Anisa, please...
Anisa memeluk tubuh Kais dan kemudian memberikan sedikit lum*tan di bib*r Kais membuat laki-laki itu tersenyum smirk.
"Ternyata kamu sudah berani, Hem.?"
"Untuk kali ini, aku mohon biarkan aku pulang." dengan wajah memelas akhirnya Kais mengangguk dan kemudian senyum sumringah pun terbit. Membuat Anisa reflek mencium pipi Kais beberapa kali dan mengecup singkat bib*r laki-laki yang sudah sah menjadi suami sirinya.
Tindakan Anisa itu membuat Kais tidak begitu saja membiarkan istri keduanya itu pergi darinya. Kais bahkan menahan menarik tubuh Anisa lebih dekat dengan nya dan kemudian menekan tengkuk gadis itu dan melakukan ci*man yang cukup panas dan membuat Anisa dengan cepat menghentikan aksi Kais sebelum mode pemburu Kais muncul.
"Sudah, aku pulang dulu.Bye...!"
Dengan terpaksa Kais melepaskan Anisa dan membiarkannya pulang lebih dulu.
...----------------...
Keesokan harinya, Sekar sampai di kantor Kais. Di sana Sekar bertemu dengan Anisa yang sedang sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
"Anisa." Sekar memanggil nama Anisa yang terlihat fokus dengan pekerjaannya.
Anisa yang mendengar namanya di sebut langsung menatap ke arah dia mana Sekar berdiri. Anisa reflek berdiri dan tersenyum saat melihat Sekar yang sudah ada di depannya.
"Selamat siang nyonya, maaf saya tidak tahu nyonya datang. Pak Kais ada di dalam, nyonya ingin menemui pak Kais?"
"Iya. Kamu sibuk sekali sampai tidak tahu saya datang. Jaga kesehatan kamu, jangan terlalu menuruti tuntutan Kais. Kamu harus bisa menolak." ucapan Sekar membuat Anisa tersenyum tipis.
"Sudah jadi tugas saya nyonya. Mari, saya antar ke ruangan pak Kais.." Anisa membimbing Sekar menuju ruangan Kais.
Anisa mengetuk pintu ruangan Kais lebih dulu. Setelah mendapat persetujuan, Anisa membuka pintu ruangan itu.
"Maaf pak, nyonya Sekar ingin bertemu dengan anda." mendengar nama sang mama Kais membuang nafas kasarnya.
"Bawa mama masuk Nis." Anisa mengangguk dan membuka lebar pintu ruangan Kais.
Anisa memberi isyarat pada Sekar untuk masuk. "Silahkan nyonya." Sekar masuk ke dalam ruangan kerja Kais.
"Anisa, tolong buatkan minum untuk mama saya." Kais memerintahkan Anisa untuk membuat minum buat sang mama.
"Teh hangat saja ya Nis, dengan sedikit gula."
"Baik nyonya." Anisa pun melangkah keluar ruangan itu dan menutup pintu ruangan Kais.
Sementara di ruangan Kais, Sekar duduk menatap tajam ke arah sang putra.
"Mama kenapa kesini nggak kasih tahu Kais lagi?"
"Kenapa,apa kedatangan mama buat kamu keganggu atau karena takut mama tahu hubungan kamu dengan Anisa,hem?"
Sebuah senyuman miring terbit di bibir Sekar. Sedangkan Kais hanya bisa menelan ludah nya saat mendengar ucapan sang ibu.
Bersambung