Darah Pewaris Dewa
Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.
Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.
Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.
Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...
sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjalanan menuju pintu gerbang langit
Sisa puing rumah masih mengeluarkan aroma hangus.
Dinding yang retak, lantai yang pecah, dan kaca yang berserakan menjadi saksi bahwa sesuatu yang bukan manusia baru saja datang dan pergi dari tempat itu.
Atlas berdiri di tengah ruang tamu yang hancur, memandangi semuanya dalam diam.
Oliver berdiri di dekat pintu, tangannya masih gemetar meski cahaya biru dari kalung gioknya sudah meredup.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.
Hanya suara angin yang masuk dari pintu yang hancur.
Akhirnya Oliver memecah keheningan.
“Jadi… ini baru permulaan?”
Atlas tidak langsung menjawab.
Matanya tertuju pada langit di luar jendela yang kini kembali normal, seolah tidak pernah terjadi pusaran raksasa beberapa jam lalu.
“Kalau mereka benar datang dari tempat yang kita lihat tadi…” Atlas berhenti sejenak. “Berarti kita sudah ditandai.”
Oliver menghela napas panjang.
“Ditandai oleh apa?”
Atlas mengangkat surat ibunya.
“Ini.”
Kalimat itu sederhana, tapi berat.
Oliver menatap surat itu lagi, meskipun ia sudah membacanya berkali-kali.
“Kuil Gerbang Langit…”
“Dan Penjaga Terakhir,” tambah Atlas.
Perjalanan Dimulai
Mereka tidak punya banyak pilihan.
Tidak ada keluarga lain. Tidak ada tempat aman. Tidak ada kehidupan lama yang bisa dipertahankan.
Semua sudah runtuh di malam ketika segel darah mereka terbuka.
Atlas memasukkan pedang kuno ke dalam sarung hitamnya.
Saat bilah itu tertutup, cahaya merahnya meredup, tetapi masih terasa seperti sesuatu yang hidup.
Oliver menyentuh kalung giok di lehernya.
“Kalau ini semua nyata… berarti ibu kita benar-benar bagian dari sesuatu yang besar.”
Atlas mengangguk pelan.
“Dia bukan hanya bagian.”
“Dia penjaga.”
Kota yang Tidak Lagi Sama
Mereka keluar dari rumah menjelang siang.
Namun Kota Senja terasa berbeda.
Langit tetap cerah, kendaraan tetap berlalu-lalang, orang-orang tetap beraktivitas.
Tapi bagi Atlas dan Oliver…
Semua terlihat palsu.
Seolah ada lapisan tipis yang menutupi dunia sebenarnya.
Oliver menatap sekeliling.
“Aneh ya… orang-orang ini nggak tahu apa-apa.”
Atlas menjawab pelan.
“Itu mungkin lebih baik.”
Namun saat mereka berjalan melewati gang kecil menuju jalan utama…
Atlas berhenti.
“Ada yang mengawasi kita.”
Oliver langsung menegang.
“Yang tadi malam?”
Atlas menggeleng.
“Bukan.”
Ia menatap ke atap gedung di kejauhan.
Tidak ada siapa pun.
Namun insting di dalam tubuhnya berteriak.
Bahaya.
Sosok di Atap
Di atas gedung tua berlantai lima, seorang sosok berdiri diam.
Ia tidak memakai jubah seperti Penjaga Gerbang sebelumnya.
Ia mengenakan pakaian hitam sederhana seperti manusia biasa.
Namun matanya berbeda.
Matanya berwarna abu keperakan, seperti kabut yang tidak pernah menetap.
Sosok itu memperhatikan Atlas dan Oliver dari kejauhan.
“Dua pewaris…” gumamnya pelan.
Suaranya tidak terdengar oleh orang lain.
Hanya angin yang membawa bisikan itu.
Ia mengangkat tangannya sedikit.
Di udara muncul garis-garis cahaya tipis, seperti peta yang sedang terbentuk.
“Segel kedua sudah retak lebih cepat dari perkiraan.”
Sosok itu menurunkan tangannya.
“Menarik.”
Lalu ia menghilang dari atap itu tanpa suara.
Pertemuan Tak Terduga
Sementara itu di jalan bawah…
Oliver mulai merasa tidak nyaman.
“Mas, kita ini mau ke mana sebenarnya?”
Atlas membuka surat ibunya lagi.
Ada satu kalimat yang sebelumnya mereka abaikan.
"Pergilah ke tempat di mana matahari tidak pernah menyentuh tanah."
Oliver mengernyit.
“Itu maksudnya apa?”
Atlas berpikir sejenak.
“Tempat tanpa matahari…”
“Bawah tanah?”
Belum sempat mereka menyimpulkan lebih jauh—
BRRRAK!
Sebuah motor hampir menabrak Oliver dari samping.
Atlas langsung menarik adiknya ke belakang.
“AWAS!”
Motor itu berhenti mendadak.
Pengendaranya adalah seorang pria muda berjaket lusuh.
Ia melepas helmnya perlahan.
“Kalau mau mati, jangan berdiri di tengah jalan.”
Oliver langsung kesal.
“Hei, lo yang hampir nabrak kami!”
Namun Atlas memperhatikan sesuatu.
Pria itu…
Tidak biasa.
Ada luka kecil di lehernya yang bersinar sangat samar, seperti bekas tanda energi.
Pria itu menatap Atlas.
Lalu tersenyum kecil.
“Kalian berdua… baru saja ‘bangun’, kan?”
Oliver langsung waspada.
“Siapa kamu?”
Pria itu turun dari motornya.
“Aku bukan musuh.”
Ia menunjuk ke arah timur kota.
“Tapi kalau kalian benar-benar ingin hidup… kalian harus meninggalkan kota ini sebelum malam.”
Atlas menatap tajam.
“Kenapa?”
Pria itu menghela napas.
“Karena kalian sudah mulai mengeluarkan ‘bau darah’.”
Tanda Pemburu
Oliver tidak mengerti.
“Bau darah? Itu apaan?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah koin kecil berwarna hitam.
Saat koin itu dilempar ke udara—
koin itu tidak jatuh.
Melainkan melayang.
Dan berputar.
Di sekelilingnya muncul simbol-simbol merah samar.
Atlas langsung merasakan tekanan di dadanya.
“Apa itu?”
Pria itu menangkap kembali koinnya.
“Alat pendeteksi.”
“Pendeteksi apa?”
Pria itu menatap mereka serius.
“Pewaris yang bangkit.”
Oliver terdiam.
Atlas mengepalkan tangan.
“Jadi kamu juga dari dunia itu.”
Pria itu tidak menyangkal.
“Aku pernah menjadi bagian dari penjaga.”
“Tapi sekarang aku cuma orang yang mencoba bertahan hidup.”
Ia menunjuk lagi ke arah timur.
“Kuil Gerbang Langit yang kalian cari… bukan tempat yang mudah dicapai.”
“Dan perjalanan ke sana akan menarik semua yang ingin kalian mati.”
Arah Baru
Angin mulai bertiup lebih kencang.
Langit kembali terasa tidak stabil.
Atlas menatap Oliver.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, ia tidak langsung mengambil keputusan sendiri.
“Gimana?”
Oliver menatap jalan di depan mereka.
Lalu menatap pria asing itu.
“Aku nggak percaya dia…”
“...tapi aku juga nggak punya pilihan lain.”
Atlas mengangguk.
Mereka kembali menatap pria itu.
“Kami ikut.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Bagus.”
Ia menyalakan motornya.
“Naik.”
Di kejauhan, awan mulai berubah warna menjadi abu gelap.
Dan tanpa mereka sadari…
Sesuatu yang lebih besar dari Penjaga Gerbang sebelumnya sudah mulai bergerak.
Motor melaju meninggalkan Kota Senja.
Angin yang menerpa wajah terasa lebih dingin dari biasanya, seperti udara yang mereka lewati bukan lagi bagian dari dunia yang sama.
Atlas duduk di belakang, satu tangan memegang erat pegangan motor, sementara tangan lainnya tetap berada dekat sarung pedangnya. Oliver duduk di paling belakang, tubuhnya sedikit kaku, matanya terus mengamati jalan yang semakin lama semakin sepi.
Di depan mereka, pria misterius itu mengendarai motor tanpa banyak bicara.
Nama yang ia berikan tadi belum benar-benar mereka terima. Bahkan Atlas masih menahan rasa curiga.
“Jauh lagi?” tanya Oliver akhirnya, memecah kebisuan.
Pria itu tidak menoleh.
“Kalau kalian masih hidup sampai malam, baru kita sampai setengah jalan.”
Oliver mendengus pelan.
“Jawaban paling menyebalkan yang pernah gue denger.”
Atlas tetap diam, tapi matanya tidak berhenti mengamati sekitar.
Jalanan yang mereka lewati semakin aneh.
Asphalt yang awalnya normal mulai retak-retak, seperti tanah yang sudah lama tidak disentuh manusia. Tiang listrik berdiri miring, dan beberapa rumah di pinggir jalan tampak kosong seperti sudah ditinggalkan bertahun-tahun.
Padahal mereka masih berada tidak jauh dari kota.
“Ini… masih wilayah Kota Senja?” Oliver bertanya pelan.
Pria di depan akhirnya menjawab.
“Secara peta, iya.”
“Tapi secara dunia… sudah tidak.”
Atlas langsung menatapnya lebih tajam.
“Maksudmu apa?”
Pria itu menghela napas.
“Kalian sudah pernah melihat Alam Dewa, kan?”
Oliver langsung menegang.
Atlas tidak menjawab, tapi ekspresinya cukup untuk memberi jawaban.
Pria itu melanjutkan.
“Begitu segel darah kalian retak, dunia mulai ‘melihat’ kalian.”
“Dan ketika dunia mulai melihat… batas antara lapisan akan ikut terbuka.”
Oliver menelan ludah.
“Lapisan?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat tangan sedikit.
Di udara, sesuatu terlihat seperti gelombang tipis—mirip panas di jalanan, tapi berbentuk lebih teratur.
“Dunia ini tidak hanya satu,” katanya pelan.
“Ada lapisan manusia… lapisan bayangan… dan lapisan atas.”
Atlas mengerutkan kening.
“Alam Dewa.”
Pria itu mengangguk.
“Dan sekarang kalian berada di titik retakan di antara semuanya.”
Jalan yang Tidak Lagi Stabil
Tiba-tiba motor berhenti.
Oliver hampir jatuh ke belakang.
“Hei! Kenapa berhenti?!”
Pria itu turun perlahan.
“Karena kita sudah masuk zona retakan.”
Atlas langsung ikut turun, tangannya sudah siap menarik pedang jika perlu.
Di depan mereka, jalan terlihat… salah.
Bukan rusak secara fisik, tapi seperti “terlipat”.
Mobil yang lewat di kejauhan tampak seperti bayangan yang bergerak terlalu lambat, lalu tiba-tiba menghilang seperti tidak pernah ada.
Oliver menggosok matanya.
“Ini… ilusi?”
Atlas menggeleng pelan.
“Bukan.”
“Ini dunia yang mulai tumpang tindih.”
Pria itu menunjuk ke udara.
“Lihat.”
Atlas fokus.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihatnya dengan jelas.
Retakan kecil di udara.
Seperti kaca yang pecah, tapi tidak jatuh.
Di dalam retakan itu, terlihat sekilas pemandangan berbeda—
menara tinggi dari cahaya,
langit berlapis emas,
dan sesuatu yang bergerak seperti bayangan besar di kejauhan.
Oliver mundur satu langkah.
“Gue nggak suka ini…”
“Bagus,” kata pria itu singkat. “Kalau kalian mulai suka, berarti kalian sudah mati.”
Serangan Pertama di Jalan Retak
Tanpa peringatan, retakan di udara melebar.
Sesuatu keluar dari dalamnya.
Bukan Penjaga Gerbang.
Bukan manusia.
Tapi makhluk yang bentuknya seperti gabungan antara bayangan dan tulang yang patah.
Matanya kosong, tubuhnya terlalu panjang, dan setiap langkahnya membuat tanah di bawahnya menghitam.
Oliver langsung mundur.
“Itu apaan lagi?!”
Pria itu tidak terlihat terkejut.
“Pemburu Retakan.”
Atlas langsung menarik pedangnya.
“Dari Alam Dewa?”
Pria itu mengangguk.
“Mereka dikirim untuk menghapus jejak kalian.”
Makhluk itu menoleh ke arah Atlas.
Dan dalam satu detik—
ia melesat.
Cepat.
Terlalu cepat.
Atlas menahan serangan pertama dengan pedang.
CLANG!
Benturan itu membuat lengannya bergetar keras.
“Berat…” gumam Atlas.
Makhluk itu menekan lebih kuat.
Oliver langsung bereaksi.
Kalung giok di lehernya menyala.
Waktu di sekitar makhluk itu melambat.
“Sekarang, Mas!”
Atlas memanfaatkan celah itu.
Ia memutar tubuhnya dan menebas ke arah dada makhluk tersebut.
Namun pedangnya hanya meninggalkan goresan.
“Tidak mempan?!”
Pria itu berteriak dari belakang.
“Bukan tubuhnya yang harus diserang!”
“Cari inti retaknya!”
Atlas mengerutkan kening.
“Inti?”
Ia memaksa fokus.
Dan di tengah tubuh makhluk itu… ia melihatnya.
Sebuah titik hitam berdenyut, seperti luka di realitas.
Atlas mengayunkan pedangnya sekali lagi.
CRASH!
Titik hitam itu hancur.
Makhluk itu berhenti bergerak.
Lalu tubuhnya pecah menjadi serpihan bayangan yang tersapu angin.
Oliver terengah.
“Gila… itu baru satu?”
Pria itu mengangguk pelan.
“Dan itu yang paling lemah.”
Kebenaran Tentang Pria Misterius
Setelah makhluk itu lenyap, jalan kembali sunyi.
Retakan di udara perlahan menutup.
Atlas menatap pria itu.
“Kamu belum bilang siapa kamu sebenarnya.”
Pria itu diam beberapa saat.
Lalu melepas helm motornya sepenuhnya.
Wajahnya terlihat jelas sekarang.
Usianya tidak jauh dari Atlas. Mungkin sedikit lebih tua.
Namun matanya… menyimpan sesuatu yang jauh lebih tua dari usianya.
“Aku pernah disebut sebagai penjaga.”
“Tapi sekarang aku hanya orang yang tersisa.”
Oliver menyipitkan mata.
“Tersisa dari apa?”
Pria itu menatap ke arah langit.
“Dari perang yang kalian baru saja masuk ke dalamnya.”
Ia menghela napas.
“Namaku Raka.”
“Dan aku dulu bagian dari unit yang menjaga Gerbang Langit.”
Atlas langsung menegang.
“Penjaga Gerbang Langit…”
Raka mengangguk.
“Tapi unit itu sudah hancur.”
“Karena seseorang membuka segel yang tidak seharusnya dibuka.”
Ia menatap Atlas dan Oliver bergantian.
“Dan sekarang… segel itu ada di dalam darah kalian.”
Arah ke Kuil
Malam mulai turun lebih cepat dari biasanya.
Langit berubah gelap tanpa transisi.
Raka kembali menyalakan motornya.
“Kita harus lanjut sekarang.”
Oliver bertanya cepat.
“Ke mana sebenarnya?”
Raka menatap ke depan.
“Ke tempat yang bahkan Alam Dewa tidak ingin kalian temukan dengan mudah.”
“Kuil Gerbang Langit.”
Atlas naik kembali ke motor tanpa ragu.
Oliver mengikuti, meski wajahnya masih penuh keraguan.
Motor kembali melaju.
Namun kali ini…
jalan di depan mereka sudah tidak lagi dunia manusia.
Di kejauhan, langit terlihat seperti robek halus.
Dan di baliknya…
bayangan sebuah kuil raksasa perlahan mulai terlihat.
Seolah dunia sendiri sedang membuka jalannya