NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Aku Sudah Mati Rasa, Mas!

Mari Bercerai, Aku Sudah Mati Rasa, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.

Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.

Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.

pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aulia 13

Setelah menyelesaikan urusan di butik dan salon, Belinda mengajak Galang ke sebuah restoran estetis bergaya Eropa di pusat kota untuk makan siang. Tempat itu sangat mewah, dengan harga menu yang sukses membuat Galang diam-diam meringis memikirkan sisa saldo di rekeningnya. Namun, demi menjaga gengsi di hadapan wanita yang dipujanya itu, Galang tetap memasang wajah tenang.

Saat hidangan utama baru saja disajikan, Belinda bangkit dari kursinya.

"Sayang, aku ke toilet sebentar ya. Mau merapikan make-up," pamit Belinda manja, yang dibalas Galang dengan anggukan dan senyuman manis.

Begitu sosok Belinda menghilang di balik lorong menuju toilet, senyuman di wajah Galang langsung luntur. Keheningan di mejanya tiba-tiba memicu kembali rasa bersalah yang sejak pagi ia tekan dalam-dalam. Bayangan Cantika yang menunjuk ke arah gerbang dengan tatapan bingung mendadak berputar kembali di benaknya seperti kaset rusak.

Jantungnya berdegup tidak tenang. Ada rasa penasaran, sekaligus ketakutan yang mendesak. Bagaimana penampilan Cantika tadi? Apakah anaknya menangis karena ia tinggal? Dengan tergesa-gesa, Galang mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dia membuka aplikasi pesan singkat dan mencari nama Aulia. Jarinya sempat ragu di atas layar, sebelum akhirnya mengetikkan pesan dengan cepat.

Galang: Aulia, Cantika bagaimana? Penampilannya lancar, kan? Tadi aku benar-benar ada urusan mendadak yang sangat darurat dan tidak bisa ditunda. Tolong kirim foto atau video Cantika waktu di panggung tadi.

Galang menatap pesan terkirim itu dengan napas tertahan. Dia berharap Aulia akan langsung membalas, atau setidaknya meluapkan kemarahan seperti biasa agar rasa bersalah di hatinya sedikit berkurang.

Namun, menit demi menit berlalu. Pesan itu hanya menunjukkan status centang dua, menandakan bahwa pesan tersebut sudah masuk ke ponsel Aulia, namun sama sekali tidak dibaca, apalagi dibalas. Aulia mengabaikannya sepenuhnya.

"Kamu lagi lihat apa sih, Sayang? Kok serius banget?" suara manja Belinda tiba-tiba terdengar, mengejutkan Galang.

Belinda sudah kembali dengan lipstik yang baru dipulas merah menyala, langsung duduk di kursinya dan melirik curiga ke arah ponsel Galang. Galang terperanjat, dengan cepat membalikkan ponselnya di atas meja dan memaksakan tawa kecil.

"Ah, bukan apa-apa, Bel. Cuma... urusan kantor sebentar. Ayo, dimakan nanti keburu dingin."

Belinda tersenyum puas dan mulai memotong steak di piringnya, kembali mengoceh tentang rencana arisan mewahnya nanti malam. Galang mengangguk-angguk patuh, namun pikirannya kini tidak lagi berada di restoran itu. Tatapannya kosong tertuju pada ponselnya yang bisu.

Galang tidak pernah tahu bahwa di tempat lain, Aulia sengaja membalik ponselnya ke atas meja restoran tanpa berniat membuka ruang obrolan mereka. Bagi Aulia, pesan dari Galang tidak lebih dari sekadar sampah yang tidak lagi berhak mengotori hari bahagia putrinya.

Meskipun daging steak premium di piringnya terasa empuk, Galang merasakannya seperti mengunyah bongkahan karet. Hambar. Setiap kali Belinda tertawa atau memamerkan kuku cantiknya yang baru selesai di manikur, suara tawa itu terdengar berdenging jauh di telinga Galang.

Setiap beberapa detik, mata Galang secara refleks melirik ke arah layar ponselnya yang tertelungkup di atas meja. Ia berharap ada getaran, ada lampu notifikasi yang berkedip, atau bahkan telepon caci maki dari Aulia. Namun, benda persegi itu tetap bergeming. Kebungkaman Aulia justru terasa jauh lebih mengerikan daripada rentetan kemarahan yang biasa wanita itu luapkan jika mereka sedang berselisih paham.

“Kenapa dia tidak membalas? Biasanya dia langsung mengirim foto Cantika,” batin Galang mulai dirayapi kecemasan.

"Galang! Kamu dengar aku gak sih?!"

Suara tinggi Belinda seketika memotong lamunan Galang. Wanita itu menaruh garpunya dengan denting yang cukup keras, menatap Galang dengan cemberut.

"Aku dari tadi ngomongin soal liburan kita bulan depan, kamu malah bengong terus. Mata kamu juga ngelihatin HP mulu. Ada apa sih?"

Galang tersentak, buru-buru memajukan badannya dan meraih tangan Belinda yang ter-manikur rapi.

"Maaf, Bel. Sungguh, maaf. Aku cuma... kepikiran proyek di kantor yang tadi mendadak ada masalah sedikit. Kepalaku agak pusing," dusta Galang lagi, kali ini dengan senyum yang tampak sangat dipaksakan. Belinda menarik tangannya kembali dengan angkuh.

"Ya sudah, selesaikan cepat. Aku gak suka ya makan siang romantis tapi kamunya malah gak fokus begini."

Galang mengangguk patuh, namun kegelisahan di dalam dadanya justru semakin menjadi-jadi. Rasa bersalah yang awalnya berhasil dia padamkan dengan ego, kini merayap naik seperti racun. Dia mulai membayangkan bagaimana raut wajah Cantika jika tahu ayahnya pergi begitu saja. Dia juga teringat kepalan tangan Aulia yang sempat dia lihat sekilas dari kaca spion sebelum dia menginjak gas dalam-dalam pagi tadi.

Ada yang berbeda dari Aulia hari ini, pikir Galang. Tatapan mata istrinya sebelum dia pergi tadi tidak memancarkan kesedihan atau permohonan agar dia tinggal, melainkan sesuatu yang dingin dan kosong.

Rasa tidak nyaman itu membuat lambung Galang bergejolak. Uang di rekeningnya sudah terkuras habis untuk gaun Belinda, egonya dipuja setinggi langit, namun entah mengapa, di dalam restoran mewah ini, Galang mendadak merasa sangat telanjang dan terancam. Kegelisahan itu terus membuntutinya, membisikkan firasat buruk bahwa kenyamanan yang ia banggakan ini dibayar dengan harga yang sangat mahal, kehancuran rumah tangganya yang sebenarnya.

Makan siang yang mahal itu akhirnya selesai, disusul dengan agenda mengantar Belinda kembali ke apartemennya untuk bersiap-siap menghadiri acara nanti malam. Sepanjang jalan, Galang hanya menjadi pendengar pasif. Pikirannya benar-benar tertinggal di halaman yayasan pagi tadi.

Begitu Belinda turun dari mobil dengan lambaian tangan manja yang biasa, Galang tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia buru-buru meraih ponsel, memeriksa kembali aplikasi pesan.

Nihil. Tetap centang dua abu-abu. Pesan darinya bahkan belum dibaca oleh Aulia. Rasa gelisah yang sejak tadi menumpuk di dadanya kini berubah menjadi kepanikan yang nyata. Galang tidak bisa lagi menahan diri. Ia menekan tombol panggilan ke nomor Aulia.

Tuuut... Tuuut...

Panggilan tersambung, namun tidak diangkat. Galang mencoba lagi untuk kedua kalinya, dan pada dering kelima, panggilan itu dialihkan secara sepihak. Aulia menolak teleponnya.

"Sial!" umpat Galang pelan sambil memukul kemudi mobilnya.

Jantungnya berdegup kencang, memompa kecemasan yang semakin menjadi-jadi. Selama enam bulan ia bermain api di belakang Aulia, istrinya itu selalu bisa dikendalikan dengan alasan-alasan klise tentang pekerjaan atau urusan keluarga ibunya, Bu Ratna. Tapi sikap dingin Aulia hari ini benar-benar di luar kendalinya.

Tanpa membuang waktu lagi, Galang langsung memindahkan tuas transmisi dan menginjak pedal gas. Dia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Persetan dengan acara makan malam bersama teman-teman arisan Belinda nanti malam, kegelisahan di dalam dadanya harus segera ditenangkan. Dia perlu melihat respons Aulia secara langsung untuk memastikan bahwa posisinya sebagai kepala keluarga yang memegang kendali penuh masih aman.

Perjalanan menuju rumah terasa begitu panjang dan menyiksa bagi Galang. Setiap lampu merah yang ia temui seolah sengaja mengulur waktu untuk mempermainkan isi kepalanya yang kian semrawut.

Hampir tiga puluh menit membelah jalanan kota, mobil Galang akhirnya berbelok masuk ke kompleks perumahan mereka.

1
Sari Supriyanti
up...up...uuuuupppppp.....semangat ....semngaaaaattttt...💪💪💪😍😍😍😍
ryuka
baguusss aulia... kamu kereenn.. kereeenn bangwt malaaaahh.. cantika ga butuh keluarga bapak nya sama zekali toxic banget 🔥🔥🔥🔥
Ambu Rinddiany Thea
galon mana galooon 🤣
Mundri Astuti
libas sekalian Aulia ...jangan kasih muka tu si Galang banci....tampol sekalian keluarga benalunya
Ambu Rinddiany Thea
kmh lamn posisi s aulia aya d anak2 cewe manehna ratna .. mikir ath sagenah na we .. lila lila d sleding gera tah
Heni Setiyaningsih
gimana Galang?? panik kaaannn,,,, panik dong ,masa gak panik🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yam_zhie: jangan keras-keras kak kasihan 🙈
total 1 replies
nely_48
keberuntungan berpihak pd mu aulia,,, sok kumpul semua para benalu n pelakor vs istri sah yg terzholimi , jd tontonan tetangga n ada yg mem viralkan, tamat s galang family s pelakor
Yam_zhie: haha bener teh 🙈
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjut makin seruuuiu 💪
Yam_zhie: maksih kak 🤗
total 1 replies
Ariany Sudjana
hahaha seru ini 🤣🤣😂😂 mampus kamu Galang, gimana Bu Ratna, pelacur murahan kesayangan Galang sudah muncul tuh 🤣🤣😂😂
Yam_zhie: pening Bu Ratna 🙈
total 1 replies
ryuka
terlambat kamu galang.. aulia zudah ga akan mundur.. makan itu semua kelakuan bodoh mu itu 🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍
Mundri Astuti
ohoooo tenang Galang, pelan" otw tuh yg kamu takutin di otak kamu, ga ngotak si jadi org...klo dah dtg tu karma ga kaleng" ntar
Yam_zhie: betul. apalagi yang dia dzalimi juga anaknya sendiri 😭😭
total 1 replies
Muft Smoker
jgn2 pak ghani niih yg punya perusahaan tempat si galang kerja ,🤭🤭🤭🤭🤭
nely_48
d kerutug kan sm keluarga toxic
Ilham
aku penasaran pertemuan pertama Aulia sama yang punya perusahan
Ilham
lanjut
Ambu Rinddiany Thea
ya Allah genahna d kumahakeun nya eta indung na s galang plus anak2na .. 🤔🤔
gemar baca
syuka sama ceritanya,keren Mengen banget
arniya
makin seru and gereget.....
Thewie
Pakah pak Ghani ci i o yg menyamar🤭
Muft Smoker: kyakny dy bos ny galang ,,, amsyoong deeh si galang 😂😂😂😂
total 2 replies
ryuka
jangan2 yang punya itu Pak ghani, perusahaan tempat kerja nya si galang ubur2.. duhhh jadi penasaran thoorrr 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!