NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang Setia

Gemuruh mesin pesawat jet komersial berbadan lebar terdengar memekakkan telinga dari balik kaca tebal lantai tiga terminal keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta. Di luar sana, burung besi berwarna putih perak itu perlahan bergerak mundur, bersiap melakukan manuver menuju landasan pacu utama untuk terbang sejauh belasan ribu kilometer membelah samudera menuju London.

Rangga berdiri tegak dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana jinsnya. Jaket jins berlambang SMA Bina Karya kembali melekat di tubuhnya, kontras dengan suasana bandara yang dipenuhi orang-orang berpakaian rapi. Matanya tidak berkedip sedikit pun, terus mengunci pergerakan pesawat tersebut hingga akhirnya benda raksasa itu melesat kencang dan menghilang di balik gumpalan awan abu-abu sore itu.

Cinta benar-benar telah pergi. Tuan Kresna berhasil menggunakan tembok kastanya untuk memisahkan mereka secara fisik.

Aldi yang berdiri di sebelah kanan Rangga hanya bisa menghela napas panjang, menepuk pundak sahabatnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di situasi seperti ini, kata-kata penghiburan justru akan terdengar seperti omong kosong yang hambar.

Namun, di sebelah kiri Rangga, ada sepasang mata lain yang sejak tadi sama sekali tidak menatap ke arah jendela kaca. Tasya berdiri membisu, memandang profil wajah Rangga dari samping. Dia menyaksikan dengan jelas bagaimana rahang Rangga mengeras, dan bagaimana sepasang mata elang milik cowok itu memancarkan kekosongan yang begitu dalam. Luka di hati Rangga terpancar begitu nyata, dan hal itu tanpa sadar menggoreskan luka yang tidak kalah perih di dalam dada Tasya sendiri.

Tasya tahu betul posisi dirinya di sini. Dia hanyalah sepupu dari Aldi, gadis dari sirkel elite yang secara tidak sengaja masuk ke dalam kehidupan anak-anak Bina Karya. Tapi sejak pandangan pertama di kafe *The Glasshouse* saat melihat Rangga dengan berani menantang Nicholas demi Cinta, ada sesuatu yang patah dan tumbuh di dalam hati Tasya. Dia mengagumi Rangga, dia menghormati ketulusan cowok itu, dan perlahan, rasa kagum itu bermutasi menjadi sebuah perasaan sayang yang teramat dalam yang sayangnya terlambat untuk diungkapkan.

"Gue tahu hati lu ikut terbang bersama pesawat itu, Ngga," batin Tasya lirih sambil perlahan menundukkan kepalanya, menyembunyikan setetes air mata yang hampir jatuh di sudut matanya.

Minggu-minggu pertama setelah perpisahan di bandara berjalan seperti siklus kelabu yang membosankan bagi Rangga. Energinya sebagai pentolan anak badung SMA Bina Karya seolah menguap tanpa sisa. Dia tidak lagi bersemangat ikut nongkrong di warung Mak Iyoh, dan lebih sering menghabiskan waktu duduk termenung di sudut bengkel Mang Ojak, menatap ponselnya yang sepi tanpa ada satu pun pesan masuk dari nomor Cinta yang kini sudah tidak aktif lagi.

Di masa-masa sulit itulah, sosok Tasya mulai mengambil peran yang sangat besar secara senyap. Gadis itu seolah mengesampingkan kehidupan mewahnya sebagai anak gaul Jakarta demi menghabiskan waktu di lingkungan bengkel yang penuh dengan bau oli dan deru mesin yang bising.

Saat Rangga mulai mogok makan dan hanya mengonsumsi kopi hitam, Tasya yang akan datang membawa kotak bekal makanan yang dia siapkan sendiri dari rumah.

"Makan, Ngga. Lu kalau sakit, emangnya si Cinta bisa langsung balik dari London buat nyuapin lu? Gak kan? Jadi jangan bego," omel Tasya suatu sore dengan gaya bicaranya yang ketus, namun tangannya dengan sangat telaten meletakkan sendok dan membuka kotak bekal itu di depan Rangga.

Rangga hanya tersenyum tipis, menerima kotak bekal itu dengan rasa sungkan. "Makasih, Sya. Lu repot-repot banget sampai setiap hari ke sini."

"Gue gabut aja di rumah. Lagian kalau gak ada gue, lu berdua sama Aldi cuma bakal makan mi instan mentah tiap hari," kilat Tasya berbohong, mencoba menutupi perhatian besarnya agar tidak terlihat terlalu mencolok di depan Aldi yang mulai sering senyum-senyum sendiri melihat tingkah sepupunya.

Perlahan, berkat dorongan dan omelan Tasya yang konsisten, Rangga mulai bangkit. Dia mulai mengalihkan seluruh rasa rindu dan frustrasinya ke dalam pekerjaan mekanik di bengkel Mang Ojak. Rangga bekerja seperti orang kesurupan, membongkar mesin motor dari pagi hingga larut malam demi membuat otaknya terlalu lelah untuk memikirkan hal lain.

Dan selama larut malam yang dingin itu, Tasya selalu setia menemani. Saat Aldi sudah mendengkur tertidur di atas ban-ban bekas, Tasya tetap terjaga. Dia duduk di bangku kayu panjang bawah lampu neon yang berkedip, memegang buku pembukuan bengkel kecil tersebut, namun pandangannya lebih sering mencuri lihat ke arah punggung tegap Rangga yang dipenuhi peluh dan noda oli hitam.

Ada rasa bahagia yang aneh saat Tasya bisa berada sedekat ini dengan Rangga, mendengarkan deru napas cowok itu, dan menjadi orang pertama yang menyodorkan botol air mineral saat Rangga menyelesaikan pekerjaannya. Namun di sisi lain, kebahagiaan itu selalu dibayangi oleh rasa perih yang konstan. Tasya tahu, sekeras apa pun dia berusaha ada di samping Rangga, posisi di dalam hati cowok itu sudah habis terjual, penuh terisi oleh nama Cinta Alisya.

Malam semakin larut ketika jam dinding di bengkel Mang Ojak menunjukkan pukul sebelas tepat. Rangga akhirnya menyerah pada rasa lelah yang teramat sangat setelah seharian penuh memodifikasi mesin motor balap milik pelanggan. Cowok itu merebahkan tubuhnya di atas bangku kayu panjang panjang dengan posisi berbantalkan lengan kirinya sendiri.

Hanya dalam hitungan menit, napas Rangga mulai teratur, menandakan dia telah jatuh terlelap ke dalam tidur yang sangat nyenyak. Tangan kanannya terkulai lemas di atas dadanya, masih menggenggam ponsel lamanya yang menampilkan gambar layar kunci yang sedikit buram—sebuah foto siluet Cinta yang dia ambil secara diam-diam di taman sekolah dulu.

Tasya perlahan bangkit dari meja pembukuan. Dia berjalan sangat pelan mendekati bangku tempat Rangga tidur, agar suara langkah kakinya tidak mengganggu istirahat cowok itu. Tasya menatap wajah lelap Rangga. Dalam kondisi tidur seperti ini, gurat ketegangan dan beban berat di wajah Rangga seolah menghilang, menyisakan wajah polos seorang remaja laki-laki yang sedang terluka hatinya.

Tasya membungkuk sedikit, mengambil jaket jins Bina Karya milik Rangga yang tergeletak di atas meja, lalu perlahan-lahan menyelimuti tubuh tegap Rangga dengan jaket tersebut untuk menghalau angin malam yang mulai menembus sela-sela seng atap bengkel.

Setelah menyelimuti Rangga, Tasya tidak langsung pergi. Dia justru duduk bersimpuh di lantai semen tepat di samping bangku, mensejajarkan posisinya dengan wajah Rangga. Matanya menatap lekat setiap inci garis wajah cowok di depannya.

Perasaan cinta yang dia pendam sendiri selama berbulan-bulan ini rasanya sudah terlalu penuh hingga sesak di dalam dadanya. Air mata Tasya perlahan jatuh membasahi pipinya tanpa bisa dia tahan lagi. Menyayangi seseorang yang hatinya terkunci pada orang lain adalah bentuk rasa sakit yang paling sunyi yang pernah dia rasakan.

Tasya mengulurkan tangan kanannya dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian. Jari-jemari tangannya yang halus menyentuh ujung-ujung jari tangan kanan Rangga yang kasar akibat gesekan kunci pas dan noda oli. Dia menggenggam ujung jari itu dengan sangat lembut, seolah takut sentuhan kecilnya akan membangunkan sang ksatria jalanan dari tidurnya.

"Gue tahu hati lu cuma buat Cinta, Ngga," bisik Tasya dengan suara yang sangat lirih, nyaris seperti desir angin malam, air matanya menetes jatuh ke atas lantai semen bengkel. "Gue tahu sekeras apa pun gue ada di sini, lu gak akan pernah natap gue dengan tatapan yang sama kayak lu natap dia. Tapi plis... izinin gue buat tetap ada di sini, berdiri di sebelah lu sebagai bayangan lu, sampai nanti lu bener-bener gak butuh gue lagi."

Tasya memejamkan matanya, merasakan kehangatan dari jari tangan Rangga yang dia genggam erat di dalam kesunyian malam itu.

Tepat di detik itu, kelopak mata Rangga tampak bergerak perlahan, dahi cowok itu sedikit berkerut seolah sedang terusik dari mimpinya atau merasakan kehangatan yang asing di ujung jemarinya. Genggaman tangan Tasya seketika membeku saat mata Rangga perlahan mulai terbuka di tengah keremangan lampu bengkel.

1
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!