Lin tian seorang remaja yang tinggal bersama ayah nya seorang pemabuk. suatu hari tiba tiba ayah nya berbicara dan mengasih warisan keluarga untuk anak nya dapat berkultivasi. seperti pepatah mengatakan "di balik kekuatan hebat terdapat musuh yang kuat"
Mampu kah Lin Tian bertahan dari banyak nya musuh yang datang.
mari kita cari tau bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Membalik Peran Pemburu
Kabut merah di balik Batas Batu Merah terasa berkali-kali lipat lebih pekat dan berbau amis. Di tempat ini, tanaman yang tumbuh memiliki batang berwarna hitam legam dengan daun-daun yang meneteskan cairan korosif. Udara begitu dingin hingga mampu membekukan sirkulasi Qi seorang praktisi Ranah Pengumpulan Qi dalam hitungan menit.
Lin Tian terus melangkah dengan santai, tangan kanannya bertumpu ringan pada gagang pedang besar di punggungnya. Langkah kakinya sengaja dibuat beritme, seolah memberikan koordinat yang jelas bagi mereka yang sedang membuntutinya.
*SREK... SREK...*
Suara gesekan ranting kering terdengar dari lima arah yang berbeda. Kabut merah di sekeliling Lin Tian mendadak berputar hebat, dan lima sosok berjubah putih bersulam benang emas murni melompat keluar, mengunci seluruh jalur pelarian Lin Tian dalam formasi bintang lima penjuru.
Di barisan terdepan, Zhao Feng berdiri dengan senyum kemenangan yang tak lagi disembunyikan. Di samping kiri dan kanannya, berdiri empat murid dalam senior yang semuanya memancarkan aura
**Ranah Pemurnian Meridian Level 7 hingga Level 8**.
"Lin Tian, oh Lin Tian..."
Zhao Feng tertawa pelan, suaranya menggema sinis di antara keheningan lembah.
"Aku harus berterima kasih atas kebodohanmu. Jika kamu tetap berada di area luar bersama Ye Chuan dan yang lainnya, aku mungkin harus sedikit bersusah payah untuk memisahkanmu. Tapi kamu... kamu justru melompat sendiri ke dalam kuburan tak bernisan ini!"
Lin Tian menghentikan langkahnya. Dia menatap kelima orang itu satu per satu dengan ekspresi yang teramat datar, seolah-olah yang berdiri di depannya bukanlah sekumpulan pembunuh, melainkan seonggok batu mati.
"Zhao Feng," ucap Lin Tian tenang.
"Hanya karena pamanmu adalah Tetua Agung, kamu berpikir bisa mengontrol hidup dan mati di sekte ini? Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa jebakan murahan seperti ini bisa menahan pedangku?"
"Mati di depan mata pun masih sempat menyombongkan diri!"
Salah seorang murid dalam Level 8 di samping Zhao Feng berteriak marah.
"Tuan Muda Feng, tidak perlu membuang waktu dengannya. Mari patahkan anggota tubuhnya terlebih dahulu!"
"Tunggu,"
Zhao Feng mengangkat tangan kanannya, menghentikan rekannya. Dia menatap Lin Tian dengan tatapan serakah.
"Lin Tian, aku tahu kamu memiliki rahasia besar. Kekuatan fisikmu, teknik elemen anginmu yang aneh, dan caramu menyembunyikan kultivasi..."
"Serahkan semua lembar teknik rahasia dan cincin ruang angkasamu sekarang. Jika kamu patuh, aku berjanji akan memberikanmu kematian yang cepat tanpa rasa sakit. Jika tidak..."
Zhao Feng meraba cincin ruang angkasanya, dan sebuah token batu hitam kecil berpola tengkorak muncul di genggamannya—token yang diberikan oleh utusan Sekte Api Langit.
"Aku akan melepaskan binatang buas di tempat ini untuk mencabik-cabik dagingmu sepotong demi sepotong!"
ancam Zhao Feng dengan wajah yang berkerut kejam.
Melihat token batu hitam tersebut, mata keemasan Lin Tian berkilat sekilas. Dia bisa merasakan aura energi yang sangat liar dan haus darah tersegel di dalam batu itu—aura seekor *Beast* Peringkat 3.
"Jadi, Sekte Api Langit juga ikut bermain di balik layar?" Lin Tian mendengus pelan
seulas senyuman tiran yang dingin perlahan terukir di sudut bibirnya. Dia menarik pedang besar hitamnya dari punggung dengan satu gerakan lambat namun sarat akan tekanan.
"Sayang sekali. Rencana kalian luar biasa di atas kertas, tetapi kalian melupakan satu hal mendasar."
"Apa?!"
Zhao Feng menyipitkan matanya.
"Kalian salah memilih lawan."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, atmosfer di sekeliling Lin Tian mendadak meledak. Aura **Ranah Pemurnian Meridian Level 7 dengan 108 jalur sempurna** miliknya dilepaskan sepenuhnya tanpa ada lagi penahanan.
*BOOOMM!!!*
Riak gelombang energi emas murni yang teramat sangat masif dan padat melesat keluar dari tubuh Lin Tian, menciptakan badai angin yang seketika menyapu bersih kabut merah di area radius sepuluh meter di sekeliling mereka. Lantai tanah hitam di bawah kakinya amblas sedalam beberapa jengkal.
Tekanan absolut itu menghantam kelima orang yang mengepungnya dengan telak. Dua murid dalam yang berada di Level 7 bahkan secara tidak sadar mundur dua langkah, wajah mereka mendadak pucat pasi dengan napas yang memburu.
"P-Pemurnian Meridian Level 7?! Bagaimana mungkin?!"
Zhao Feng terbelalak, hatinya bergetar hebat didera rasa syok yang tak terbendung. Informasi yang dia dapatkan menyatakan Lin Tian paling tinggi berada di Level 4 atau 5. Tapi energi di depan matanya saat ini... kepadatannya bahkan jauh lebih murni dan menakutkan daripada aura Level 9 miliknya sendiri!
"Formasi! Cepat serang bersama!"
Teriak murid dalam Level 8 yang paling senior, mencoba menghilangkan rasa takutnya. Dia menghunus pedangnya dan melesat maju, melepaskan tebasan Qi bumi yang tebal.
Namun, di hadapan 108 meridian sempurna Lin Tian, kecepatan mereka tidak lebih dari gerak lambat seekor siput.
"Teknik Pedang Angin Puyuh Azure: Tebasan Kilat!"
Lin Tian tidak mengayunkan pedang besarnya dengan berat. Sebaliknya, bilah logam hitam itu bergerak secepat kilat perak. Tiga bilah angin hijau-emas setajam silet tercipta dari udara kosong, memotong lintasan malam kabut.
*CRASH! CRASH! CRASH!*
"Ahhhh!"
Tiga jeritan histeris bergema serentak. Tiga dari empat murid dalam yang mengepung Lin Tian—termasuk praktisi Level 8 tadi—bahkan tidak sempat melihat bagaimana pedang Lin Tian bergerak. Dada mereka telah robek oleh bilah angin emas, zirah Qi mereka hancur total, dan tubuh mereka terlempar ke belakang, menabrak pohon-pohon kuno hingga tumbang sebelum akhirnya terkapar tak bernyawa dengan mata melotot ngeri.
Hanya dalam satu detik, tiga praktisi tingkat lanjut sekte tewas secara instan!
Murid dalam terakhir yang tersisa langsung jatuh berlutut, celananya basah karena ketakutan yang teramat sangat. Dia menatap Lin Tian bagaikan melihat iblis pencabut nyawa yang merangkak keluar dari neraka.
Zhao Feng berdiri mematung, tubuhnya gemetar hebat hingga token batu hitam di tangannya hampir terlepas. Seluruh keangkuhan dan skenario pembantaian yang dia susun di kepalanya hancur berkeping-keping, digantikan oleh realitas mengerikan bahwa mereka bukanlah pemburu di lembah ini... melainkan domba-domba yang mengantarkan diri ke sarang harimau penguasa.