"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Anggrek di Atas Kolam Batu
Putaran penyisihan berakhir saat siang hari. Arena Utama berangsur sepi seiring para pendekar dan penonton berhamburan pergi menuju kedai-kedai makanan di sekitar arena.
Sementara Chen Wu dan Zhou Hao merayakan kemenangan babak pertama mereka bersama Paman Guru Lin, sementara Wei Changqing memilih menyelinap pergi dari keramaian.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak batu menuju Taman Anggrek Belakang arena—sebuah area taman yang dikelilingi pohon-pohon besar dan bunga anggrek putih di pinggir kolam ikan koi.
Changqing duduk di bangku batu di tepi kolam. Angin sejuk meniup kelopak anggrek putih jatuh melayang ke atas permukaan air yang tenang.
Di tengah keheningan itu, telinga Changqing menangkap suara langkah kaki yang sangat ringan dan halus mendekati dari arah koridor taman.
Tap... tap...
Langkah itu memiliki irama pernapasan khas Aliran Sutra Salju.
Changqing tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Ia tahu siapa yang datang.
"Apakah suasana di dalam arena terlalu bising hingga Nona dari Sekte Teratai Salju juga mencari udara segar ke sini?" sapa Changqing lembut tanpa memutar kepalanya.
Langkah kaki di belakangnya terhenti.
Shen Yue berdiri tiga langkah di belakang batu Changqing. Gadis cantik berusia delapan belas tahun itu mengenakan jubah sutra putih murni. Wajahnya sedikit merona karena terkejut pemuda ini bisa menyadari kedatangannya tanpa melihat.
"Kau... punya telinga yang sangat tajam, Tuan Wei," ucap Shen Yue dengan suara merdu yang agak ragu-ragu, kemudian melangkah mendekat lalu berdiri di sisi kolam batu berjarak dua kaki dari Changqing.
"Panggil saja saya Changqing, Nona Shen Yue," jawab Changqing sambil berdiri membungkuk sopan. "Ada yang bisa saya bantu?"
Shen Yue menatap pemuda berjubah abu-abu di depannya. Di bawah cahaya matahari siang, Changqing terlihat begitu bersahaja. Tidak ada aura intimidasi ataupun kesombongan yang biasanya dipamerkan oleh para jenius muda sekte besar saat berada di dekat wanita cantik.
"Aku... aku mengikuti ke sini karena ingin menanyakan sesuatu," kata Shen Yue jujur, jari-jarinya memainkan ujung pita sutra pedang gioknya. "Saat kau bertanding melawan Ma Jun di arena tadi... kau tidak menangkis pedangnya. Kau hanya mengetuk punggung pedang itu dengan dua jari, tepat di titik saraf tenaganya."
Shen Yue menatap lurus ke mata hitam Changqing. "Bahkan Kakak Seniorku Liu Fang yang berada di Pendekar Tinggi Tahap 1 tidak bisa melihat celah secepat itu. Bagaimana... bagaimana seorang pemuda sembilan belas tahun dari sekte lembah kecil bisa memiliki pemahaman pedang setinggi itu?"
Mendengar pertanyaan yang dilandasi rasa takjub itu, Changqing menatap kelopak anggrek putih yang jatuh di telapak tangannya.
"Ilmu pedang bukanlah tentang seberapa keras kita mengayun baja atau seberapa mahal harga pedang itu," jawab Changqing tenang, suaranya hangat seperti cerita seorang guru. "Ketika kita membuang nafsu untuk pamer kekuatan dan menenangkan pikiran kita... setiap jurus lawan, sekencang apa pun itu, akan meninggalkan jejak di udara seperti riak di atas kolam air ini. Saya hanya menaruh jari saya tepat di titik tempat riak itu bermula."
Shen Yue terperangah. Filosofi yang diucapkan Changqing begitu dalam dan jernih—selaras dengan ajaran tertinggi rahasia di Sekte Teratai Salju yang hanya dipahami oleh para tetua Grandmaster!
"Ketenangan pikiran..." gumam Shen Yue menghayati, rasa kagumnya semakin tinggi.
Suasana di antara mereka berdua menjadi hening selama beberapa saat. Hanya suara gesekan daun dan gemercik air kolam koi yang terdengar.
Lalu, Shen Yue menundukkan wajahnya sedikit, pipinya bertambah merah. Ia menanyakan hal yang sedari pagi mengganjal di hatinya sejak insiden tatapan di zona tunggu.
"Tuan Changqing..." panggil Shen Yue pelan. "Apakah... apakah mendiang adik perempuanmu yang kau sebutkan pagi tadi... benar-benar sangat mirip denganku?"
Mendengar pertanyaan itu, dada Changqing berdegup hangat sekaligus menyedihkan. Ia menatap wajah Shen Yue di bawah guguran bunga anggrek putih—wajah yang dulu selalu tersenyum menantinya pulang di masa depan.
Changqing melangkah maju setengah langkah. Tatapan matanya begitu teduh, tidak lagi berkaca-kaca seperti pagi tadi, namun memiliki kehangatan yang membuat jantung Shen Yue berdebar kencang.
"Sangat mirip, Nona Shen Yue," bisik Changqing jujur dari lubuk hatinya. "Bukan hanya wajahnya... tetapi juga kebersihan hati dan keberaniannya."
Changqing menatap mata jernih gadis itu. "Dia adalah seseorang yang sangat berharga... seseorang yang di kehidupanku gagal kulindungi karena aku terlalu terlambat menyadari betapa pentingnya kehadirannya."
Mendengar nada suara Changqing yang begitu sarat dengan kepedihan dan ketulusan mendalam, Shen Yue merasa seolah-olah ada benang tak kasat mata yang menarik jiwanya terikat pada pemuda ini. Matanya tanpa sadar ikut memanas. Ia tidak merasa risih lagi. Sebaliknya, ia merasakan rasa nyaman yang sangat aneh—seolah ia sudah mengenal pemuda ini seumur hidupnya.
" Dia... pasti sangat beruntung memiliki seorang kakak yang begitu menyayanginya," lirih Shen Yue.
"Dan saya jauh lebih beruntung melihat bahwa di dunia ini, senyuman seperti miliknya masih bisa mekar dengan indah," balas Changqing lembut, memberikannya senyuman kecil.
Shen Yue tersipu malu, menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah merahnya.
Namun, tepat pada saat momen kedekatan romantis itu mulai menghangatkan udara di sekitar kolam, kepekaan indera tingkat Nirwana Changqing mendadak mendeteksi sebuah getaran hawa membunuh yang tajam dari arah balkon atas arena yang menghadap ke taman.
Sring!
Tatapan mata Changqing seketika berubah dingin. Ia melirik ke arah balkon marmer lantai dua di barat.
Di sana, berdiri seorang pemuda berjubah emas bermotif naga dengan wajah angkuh dan mata menyipit tajam menatap ke arah mereka berdua. Itu adalah Jiang Chen—murid jenius nomor satu dari Sekte Pedang Langit, yang berada di tingkat Pendekar Tinggi Tahap 2. Di masa depan, Jiang Chen adalah sosok arogan yang selalu berambisi menjadikan Shen Yue sebagai pasangan demi memperluas pengaruh sekte.
Melihat Changqing berduaan dengan Shen Yue di taman yang sepi, wajah Jiang Chen dipenuhi oleh kecemburuan dan niat membunuh yang pekat.
Changqing segera mengendalikan auranya. Ia tahu, babak penyisihan kedua turnamen siang nanti akan semakin berat. Jiang Chen pasti akan menggunakan pengaruh Sekte Pedang Langit untuk mengincar dirinya atau rombongan Lembah Bambu Biru.
"Nona Shen Yue," Changqing membungkuk mundur dengan sopan. "Kakak Senior Liu Fang dan rekan-rekanmu pasti sudah mencarimu untuk makan siang. Kita harus kembali sebelum putaran kedua dimulai."
Shen Yue tersentak sadar, mengangguk cepat. "Ah, benar! Terima kasih atas percakapannya hari ini, Tuan Changqing. Semoga... semoga kita bisa bertemu lagi di putaran berikutnya!"
Gadis cantik itu memberikan satu senyuman termanisnya pada Changqing sebelum berbalik setengah berlari meninggalkan taman anggrek menuju penginapan sektenya.
Changqing menatap punggung Shen Yue yang menjauh, lalu mendongak menatap Jiang Chen di balkon atas arena dengan sorot mata yang sangat dingin dan tenang.
Dan siapa pun dari sekte besar yang berani menghalangi jalan atau mengancam keselamatan Shen Yue di turnamen ini, akan merasakan ketajaman sejati dari Mata Pedang Hijau.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏