NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Arka melangkah masuk ke dalam rumah kontrakannya yang sunyi.

Ia membawa Sari menuju satu-satunya ruangan di bagian depan yang merangkap sebagai ruang tamu.

Di sana, tidak ada sofa empuk berbahan kulit ataupun kursi kayu jati yang mewah.

Ruangan itu hampir kosong, hanya beralaskan sebuah tikar anyaman pandan yang sudah agak usang namun bersih, serta sebuah amben—ranjang kayu berkasur tipis—yang bersandar di sudut dinding.

Dengan sangat hati-hati, Arka menurunkan tubuh Sari dan menaruhnya di atas amben tersebut.

Ia memastikan punggung Sari bersandar nyaman pada bantal kapuk yang tertata di sana.

Arka berdiri tegak kembali, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangannya yang teramat sederhana sebelum akhirnya menatap Sari dengan seulas senyum kaku yang agak canggung.

"Maaf kalau rumah ini tidak sesuai dengan ekspektasi kamu," ujar Arka, suaranya melembut, kehilangan nada ketus yang sempat ia pasang di jalan tadi.

"Hanya ada ini."

Sari yang duduk di atas kasur tipis itu terdiam. Alih-alih merasa jijik atau melontarkan komentar angkuh seperti biasanya, matanya justru menyapu ruangan dengan rasa takjub yang samar.

Ruangan ini beraroma harum teh melati dan sangat rapi.

Kehangatan yang sederhana ini perlahan mengikis dinding pertahanan di hatinya yang sedingin es.

Melihat Sari hanya diam, Arka berdeham pelan untuk memecah kecanggungan. Ia melirik pergelangan kaki Sari yang kini tampak semakin membengkak dan memerah.

"Aku panggilkan tukang urut langganan di dekat sini dulu, ya. Biar kaki kamu bisa diperiksa dan tidak semakin parah," sambung Arka memberi tahu.

Sari mendongak, menatap sepasang mata teduh milik sang duda karismatik.

Rasa nyeri di kakinya memang sudah semakin menyiksa, dan ia tahu tidak bisa mengandalkan gengsinya lagi saat ini.

Menurunkan egonya dalam-dalam, Sari akhirnya menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda setuju.

"Iya, terima kasih," bisik Sari lirih, sebuah ucapan tulus yang sangat jarang keluar dari bibir seorang CEO Maheswara Group.

Setelah deru langkah kaki Arka menghilang di balik pintu depan, keheningan segera menyergap rumah kontrakan kecil itu.

Sari bersandar pada bantal kapuk yang keras, mencoba mengalihkan rasa senut-senut di pergelangan kakinya dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang asing ini.

Ia mendongak ke atas. Alih-alih plafon gipsum berukir indah dengan lampu kristal menggantung seperti di penthouse miliknya, netanya justru disambut oleh jajaran kayu kaso yang mulai menghitam dan lembaran tripleks yang sudah melandai.

Di beberapa sudut, tampak jelas lubang-lubang menganga bekas rembesan air hujan.

Ember-ember plastik kosong diletakkan berjajar di lantai, siap menampung air jika langit Jakarta kembali menumpahkan isinya.

Sari mengembuskan napas pelan. Matanya kemudian beralih ke arah sekat ruangan yang terbuka tanpa pintu, menampilkan area dapur yang terletak tepat di bagian belakang.

Rasa penasarannya, Sari sedikit memajukan badannya untuk mengintip.

Dapur itu teramat sederhana. Tidak ada kitchen island berbahan marmer Italia, tidak ada kompor tanam induksi modern, ataupun oven pintar seharga ratusan juta yang biasa menghiasi rumah mewahnya namun jarang sekali disentuh.

Di dapur Arka, yang ada hanyalah, dua buah kompor gas mawar bertekanan tinggi yang permukaannya sudah berjelaga hitam akibat penggunaan setiap hari.

Dandang-dandang kukusan berukuran raksasa yang terbuat dari aluminium tebal, berjejer rapi di atas rak kayu.

Beberapa baskom plastik besar yang masih menyisakan sisa-sisa tepung ketan putih dan guratan parutan kelapa.

Meski tampak usang karena dipakai bekerja keras setiap malam, dapur itu sangat bersih.

Bau sisa rebusan air daun pandan murni dan wangi legit gula aren masih menguar kuat dari sana, memenuhi seluruh penjuru rumah.

Di dapur yang sempit dan serba terbatas inilah, Arka setiap hari memeras keringatnya sejak tengah malam.

Pria itu mengaduk adonan dengan tangannya sendiri, berteman kepulan asap panas demi menghasilkan sebutir klepon yang sanggup melelehkan lidah angkuh seorang CEO.

Perbedaan kasta di antara mereka terasa begitu nyata dan menampar permukaan hati Sari, memicu sebuah tanya yang perlahan menyelinap di benaknya: Bagaimana bisa seorang pria se-karismatik Arka memilih jalan hidup sesederhana ini?

Pintu depan terbuka, memecah lamunan Sari. Arka kembali melangkah masuk ke dalam rumah, namun ia tidak sendiri.

Di belakangnya, mengekor seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan sanggul kecil yang mulai longgar dan daster motif bunga yang cerah.

Wanita itu dikenal sebagai Mak Urut, tukang pijat patah tulang legendaris di kampung tersebut.

Sari yang awalnya mengira akan diobati secara medis dengan peralatan steril atau dibawa ke klinik internasional, langsung syok setengah mati.

Matanya membelalak lebar melihat Mak Urut dengan santai duduk di pinggir amben sambil mengeluarkan sebuah botol kaca berisi minyak urut tradisional berwarna keruh dengan bau rempah yang sangat menyengat memenuhi ruangan.

Mak Urut memperhatikan pergelangan kaki Sari yang mulus namun membengkak merah, lalu berdecak pelan.

"Duh, Gusti... ini mah kakinya manja banget, Neng. Baru melosok ke kubangan pasar dikit aja udah melar kayak adonan donat," seloroh Mak Urut tanpa saringan.

Gengsi Sari seketika terusik mendengar kata "manja".

"Maaf ya, Mak, kaki saya ini tidak—"

Sret!

Belum sempat Sari menyelesaikan pembelaannya, Mak Urut sudah menuangkan minyak ke telapak tangannya yang kapalan, lalu tanpa aba-aba langsung memegang dan menekan titik saraf tepat di pergelangan kaki Sari yang bengkak.

"AAAHHHHH!!! HENTIKAAANNN!!!"

Sari langsung berteriak kesakitan dengan suara melengking tinggi, hingga suaranya menggema hebat ke langit-langit rumah yang berlubang-lubang.

Rasanya seperti ada ribuan jarum panas yang ditusukkan sekaligus ke urat kakinya.

Dalam kondisi sekarat menahan sakit, naluri bertahan hidup Sari mengambil alih.

Ia tidak lagi memedulikan batasan kasta. Jemari lentiknya bergerak liar dan langsung mencengkeram lengan baju Arka erat-erat hingga kainnya berkerut.

Dengan air mata yang mulai mengalir bebas membasahi pipinya yang mulus, Sari menatap Arka dengan pandangan memohon yang amat sangat, meminta pria itu menghentikan siksaan kejam ini.

"Hentikan! Ini sakit sekali, Arka! Tolong!!" jerit Sari panik dan dramatis.

"Kalau aku mati karena serangan jantung di sini bagaimana?! Siapa yang mau tanggung jawab?!"

Bukannya panik atau buru-buru menenangkan sang CEO Maheswara Group, Arka yang berdiri kokoh di samping amben hanya menatap Sari dengan wajah datar andalannya.

Tidak ada kepanikan sedikit pun di wajah tampannya.

"Mbak, tidak ada sejarahnya orang meninggal dunia hanya karena diurut kaki. Kecuali, kalau Mbak menyerah sekarang dan minta berhenti, terpaksa Mbak saya olah jadi adonan klepon raksasa sekalian pagi ini."

"Kamu—akhhh! Sakiiit!" jerit Sari lagi saat Mak Urut sengaja menekan satu titik lagi untuk meluruskan uratnya.

Mendengar perdebatan konyol yang luar biasa dramatis, serta ancaman "klepon raksasa" dari Arka untuk sang CEO kaya raya yang biasanya berwibawa itu, Mak Urut tidak bisa menahan diri lagi.

"Bwahaha! Aduh, Mas Arka bisa aja!"

Mak Urut tertawa terbahak-bahak hingga pundaknya yang gempal berguncang-guncang hebat.

Suara tawa renyah khas orang pinggiran itu seketika memecah atmosfer tegang dan sunyi di dalam ruangan.

Di bawah temaram fajar yang perlahan menyelinap masuk dari sela-sela jendela, suasana berubah menjadi cair, menyisakan kehangatan canggung yang perlahan mulai menjalar di antara Sari dan sang duda pemilik lapak kue basah.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!