Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 - Sisa Rasa
Tiba-tiba Fathan menarik tangan Alea, menutupi tubuh wanitanya dengan jas yang ia bawa.
"Apa-apaan ini?" Alea protes hendak melepaskan jas Fathan.
"Pake dan ikut saya!" tanpa menunggu protes dari Alea, ia
"Enggak mau! Apaan sih gak jelas banget."
Tanpa di duga, Fathan menarik tangannya. "Diem Alea! Atau saya cium kamu!"
"Dih, mesum. Ini area kampus gak boleh mesum di sini banyak bocil. Vale, Ayumi, bantuin gue, gue diculik dosen mesum." Bukannya berontak malah mengikuti langkah Fathan.
"Sorry, gue gak ikutan Le," balas Vale gak mau ikut campur urusan keduanya.
"Sorry Le, kita gak bisa bantu," kata Ayumi juga.
"Iya Le mendingan cari aman aja dah," sahut Vale.
"Dasar teman laknat, gak setia kawan. Mas Fathan lepasin aku dong," pinta Alea lembut.
"Waw." Jeritan histeris para murid seketika mengiringi langkah Fathan.
"Apa itu guys? Pak Fathan yang kita tahu anti perempuan, dingin sama perempuan, dan gak pernah kelihatan dekat sama perempuan tiba-tiba menggandeng Alea si anak baru?"
"Fix ini mah, mereka punya hubungan."
Sejauh ini belum ada kabar mengenai kekasihnya Fathan, mereka tahunya pria itu masih sendiri dan terkenal cuek sama perempuan. Bahkan pertunangannya dengan Silvi pun tidak diketahui banyak orang.
"Kalau beneran mereka ada hubungan, gue kalau jadi pak Fathan gak rela juga body goalsnya cewek gue jadi pusat perhatian, ya gue kurung aja buat tak dinikmati banyak orang."
"Asli woy, gue juga gak rela atuh, mana cakep, pinter, bening, gak akan rela dilihat semua orang terutama mata cowok keranjang."
"Iya kan, pantesan pak Fathan posesif gitu, ceweknya aja cakep."
*************
Bruk.
Fathan membawa Alea ke ruangannya, dia juga mendudukkan Alea ke sofa samping meja kerja.
"Kamu ngapain sih narik aku kesini? Aku ada kelas tahu, sebentar lagi dosen aku masuk."
"Kamu tahu perbuatan kamu tadi bisa mengundang banyak orang? Otak dan pikiran kamu pakai dong, ini area kampus bukan rumah pribadi kamu yang bisa seenaknya memakai baju terbuka kayak gitu."
"Biarin aja, mereka punya mata yang bisa melihat apapun termasuk melihatku. Lagian baju aku sobek ya udah aku lepas aja bajunya." Kemudian Alea melepaskan jas Fathan, melemparnya ke sofa.
"Pakai baju itu sekarang juga Alea!"
"Gak mau, mendingan aku seperti ini aja." Alea berjalan ke arah pintu.
"Pakai bajunya Alea!"
Langkah Alea terhenti, menoleh ke belakang. "Kalau aku gak mau kamu mau apa? Toh kamu sendiri yang bilang gak mau peduli lagi sama aku, benci aku, tapi ini apa? Perhatian sekali. Mau aku pakai baju apapun juga terserah aku dong," balas Alea sengit.
Dalam hati girang sebab Fathan masih perhatian sama dia, artinya pria itu masih memiliki sisa rasa.
"Saya bukan perhatian sama kamu tapi saya mau menyelamatkan orang-orang dari cewek kayak kamu. Bisa aja kan kamu rayu dia dengan tubuh kamu, peluk sana sini seakan tubuh kamu milik semua orang."
"Yakin cuman itu? Atau sebenarnya kamu cemburu, gak terima apa yang ada dalam diriku dinikmati banyak pasang mata?" tanya Alea seraya memicingkan mata.
"Cemburu? Setelah semua yang terjadi, setelah tahu kebohongan kamu, kelakuan kamu, perasaan itu hilang." Fathan menghindari tatapan Alea
"Ok, jadi gak usah peduliin aku, bahkan mau lebih dari ini pun kamu jangan peduli." Alea memancing, ia tahu perasaan itu masih untuknya hanya terhalang rasa benci.
Alea meraih gagang pintu hendak membuka kuncinya.
"Terserah kamu mau melakukan apapun juga saya gak peduli. Mau jual diri pun terserah, mau di jamah sama banyak laki-laki pun terserah, emang dasarnya bandel tetap aja bandel, murahan."
Deg.
Alea tertegun, kedua tangannya mengepal menahan gejolak amarah, sakit hati dan juga menahan diri untuk tidak meninggikan suaranya.
"Oh saya juga lupa, selain suka menggatal kamu juga suka taruhan kan ya, demi uang pula, CK, makin jelas banget kalau kamu bukan wanita baik-baik, bisa aja kamu itu seorang wanita penghibur ..."
"AKU TIDAK SEPERTI ITU!" tunjuk Alea menoleh ke belakang dengan tatapan tajam bercampur marah. "KAMU TIDAK TAHU APAPUN TENTANG AKU!"
Alea terlihat marah, kecewa juga dan seketika menyentil hati kecilnya yang sudah keterlaluan. Padahal dia sendiri tahu jika dialah orang pertama yang sudah berhasil menyentuh Alea, tapi karena rasa kecewanya ia membenci Alea sedemikian rupa.
"Aku akui pernah salah sama kamu tapi apa pernah kamu mau mendengarkan penjelasan aku? Kamu malah pergi gitu saja ninggalin aku sendirian di jalan setelah memberi talak padaku. Kamu benar aku memang murahan, saking murahannya kita berhubungan sebelum menikah!" Alea menjeda ucapannya, setetes air mata jatuh mengingat kejadian 3 tahun lalu saat dia dinyatakan hamil Fathan malah pergi entah kemana, meninggalkan dia tanpa perasaan, meninggalkan dia dengan segala cinta, rindu, yang telah tumbuh.
"Bahkan kamu orang pertama yang sudah menyentuhku," lirihnya sangat pelan berderai air mata.
Fathan terdiam, membuang muka enggan melihat sorot mata kecewa Alea. Hatinya kacau, antara benci dan cinta sulit dicerna.
Langkah Alea mendekat, memeluk Fathan penuh rindu. "Hanya kamu satu-satunya laki-laki yang berhasil memiliki jiwa ragaku, tolong percaya aku Mas Fathan, sampai kapan kamu membenciku? Aku kangen kamu, aku hancur tanpa kamu, aku .. aku .. Cinta sama kamu."
Tangis Alea pecah, menumpahkan kerinduan pada laki-laki yang sudah berhasil membawa separuh hatinya, laki-laki yang sudah memberikan dia sesuatu berharga.
Fathan diam, tidak membalas pelukannya, tidak berucap juga, dia diam mengepalkan tangannya. Sulit menjelaskan apa maunya sekarang, benci, tapi juga masih sayang, ingin melepaskan pelukannya namun ia juga rindu. Untuk beberapa saat mereka diam tanpa suara, Alea dengan pelukan rindunya dan Fathan dengan diam mematungnya.
Barulah Fathan sadar saat ponselnya berdering.
Drrrtt.
Dia pun mendorong tubuh Alea. "Saya tidak percaya omong kosong kamu!"
Tanpa di duga Alea berbuat nekad, menarik kerah baju Fathan supaya sedikit menunduk. Bola matanya Fathan melotot kala bibirnya terasa hangat. Ada getar dalam dada mencoba meresapi semuanya tentang hati dan pikirannya.
Untuk sesaat keduanya hanyut dalam kerinduan, sentuhan lembut penuh cinta. Fathan menarik pinggang Alea merapatkannya pada tubuhnya, mereka sejenak terbuai dalam sentuhan hangat masing-masing. Menghiraukan ponsel Fathan yang terus berdering.
Nafas keduanya tersengal-sengal, kening mereka saling beradu, mata keduanya pun masih terpejam, jari jempol Fathan mengusap lembut bibir yang barusan memberinya kehangatan.
"Aku cinta kamu Mas Fathan," ucap Alea lembut penuh perasaan. Ungkapan yang dari dulu ingin kasih tahu bahwa dia beneran jatuh cinta sama Fathan.
"Maafin aku," ucap Alea pelan.
Fathan tersadar, barusan apa? Sesuatu yang baru terjadi untuk pertama kalinya setelah 3 tahun tidak bertemu. Matanya terbuka, merasakan sensasi yang berbeda namun juga merasa resah dan gelisah atas perkataan Alea.
Langkah Alea mundur, menatap Fathan penuh cinta. Ada yang hilang, sebagian hatinya terasa hampa setelah Alea keluar dari ruangannya.
Tubuh pria itu terduduk lemas di kursi seakan tak berdaya secara tiba-tiba. Bimbang dengan perasaannya sendiri.