saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 11.kesabaran dan ujian
Time terus berjalan mengikuti iramanya sendiri, tak peduli suka atau duka yang sedang dirasakan setiap insan. Sudah dua bulan sejak percakapan telepon antara Raka dan Rendra yang menandai kesepakatan untuk bertemu nanti, tepat saat Zahra resmi menyandang gelar sarjana. Selama rentang waktu itu, kehidupan ketiga tokoh utama dalam cerita ini terus bergerak maju, melewati berbagai peristiwa yang menguji hati, kesabaran, dan keyakinan mereka masing-masing. Jarak yang memisahkan dua dunia itu masih terasa nyata, namun ikatan yang mulai terjalin melalui Raka semakin memperjelas bahwa pertemuan itu hanyalah soal waktu saja.
Di desa tempat tinggalnya, suasana kehidupan terasa tenang dan damai dari luar, namun di balik kedamaian itu, hati Rendra sedang melewati masa yang penuh gejolak. Usahanya semakin berkembang pesat, bahkan ia sudah mulai merekrut dua orang pemuda desa untuk membantunya melayani pelanggan dan mengurus stok barang. Hal ini membuat beban kerjanya berkurang sedikit, memberinya lebih banyak waktu untuk beristirahat dan mengurus keperluan pribadi. Namun kemajuan ini justru menjadi pemicu baru bagi perselisihan yang terus berulang antara dirinya dan Putri.
Suatu hari, saat suasana di toko sedang lengang, Putri datang berkunjung bersama salah seorang kerabatnya yang bergerak di bidang perdagangan di kota kecamatan. Mereka melihat bagaimana cara Rendra bekerja, cara ia melayani pelanggan, hingga penampilan yang ia pertahankan selama ini. Setelah kerabat itu pamit pulang, Putri langsung mengajak Rendra duduk di sudut toko, raut wajahnya sudah menunjukkan ketidakpuasan sejak tadi.
“Rendra, dengarkan nasihatku kali ini dengan sungguh-sungguh,” ucap Putri memulai pembicaraan dengan nada yang lebih tegas dari biasanya. “Kau sudah punya karyawan sekarang. Itu artinya kau tidak perlu lagi turun tangan mengangkat barang, mencampur semen, atau terlibat langsung dalam pekerjaan kasar. Itu tugas mereka. Sebagai pemilik usaha, tugasmu hanya mengatur, mengawasi, dan bernegosiasi dengan pemasok barang. Jika kau terus bekerja seperti pekerja biasa, orang akan tetap melihatmu sebagai orang yang belum berubah, tidak tahu cara memimpin, dan tidak pantas diperhitungkan di lingkungan pengusaha.”
Rendra mendengarkan dengan tenang, namun hatinya terasa sedikit tergugah. Ia mengerti maksud logis di balik ucapan itu, namun naluri dan prinsipnya berkata lain.
“Putri, aku tahu itu cara yang umum dilakukan oleh banyak orang. Tapi bagiku, bekerja langsung bukanlah hal yang memalukan. Dengan turun tangan sendiri, aku tahu persis kualitas barang yang aku jual, aku mengerti kebutuhan pelanggan secara langsung, dan aku menjaga hubungan baik dengan mereka. Lagi pula, aku merasa tidak adil jika hanya menyuruh orang lain bekerja keras sementara aku duduk santai saja. Bagaimana aku bisa mengatur mereka dengan baik jika aku sendiri tidak pernah merasakan beratnya pekerjaan itu?”
Putri menghela napas panjang, seolah sudah kehabisan kata untuk menjelaskan. “Kau selalu memutarbalikkan keadaan untuk membenarkan kebiasaanmu itu. Lihatlah penampilanmu hari ini, kemejanya kotor terkena debu, celananya berlumuran noda semen, dan janggut itu tumbuh semakin lebat tanpa dibentuk rapi. Tadi saat bercakap dengan kerabatku, aku merasa tidak nyaman. Aku takut dia berpikir bahwa aku tidak bisa mengatur pasanganku agar tampil lebih layak. Kalau ini terus berlanjut, bagaimana kita bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius? Keluargaku akan bertanya mengapa calon menantu mereka terlihat seperti ini padahal usahanya sudah maju.”
Kata-kata itu menusuk langsung ke hati Rendra. Ia sadar bahwa masalah ini bukan lagi soal pekerjaan atau penampilan semata, melainkan soal pandangan hidup dan cara melihat nilai diri. Bagi Putri, sukses dan kehormatan harus tercermin secara kasat mata. Sedangkan bagi Rendra, kehormatan terletak pada ketulusan hati dan kejujuran perbuatan, terlepas dari bagaimana rupa lahiriahnya.
“Putri,” jawab Rendra dengan suara yang rendah namun mantap, “Aku tidak akan pernah memaksamu untuk menyukai apa yang aku lakukan. Tapi aku juga tidak bisa mengubah jati diriku hanya demi memenuhi standar orang lain. Jika keluarga dan lingkunganmu hanya bisa menerima aku jika aku berpura-pura menjadi orang lain, maka apakah cinta kita cukup kuat untuk menghadapi semuanya? Aku ingin kita membangun rumah tangga di atas kejujuran, bukan di atas kepura-puraan yang harus dijaga setiap hari.”
Pembicaraan itu berakhir dalam keheningan yang berat. Putri pergi dengan perasaan kecewa, sementara Rendra duduk termenung memandang jalanan di depan tokonya. Ia mulai merasakan adanya jarak yang semakin lebar, meskipun secara fisik mereka semakin sering bertemu. Di dalam hatinya, ia mulai berpikir bahwa mungkin selama ini ia terlalu berharap bahwa waktu akan mengubah pandangan Putri, padahal perbedaan itu sudah ada sejak awal dan mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang.
Namun Rendra bukan tipe orang yang mudah menyerah. Ia tetap berusaha mencari jalan tengah. Ia setuju untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya sesekali, memakai pakaian yang lebih bersih saat bertemu dengan tamu penting atau keluarga Putri, namun tetap mempertahankan kebiasaan bekerja saat berada di dalam toko. Ia berharap langkah kompromi ini bisa membuat Putri lebih tenang dan mulai memahami batas kemampuannya untuk berubah.
Di kota tempat Zahra tinggal, perjuangannya memasuki tahap yang paling menegangkan namun juga paling menyenangkan. Hanya tersisa satu bulan lagi sebelum jadwal ujian sidang skripsinya. Semua bagian tulisan sudah selesai disusun, diperiksa oleh dosen pembimbing, dan sudah dinyatakan layak untuk diuji. Kini waktunya hanya tinggal mempelajari kembali seluruh isi tulisan itu, mempersiapkan jawaban atas pertanyaan yang mungkin diajukan penguji, dan melatih kepercayaan diri agar tidak gugup saat hari pelaksanaannya tiba.
Zahra menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk persiapan ini. Ia membaca berulang kali setiap halaman, membuat catatan kecil sebagai pengingat, dan bahkan berlatih menjelaskan isinya di depan cermin sendirian di kamar kosnya. Kadang ia merasa cemas, takut tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik, takut mengecewakan harapan orang tua dan Raka. Namun setiap kali rasa ragu itu datang, ia selalu teringat pada perjalanan panjang yang sudah ia lalui sejak awal, memberi kekuatan bahwa jika ia sudah mampu bertahan sejauh ini, ia pasti mampu melewati tahap terakhir ini juga.
Raka mendukung persiapan Zahra dengan sepenuh hati. Ia sering datang membawakan buku referensi tambahan, membantu menyimak penjelasan Zahra untuk melihat apakah ada bagian yang kurang jelas, dan selalu memberikan kata-kata penyemangat yang menenangkan. Ia juga sudah mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara setelah kelulusan nanti, termasuk merencanakan perjalanan pulang ke kampung halamannya.
Suatu sore, saat mereka sedang berlatih di ruang baca kampus, Raka mengeluarkan selembar kertas berisi daftar kebutuhan dan rencana yang telah ia susun.
“Zahra, dengarkan rencanaku ini. Jika semuanya berjalan lancar seperti yang kita harapkan, ujian sidang mu akan berlangsung minggu depan. Jika dinyatakan lulus, maka resmi kamu menjadi calon sarjana. Acara wisuda biasanya dijadwalkan sekitar dua hingga tiga minggu setelahnya, dan tepat pada hari itu atau sesudahnya, kita akan langsung berangkat ke kampung. Di sana, kita akan bertemu dengan keluargaku, keluarga Rendra, dan tentu saja bertemu langsung dengan Rendra sendiri seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya. Ini semua akan terjadi di Episode 15 nanti, jadi kita punya waktu yang cukup untuk bersiap-siap secara fisik dan mental.”
Mendengar penjelasan itu, jantung Zahra berdebar lebih cepat dari biasanya. Rasa gembira bercampur dengan rasa gugup yang tidak bisa ia jelaskan. Ia akan segera mencapai impiannya, dan bersamaan dengan itu ia akan masuk ke lingkaran kehidupan yang baru, bertemu dengan orang-orang yang menjadi bagian penting dari masa lalu dan masa depan Raka termasuk Rendra.
“Ka... apakah Rendra itu orangnya sulit didekati? Apakah dia akan merasa aneh saat melihatku nanti?” tanya Zahra dengan suara pelan, menyampaikan kekhawatiran yang selama ini tersimpan dalam pikirannya.
Raka tersenyum melihat kekhawatiran itu, lalu menepuk bahu Zahra dengan lembut. “Tidak sama sekali, Zahra. Rendra itu orang yang jujur, apa adanya, dan sangat ramah kepada siapa saja. Dia mungkin terlihat gagah dan tegas dari luar, tapi hatinya lembut dan mudah bergaul. Memang dia dulu sangat populer di sekolah, tapi setelah melewati banyak perjuangan hidup, dia menjadi jauh lebih rendah hati dan menghargai setiap orang tanpa memandang latar belakang. Dia pasti akan menyambut mu dengan baik.”
Penjelasan itu sedikit menenangkan hati Zahra, namun rasa ingin tahunya semakin besar. Ia sering membayangkan wajah Rendra yang ia lihat bertahun-tahun yang lalu—tampan, bersih, dan selalu menjadi pusat perhatian. Namun menurut cerita Raka, sosok itu kini sudah banyak berubah. Ia membayangkan pria itu dengan kulit yang lebih gelap, tubuh yang lebih kekar karena pekerjaan, dan wajah yang dipenuhi brewok lebat. Entah mengapa, bayangan itu terasa lebih menarik dan dekat di hatinya daripada gambaran masa lalunya yang terasa jauh dan tak terjangkau.
Selain mempersiapkan ilmu dan mental, Zahra juga mulai membiasakan diri dengan pakaian dan penampilan yang lebih rapi seperti yang disiapkan Raka. Ia mencoba memakai gaun yang dibelikan kekasihnya itu, memakainya dengan saksama, dan menyisir rambutnya dengan gaya yang lebih tertata. Saat melihat bayangannya di cermin, ia mengakui bahwa ia terlihat lebih rapi dan terawat, namun tetap merasa dirinya sama seperti biasanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, perubahan ini hanya untuk menyempurnakan, bukan untuk menyembunyikan jati diri yang sebenarnya.
Komunikasi antara Raka dan Rendra semakin sering dan terperinci seiring mendekatinya waktu yang dijadwalkan. Setiap minggu mereka selalu meluangkan waktu untuk mengobrol, membahas kemajuan masing-masing, dan memastikan bahwa tidak ada halangan yang akan menghalangi pertemuan nanti.
Suatu hari, Rendra memberitahu Raka bahwa ia sudah menyampaikan rencana kedatangan mereka kepada kedua orang tuanya. Mendengar hal itu, ibu Rendra sangat gembira dan langsung preparing untuk menyambut tamu. Ia mulai membersihkan dan merapikan bagian rumah yang akan digunakan untuk tempat tidur dan tamu, serta merencanakan hidangan khas desa yang akan disajikan untuk menyambut mereka.
“Orang tuaku sudah sangat bersemangat menunggu kedatanganmu, Ka. Ibuku sudah sibuk memikirkan apa yang akan dimasak untuk menyambut kalian. Katanya sudah lama ingin bertemu dengan kekasihmu yang sering kau ceritakan itu,” kata Rendra dengan nada yang ceria saat menelepon Raka.
“Thank you, Ren. Kami juga tidak sabar untuk segera datang. Zahra juga sudah sangat antusias, meskipun dia mengaku merasa sedikit gugup karena akan bertemu dengan orang baru dan lingkungan yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya,” jawab Raka sambil tertawa mendengar semangat sahabatnya itu.
Namun di balik kegembiraan persiapan itu, Rendra juga menyampaikan keadaan hubungannya dengan Putri secara jujur kepada sahabatnya. Ia tidak ingin menyembunyikan apa pun, karena ia tahu Raka adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan pandangan objektif mengenai masalah itu.
“Ka, sejujurnya hubungan kami masih belum sebaik yang diharapkan. Masih ada perbedaan pandangan yang sering muncul, dan aku mulai ragu apakah kami benar-benar bisa melangkah bersama dalam jangka panjang. Aku sudah berusaha kompromi sebisa mungkin, tapi rasanya kami melihat dunia dengan kacamata yang berbeda,” ucap Rendra dengan nada yang terasa berat.
Raka mendengarkan dengan seksama, lalu memberikan tanggapan yang bijak sesuai pengalaman selama berteman dengan Rendra.
“Ren, aku sudah mengenalmu sejak lama. Aku tahu kamu bukan tipe orang yang mudah menyerah, tapi aku juga tahu kamu tidak bisa hidup dalam kepura-puraan selamanya. Cinta yang baik itu saling melengkapi, bukan saling memaksakan. Jika Putri benar-benar mencintaimu, lama-kelamaan dia akan belajar menerima segala kelebihan dan kekuranganmu, termasuk cara pandang dan kebiasaanmu. Jika tidak, mungkin itu bukan jalan yang terbaik untuk kalian berdua. Jangan terburu-buru mengambil keputusan besar hanya karena rasa takut kehilangan atau tekanan lingkungan. Berikan waktu lebih banyak, tapi tetap pegang prinsipmu.”
Nasihat itu menenangkan hati Rendra. Ia menyadari bahwa ia tidak perlu memaksakan keadaan menjadi sempurna dalam waktu singkat. Ia akan terus berusaha, namun ia juga siap menerima apa pun hasilnya nanti, selama ia tetap bertindak dengan jujur dan adil.
Di sisi lain, Putri pun mulai mendengar kabar tentang kedatangan tamu penting ke rumah Rendra nanti. Ia mendengar bahwa Raka akan datang bersama kekasihnya yang baru akan lulus sarjana. Mendengar kabar itu, timbul rasa penasaran sekaligus rasa ingin menunjukkan diri yang terbaik dari dirinya.
“Kalau ada tamu penting datang, tentu aku harus terlihat lebih baik dan bisa menjaga nama baik Rendra dan keluarganya,” pikir Putri dalam hati.
Hal ini justru memberikan kesempatan baru bagi hubungan mereka. Putri mulai menyadari bahwa jika ia ingin diterima sepenuhnya oleh lingkungan dan orang-orang penting dalam hidup Rendra, ia harus mulai lebih mengerti posisi Rendra dan tidak terus-menerus memaksakan keinginannya sendiri. Ia mulai berusaha lebih sabar, tidak lagi langsung mengkritik setiap hal kecil yang dilakukan Rendra, dan mencoba melihat sisi positif dari apa yang dikerjakan kekasihnya itu.
Meskipun perubahannya belum terasa sangat besar, namun perubahan sikap itu membuat suasana hubungan mereka menjadi lebih tenang dan tidak lagi penuh pertengkaran seperti sebelumnya. Ada harapan baru yang muncul, meskipun masih diselimuti keraguan kecil.
Di malam-malam yang tenang, ketika pekerjaan sudah selesai dan suasana menjadi hening, ketiga tokoh ini sering kali melamun membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Rendra sering kali membayangkan bagaimana pertemuan itu nanti. Ia membayangkan sosok Zahra yang digambarkan Raka sebagai gadis yang sederhana, rajin, dan tulus. Ia mencoba menggali ingatannya yang samar-samar, mencoba menemukan wajah gadis pendiam yang dulu duduk di pojok kelas itu, namun gambaran itu masih terlalu kabur dan jauh. Ia hanya berharap pertemuan nanti akan berjalan lancar, dan ia bisa menyambut sahabatnya serta kekasihnya dengan baik. Ia belum pernah menyangka bahwa gadis yang dianggapnya tak terlalu mencolok itu nantinya akan memiliki peran penting dalam membuka matanya tentang makna cinta dan penerimaan yang sesungguhnya.
Zahra pun sering kali terbangun dari tidurnya dengan perasaan gugup dan penasaran. Ia membayangkan desa tempat tinggal Raka dan Rendra, membayangkan suasana yang berbeda dengan kota tempat ia tinggal sekarang. Ia juga membayangkan wajah Rendra yang kini sudah berubah. Dalam bayangannya, ia membayangkan pria yang gagah, kuat, memiliki tatapan mata yang tegas namun hangat. Ia berharap ia bisa bersikap sopan dan wajar, tidak terlihat canggung atau kurang pantas di hadapan semua orang nanti. Di dalam hatinya, ada rasa ingin tahu yang terus tumbuh rasa ingin mengenal lebih dekat sosok yang dulu hanya menjadi bayangan jauh itu.
Sementara itu, Raka tetap berperan sebagai jembatan yang menghubungkan semuanya. Ia yakin bahwa membawa mereka bertemu adalah keputusan yang tepat. Ia ingin Zahra mengenal lingkungan asalnya, melihat bagaimana kehidupan sederhana yang mengajarkan banyak makna kehidupan. Ia juga ingin Rendra melihat sosok wanita yang ia cintai, sehingga sahabatnya itu bisa memahami mengapa ia memilih Zahra sebagai pendamping hidupnya. Ia meyakini bahwa suasana di desa akan memberikan ketenangan dan kebahagiaan bagi Zahra setelah melewati masa-masa penat persiapan ujian.
Semua persiapan kini sudah hampir selesai. Usaha Rendra sudah tertata rapi, persiapan rumah sudah disiapkan, hubungan mereka mulai membaik meski belum sempurna. Di sisi lain, Zahra sudah siap secara ilmu dan mental untuk menghadapi ujian terakhirnya. Rencana perjalanan sudah disusun dengan jadwal yang pasti.
Hari-hari kini terasa berjalan semakin cepat, mendekati tanggal yang ditetapkan. Jarak antara kedua tempat itu semakin dekat dalam waktu, meskipun jarak fisik masih terpisah ratusan kilometer. Benang takdir terus terjalin, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan mereka dalam satu rangkaian cerita yang semakin menarik.
Semuanya masih menunggu, semuanya masih berproses, dan semuanya masih belum bertemu secara langsung. Namun langkah-langkah mereka kini sudah mengarah ke satu tujuan yang sama. Semua konflik yang terjadi, semua perjuangan yang dilalui, dan semua perasaan yang tumbuh akan menemukan jawabannya nanti, tepat pada saat Zahra resmi menyandang gelar sarjana dan keduanya menginjakkan kaki di desa tempat Rendra tinggal.