Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Apakah Kak Salsa tahu dengan rencana ini?"
Pak Umar terdiam. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban dan membuat tubuh Aisyah melemah. Air matanya semakin deras mengalir.
"Jadi... Kak Salsa juga menyetujuinya?"
Suara itu terdengar nyaris seperti bisikan karena perempuan yang paling ia sayangi, ternyata mengetahui semuanya. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Aisyah merasa hidupnya sedang berdiri di sebuah persimpangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di satu sisi ada cinta dan baktinya kepada keluarga, di sisi lain ada harga diri serta perasaannya sendiri yang menolak menerima kenyataan itu. Ia menatap ayahnya dengan napas yang mulai memburu.
"Maafin Aisyah, Yah." Aisyah menggeleng pelan, lalu semakin kuat. "Aisyah tidak bisa. Seberat apa pun cobaan yang Kak Salsa hadapi, Aisyah tidak bisa menikahi suaminya. Karena jika Aisyah melakukannya," Ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aisyah sama saja menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kakak Aisyah sendiri."
Kalimat itu menggantung begitu lama di udara dan membuat suasana ruang keluarga kembali diliputi kesunyian. Tak ada lagi suara selain detak jarum jam yang terdengar begitu jelas di tengah malam.
Tik...
Tik...
Tik...
Pak Umar memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk kembali berbicara.
"Ayah tahu ini berat. Bukan hanya untukmu tapi juga untuk Ayah." Suara pria paruh baya itu terdengar lebih pelan dari sebelumnya. "Ayah tidak mungkin meminta hal seperti ini kalau masih ada jalan lain."
Aisyah menggeleng pelan.
"Tidak, Yah. Pasti masih ada. Pasti ada cara lain. Kalau Kak Salsa belum bisa punya anak sekarang, mereka bisa mengangkat anak terlebih dahulu atau menunggu. Banyak pasangan yang akhirnya dikaruniai anak setelah bertahun-tahun menikah. Ayah... kita tidak boleh menyerah hanya karena satu vonis dokter."
Air mata terus mengalir di pipi Aisyah. Ia benar-benar sedang mencari alasan, apa pun asalkan ia tidak perlu mendengar permintaan yang menurutnya begitu kejam. Namun ayahnya kembali menggeleng.
"Keluarga Adhitama tidak menginginkan anak angkat sebagai penerus. Mereka hanya mengakui darah keturunan mereka sendiri."
"Tapi—"
"Mereka juga tidak akan menunggu terlalu lama, nak."
Kalimat itu membuat Aisyah terdiam sementara dadanya kembali terasa sesak.
"Ayah tahu sendiri bagaimana keluarga itu. Mereka tidak pernah main-main soal pewaris. Kalau dalam waktu dekat Salsa tidak bisa memberikan keturunan," pak Umar berhenti sejenak. "Mereka akan meminta Ammar menceraikannya."
Deg, Aisyah merasakan seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya begitu keras.
"Cerai?"
Suara itu keluar nyaris tanpa tenaga dan membuat pak Umar mengangguk pelan.
"Itu keputusan yang disampaikan langsung oleh keluarga besar Adhitama. Mereka memang belum menentukan waktunya. Tapi ancaman itu nyata. Mereka tidak ingin garis keturunan keluarga berhenti pada Ammar."
Aisyah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya semakin deras. Dalam benaknya terbayang wajah Salsa, Perempuan yang selama ini selalu terlihat tegar, selalu tersenyum dan selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Ternyata, di balik senyum itu, kakaknya sedang memikul ketakutan yang begitu besar. Kalau sampai Ammar benar-benar menceraikannya, Apa yang akan terjadi pada Salsa? Apakah kakaknya akan sanggup melewati semua itu?
Aisyah menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Tapi... Kalau solusi mereka adalah menikahkan Ammar denganku, Apa itu tidak sama dengan menyakiti Kak Salsa?Bagaimana perasaannya nanti?" Pak Umar menarik napas panjang.
"Justru ini keinginan Salsa."
Mata Aisyah membelalak.
"Apa?"
"Salsa sendiri yang mengusulkan kamu supaya menikah dengan Ammar, nak."
Seakan kehilangan keseimbangan, tubuh Aisyah terdorong bersandar ke sofa. Kepalanya mendadak terasa kosong. Tidak, tidak mungkin? Kakak yang selalu menjaganya sejak kecil? Perempuan yang bahkan rela mengalah demi kebahagiaannya? Tidak mungkin akan meminta hal seperti itu.
"Itu tidak mungkin." Aisyah berulang kali menggeleng. "Kak Salsa tidak mungkin mengatakan itu. Dia pasti dipaksa, Pasti. Ayah tidak sedang berbohong, kan?"
Tatapan pak Umar berubah sendu.
"Semalam Salsa datang menemui Ayah. Ia menangis dan untuk pertama kalinya Ayah melihat anak Ayah memohon sambil bersujud di kaki Ayah." Air mata yang sedari tadi ditahan pak Umar akhirnya jatuh. "Salsa bilang," Kalimat yang diucapkan oleh pak Umar terputus karena suaranya tercekat. "Kalau ia tidak mau kehilangan Ammar. Ia sangat mencintai suaminya dan kalau satu-satunya cara mempertahankan rumah tangga mereka adalah menghadirkan istri kedua dari keluarganya sendiri, Ia rela."
Aisyah mematung. Rasa sesak itu berubah menjadi nyeri. Nyeri yang menjalar hingga ke seluruh tubuhnya. Ia bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Salsa sampai mampu mengucapkan kalimat itu. Perempuan mana yang rela berbagi suami? Tidak ada, Tidak akan ada. Kalau pun ada pasti karena keadaan telah memaksanya. Aisyah menundukkan wajahnya sementara air matanya menetes tanpa suara.
"Kasihan Kak Salsa." lirih Aisyah. "Dia pasti sangat menderita."
Pak Umar mengangguk pelan.
"Itulah kenapa Ayah meminta bantuanmu, Aisyah."
"Bantuan?" Aisyah tersenyum hambar. "Ayah menyebut ini bantuan? Ayah meminta Aisyah menikahi laki-laki yang sudah menjadi suami kakak Aisyah. Ayah meminta Aisyah hidup serumah dengan mereka. Ayah meminta Aisyah melihat setiap hari suami kakak sendiri. Ayah..." Suara Aisyah mulai bergetar.
"Bagaimana mungkin Aisyah sanggup?" Tangisnya akhirnya pecah. "Aisyah akan merasa bersalah seumur hidup. Aisyah tidak mau menjadi penyebab luka Kak Salsa. Aisyah lebih baik tetap sendiri daripada harus merebut kebahagiaan kakak Aisyah sendiri. Aisyah tidak sanggup."
Suasana kembali hening. Pak Umar hanya menatap putri bungsunya yang kini menangis tanpa mampu ditahan lagi. Sebagai seorang ayah, hatinya ikut hancur. Namun keadaan benar-benar menempatkannya pada pilihan yang mustahil.
"Aisyah." Suara itu kembali terdengar. "Lihat Ayah." Perlahan Aisyah mengangkat wajahnya. "Ayah tidak sedang menyuruhmu merebut suami kakakmu."
"Lalu apa?"
Pak Umar menatapnya dalam.
"Ayah memintamu menyelamatkan rumah tangga mereka."
Kalimat itu membuat Aisyah kembali membeku.
"Maksud Ayah?"
"Dengan adanya kamu, Ammar tetap memiliki pewaris. Salsa tetap menjadi istri pertama. Rumah tangga mereka akan tetap utuh dan keluarga Adhitama tidak memiliki alasan untuk menceraikan Salsa." Aisyah menatap ayahnya dengan tak percaya. Dadanya bergemuruh hebat.
"Jadi, Setelah Aisyah menikah dengan mas Ammar, Aisyah harus hidup sebagai bayangan dan istri kedua? Ibu dari anak-anak yang nantinya tetap memanggil Kak Salsa sebagai ibu mereka juga?"
Pertanyaan demi pertanyaan keluar dengan napas memburu sementara pak Umar memilih diam. Diamnya itulah yang menjadi jawaban paling menyakitkan. Aisyah mengusap air matanya dengan kasar lalu perlahan berdiri dari duduknya.
"Maafkan Aisyah." Suaranya terdengar lirih. "Tapi... Aisyah tidak bisa. Walaupun yang meminta adalah Ayah, Walaupun demi Kak Salsa, Aisyah tetap tidak bisa." Aisyah menarik napas panjang. "Aisyah tidak ingin menjadi orang ketiga. Tidak ingin menjadi penyebab luka bagi kakak sendiri dan..." Ia memejamkan matanya sejenak. "Aisyah juga tidak ingin menjalani pernikahan tanpa cinta."