NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Bertemu Alya

Jam dinding digital di pos pasar induk sudah menunjukkan pukul satu malam lewat ketika Bumi menyelesaikan karung kentang terakhirnya. Tubuhnya dibanjiri keringat, berbaur dengan debu tanah dari karung-karung Dieng yang ia panggul selama berjam-jam. Pundaknya terasa kebas, namun hatinya terasa plong saat Mandor Badrun menyerahkan beberapa lembar uang kertas hasil jerih payahnya malam itu. Bumi langsung pamit dan melangkah pulang menuju area kosan petaknya di belakang pasar.

Namun, sebelum masuk ke lorong gang kosannya yang gelap, perut Bumi kembali berbunyi dengan sangat nyaring. Rasa lapar yang teramat sangat menyerangnya setelah terkuras habis untuk kerja rodi sejak siang hingga larut malam.

"Aduh, laper banget. Sebelum tidur harus makan dulu ini mah, biar besok gak tumbang," gumam Bumi sambil mengusap perutnya sendiri.

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling jalanan pinggir pasar yang mulai sepi. Sebagian besar lapak makanan sudah tutup, namun matanya menangkap seberkas cahaya lampu neon dari sebuah warung nasi sederhana yang terletak tak jauh dari mulut gang kosannya. Pintu kayu warung itu sudah setengah tertutup, tanda bersiap-siap hendak menyudahi jualan hari itu. Bumi bergegas melangkah mendekat.

"Permisi... apa masih ada makanan, Mbak?" tanya Bumi dengan sangat sopan sambil melongokkan kepalanya ke dalam warung.

Seorang gadis muda yang sedang menyapu lantai warung menoleh. Gadis itu mengenakan kaos santai dengan rambut yang diikat kuda. Wajahnya tampak lelah, namun senyum ramah langsung terkembang di bibirnya begitu melihat kedatangan Bumi, meskipun penampilan Bumi saat itu sangat kotor, lusuh, dan wajahnya masih dipenuhi bekas lebam kebiruan.

"Eh, iya, Mas. Masih ada kok, tapi tinggal lauk seadanya ya. Tinggal tempe orek, sayur nangka, sama sedikit sambal. Nasi putihnya juga tinggal bagian bawahnya aja. Gak apa-apa?" jawab gadis itu dengan nada suara yang sangat renyah, sama sekali tidak menunjukkan raut wajah jijik atau memandang rendah kondisi fisik Bumi.

Bumi tersenyum lega. "Wah, gak apa-apa banget, Mbak! Itu sudah lebih dari cukup buat saya. Yang penting ada nasi sama kuah buat ganjel perut malam ini."

"Ya sudah, silakan duduk dulu, Mas. Biar saya siapkan nasinya," kata gadis itu ramah sambil meletakkan sapunya di pojok ruangan.

Bumi mengambil tempat duduk di sebuah bangku kayu panjang. Tak lama kemudian, gadis itu datang membawa sepiring nasi dengan porsi yang ternyata cukup menggunung, lengkap dengan lauk tempe dan guyuran kuah sayur nangka yang melimpah.

"Ini, Mas. Silakan dimakan. Maaf ya cuma tinggal ini aja lauknya," ucapnya sambil meletakkan piring dan segelas air putih hangat di atas meja kayu.

"Walah, ini mah banyak banget porsinya, Mbak. Terima kasih banyak ya," kata Bumi dengan mata berbinar-binar gembira. Ia langsung menyendok nasi itu ke dalam mulutnya dengan lahap.

Gadis itu duduk di bangku seberang meja Bumi, melanjutkan kegiatannya mengelap beberapa toples kerupuk kosong sambil sesekali memperhatikan Bumi yang makan dengan sangat lahap.

"Pelan-pelan, Mas, makannya. Kayak orang gak makan seharian aja," canda gadis itu sambil tertawa kecil.

Bumi menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab sambil nyengir. "Hehehe, iya, Mbak. Jujur emang dari siang tadi cuma kemasukan es teh sebungkus doang. Jadinya pas ketemu nasi langsung kalap."

"Wah, kerja di mana emangnya sampai lupa makan begitu?"

"Saya kuli panggul di pasar induk depan itu, Mbak. Baru datang dari desa kemarin, terus langsung kerja borongan di tempat Mandor Badrun malam ini." Bumi meminum air putihnya sedikit. "Oh ya, kenalin Mbak, nama saya Bumi."

"Oh, pantesan badannya tegap gitu. Kerja kasar terus ya," jawab gadis itu sambil mengangguk-angguk paham. "Kenalin juga, nama saya Alya. Ini warung nasi punya ibu saya, tapi kalau malam dari magrib sampai tutup emang bagian saya yang jaga di sini."

"Salam kenal, Mbak Alya. Mbak Alya ramah banget ya, biasanya orang-orang kota kalau lihat kuli pasar badannya kotor begini sukanya ngejauh atau pasang muka gak enak," tutur Bumi jujur, teringat perlakuan Doni dan gadis-gadis di desanya kemarin.

Alya menggelengkan kepala dengan cepat, matanya menatap Bumi dengan pandangan tulus. "Ih, ngapain juga mesti dipandang rendah, Mas Bumi? Kita kan sama-sama cari uang halal di sini. Ibu saya selalu pesan, jangan pernah beda-bedain orang dari pakaian atau pekerjaannya. Yang penting kan sifatnya baik."

"Wah, ibunya Mbak Alya hebat banget pemikirannya. Jarang ada orang kayak gitu di zaman sekarang," puji Bumi tulus.

Suasana malam di dalam warung nasi itu terasa hangat meskipun angin malam ibu kota bertiup cukup kencang di luar. Karena kondisi warung sudah sepi dan Alya juga tinggal menunggu Bumi selesai makan untuk benar-benar menutup warungnya, mereka berdua melanjutkan obrolan basa-basi dengan santai.

"Mas Bumi mukanya kenapa itu? Kok kayak ada bekas memar kebiruan gitu di pipi sama dekat mata?" tanya Alya penasaran, sejak tadi ia sebenarnya ingin bertanya namun ragu.

Bumi mengusap pipinya sekilas, lalu tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Oh, ini. Biasa, Mbak, kenang-kenangan dari desa sebelum saya merantau ke sini. Ada sedikit salah paham sama warga di sana, jadinya saya agak dikeroyok sebelum diusir."

Alya terbelalak kaget, tangannya berhenti mengelap meja. "Astaga! Sampai digituin? Kok kejam banget sih orang-orang di desa Mas Bumi? Terus Mas Bumi gak apa-apa sekarang?"

"Gak apa-apa kok, Mbak. Sudah diobatin dikit, lagian sekarang rasanya cuma tinggal linu-linu dikit aja kalau dibuat ngangkat karung yang terlalu berat. Dibawa sabar aja, namanya juga cobaan hidup," jawab Bumi dengan nada santai, seolah kejadian mengerikan semalam bukan apa-apa baginya.

"Hebat ya Mas Bumi, bisa sesabar itu. Kalau saya digituin mungkin udah nangis-nangis gak karuan," ucap Alya kagum melihat keteguhan hati pemuda di depannya ini.

"Mau nangis juga gak merubah keadaan, Mbak Alya. Mending tenaganya disimpan buat kerja nyari duit," seloroh Bumi membuat Alya kembali tertawa renyah.

Setelah nasi di piringnya bersih tak tersisa sebutir pun, Bumi berdiri dan merogoh saku celananya untuk membayar makanan tersebut.

"Jadi berapa semuanya, Mbak Alya?" tanya Bumi sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan.

"Nasi sama lauk seadanya tadi... dipas-in sepuluh ribu aja deh, Mas. Anggap aja diskon buat pekerja keras," jawab Alya sambil menerima uang itu dengan senyuman.

"Wah, makasih banyak ya, Mbak. Oh ya, Mbak Alya..." Bumi menggaruk belakang kepalanya, tampak agak ragu dan sungkan untuk mengutarakan sesuatu.

"Iya? Kenapa, Mas Bumi? Masih ada yang kurang?" tanya Alya bingung melihat gelagat Bumi.

"Anu... boleh saya minta tolong sesuatu gak, Mbak? Kira-kira di belakang warung atau di sekitar sini ada kardus-kardus bekas yang udah gak kepakai gak ya?" tanya Bumi dengan nada sangat berhati-hati.

Alya menaikkan sebelah alisnya. "Kardus bekas? Buat apa emangnya, Mas?"

"Itu... kebetulan sore tadi saya baru dapet kamar kos petakan yang kosong di gang belakang pasar ini. Kamarnya bener-bener kosong melompong, gak ada alas tidur sama sekali, cuma lantai semen kasar aja. Rencananya saya mau minta kardus bekas buat alas tidur malam ini, biar punggung saya gak terlalu dingin kena semen langsung. Kasihan badan saya kalau makin linu besok subuh harus kerja lagi," jelas Bumi jujur, tanpa ada rasa gengsi sedikit pun di wajahnya.

Alya terdiam mendengar penjelasan Bumi. Tatapan matanya berubah menjadi sangat iba sekaligus tersentuh oleh kesederhanaan dan kepasrahan hidup pemuda di depannya ini. Ia melihat ke arah pakaian Bumi yang robek di beberapa sudut.

"Kardus bekas ya... bentar ya, Mas Bumi. Mas tunggu di sini dulu, jangan kemana-mana," kata Alya mendadak berdiri dan bergegas berjalan masuk ke pintu belakang warungnya yang terhubung langsung dengan rumah tinggal keluarganya.

Bumi berdiri menunggu di dekat meja dengan bingung. "Walah, apa gua salah ngomong ya? Malah ngerepotin si Mbak Alya lagi," gumam Bumi cemas pada diri sendiri.

Sekitar lima menit berlalu, pintu belakang kembali terbuka. Namun, Alya tidak membawa kardus bekas seperti yang Bumi minta. Gadis itu keluar dengan bersusah payah sambil menggotong sebuah gulungan kasur busa yang sudah agak tipis, lengkap dengan sebuah bantal kapuk yang dibungkus sarung bantal bermotif bunga yang sudah agak pudar warnanya.

"Eh? Mbak Alya? Itu... itu buat apa?" tanya Bumi melotot kaget, langsung maju ke depan untuk membantu Alya memegang gulungan kasur tersebut agar tidak jatuh.

Alya mengatur napasnya yang agak terengah-engah setelah menggotong kasur. "Nih, Mas Bumi bawa ini aja ke kosannya. Ini kasur busa punya adik saya yang udah gak dipakai lagi karena dia udah dibelikan kasur baru sama ibu. Kondisinya emang udah agak tipis dan kempes di bagian tengah, tapi ini jauh lebih baik dan jauh lebih hangat daripada Mas Bumi harus tidur pakai alas kardus di atas semen dingin!"

Bumi menatap bergantian antara gulungan kasur tipis itu dan wajah tulus Alya. Jantungnya berdesir hebat, merasa tidak enak hati sekaligus sangat terharu dengan kebaikan gadis yang baru beberapa jam lalu ia kenal ini.

"Loh, Mbak Alya... jangan, Mbak. Ini keterlaluan baiknya. Saya kan cuma nanya kardus bekas aja tadi, gak bermaksud mau minta kasur begini. Ini berharga banget, Mbak, mending disimpan aja buat cadangan di rumah," tolak Bumi dengan rasa sungkan yang luar biasa.

Alya justru cemberut, menaruh bantal kapuk itu di atas gulungan kasur yang dipegang Bumi. "Udah, gak usah ditolak, Mas Bumi! Di rumah saya kasur ini cuma ditumpuk di gudang bawah tangga, cuma jadi sarang debu aja. Daripada mubazir, mending dipakai sama Mas Bumi yang lebih membutuhkan sekarang. Biar tidurnya Mas Bumi bisa nyenyak, jadi besok subuh badannya gak sakit semua pas mau panggul karung lagi di pasar. Anggap aja ini hadiah selamat datang di ibu kota dari saya!"

Bumi menelan ludahnya, matanya kembali terasa hangat dan berkaca-kaca karena kebaikan yang ia terima bertubi-tubi sejak pergi dari desanya. Dari Kang Kardi, Mandor Badrun, hingga malam ini gadis baik bernama Alya ini. Orang baik memang selalu dipertemukan dengan orang baik pula di jalanan.

"Mbak Alya..." Bumi memeluk gulungan kasur tipis dan bantal itu dengan erat ke dadanya. "Saya... saya bener-bener gak tahu harus balas kebaikan Mbak Alya pakai apa. Terima kasih banyak ya, Mbak. Kasur ini berharga banget buat saya. Malam ini saya akhirnya bisa tidur pakai bantal."

Alya tersenyum manis, senyuman yang terasa sangat tulus dan menenangkan di mata Bumi. "Sama-sama, Mas Bumi. Gak usah dipikirin cara balasnya. Yang penting Mas Bumi kerjanya yang giat di pasar, jaga kesehatan. Ya sudah, bawa gih ke kosan, ini udah makin larut malam, saya juga mau langsung tutup warungnya."

"Baik, Mbak Alya. Saya permisi pulang ke kosan dulu ya. Sekali lagi terima kasih banyak, Mbak. Selamat istirahat!" ucap Bumi penuh rasa syukur.

"Iya, Mas Bumi. Selamat istirahat juga!" sahut Alya sambil melambaikan tangannya.

Bumi melangkah keluar dari warung nasi dengan memanggul gulungan kasur tipis di pundak kanannya dan tas karung goni di tangan kirinya. Langkah kakinya menyusuri gang sempit menuju kosannya kini terasa sangat ringan dan dipenuhi kebahagiaan. Di dalam kamar kos petaknya yang sempit dan kumuh nanti, Bumi akhirnya tidak perlu lagi merasakan dinginnya lantai semen keras, berkat kebaikan seorang gadis bernama Alya yang baru saja menjadi berkah tersendiri di awal lembaran hidup barunya di ibu kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!