Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Kerinduan Ibu
Wanita bermantel krem itu tidak segera menurunkan teropongnya. Tatapannya terpaku pada Aurora yang masih berjongkok di depan makam kosong itu. Gadis yang selama lebih dari dua puluh tahun hanya bisa ia lihat dari kejauhan, kini berada begitu dekat. Namun ia tetap tidak bisa menghampiri. Jemarinya gemetar menggenggam ujung mantel.
"Nyonya..." Pria bertubuh tegap di belakangnya melangkah pelan. "Kita harus pergi."
Wanita itu menggeleng pelan. "Sebentar lagi."
Matanya kembali memandang Aurora yang sedang memejamkan mata di depan nisan.
"Biarkan aku melihatnya sedikit lebih lama."
Di sisi lain...
Aurora perlahan membuka matanya. Ia mengambil kembali liontin bunga lily itu, lalu menggenggamnya di dada. Entah mengapa, sejak datang ke tempat ini, perasaannya berubah menjadi sangat aneh. Seolah ada seseorang yang begitu dekat... namun tak terlihat.
"Aurora." Suara Leonardo membuatnya menoleh.
"Iya, Tuan?"
"Kita harus kembali."
Aurora mengangguk pelan. Sebelum berdiri, ia sekali lagi menatap makam tanpa nama itu.
"Aku akan datang lagi."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Leonardo tersenyum tipis. "Aku yakin... orang yang beristirahat di balik kenangan makam itu akan sangat senang mendengarnya."
Aurora tersenyum kecil, lalu berdiri. Namun baru beberapa langkah meninggalkan makam, ia kembali berhenti.
"Hm?"
Aurora menoleh ke arah hutan pinus di sebelah timur. Angin berembus pelan, membuat dedaunan bergoyang. Perasaan yang sama kembali muncul. Seperti... ada seseorang yang sedang memandangnya.
Adrian yang berjalan di sampingnya langsung menyadari perubahan itu. "Ada apa?"
Aurora masih menatap ke arah pepohonan. "Aku tidak tahu."
"Apa kau melihat sesuatu?"
Aurora menggeleng. "Tidak... tapi rasanya... ada seseorang di sana."
Tanpa banyak bicara, Adrian mengikuti arah pandangan Aurora. Sorot matanya langsung berubah tajam. Melalui earphone kecil di telinganya, ia berbicara pelan.
"Johan."
"Ya, Don."
"Sisir sektor timur."
"Baik."
Beberapa pengawal segera bergerak tanpa suara menuju area yang dimaksud. Namun... saat mereka tiba di sana, tempat itu sudah kosong. Yang tersisa hanyalah bekas jejak sepatu di tanah yang masih lembap.
Sementara itu, wanita bermantel krem sudah kembali masuk ke dalam mobil. Ia melihat layar kecil yang menampilkan rekaman kamera jarak jauh. Di layar itu terlihat Aurora menoleh tepat ke arahnya beberapa detik yang lalu.
Wanita itu tersenyum getir. "Instingmu sama seperti ayahmu..." Ia mengusap layar itu perlahan. "Aurora... maafkan Ibu. Ibu belum bisa muncul di hadapanmu."
Pria di kursi kemudi menatapnya melalui kaca spion. "Nyonya... apakah Nona Aurora mengenali Anda?"
Wanita itu menggeleng. "Tidak."
"Kalau begitu kenapa dia melihat ke arah kita?"
Wanita itu mengembuskan napas panjang. "Itu karena ikatan darah... terkadang mampu merasakan keberadaan satu sama lain." Matanya kembali memerah. "Meski belum saling mengenal."
Di halaman gereja, Aurora masih terlihat beberapa kali menoleh ke belakang.
Adrian memperhatikannya. "Apa kau masih memikirkan makam itu?"
Aurora menggeleng pelan. "Bukan."
"Lalu?"
Aurora terdiam beberapa saat. "Aneh saja rasanya..."
"Apa yang aneh?"
"Padahal aku tidak melihat siapa pun, tapi..." Dadanya terasa sesak. "Seolah ada seseorang yang ingin menghampiriku... namun tidak bisa."
Adrian tidak langsung menjawab. Ia justru menatap hutan pinus di kejauhan. Instingnya mengatakan... Aurora tidak sedang berkhayal. Seseorang memang ada di sana, hanya saja orang itu memilih pergi.
Leonardo yang berjalan di depan perlahan menoleh. "Ayo... kita pulang."
Aurora mengangguk, namun sebelum masuk ke dalam mobil... ia kembali memandang gereja tua itu. Hari ini ia memang belum mendapatkan seluruh jawaban.
Tetapi ia merasa masa lalunya bukan lagi sebuah kegelapan yang menakutkan. Ada orang-orang yang rela mempertaruhkan nyawa demi melindunginya. Maria Laurent, Pastor Markus, Leonardo, dan...
Tanpa sadar, tatapannya beralih kepada Adrian yang sedang memeriksa situasi di sekitar mobil sebelum membukakan pintu untuknya. Pria itu tetap dingin seperti biasa, tidak banyak bicara. Namun selalu berada di sisinya pada saat-saat paling sulit.
Aurora tersenyum tipis. "Terima kasih."
Adrian menoleh. "Untuk apa?"
Aurora menggeleng sambil masuk ke dalam mobil. "Tidak ada."
Adrian mengernyit kecil, tetapi akhirnya ikut masuk ke dalam kendaraan. Di balik jendela mobil, Aurora kembali menggenggam liontin bunga lily itu.
Beberapa menit kemudian...
Konvoi keluarga Moretti perlahan meninggalkan halaman gereja tua itu. Tiga SUV hitam kembali bergerak menyusuri jalan sempit yang diapit pepohonan maple.
Di dalam mobil, suasana jauh lebih sunyi dibandingkan saat mereka datang. Aurora masih memandangi liontin bunga lily yang berada di telapak tangannya. Jemarinya mengusap ukiran kecil pada permukaan perak itu berulang kali.
Leonardo memperhatikannya sekilas. "Apa yang sedang kau pikirkan?"
Aurora tersenyum tipis. "Banyak."
"Misalnya?"
Aurora menghela napas pelan. "Aku merasa... hidupku selama ini seperti sebuah buku yang halaman pertamanya hilang."
Leonardo memandangnya penuh pengertian.
"Dan sekarang," lanjut Aurora, "aku mulai menemukan beberapa potongan halaman itu. Tapi aku masih belum bisa membaca ceritanya."
Leonardo tersenyum hangat. "Tidak semua jawaban harus ditemukan dalam satu hari."
Aurora mengangguk pelan. "Aku tahu."
Di sampingnya, Adrian tetap memandang ke luar jendela. Namun ia diam-diam mendengarkan setiap kata yang diucapkan Aurora.
Sementara itu...
Mobil wanita bermantel krem berhenti di sebuah rumah tua yang tersembunyi di tengah hutan pinus. Begitu turun dari mobil, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun telah menunggunya di teras.
"Waktunya hampir habis."
Wanita itu melepas sarung tangan kulitnya. "Aku tahu."
Pria tua itu menatap wajahnya yang masih basah oleh air mata. "Kau ingin menemuinya, bukan?"
Wanita itu memejamkan mata. "Iya, tapi aku tidak bisa."
Pria tua itu menghela napas. "Kalau Black Eagle mengetahui kau masih hidup, mereka tidak hanya akan memburumu. Mereka juga akan membunuh Aurora."
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya. "Itulah alasan aku bertahan di balik bayangan selama ini."
Di dalam SUV Moretti...
Aurora perlahan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Karena terlalu banyak berpikir, tanpa sadar kelopak matanya mulai terasa berat.
Adrian yang duduk di hadapannya memperhatikan gadis itu. "Kau lelah."
Aurora tersenyum kecil. "Sedikit."
"Kau boleh tidur."
Aurora menggeleng. "Tidak, nanti saja."
"Kenapa?"
"Aku takut kalau tidur..." Ia memandang keluar jendela. "Semua yang terjadi hari ini ternyata hanya mimpi."
Ucapan itu membuat Adrian terdiam.
Beberapa detik kemudian ia membuka laci kecil di samping kursinya, lalu mengeluarkan sebuah bantal leher berwarna abu-abu.
Ia menyodorkannya kepada Aurora. "Pakai ini."
Aurora berkedip. "Kau membawa bantal?"
"Tidak."
"Lalu itu apa?"
"Itu selalu ada di mobil."
Aurora menerima bantal itu sambil tertawa pelan. "Terima kasih." Setelah memasangnya, ia bersandar dengan lebih nyaman. "Ternyata enak juga."
Leonardo yang melihat interaksi keduanya hanya tersenyum kecil tanpa ikut berbicara.
Tak lama kemudian...
Aurora benar-benar tertidur. Kepalanya perlahan miring ke samping akibat guncangan jalan. Beberapa detik berikutnya...
Bruk.
Tanpa sengaja kepala Aurora bersandar di bahu Adrian.
Johan yang melihat melalui kaca spion depan hampir menoleh, tetapi segera mengurungkan niatnya. Adrian tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya menatap Aurora yang sudah terlelap. Wajah gadis itu tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya.
Leonardo berbisik pelan. "Jangan dibangunkan."
Adrian mengangguk singkat.
"Dia terlalu lelah."
Mobil terus melaju membelah jalanan pegunungan yang tenang. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Di dalam mobil paling depan, salah seorang pengawal tiba-tiba berseru.
"Tuan Johan!"
"Ada apa?"
"Sebuah truk besar berhenti melintang di jalan sekitar lima ratus meter di depan."
Johan langsung mengambil tablet navigasi. "Karena kecelakaan?"
Pengawal itu menggeleng. "Tidak ada laporan kecelakaan."
Sorot mata Johan berubah tajam. Ia segera menghubungi Adrian. "Don."
Adrian menekan earphone dengan satu tangan, sementara bahunya tetap diam agar Aurora tidak terbangun.
"Ada apa?"
"Di depan ada truk yang menutup seluruh jalan."
Adrian menatap peta digital. "Jaraknya bagaimana?"
"Lima ratus meter."
"Apa ada jalan alternatif?"
"Ada, tetapi harus melewati jalan hutan."
Adrian terdiam sesaat, terlalu kebetulan. Jalan utama tertutup, jalan alternatif melewati kawasan dengan banyak titik buta. Tatapannya langsung berubah dingin.
"Jangan masuk ke jalan alternatif."
"Putar balik?"
Adrian tidak menjawab, Adrian menatap layar navigasi. "Berhenti seratus meter sebelum truk. Lalu kirim drone. Pastikan dulu, apakah itu benar-benar kecelakaan atau ada seseorang sedang menunggu kita."