Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 : Makam Kosong
Aurora menarik napas panjang.
Tangannya masih menggenggam amplop tua itu erat-erat. Matanya terus menatap tulisan di permukaannya, seolah takut jika begitu surat itu dibuka, seluruh hidup yang selama ini ia yakini akan runtuh dalam sekejap.
Ruangan kembali hening.
Pastor Markus tidak mendesak, Leonardo pun memilih diam. Hanya suara jam tua di sudut ruangan yang terdengar berdetak pelan.
Tik... tok... tik... tok...
Aurora akhirnya mengangkat kepalanya. "Aku..." suaranya lirih. "Aku ingin membukanya."
Pastor Markus mengangguk pelan. "Itu keputusanmu."
Aurora mengusap kedua telapak tangannya yang mulai berkeringat. Namun ketika ujung jarinya hendak merobek segel amplop itu, sebuah tangan menghentikannya dengan lembut.
Aurora menoleh.
Adrian, tatapan pria itu tetap tenang. "Boleh aku mengatakan sesuatu?"
Aurora mengangguk perlahan.
Adrian memandang surat itu beberapa saat sebelum kembali menatap Aurora. "Begitu surat ini terbuka... tidak akan ada jalan untuk kembali."
Aurora terdiam.
"Kau mungkin akan menemukan jawaban. Tapi kau juga mungkin menemukan sesuatu yang menyakitkan."
Aurora menggigit bibir bawahnya.
"Kalau kau ingin menunggu... aku akan tetap menemanimu."
Tatapan Aurora perlahan melembut, ia tersenyum tipis. "Kenapa kau selalu mengatakan akan menemaniku?"
Adrian tidak langsung menjawab, beberapa detik berlalu. Barulah ia berkata pelan. "karena... aku tidak ingin kau menghadapi semuanya sendirian."
Kalimat itu sederhana, namun bagi Aurora... entah mengapa dadanya terasa begitu hangat. Ia menundukkan kepala agar Adrian tidak melihat kedua pipinya yang mulai memerah.
Leonardo yang melihat semuanya hanya tersenyum kecil. Dalam hati ia bergumam, "anak keras kepala itu akhirnya mulai jujur juga..."
Aurora kembali menatap surat itu. Lalu... perlahan ia menggeleng.
"Tidak."
Semua orang memandangnya.
"Aku belum siap."
Pastor Markus tersenyum lega. "Itu juga pilihan yang benar."
Aurora memasukkan kembali surat tersebut ke dalam kotak kayu. "Aku ingin membukanya nanti."
"Kapan?" tanya Leonardo lembut.
Aurora menoleh kepada pria tua itu. "Saat semua orang yang ada di balik rahasia ini sudah ditemukan."
Tatapan Adrian berubah, ia memahami maksud Aurora. Gadis itu tidak ingin mengetahui setengah kebenaran. Ia ingin mengetahui semuanya sekaligus.
Pastor Markus kemudian menutup kembali kotak kayu itu. "Kalau begitu... untuk sementara, simpanlah liontin ini."
Ia mengambil liontin bunga lily yang tersimpan di dalam kotak dan menyerahkannya kepada Aurora. Aurora menerimanya dengan hati-hati. Saat jemarinya menyentuh permukaan perak itu. Entah mengapa muncul kilasan yang sangat singkat di benaknya.
Seorang wanita muda berambut panjang sedang menggendong bayi. Tangis seorang anak kecil, suara lonceng gereja.
Dan... seorang pria yang berkata, "cepat... bawa dia pergi!"
"Aah..."
Aurora memegang kepalanya.
Adrian langsung menangkap tubuhnya sebelum gadis itu kehilangan keseimbangan. "Aurora."
"Aku... aku tidak apa-apa."
"Apa yang terjadi?" tanya Leonardo cemas.
Aurora menggeleng pelan. "Tiba-tiba saja... aku seperti melihat sesuatu."
Pastor Markus langsung memahami. "Itu bukan hal yang aneh."
Semua orang menoleh kepadanya.
"Kadang sebuah benda yang memiliki ikatan emosional sangat kuat mampu membangkitkan serpihan ingatan."
Aurora menatap liontin itu dengan napas yang belum sepenuhnya tenang. "Berarti... aku benar-benar pernah berada di sini."
Pastor Markus mengangguk. "Ya."
"Tetapi ingatanmu belum kembali sepenuhnya."
Adrian masih memegang lengan Aurora untuk memastikan gadis itu benar-benar sudah stabil. Baru setelah Aurora mengangguk pelan, ia melepaskan tangannya.
"Sudah lebih baik?"
Aurora mengangguk sambil tersenyum kecil. "Maaf... membuat semua orang khawatir."
"Kau tidak perlu meminta maaf," jawab Adrian singkat.
Leonardo menepuk bahu Aurora dengan lembut. "Kita tidak akan memaksamu mengingat semuanya hari ini."
Aurora mengembuskan napas panjang. "Terima kasih."
Saat itu juga, di luar gereja... salah seorang pengawal berlari menghampiri Johan.
"Tuan Johan."
"Ada apa?"
"Kami menemukan seseorang."
Tatapan Johan langsung berubah tajam. "Di mana?"
"Di bukit sebelah timur."
"Apa dia berhasil ditangkap?"
Pengawal itu menggeleng. "Orangnya berhasil melarikan diri. Namun..." Ia menyerahkan sebuah benda kecil. "Ini terjatuh saat dia kabur."
Johan menerimanya, benda itu adalah sebuah lencana logam berwarna hitam. Di permukaannya terukir lambang seekor elang dengan kedua sayap terbentang.
Di bawahnya terdapat angka Romawi XIII. Sorot mata Johan langsung berubah serius. Ia segera menghubungi Adrian melalui alat komunikasi.
"Don."
"Ada apa?"
"Kami menemukan jejak penyusup, dan..."
Johan menatap lambang itu beberapa detik sebelum berkata pelan, "sepertinya... hari ini mereka sengaja membiarkan kita menemukan petunjuk pertama tentang Black Eagle."
Di dalam gereja, tatapan Adrian langsung berubah dingin. Ia menekan tombol kecil pada alat komunikasi di telinganya.
"Johan."
"Ya, Don."
"Jangan kejar terlalu jauh."
Johan sempat terdiam. "Tapi Don?"
"Kalau mereka sengaja meninggalkan lencana itu, berarti mereka juga sengaja menunggu kita mengejar."
Johan langsung memahami maksudnya. "Apa itu termasuk perangkap?"
"Iya, ku rasa begitu."
"Kalau begitu?"
"Amankan seluruh area gereja. Pastikan tidak ada orang asing yang masih bersembunyi."
"Mengerti, Don."
Sambungan terputus.
Aurora memperhatikan perubahan ekspresi Adrian. "Ada sesuatu yang terjadi?"
Adrian menoleh kepadanya, wajahnya kembali tenang. "Hanya pemeriksaan keamanan."
Aurora mengangguk, meski ia merasa jawaban itu tidak sepenuhnya benar.
Leonardo kemudian berdiri. "Pastor Markus."
Pastor tua itu mengangguk pelan.
"Aku rasa kami harus kembali."
"Aku mengerti."
Sebelum mereka pergi, Pastor Markus menghampiri Aurora. Ia mengangkat tangan kanannya dan mengusap lembut kepala gadis itu.
"Jangan takut mencari kebenaran."
Aurora mengangguk pelan. "Aku akan berusaha."
Pastor Markus tersenyum hangat. "Dan ingat... Maria Laurent tidak pernah menyesali keputusannya menyelamatkanmu."
Mata Aurora kembali berkaca-kaca. "Terima kasih... Pastor."
Beberapa menit kemudian...
Rombongan Moretti kembali keluar dari gereja. Para pengawal segera membentuk formasi mengelilingi Leonardo dan Aurora.
Johan berjalan cepat menghampiri Adrian sambil menyerahkan lencana hitam yang ditemukan.
"Lihat ini, Don."
Adrian menerima benda itu. Tatapannya langsung tertuju pada ukiran elang hitam dengan angka Romawi XIII. Ia membolak-balik lencana tersebut. Di bagian belakang terdapat sebuah ukiran kecil.
Aquila Ex Umbra.
Johan mengernyit. "Itu bahasa Latin."
Adrian mengangguk. "'Elang dari bayangan.'"
Leonardo ikut memperhatikannya. "Aku pernah mendengar kalimat itu."
Semua orang menoleh kepadanya.
"Kapan?" tanya Adrian.
Leonardo memicingkan mata, berusaha mengingat. "Lebih dari dua puluh tahun lalu. Seorang pria yang datang mencariku pernah mengucapkannya. Dia berkata..." Leonardo menarik napas panjang. "'Saat Elang keluar dari bayangan... darah lama akan kembali menuntut haknya.'"
Aurora mengernyit. "Aku tidak mengerti."
Leonardo menggeleng. "Dulu aku juga tidak."
Adrian mengepalkan lencana itu. Kini ia semakin yakin, Black Eagle bukan organisasi yang baru muncul. Mereka sudah bergerak sejak lebih dari dua puluh tahun lalu. Dan seluruh rencana itu, selalu berpusat pada Aurora.
Saat itu pula... seorang pengawal berlari menghampiri. "Don!"
"Apa?"
"Kami menemukan sesuatu di belakang gereja."
"Apa itu?"
"Sebuah makam."
Leonardo sedikit terkejut. "Makam?"
"Ya."
"Di atas batu nisannya tidak ada nama."
Semua orang segera mengikuti pengawal itu. Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah sudut taman yang dipenuhi bunga lily putih.
Di sana berdiri sebuah nisan batu sederhana. Tidak ada nama, tanggal lahir, tanggal kematian, hanya satu kalimat yang terukir rapi.
"Ia mengorbankan segalanya agar cahaya tetap hidup."
Aurora memandang tulisan itu cukup lama. Entah mengapa... dadanya kembali terasa sesak.
"Kenapa aku... merasa sangat sedih?"
Tanpa sadar, setetes air mata jatuh di pipinya.
Leonardo memejamkan mata. "Itu... makam kosong."
Aurora menoleh. "Makam kosong?"
Leonardo mengangguk. "Dibangun untuk mengenang seseorang yang jasadnya tidak pernah ditemukan."
Adrian langsung menatap Leonardo. "Siapa orang itu?"
Leonardo tidak langsung menjawab, beberapa detik kemudian ia berkata lirih. "Seorang wanita... yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan seorang bayi."
Aurora menatap makam itu tanpa berkedip. Di dalam hatinya muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Ia perlahan berjongkok di depan nisan. Lalu meletakkan liontin bunga lily di atas batu makam selama beberapa detik.
Angin musim semi berembus pelan. Kelopak-kelopak bunga lily beterbangan mengelilinginya.
Aurora memejamkan mata. "Aku tidak tahu siapa dirimu... tapi terima kasih."
Tidak ada yang menyadari. Jauh dari balik pepohonan, seorang wanita bermantel krem memperhatikan semuanya melalui teropong.
Air mata perlahan mengalir di pipinya. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berbisik, "maafkan Ibu... Ibu belum bisa memelukmu lagi, Aurora."