NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Penculikan Anak

Supermarket

Di dalam sebuah supermarket, terlihat seorang ibu muda sedang berbelanja sambil mendorong stroller. Ia membawa Bayi laki-lakinya yang baru berusia tujuh bulan itu sambil berkeliling. Ia berjalan perlahan menyusuri deretan rak barang, sesekali berhenti untuk memilih kebutuhan sehari-hari. Tanpa disadari, kehadirannya telah menjadi sasaran dua orang wanita asing yang sejak tadi mengamatinya dari jarak yang tidak terlalu jauh, seolah sedang merencanakan sesuatu.

Salah satu wanita itu kemudian mendekat dengan sikap yang sangat ramah dan meyakinkan, seolah-olah benar-benar membutuhkan bantuan. “Permisi, Bu, boleh tanya sebentar? Di bagian mana ya biasanya botol susu bayi diletakkan?” tanya salah seorang wanita dengan nada sopan.

Ibu muda itu, yang memiliki hati baik dan tidak curiga sedikit pun, segera menjawab dan bahkan menawarkan untuk menunjukkan letaknya. Tak lama kemudian, mereka tiba di rak tempat botol susu bayi itu disimpan. Namun, wanita itu kembali berbicara, “Terima kasih banyak, Bu. Kalau begitu, boleh tolong ambilkan yang ada di rak paling atas itu? Saya agak sulit meraihnya karena letaknya terlalu tinggi.”

Karena merasa tidak ada yang mencurigakan dan hanya berniat membantu, sang ibu pun berhenti dan membiarkan stroller tetap di tempatnya. “Baiklah, tunggu sebentar ya,” ucapnya sambil menjangkau botol susu di rak yang tinggi. Namun, begitu ia berbalik badan, bayinya sudah tidak ada di sana. Wanita asing yang baru saja berbicara dengannya pun telah menghilang begitu saja, lenyap di antara kerumunan pengunjung yang lalu-lalang.

Wajah ibu itu seketika berubah pucat. Ia memanggil nama anaknya dengan suara bergetar, “Minho… Minho…” sambil menoleh ke sana kemari. Ia segera berjalan cepat menyusuri lorong, matanya menelusuri setiap sudut toko dengan pandangan penuh ketakutan. “Anakku! Di mana anakku? Tolong! Anakku hilang!” teriaknya histeris, menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Dengan napas terengah-engah dan air mata, ia segera berlari menuju meja informasi, meminta bantuan petugas keamanan, dan langsung melaporkan kejadian itu ke kantor polisi terdekat.

Namun, di kantor polisi, ia justru mendengar penjelasan yang membuat hatinya semakin hancur. Petugas yang bertugas menyampaikan bahwa menurut prosedur standar yang berlaku, laporan orang hilang baru dapat diproses secara resmi dan ditindaklanjuti pencariannya setelah lewat jangka waktu 24 jam sejak dilaporkan. Mendengar hal itu, sang ibu semakin gelisah dan tidak bisa diam. Ia mendekat dengan wajah penuh keputusasaan, memohon dengan suara terisak-isak, “Pak, tolonglah! Ini bayi saya, ia masih sangat kecil. Bagaimana bisa kita menunggu selama itu? Segera lakukan pencarian, tolong selamatkan anak saya!”

Tidak lama kemudian, ayah dari bayi itu juga tiba setelah mendapat kabar buruk tersebut, dan ia pun turut memohon kepada petugas agar aturan itu dikecualikan demi keselamatan anaknya. “Kami memahami ada prosedur, Pak, tapi ini menyangkut nyawa anak kami. Tolong carikan sekarang juga sebelum hal buruk terjadi,” pintanya dengan nada memelas. Namun, petugas tetap bersikap tegas dan menjelaskan bahwa aturan itu harus dijalankan, seraya menyarankan agar mereka bersabar sementara menunggu waktu yang ditentukan.

Sikap itu justru memicu kemarahan sang ibu yang sudah diliputi rasa takut dan sedih yang mendalam. Ia kehilangan kesabarannya dan mulai beradu argumen dengan petugas polisi tersebut. “Bersabar? Bagaimana saya bisa bersabar saat anak saya yang masih bayi diculik dan tidak tahu dibawa ke mana?” serunya dengan suara meninggi, disertai isak tangis yang semakin menjadi. “Coba bayangkan, jika anak Bapak sendiri yang hilang dalam keadaan seperti ini, apakah Bapak masih bisa bicara soal kesabaran dan membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa berbuat apa-apa?”

Petugas itu berusaha menenangkan suasana, menjelaskan kembali ketentuan hukum yang berlaku agar penyelidikan berjalan tertib, namun perkataannya seolah tidak sampai ke telinga ibu yang sedang dilanda kepanikan luar biasa itu. Setelah berdebat cukup lama tanpa mendapatkan kepastian atau tindakan yang diharapkan, pasangan suami istri itu akhirnya memutuskan untuk pulang. Langkah mereka terasa sangat berat, hati mereka penuh kekecewaan, ketakutan, dan kekhawatiran yang mendalam, sambil terus berdoa dan berharap agar anak mereka dapat ditemukan dengan selamat.

DI LPPA

Di ruang kerja Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA), suasana terlihat serius namun penuh perhatian. Eric, Anqi, dan rekan-rekan lainnya duduk mengelilingi meja besar, di mana layar monitor menampilkan berbagai data dan laporan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang baru saja mereka tangani. Di layar, terlihat catatan lengkap tentang peristiwa di restoran, di mana seorang pria dengan kasar menyakiti istrinya sendiri.

Mira, salah satu rekan kerja yang juga tengah memeriksa berkas, menghela napas pelan sambil menunjuk ke salah satu bagian laporan. “Saya akan katakan jujur, kasus seperti ini memang tidak mudah ditangani,” ucapnya membuka pembicaraan. “Banyak sekali istri yang sebenarnya sudah menderita, tapi akhirnya memilih diam bahkan memohon agar suaminya tidak ditindak. Alasannya selalu sama, mereka merasa harus bertahan demi masa depan anak-anaknya.”

Anqi yang sejak tadi menyimak dengan tatapan serius, langsung menanggapi dengan nada tegas namun penuh kepedihan. “Memang itu hal yang sering kita temui, tapi kita tidak boleh membiarkan pola pikir itu terus berlanjut,” katanya. “Setiap wanita memiliki hak yang sama untuk hidup aman, dihargai, dan bebas dari rasa sakit. Tidak ada satu alasan pun yang bisa membenarkan tindakan kekerasan, sekalipun dikatakan demi keutuhan keluarga.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut namun tegas. “Terlebih lagi, anak-anak itu tidak bersalah atas perilaku buruk orang tuanya. Mereka juga berhak tumbuh besar di lingkungan yang damai, bukan di tengah teriakan, ancaman, dan ketakutan setiap hari. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan ‘demi anak’, padahal anak itu justru tumbuh melihat ibunya disakiti? Itu bukan perlindungan, tapi melukai mental mereka secara perlahan.”

Eric yang tengah mencatat pendapat mereka mengangguk setuju. “Anqi benar,” sahutnya. “Kita sering melihat kasus di mana anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan kekerasan justru membawa trauma itu hingga dewasa. Ada yang menjadi penakut, ada pula yang akhirnya meniru perilaku ayahnya karena mengira itu hal yang wajar. Jadi, membiarkan kekerasan terus berlangsung justru merusak masa depan anak itu sendiri.”

Mira mengangguk memahami, meski raut wajahnya masih terlihat prihatin. “Saya mengerti maksud kalian. Tantangannya justru ada di sini, banyak wanita yang sudah terjebak dalam lingkaran ketakutan, ekonomi yang tidak mandiri, atau tekanan sosial. Mereka berpikir lebih baik bertahan daripada harus memulai hidup baru sendirian.”

“Karena itulah tugas kita,” jawab Anqi mantap. “Kita tidak hanya sekedar menindak pelaku, tapi juga meyakinkan korban bahwa akan ada jalan keluar. Bahwa mereka tidak sendirian, dan ada tempat yang aman untuk mereka dan anak-anak mereka. Kita harus terus menyampaikan bahwa hak mereka untuk hidup layak tidak boleh dikorbankan demi alasan apa pun.”

Pembahasan pun berlanjut. Mereka saling bertukar pandangan, membahas strategi pendekatan yang lebih baik, serta cara memberikan pemahaman kepada masyarakat luas agar kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak lagi dianggap sebagai urusan pribadi yang harus disembunyikan. Di ruangan itu, mereka membuat kesepakatan bersama yang kuat. Mereka akan terus berjuang agar setiap perempuan menyadari nilainya sendiri, dan setiap anak berhak mendapatkan lingkungan tumbuh yang penuh rasa aman dan kasih sayang, bukan lagi ketakutan.

Setelah rapat usai dan semua pembahasan ditutup, Eric mengajak Anqi untuk beristirahat sejenak sambil menikmati makan siang. “Ayo, aku ajak kamu ke satu tempat makan pinggir jalan. Ada kedai yang menurutku rasanya enak sekali, pasti kamu suka,” ajak Eric dengan antusias. Tanpa menolak, Anqi pun menyetujui dan berjalan bersama Eric menuju lokasi tersebut.

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!