NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Sore itu, hujan deras mengguyur Kota Mandara. Seorang pemuda berjaket hitam polos dan dan celana jins gelap tampak turun dari sebuah taksi.

Pemuda itu lalu melangkah dengan tenang, seolah riuh hujan dan gemercik air yang menghantam aspal sama sekali tidak mengusik ketenangannya.

Dia adalah Darius Evandra Adhitama, seorang Dewa Perang dan Pembunuh Bayaran Nomor Satu di dunia yan baru saja kembali dari luar negeri.

Langkah pemuda itu kemudian terhenti di depan sebuah kedai sederhana bernama "Kedai Selera". Sebuah kedai dengan gaya minimalis-retro itu tampak mencolok di antara deretan gedung tinggi di sekitarnya.

Kring...

Lonceng kecil di atas pintu berdenting saat Darius mendorongnya. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi roti panggang langsung menyambutnya.

Beberapa pelanggan tengah menikmati makanan mereka sambil berbincang ringan. Tak seorang pun memperhatikan pria berjaket hitam yang baru masuk itu.

"Selamat datang, Kak. Silakan duduk," sapa seorang pelayan wanita dengan ramah.

Darius hanya menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya memilih meja di sudut ruangan yang menghadap langsung ke jalan.

Tak lama kemudian, pelayan wanita tadi menghampiri mejanya sambil membawa buku menu.

"Mau pesan apa, Kak?" tanya pelayan wanita itu sambil menyerahkan buku menu ke hadapan Darius.

Darius membuka buku menu tersebut tanpa benar-benar membacanya. Matanya bergerak menyapu daftar minuman, mencari sesuatu yang bisa membantunya tetap terjaga.

"Segelas kopi hitam. Tanpa gula." jawab Darius pendek. Suaranya agak serak, khas seseorang yang sudah menghabiskan waktu berjam-jam dalam perjalanan.

"Baik, satu kopi tanpa gula. Ada tambahan makanan atau camilan untuk menemani kopinya, Kak?"

Darius menutup buku menu di tangannya dengan perlahan, lalu menggeleng pelan. "Itu saja dulu,"

Pelayan itu mengangguk sopan, mencatat pesanan di tablet kecilnya, lalu melangkah pergi menuju area bar, meninggalkan Darius sendirian dengan pikirannya.

Sambil menunggu pesanan, Darius menatap jalanan basah Kota Mandara yang buram karena hujan dari balik jendela kaca yang berembun.

"Ini kopinya, Kak. Silakan dinikmati," ucap pelayan tadi, meletakkan cangkir porselen putih di atas meja, memutus lamunan Darius

"Terima kasih," jawab Darius pendek. Suaranya berat, berat oleh pengalaman yang belum pernah didengar oleh orang awam.

Darius menyesap kopi tanpa gula itu secara perlahan. Pahitnya cairan hitam itu membakar lidahnya, namun sensasi itu justru membuatnya merasa rileks.

Hanya berselang lima menit sejak Darius meminum kopinya, pintu kedai kembali terbuka. Lonceng di atas pintu berdentang nyaring, memecah suasana tenang di dalam kedai.

Beberapa pria bertubuh besar melangkah masuk. Jaket kulit yang mereka kenakan telah basah kuyup. Tubuh mereka dipenuhi tato dan sorot mata yang membuat sebagian pelanggan langsung ketakutan.

Suasana hangat di dalam kedai mendadak berubah tegang. Pria yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu berjalan menuju meja kasir.

"Mana si pemilik kedai?" tanya pria itu dengan suara berat.

Pria bertato yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu menggebrak meja kasir dengan keras.

Pelayan wanita yang tadi melayani Darius langsung pucat pasi. Ia mundur beberapa langkah dengan tubuh gemetar, tidak berani menatap mata pria di hadapannya.

"P-Pemilik kedai berada di belakang, Tuan..." jawab pelayan wanita itu dengan terbata-bata.

"Panggil dia sekarang!" bentak pria bertato itu dengan suara menggelegar. "Bilang padanya, bayar uang keamanan hari ini, atau kedai ini kami ratakan!"

Merasakan situasi semakin mencekam, beberapa pelanggan buru-buru meletakkan uang di meja lalu bergegas keluar demi keselamatan mereka

Di sudut kedai, Darius tetap duduk dengan tenang. Ia masih menyesap sisa kopi hitamnya yang mulai mendingin. Matanya memperhatikan gerak-gerik kelompok preman tersebut.

"Hei! Kau dengar tidak?!" Pria bertato itu mulai tidak sabar dan menendang salah satu kursi hingga terjungkir.

Tepat saat itu, pintu area dapur terbuka. Seorang pria paruh baya dengan apron yang agak kotor melangkah keluar dengan wajah cemas.

"Tolong jangan buat keributan, Tuan-tuan. Saya... saya sudah mengumpulkan uangnya, tapi jumlahnya belum penuh. Bisakah beri saya waktu tiga hari lagi?"

Pemimpin preman itu mendengus, lalu mencengkeram kerah baju sang pemilik kedai. "Tiga hari? Kau pikir kami ini yayasan amal? Cari uangnya sekarang, atau tangan tuamu ini akan patah!"

Suasana di dalam kedai semakin mencekam. Pelayan wanita mulai menangis dalam diam, sementara pemilik kedai hanya bisa pasrah memejamkan mata.

Darius berdiri dari kursinya. Ia merapikan jaket hitamnya, lalu melangkah mendekati meja kasir. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tanpa suara.

"Tindakan kalian telah merusak suasana minum kopiku," ucap Darius dengan datar, namun sarat akan wibawa.

Pemimpin preman itu melepaskan cengkeramannya, lalu menatap Darius dengan pandangan menghina. "Siapa kau? Pahlawan? Jangan ikut campur kalau masih sayang nyawa, Anak Muda!"

Dua anak buahnya langsung maju, mereka mencoba mencengkeram pundak Darius untuk mengintimidasi.

Namun, sebelum tangan kotor mereka sempat menyentuh jaketnya, gerakan Darius jauh lebih cepat dari yang bisa ditangkap oleh mata manusia.

"AAAKHHH!"

Hanya dalam satu detik, Darius memutar pergelangan tangan preman pertama hingga terdengar bunyi patah tulang yang ngilu

Ia lalu menggunakan siku lengannya untuk menghantam dada preman kedua hingga pria itu terlempar ke belakang dan menghantam meja kayu sampai hancur.

Pemimpin preman itu terbelalak. Wajahnya mendadak berubah menjadi pucat. Ia bahkan tidak melihat bagaimana pemuda di depannya bergerak. "K-Kau... siapa kau sebenarnya?!"

Darius tidak menjawab. Ia hanya mengambil selembar tisu dari atas meja kasir, mengusap tangannya, lalu menatap dingin ke arah pemimpin preman tersebut.

"Bawa teman-temanmu dan keluar dari sini," kata Darius dengan dingin. "Atau aku akan memastikan kalian keluar dari sini tanpa kaki."

Mendengar ancaman itu, bulu kuduk sang pemimpin preman meremang. Ia bisa merasakan bahwa pemuda di depannya ini bukanlah petarung jalanan biasa.

Tanpa membuang waktu, pemimpin preman itu memberi isyarat panik kepada anak buahnya yang lain. "C-Cepat! Angkat mereka! Kita pergi dari sini!"

Mereka memapah dua temannya yang mengerang kesakitan, lalu bergegas keluar dari kedai, menghilang di balik tirai hujan deras Kota Mandara.

Suasana kedai seketika hening. Hanya terdengar suara detik jam dinding dan helaan napas berat dari orang-orang yang tersisa.

"K-Kak... Anda tidak apa-apa?" tanya pelayan wanita tadi dengan suara masih gemetar.

Pemilik kedai, dengan tubuh yang masih sedikit menggigil, langsung membungkuk di depan Darius. "Terima kasih, Anak Muda! Terima kasih banyak!"

Darius hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Wajahnya kembali datar. "Tidak perlu berterima kasih. Saya hanya tidak suka sikap preman-preman tadi."

Darius kemudian melangkah kembali ke mejanya, mengambil dompet, dan meletakkan beberapa lembar uang yang jauh melebihi harga segelas kopi hitamnya.

"Ganti rugi untuk meja yang hancur," ucap Darius pendek sebelum melangkah menuju pintu keluar.

"T-Tunggu, Anak muda! Uang ini terlalu banyak!" seru sang pemilik kedai, namun Darius sudah mendorong pintu kedai.

Darius kembali menembus derasnya hujan di Kota Mandara, berjalan menyusuri trotoar dengan langkah yang perlahan tanpa memperdulikan pakaiannya yang mulai basah kuyup.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!