Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Villa di Tengah Badai
Malam semakin larut. Jarum jam di dinding villa sudah menunjukkan pukul 23.00. Suasana pesta gala masih ramai, para tamu masih asyik mengobrol dan menari di lantai dansa. Namun, Samudra mulai merasakan ada yang tidak beres. Ia melirik Sarah di sampingnya. Wanita itu sudah beberapa kali menguap kecil, matanya mulai sayu, dan tubuhnya terlihat lelah.
Samudra mengingat bahwa Sarah sedang hamil muda. Ia tidak boleh memaksanya berlama-lama di acara ini. Kehamilan itu rapuh, dan ia tidak mau mengambil risiko.
"Sarah, kita pulang sekarang," ujar Samudra, berdiri dan meraih jasnya.
Sarah mengerutkan kening. "Tapi Pak, acaranya belum selesai. Bapak masih harus bertemu dengan kolega dari Swiss."
"Mereka bisa bertemu besok," jawab Samudra tegas. "Kamu sudah lelah. Kondisimu tidak boleh dipaksa. Ayo."
Sarah tidak bisa membantah. Ia pun berdiri, meraih clutch-nya, dan mengikuti Samudra keluar dari ruangan. Mereka berjalan melewati halaman villa yang diterangi lampu taman, menuju area parkir.
Namun, begitu mereka sampai di mobil, langit tiba-tiba berubah gelap gulita. Angin kencang berhembus, membawa butiran-butiran air dingin yang jatuh semakin deras. Dalam hitungan menit, hujan lebat turun dengan sangat intens. Petir menyambar di kejauhan, diikuti oleh suara guruh yang menggelegar.
"Pak, hujannya sangat deras," ujar Sarah, memandangi air yang mengalir di kaca mobil.
Samudra masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Ia memutar kemudi perlahan keluar dari area parkir. Namun, baru saja mereka mencapai jalan utama, ponsel Samudra berdering. Sebuah pesan darurat dari aplikasi navigasi.
"Peringatan: Jalanan menuju kota Milan mengalami longsor di km 14. Akibat hujan deras, tanah di pinggir jalan ambruk. Disarankan untuk menghindari rute tersebut dan mencari tempat aman."
Samudra mengerutkan kening. Ia membuka peta di layar mobil. Rute alternatif juga terlihat macet parah. Jalanan licin, dan hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda.
"Ada apa, Pak?" tanya Sarah, merasa ada yang tidak beres.
Samudra menghela napas panjang. "Jalanan pulang tertutup longsor. Kita tidak bisa kembali ke Milan malam ini."
Sarah membelalak. "Lalu kita harus bagaimana, Pak?"
Samudra memandang Sarah. Matanya menangkap raut lelah di wajah wanita itu. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, memikirkan solusi.
"Aku punya villa pribadi di dekat sini. Tepatnya di pinggir pantai, hanya sekitar 15 menit dari tempat ini. Kita bisa menginap di sana sampai badai reda dan jalan diperbaiki," ujar Samudra.
Sarah mengerutkan kening. "Villa Bapak? Tapi Pak... saya tidak membawa baju ganti atau perlengkapan apa pun."
"Di villa ada persediaan," jawab Samudra singkat. "Aku sering menyimpan beberapa perlengkapan tamu di sana. Kamu tidak perlu khawatir. Ayo, kita ke sana."
Sarah tidak punya pilihan lain. Ia mengangguk setuju. Samudra memutar kemudi, meninggalkan jalan utama menuju jalur kecil yang menuju ke arah pantai. Hujan deras terus mengguyur, wiper mobil bergerak cepat, tetapi pandangan tetap terbatas. Suasana di dalam mobil terasa tegang. Sarah memegang erat pegangan pintu, mencoba menenangkan diri.
Setelah sekitar 15 menit berkendara perlahan, sebuah bangunan megah mulai terlihat di balik rintik hujan. Villa itu berdiri di atas tebing, menghadap langsung ke laut. Dindingnya berwarna putih bersih dengan atap genteng merah khas Italia, dikelilingi taman yang luas. Cahaya lampu di teras menyala, memberikan sambutan hangat di tengah badai.
Samudra memarkir mobil di garasi bawah tanah yang tertutup. Ia mematikan mesin, lalu turun dan membukakan pintu untuk Sarah.
"Kita sudah sampai," ucap Samudra. "Ikuti aku."
Mereka berjalan melewati lorong yang terang, lalu naik lift menuju lantai utama. Pintu lift terbuka, dan Sarah disambut oleh ruang tamu yang sangat luas dengan jendela besar menghadap ke laut. Meskipun malam dan badai, ombak terlihat bergulung-gulung di bawah cahaya bulan yang samar.
"Villa ini sangat cantik, Pak," ujar Sarah, matanya mengitari ruangan.
"Aku biasa menggunakannya untuk beristirahat saat bosan dengan kota," jawab Samudra datar. "Sekarang, ikuti aku. Aku akan menunjukkan kamar untukmu."
Samudra berjalan menaiki tangga marmer menuju lantai dua. Ia membuka salah satu pintu kamar. Di dalamnya, ada ranjang besar dengan seprai putih bersih, jendela kaca setinggi langit-langit yang juga menghadap ke laut, dan kamar mandi mewah dengan bathtub berukuran besar.
"Ini kamar tidur tamu. Ada pakaian ganti di lemari, dan handuk di kamar mandi. Aku akan meminta tim kebersihanku mengirimkan beberapa perlengkapan mandi dan makanan ringan," ujar Samudra.
Sarah menatap Samudra. "Pak, saya hanya asisten kontrak. Bapak tidak harus memperlakukan saya seperti ini. Saya bisa tidur di sofa saja."
Samudra menatap Sarah dengan tatapan serius. "Sarah, ini bukan tentang kontrak. Kamu hamil. Kamu butuh istirahat yang layak. Aku tidak mau risiko apa pun terjadi pada janin ini hanya karena aku tidak menyediakan tempat tidur yang layak. Tolong, jangan memperdebatkan hal yang sudah aku putuskan."
Sarah mendengar nada Samudra. Kata-katanya lugas, benar-benar hanya tentang janin dan kewajiban. Tidak ada basa-busi romantis. Sarah sedikit kecewa, tapi ia juga sadar ini memang kenyataannya. Samudra adalah bos yang profesional.
"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Sarah.
Sarah masuk ke kamar dan menutup pintu. Ia menatap kamar yang sangat mewah ini. Matanya tertuju pada jendela besar. Di luar, hujan badai masih mengguyur, tapi di dalam, ia merasa aman.
Ia membuka lemari, dan benar saja, ada setelan sleepwear berbahan sutra berwarna krem yang masih baru, masih ada labelnya. Ia juga menemukan kamar mandi dengan bathtub yang sudah disediakan garam mandi aromaterapi. Semua fasilitas ini jelas disediakan untuk menjaga kenyamanan tamu—atau dalam hal ini, kenyamanan janinnya.
Tanpa pikir panjang, Sarah mengisi bathtub dan berendam air hangat. Tubuhnya yang lelah terasa sangat rileks. Ia menutup matanya, merasakan aroma lavender yang menenangkan.
Di bawah, Samudra duduk di ruang tamu, menatap layar ponselnya. Hujan masih deras. Ia menyeruput segelas anggur merah, tapi pikirannya ada di lantai atas. Di kamar itu. Bersama Sarah.
"Sebaiknya dia baik-baik saja," batin Samudra. "Janin ini terlalu berharga untuk dipermainkan."
Sekitar satu jam kemudian, Sarah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah, mengenakan sleepwear sutra krem itu. Ia berjalan menuruni tangga, mencari air minum. Saat ia turun, Samudra melihatnya dari kursi ruang tamu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Samudra.
"Maaf, Pak. Saya haus," jawab Sarah.
Samudra berdiri dan berjalan ke dapur. Ia mengambil segelas air mineral, lalu kembali dan menyerahkannya pada Sarah.
"Minumlah. Dan jangan lupa minum vitamin yang Felix kasih. Jaga kondisi tubuhmu, itu penting bagi janin," ujar Samudra datar.
Sarah menerima gelas itu, menyesapnya pelan. Udara di antara mereka terasa canggung. Sarah memberanikan diri bertanya.
"Pak... saya boleh bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja."
Sarah menatap Samudra. "Mengapa Bapak peduli? Saya tahu Bapak tidak suka repot. Kenapa Bapak repot-repot memesan gaun, menjemput saya, dan membawa saya ke sini? Apa ini semua hanya karena kontrak?"
Samudra menatap Sarah. Hujan di luar terus mengguyur deras. Ia memikirkan jawabannya, dan ia tidak mau berdusta.
"Sarah, pada awalnya, ini semua memang hanya tentang kontrak. Saya membayar, kamu menjalani. Sederhana," ujar Samudra, suaranya rendah. "Tapi saat kamu berdiri di depan pintu apartemenmu malam ini, mengenakan gaun itu, saya sadar... saya tidak mau ada yang salah denganmu, bukan hanya karena kontrak, tapi karena... saya sudah mengenalmu sebagai pribadi."
Sarah membelalakkan mata. "Pak..."
"Tapi jangan salah paham," potong Samudra cepat, mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Saya peduli karena saya bertanggung jawab atas keselamatanmu, dan keselamatan bayi itu. Itu saja. Jadi, jangan terlalu banyak berpikir. Tidurlah. Besok, badai mungkin sudah reda."
Sarah mengangguk, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia berbalik, berjalan naik tangga kembali ke kamarnya. Namun, saat ia berbaring di tempat tidur, kata-kata Samudra terus terngiang di kepalanya.
"Saya peduli karena saya bertanggung jawab atas keselamatanmu."
Tidak ada kata cinta. Tidak ada kata rindu. Hanya tanggung jawab.
Sarah menghela napas panjang. Ia menatap langit-langit kamar, mendengar suara hujan yang masih deras di luar. Tapi entah mengapa, meskipun Samudra hanya peduli karena janin, ia merasa hangat. Mungkin itu cukup untuk malam ini.