NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Setelah menyantap makan siang bersama, suasana di meja kayu kantin mulai berangsur tenang.

Vina, dengan raut wajah cerah, tersenyum kecil lalu menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah Repan, hingga kini ia duduk persis di samping cowok itu.

"Pan... lo udah dengar belum soal berita heboh yang lagi ramai banget diomongin anak-anak sekolah?" tanyanya dengan nada suara menggoda yang sarat akan rasa ingin berbagi gosip panas.

Repan mengunyah sisa makanannya lalu menoleh santai. "Berita heboh? Berita apaan emangnya?"

Vina menggigit bibir bawahnya, tampak ragu sejenak. "Tapi lo janji nggak bakal emosi atau marah ya, Pan?"

Repan mengernyitkan dahi, mulai dirayapi rasa penasaran. "Kenapa juga gue mesti marah?"

Dengan perlahan, Vina membuka galeri foto di dalam ponselnya.

Ia menyodorkan layar ponsel itu tepat ke hadapan Repan.

Sepasang mata Repan menyipit tajam saat mengamati detail gambar di layar tersebut.

Di sana—terlihat Sasa terbaring tertidur tanpa sehelai benang pun, parasnya tampak begitu lelah, dan dari sudut pengambilannya, terlihat sangat jelas kalau sosok yang mengambil foto itu adalah Arif.

Repan mendadak bungkam. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar seketika.

Dandannya terasa dihantam beban yang teramat berat dari dalam. Meskipun hubungan mereka sudah berakhir, ada rasa perih dan miris yang teramat sangat menyelinap di lubuk hatinya.

"Vina... ini...?"

"Gue tahu ini pasti berat buat lo. Tapi... gue dengar dari beberapa teman, Sasa memang lagi jalan sama Ari. Kemungkinan besar... mereka berdua udah tidur bareng," tutur Vina dengan intonasi yang sangat lembut, berusaha berhati-hati agar tak makin menggores perasaan Repan.

"Si Ari itu memang dari dulu tabiatnya begitu," lanjutnya. "Dia udah sering menjebak cewek-cewek pakai cara liciknya. Udah banyak cewek yang hancur gara-gara dia. Dan... sekarang Sasa yang jadi korbannya."

Repan mengepalkan jemari tangannya kuat-kuat di atas meja. Rahangnya mengatup rapat menahan gejolak emosi.

Pandangannya menatap kosong lurus ke depan, namun di dalam pikirannya, ribuan memori saat ia masih menjalin kasih bersama Sasa berputar bergantian.

'Gue memperlakukan dia laksana ratu selama dua tahun penuh... Gue selalu menghargai dia, menjaga kehormatannya, berusaha bikin dia bahagia... Tapi dia malah membuang semua ketulusan itu cuma dalam kurun waktu satu malam... demi cowok yang baru aja dia kenal?!'

Pikirannya dipenuhi kekecewaan yang teramat pekat. Jemari tangannya bergetar halus, walau raut mukanya diusahakan tetap kalem. Ia menahan seluruh rasa pahit itu sendirian di dalam dada.

Vina perlahan menyentuh pergelangan tangan Repan.

"Gue tahu ini nggak mudah buat lo, Pan. Tapi lo harus tetap kuat. Lo pasti bakal mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik... seseorang yang nggak bakal mengkhianati kepercayaan yang udah lo kasih."

Suara Vina terdengar teramat lembut, dengan pendar mata yang teramat serius.

Terselip makna tersirat di balik kalimat itu—dan sosok yang ia maksud sebagai 'seseorang yang lebih baik' itu... tidak lain adalah dirinya sendiri.

Repan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan untuk menetralkan sesak di dadanya.

"Lo benar, Vin. Mau gimana lagi... itu udah jadi jalan hidup yang dipilih sama Sasa sendiri. Gue cuma... sedikit kecewa aja. Dua tahun itu bukan kurun waktu yang singkat. Tapi semua pengorbanan itu... berakhir sia-sia."

Ia menatap permukaan meja di depannya dengan pendar mata yang masih menyimpan luka.

"Gue cuma kasihan sama dia. Dia nggak sadar kalau masa depannya dihancurkan sama orang yang bahkan nggak punya niat tulus sedikit pun buat serius sama dia."

Vina mengangguk pelan. Ia sangat paham, Repan sedang berusaha berdamai dengan kenyataan pahit yang melapuk hatinya.

"Kalau lo butuh teman buat sekadar nemenin atau mendengarkan keluh kesah lo... gue selalu ada kok buat lo, Pan," pukas Vina pelan, vokalnya menyerupai bisikan hangat.

Repan menolehkan kepalanya. "Maksud lo... lo selalu ada gimana?"

Vina seketika tersentak kaget.

Kedua belah pipinya yang mulus mendadak merona merah.

"A-ah... maksud gue... gue selalu ada sebagai teman. Teman biasa, ya... murni cuma sebatas teman," sahutnya terburu-buru dengan raut canggung berusaha menutupi rasa malunya.

Repan mengangguk pelan. "Terima kasih banyak ya, Vina. Gue sangat menghargai itu."

Repan benar-benar tidak menyadari kalau Vina memendam perasaan yang jauh melebihi sekadar ikatan pertemanan.

Baginya saat ini, Vina adalah sosok siswi yang berada di tataran terlalu tinggi untuk digapai—seperti halnya bintang di langit malam yang hanya bisa dipandangi dari jauh tanpa sanggup disentuh.

Namun bagi Vina... justru Repan-lah satu-satunya sosok cowok yang sanggup membuat detak jantungnya berdebar hebat.

Dan hari itu, meskipun hanya sebatas duduk bersisian di samping cowok yang disukainya, Vina merasa... posisinya sudah sedikit lebih dekat dari biasanya.

Repan dan Vina masih duduk berdua, melanjutkan obrolan santai di tengah area kantin yang mulai agak lengang.

Tawa kecil sesekali meluncur manis dari bibir Vina, sementara Repan sesekali mengulas senyum tipis menanggapi berbagai cerita gokil dari cewek di sampingnya.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.

Kabar mengenai Vina yang nekat memasakkan bekal makan siang untuk Repan menyebar cepat bagaikan kilat ke seluruh pelosok sekolah, hingga akhirnya berhembus sampai ke telinga Dendi.

Derap langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar menghentak dari arah lorong kantin.

Dendi, dengan raut wajah yang membara oleh amarah, berjalan cepat menghampiri meja mereka, didampingi oleh beberapa orang kroninya.

Ekspresinya gelap, sepasang matanya menatap tajam dipenuhi aura kebencian.

BRAAAAK!

Sebuah meja kosong yang berada di dekat mereka ditendang kasar oleh Dendi hingga terguling menghantam lantai.

Seketika seluruh penghuni kantin menoleh. Atmosfer di ruangan itu berubah menegang kaku dalam hitungan detik.

"Vina! Apa-apaan maksud dari semua kejadian konyol ini, hah?!" bentak Dendi dengan intonasi melengking keras yang menggelegar.

Vina menoleh dengan kening berkerut bingung. "Dendi? Ada masalah apa sih sama lo?! Kenapa tiba-tiba datang langsung marah-marah nggak jelas begini?"

"Lo menolak ajakan gue karena alasan lo nggak mau dekat sama cowok mana pun! Tapi apa yang gue lihat sekarang?! Lo malah duduk manis sambil bersikap genit sama cowok miskin ini?!" hardik Dendi kasar seraya menunjuk lurus ke arah wajah Repan.

Semua siswa yang menonton menahan napas mereka.

Mereka tahu betul siapa sosok Dendi—anak dari seorang Perwira Polisi berpengaruh bernama Pak Sambo, yang terkenal memiliki watak sangat temperamental dan brutal di sekolah. Tidak ada satu pun murid yang punya keberanian untuk menentang kemauannya secara langsung.

Dendi tercatat sudah menyatakan cintanya pada Vina sebanyak dua puluh kali. Dan seluruh ungkapannya itu ditolak mentah-mentah tanpa sisa.

Kini, menyaksikan Vina malah bersikap begitu manis dan dekat dengan Repan, darah di kepalanya langsung mendidih hebat.

Vina menghembuskan napas panjang, berusaha mempertahankan ketenangannya.

"Ini sama sekali bukan urusan lo, Dendi. Gue bebas mau dekat atau berteman sama siapa pun yang gue mau. Dan gue nggak punya kewajiban apa pun buat melaporkan kehidupan pribadi gue ke lo!" pukasnya tegas.

BRAAAAK!

Meja tempat Repan dan Vina duduk dihentak keras oleh telapak tangan Dendi hingga bergetar hebat. Vina tersentak kaget, rasa takut mulai menyelinap.

"Nggak usah sok berceramah di depan gue! Kalau sampai gue nggak bisa mendapatkan lo—maka nggak bakal ada cowok lain yang boleh memiliki lo juga!" teriak Dendi dengan mata melotot murka.

"Lo beneran udah gila ya, Dendi?!" seru Vina jengkel.

"Cewek murahan sialan!" Tangan Dendi melayang ke udara, berniat merenggut kasar rambut Vina.

Vina refleks memejamkan matanya rapat-rapat karena ketakutan. Namun tepat sebelum jemari Dendi sempat menyentuh helaian rambutnya...

Sebuah jemari tangan lain bergerak kilat mencengkeram erat pergelangan tangan Dendi.

Cengkraman itu teramat kuat, mengunci pergerakan Dendi di udara.

"Apa yang mau lo lakukan, hah?" gumam Repan dengan intonasi vokal yang rendah namun menusuk tajam. Sepasang matanya menatap lurus. "Lo ngaku cowok? Tapi lo punya nyali buat melukai fisik seorang cewek?"

Dendi menoleh murka, menatap Repan dengan sorot mata membunuh.

"Anak miskin sialan! Berani-beraninya lo menghentikan tangan gue?! Lo beneran bosan hidup ya, hah?!"

Repan menegakkan tubuhnya perlahan, sorot matanya tetap tenang namun sedingin es.

"Sepertinya bokap lo yang perwira itu sama sekali nggak mendidik lo dengan benar... sampai bisa menghasilkan anak berkarakter keji dan kekanak-kanakan kayak lo."

Kalimat itu meluncur dari mulut Repan dengan teramat tenang, namun efeknya tajam bagaikan bilah pisau yang merobek harga diri Dendi.

Suasana kantin seketika membeku kaku.

Keduanya kini berdiri berhadapan secara langsung. Sorot mata saling mengunci tajam. Deru napas mulai memburu penuh aura ketegangan.

Bentrokan fisik tak lagi bisa dielakkan.

Para siswa di sekeliling mulai merogoh ponsel mereka, siap merekam kejadian panas yang bisa meledak kapan saja.

Vina terduduk kaku di kursinya, tubuhnya masih sedikit gemetaran, namun kini pandangannya tertuju lurus pada Repan dengan binar mata yang sepenuhnya berbeda.

Hari itu, seluruh penghuni SMA 09 Cimanggu menjadi saksi awal dari pertarungan harga diri dan dominasi antara anak seorang perwira... melawan cowok yang sama sekali tidak mengenal arti kata takut.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!