NovelToon NovelToon
SINFUL HEARTS SOCIETY

SINFUL HEARTS SOCIETY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Teen
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The silent guard from phoenix

Sera menjadi target para siswi yang tidak menyukainya. Merasa Sera tak ‘tersentuh’ maka target beralih menuju teman disekelilingnya.

Sebagai sahabat terdekat Sera, Luna menjadi sasaran empuk bagi sekumpulan gadis elit yang dendam karena tidak bisa menyentuh Sera yang dijaga ketat oleh Alaric dan Yunkai.

Clarissa dan kawan-kawannya sudah mengelilinginya. Mereka tidak menggunakan kekerasan fisik yang meninggalkan bekas, melainkan penghinaan yang menghancurkan mental.

"Sampaikan pada temanmu itu, Sera," Clarissa menyiramkan segelas jus jeruk ke atas buku catatan Luna yang berisi tugas akhir. "Hanya karena dia punya pelindung, bukan berarti kau ikut menjadi bangsawan. Kau tetaplah Luna yang menyedihkan, si ekor yang tidak punya harga diri."

Luna tertunduk, tangannya gemetar berusaha menyelamatkan kertas-kertasnya yang basah. "Aku tidak pernah merasa menjadi bangsawan, Clarissa. Tolong hentikan."

Tawa meremehkan meledak di ruangan itu. "Lihat dia, malang sekali," ejek yang lain sembari mendorong bahu Luna hingga ia jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Saat Clarissa hendak menuangkan sisa minumannya ke kepala Luna, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tangannya.

"Cukup, Clarissa."

Suara itu berat dan dalam, seketika membungkam ruangan. Luna mendongak dan melihat Kaelan, salah satu putra mahkota dari keluarga perbankan yang juga menghuni asrama Phoenix. Kaelan dikenal pendiam, dingin, dan jarang berinteraksi dengan siapa pun.

"K-Kaelan? Ini hanya urusan perempuan," gagap Clarissa, nyalinya menciut.

"Urusanmu adalah sampah," balas Kaelan tajam. Ia melepaskan tangan Clarissa dengan kasar. "Keluar dari sini sebelum aku memastikan investasi ayahku ditarik dari bisnis keluargamu malam ini juga."

Mendengar ancaman itu, Clarissa dan kelompoknya segera pergi dengan wajah pucat. Keheningan yang canggung kini menyelimuti ruangan, hanya menyisakan Luna yang masih terduduk di lantai dengan buku-pilihan yang hancur.

Kaelan berlutut di depan Luna. Tanpa kata, ia melepas jas seragamnya dan menyampirkannya ke bahu Luna yang basah dan kedinginan.

Tanpa perkataan darinya, ia membantu Luna untuk bangun. Mengantarnya kembali ke rumah asrama Sanguine Ruby.

“Terimakasih. Jas mu nanti akan ku cuci dulu—“ Belum sempat Luna menyelesaikan ucapannya, ponselnya berdering. Kaelan menghubungi nomor Luna yang sudah lama tersimpan dikontak namanya.

BIP BIP BIP

Ponse Luna berdering, tercantum atas nomor baru yang tak dikenal.

“Jika terjadi sesuatu kau bisa menghubungiku Luna. PItu nomor ku.” Sahut Kaelan. “Jangan takut," bisik Kaelan di telinga Luna, sambil mengusap rambutnya perlahan. "Mulai malam ini, kau tidak perlu lagi bersembunyi di balik siapa pun. Jika Sera punya Alaric dan Yunkai, maka kau punya aku.”

Luna terdiam, hanya mengucapkan, “Sekali lagi terimakasih Kaelan.” Luna beranjak masuk kedalam asramanya.

Luna menyadari bahwa di antara semua kebencian yang ia terima, ada seseorang yang telah membangun istana perlindungan untuknya sejak lama—dalam diam dan penuh pengabdian.

Namun masalah yang ia hadapi tidak akan berhenti dihari itu saja. Dua hari berselang.

Malam dimana Luna melewati lorong sekolah yang gelap dan sunyi. Luna berjalan terburu-buru, namun langkahnya terhenti saat seorang pria dengan topeng hitam muncul dari balik kegelapan pilar. Pria itu tidak sendiri; ia membawa beberapa pengikutnya yang tampak haus akan kekacauan.

“Buru-buru sekali simpanan Tuan Kaelan.” Ucap hina seorang pria.

Luna mundur ketakutan, namun sebelum tangan kasar mereka bisa meraihnya, sebuah bayangan melesat cepat.

"Menjauh darinya!"

Itu Kaelan. Tanpa ragu, ia menerjang masuk ke tengah kepungan. Kaelan bukan petarung jalanan, ia adalah putra bangsawan yang terdidik, namun malam ini ia bertarung seperti singa yang kehilangan akal sehatnya. Ia menghadapi pria bertopeng itu satu lawan satu, sementara yang lain mulai mengeroyoknya dari belakang.

Bugh!

Pukulan keras mendarat di rahang Kaelan. Pria bertopeng itu menggunakan tongkat pendek untuk menghajar rusuk Kaelan, membuatnya tersungkur. Luna menjerit histeris saat melihat Kaelan dihujani tendangan dan pukulan.

"Kaelan, berhenti! Tolong jangan sakiti dia!" teriak Luna sambil berusaha menarik salah satu penyerang, namun ia justru didorong hingga jatuh.

Kaelan, dengan wajah yang sudah bersimbah darah dan napas yang terputus-putus, kembali bangkit. Ia tidak peduli jika tulangnya patah. Ia menarik kerah kemeja pria bertopeng itu dan menghantamkan kepalanya keras-keras hingga topeng hitam itu retak.

"Kau... tidak akan... menyentuhnya," geram Kaelan. Darah mengalir dari pelipisnya, menodai seragam Phoenix-nya yang putih berbalut gold.

Melihat Kaelan yang tetap bangkit meski sudah babak belur, pria bertopeng itu tampak gentar. Ditambah suara langkah kaki petugas keamanan yang mulai mendekat, mereka akhirnya memutuskan untuk melarikan diri ke dalam kegelapan, meninggalkan Kaelan yang jatuh berlutut karena kehabisan tenaga.

Luna segera menghambur ke pelukan Kaelan, menahan tubuh pria itu agar tidak ambruk ke lantai marmer. "Kaelan! Demi Tuhan, lihat aku! Kenapa kau lakukan ini? Kau bisa mati!" Luna terisak hebat, tangannya yang gemetar berusaha menyeka darah yang menutupi mata Kaelan.

“Kaelan, kau... kau harus ke ruang medis sekarang."

Kaelan hanya memejamkan mata, kepalanya mendongak ke langit-langit. Ia meludah ke samping, cairan merah kental keluar dari mulutnya. "Jangan ke medis," gumamnya parau.

"Petugas medis akan melapor ke asrama. Kalau namaku masuk catatan berkelahi, nama mu bakal makin ditekan mereka sebagai alasan pemicu keributan."

Luna tertegun. Bahkan saat mukanya hancur begini, pria ini masih memikirkan posisi administratif Luna. "Tapi lukamu—"

"Ini tak seberapa. Jangan khawatir. Aku akan menyuruh Dani ke kamar ku.”

Sera terdiam, ia mengenal Dani sebagai asisten pribadi Kaelan. Asisten yang siap sedia 24 jam penuh jika dipanggil oleh tuannya.

"Kenapa kau tidak pakai namamu saja tadi? Kau bisa saja menghentikan mereka tanpa harus babak belur begini," lirih Luna.

Kaelan membuka satu matanya yang tidak bengkak, menatap Luna dengan datar. "Pakai nama keluarga untuk urusan seperti ini hanya bakal bikin ayahku makin mengekang pergerakanku. Lebih baik pakai tangan sendiri. Lagipula..." Kaelan menjeda, menatap tangan Luna yang masih gemetar hebat. "Mereka perlu tahu kalau menyentuhmu itu ada harganya. Dan harganya adalah berurusan denganku."

Ia meraih botol air mineral dari tas Luna yang terjatuh, membasuh wajahnya yang berdarah dengan kasar. Kaelan berdiri dengan bertumpu pada pilar, tubuhnya sempat limbung namun ia menolak bantuan tangan Luna. Ia merapikan seragamnya dan berusaha menutupi lukanya.

"Besok kalau Sera tanya, bilang saja aku jatuh dari tangga atau apa pun," ucap Kaelan sambil mulai berjalan tertatih. "Dan jangan lewat lorong ini sendirian lagi kalau tidak mau aku mati beneran karena kehabisan napas."

Luna terdiam menatap punggung Kaelan yang menjauh. Tidak ada kata cinta, tapi tindakan Kaelan malam itu jauh lebih berisik daripada pengakuan mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!