NovelToon NovelToon
KAISAR 100.000 DUNIA

KAISAR 100.000 DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tawaki

Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Cermin Jiwa

Pagi hari ketujuh

Udara di sekitar Aula Ilusi terasa lebih dingin daripada hari-hari sebelumnya. Bangunan itu berbentuk kubah batu hitam polos tanpa jendela, berdiri sendirian di ujung kompleks akademi. Tidak ada penonton di sini. Hanya para penguji, peserta ujian, dan sebuah aura kesunyian yang mencekam.

Elder Mo berdiri di depan pintu besar berbahan besi hitam. Wajahnya terlihat serius.

"Tahap ketiga adalah yang paling berbahaya," katanya, suaranya bergema.

"Ruang Ilusi akan memproyeksikan ketakutan terbesar, penyesalan terdalam, atau keinginan terlarang kalian ke dalam pikiran. Kalian akan terjebak dalam simulasi realitas yang sempurna. Tugas kalian sederhana: Sadarilah bahwa itu ilusi, dan bangkitlah. Jika kalian gagal sadar dalam waktu satu jam, jiwa kalian akan terkunci selamanya dalam mimpi buruk. Tubuh kalian akan menjadi kosong."

Para peserta menelan ludah. Beberapa wajah terlihat pucat pasi. Ini bukan tes kekuatan otot atau hafalan buku. Ini adalah telanjang jiwa.

"Masuk satu per satu," perintah Elder Mo. "Lin Hao, kau pertama."

Lin Hao melangkah maju. Kakinya sedikit gemetar, tapi ia berusaha menyembunyikannya dengan dagu terangkat. Ia masuk ke dalam kubah. Pintu besi tertutup dengan suara BOOM berat.

Satu menit berlalu. Dua menit. Tiba-tiba, dari dalam kubah, terdengar jeritan memilukan. Jeritan Lin Hao. Suaranya penuh teror, seolah-olah ia sedang disiksa oleh setan.

Para tetua klan di galeri pengamat saling berpandangan cemas. Elder Mo tetap tenang, mencatat sesuatu di papan tulisnya.

Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka. Lin Hao keluar, tubuhnya lemas, keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Matanya kosong, napasnya tersengal-sengal. Ia hampir jatuh, tapi ditahan oleh pengawalnya.

"Ilusi... ibuku..." bisik Lin Hao, matanya masih liar.

"Dia marah... dia bilang aku gagal... aku tidak bisa..."

Elder Mo mengangguk. "Waktu: 8 menit. Status: Lulus (dengan kesulitan tinggi). Kau berhasil sadar, tapi traumamu mendalam, Lin Hao. Kau perlu meditasi."

Lin Hao diseret keluar, wajahnya penuh rasa malu dan trauma yang belum pulih. Ia menatap Lin Fan yang berdiri di antrean berikutnya dengan tatapan benci yang bercampur ketakutan. Jika aku menderita begitu saja, bagaimana dengan sampah seperti dia? Dia pasti akan gila.

Giliran berikutnya adalah Zhang Wei, yang keluar dengan wajah tenang meski keringatan, membutuhkan waktu 15 menit.

Akhirnya, tibalah giliran Lin Fan.

Saat ia melangkah menuju pintu besi, Luo Feng, yang menyamar sebagai petugas kebersihan di sudut ruangan, memberikan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.

Di tangannya, ia memegang sebuah kantong kecil berisi bubuk halus berwarna ungu pucat—Serbuk Mimpi Buruk Abadi—

Ia tiupkan ventilasi udara tepat sebelum Lin Fan masuk. Bubuk itu tidak beracun bagi tubuh, tapi bertindak sebagai katalisator kuat bagi ilusi, membuatnya sepuluh kali lebih nyata dan sulit dibedakan dari realitas.

Lin Fan masuk. Pintu tertutup.

Kegelapan total menyelimutinya.

Lalu, cahaya muncul.

Lin Fan mendapati dirinya berdiri di atas Puncak Langit Terlarang. Angin dingin menerpa wajahnya. Di hadapannya, terbentang kerajaan besarnya yang megah, bendera-bendera berkibar, jutaan prajurit bersiap siaga.

Ini adalah momen puncak kehidupannya sebagai Kaisar. Momen sebelum pengkhianatan terbesar.

"Yang Mulia," suara seorang pria tua terdengar di belakangnya. Itu adalah Jenderal Zhao, tangan kanannya yang paling dipercaya. "Pasukan pemberontak sudah di gerbang. Mereka dipimpin oleh... putra Anda sendiri."

Lin Fan menoleh. Di sana, berdiri seorang pemuda dengan pedang berdarah di tangan. Wajah pemuda itu mirip dengannya, namun matanya penuh kebencian murni.

"Ayah," kata pemuda itu, suaranya dingin. "Takhtamu sudah terlalu lama kau duduki. Dunia butuh darah baru."

Di kehidupan aslinya, adegan ini adalah trauma terbesar Lin Fan. Pengkhianatan oleh darah dagingnya sendiri. Rasa sakit, kemarahan, dan kekecewaan yang membakar jantungnya dulu hampir menghancurkan jiwanya.

Serbuk Mimpi Buruk Abadi bekerja. Emosi-emosi itu menyerbu Lin Fan dengan intensitas yang menggila. Hatinya berdetak kencang. Tangannya gemetar ingin menarik pedangnya. Air mata kemarahan menggenang di matanya.

Ini nyata, bisik suara di kepalanya. Dia benar-benar mengkhianatimu. Kau gagal sebagai ayah. Kau gagal sebagai pemimpin.

Ilusi itu semakin kuat. Langit berubah merah darah. Mayat-mayat prajuritnya mulai bangkit, menuduhkannya dengan jari-jari tulang. Suara jeritan korban perang memenuhi telinganya.

Bagi praktisi biasa, ini adalah akhir. Mereka akan tenggelam dalam rasa bersalah dan mati karena syok mental.

Tapi Lin Fan menutup matanya.

Ia tidak melawan emosi itu. Ia tidak mencoba mengusirnya. melakukan apa yang diajarkan Sutra Ketenangan Jiwa Kosong: Ia menerima mereka, lalu melepaskannya.

"Aku pernah merasakan ini," pikir Lin Fan, suaranya tenang di tengah badai mental. "Aku pernah membunuh putraku sendiri demi kestabilan kerajaan. Aku pernah mengorbankan jutaan nyawa demi perdamaian. Rasa sakit ini... sudah kukenal. Ia adalah teman lamaku."

Ia membayangkan jiwanya sebagai lautan luas. Emosi-emosi tajam itu adalah ombak. Ombak datang, memecah di pantai, lalu surut kembali. Ia tidak menjadi ombak. Ia menjadi laut.

Perlahan, warna merah darah di langit mulai memudar. Jeritan mayat menjadi bisikan, lalu hening. Wajah putranya yang penuh kebencian mulai retak seperti kaca, mengungkapkan kekosongan putih di baliknya.

Lin Fan membuka matanya di dalam ilusi. Ia menatap "putranya" yang sekarang hanya berupa bayangan kabur.

"Kau bukan anakku," kata Lin Fan datar.

"Anakku sudah mati ribuan tahun yang lalu. Dan aku sudah berdamai dengan kematiannya."

Ia mengangkat tangan, dan dengan gerakan jari yang sama seperti saat ia melatih Jari Naga Sunyi, ia menunjuk dada bayangan itu.

"Hilang."

KREK!

Seluruh dunia ilusi hancur berkeping-keping seperti cermin yang dijatuhkan. Kegelapan kembali, tapi kali ini, ada cahaya lembut dari celah pintu.

Lin Fan berjalan menuju cahaya itu. Ia tidak merasa lelah. Justru, ia merasa lebih ringan. Menghadapi trauma terbesarnya dan mengalahkannya telah membersihkan sisa-sisa keraguan diri yang mungkin masih tertanam di alam bawah sadarnya.

Pintu besi terbuka.

Cahaya matahari siang menyilaukan matanya. Lin Fan melangkah keluar.

Elder Mo, yang sedang melihat jam pasir, mendongak terkejut. Jam pasir baru menunjukkan waktu:

3 menit.

Rekor tercepat dalam sejarah Ujian Akademi Kota Qingyun adalah 20 menit. Lin Fan menyelesaikannya dalam seperenam waktu itu.

Elder Mo menurunkan jam pasurnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia menatap Lin Fan, yang wajahnya tenang, segar, dan bahkan tampak... bersinar. Tidak ada tanda-tanda trauma, tidak ada keringat dingin, tidak ada kegoyahan mental.

"Lin Fan, sebentar," kata Elder Mo. "Apa yang kau lihat di dalam sana?" suaranya serak karena kekaguman

Lin Fan menatap Elder Mo. Untuk sesaat, ia mempertimbangkan untuk mengatakan kebenaran. Tapi ia tahu dunia ini belum siap mendengar kisah seorang Kaisar yang bangkit dari abu pengkhianatan.

"Saya melihat masa lalu saya, Guru," jawab Lin Fan sederhana. "Dan saya menyadari bahwa masa lalu itu sudah mati. Hanya masa kini yang nyata."

Elder Mo terdiam lama. Kalimat itu terdengar filosofis, namun ada bobot kekuasaan di dalamnya yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Nilai... Sempurna," kata Elder Mo akhirnya. "Poin maksimal untuk Tahap Mental."

Sorakan tidak pecah kali ini, karena tidak ada penonton. Tapi para penguji lainnya saling berpandangan dengan wajah pucat. Tiga tahap. Tiga nilai Sempurna.

Lin Fan bukan lagi sekadar kandidat. Dia adalah fenomena.

Namun, di sudut ruangan, Luo Feng menggigit bibirnya hingga berdarah. Matanya penuh ketidakpercayaan. Serbuk Mimpi Buruk Abadi seharusnya membuatnya gila seumur hidup! Bagaimana dia bisa keluar dalam 3 menit?! Siapa sebenarnya anak ini?!

Luo Feng mundur perlahan, menghilang ke dalam bayangan koridor. Ia harus melaporkan ini kepada Lin Hao. Rencana mereka telah gagal total. Lin Fan bukan hanya kuat secara fisik dan cerdas secara intelektual. Jiwa remaja itu adalah benteng yang tidak dapat ditembus.

Elder Mo mengumpulkan semua hasil. "Pengumuman kelulusan akan dilakukan sore ini di alun-alun utama. Bagi yang lulus, siapkan diri kalian. Perjalanan ke Ibu Kota Akademi dimulai besok pagi."

Lin Fan mengangguk hormat, lalu berbalik pergi. Saat ia berjalan keluar dari aula, ia merasakan pandangan tajam dari atap gedung seberang. Seseorang sedang mengamatinya dari jauh. Bukan Luo Feng. Aura itu lebih dingin, lebih tua, dan lebih berbahaya.

Zhang Wei? Atau mungkin seseorang dari Klan Wang?

Lin Fan tidak peduli. Ia telah menyelesaikan ujian dengan cara yang paling dominan mungkin. Sekarang, fokusnya beralih.

Ia pulang ke gubuknya. Ibunya menyambutnya dengan pelukan erat, menangis haru mendengar kabar bahwa anaknya tidak hanya lulus, tapi menjadi yang terbaik.

"Malam ini, kita makan enak," kata Nyonya Li, tersenyum lebar untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun. "Ayahmu dulu selalu bilang kau akan menjadi orang hebat. Ternyata dia benar."

Lin Fan memeluk ibunya, merasakan kehangatan yang tulus. Di tengah ambisinya untuk kembali ke puncak kekuasaan, momen-momen seperti inilah yang mengingatkan mengapa ia berjuang. Bukan hanya untuk takhta, tapi untuk melindungi kebahagiaan sederhana ini.

Namun, di dalam kamarnya, Lin Fan membuka gulungan Sutra Ketenangan Jiwa Kosong sekali lagi. Ada satu bagian terakhir yang belum ia baca. Bagian tentang "Penyatuan Jiwa dengan Alam Semesta".

Jika ia ingin bertahan di Ibu Kota, di mana para jenius sejati dan monster politik berkumpul, ia perlu lebih dari sekadar teknik bertarung. Ia perlu memahami aliran takdir itu sendiri.

Dan sementara itu, di kediaman Klan Lin, Lin Hao menghancurkan meja kerjanya.

"Dia curang! Dia pasti curang" raungnya.

"Dia pasti menggunakan artefak jiwa terlarang! Ayah, kita harus membatalkan kelulusannya! Kita harus menuntutnya!"

Ayah Lin Hao, Tetua Lin Zheng, duduk diam di kursinya. Wajahnya gelap.

"Diam, Dasar gak berguna" perintah Lin Zheng, suaranya rendah namun mematikan.

"Elder Mo sudah menandatangani hasilnya. Menantangnya sekarang berarti menyatakan perang pada Akademi Langit Biru. Kau ingin menghancurkan klan kita?"

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Biarkan dia pergi ke ibu kota dan menjadi besar? Dia akan kembali untuk membunuh kita!"

Lin Zheng menatap putranya dengan dingin. "Maka pastikan dia tidak pernah sampai di ibu kota."

Ia mengambil sebuah peta dari laci mejanya. Ada tanda merah di jalur perjalanan menuju ibu kota. Tepat di Celah Naga Hitam.

"Besok pagi, saat konvoi akademi berangkat... kecelakaan bisa terjadi di mana saja, bukan?"

Lin Hao tersenyum jahat, rasa takutnya berubah menjadi antisipasi berdarah. "Celah Naga Hitam... tempat favorit para bandit dan beast tingkat tinggi. Tidak ada saksi. Tidak ada bukti."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!