Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PERNUH PERHITUNGAN DI PINTU GERBANG
Malam itu, Pak Kardi baru saja kembali dari membeli kopi di luar pabrik. Langkahnya tergesa melewati parkiran yang lengang.
Tanpa ia sadari, sepasang tangan besar tiba-tiba mencekik lehernya dari belakang dan membantingnya ke atas kap mobil.
"Kembalikan kemeja yang kau pungut tadi!” bentak pria misterius itu seraya mengunci pak Kardi dibagikan leher.
Pak Kardi tersedak, matanya membelalak. ‘Orang ini yang kulihat di dekat toilet tadi!’ batinnya kemudian berusaha melawan. "Ambil sendiri jika kau mampu!" gertak pak Kardi.
Pak Kardi meronta, menggigit lengan pria itu, lalu membanting tubuhnya ke pagar besi. Mereka bergumul beberapa saat. Saling pukul dan saling menghindar.
Keduanya sama-sama terkejut. Gerakan pria asing itu tidak sembarangan. 'Dia jago beladiri,’ batin Pak Kardi.
‘Sialan! Pria tua ini hebat juga!’ batin pria misterius itu menyadari telah salah perhitungan.
Menyadari lawannya berbahaya, pria itu tiba-tiba mendorong Pak Kardi keras-keras, lalu berbalik dan berlari sekuat tenaga ke arah gerbang.
Pak Kardi pun bereaksi cepat. Ia melihat rantai besi pembatas parkir sepeda motor yang melintang di tiang-tiang pendek besi.
Dalam sekali gerakan, ia mencabut rantai itu dari kaitnya. Lalu dengan gerakan terukur, pak Kardi mengayunkan rantai itu. Satu ujungnya ia lempar lurus ke arah kaki pria asing itu. Ujung satunya lagi ia pegang erat dengan kedua tangan.
Tepat sasaran. Rantai itu melilit kuat pada pergelangan kaki pria itu dan membuaynya terhuyung. Ia mencoba melepaskan diri, tetapi terlambat. Dengan sisa tenaga, ia justru memanjat dan melampaui pagar besi setinggi 4 meter itu.
Pak Kardi berpikir cepat. Ia tidak boleh membiarkannya kabur. Segera ia melilitkan ujung rantai yang dipegangnya ke pinggangnya sendiri, lalu mengaitkannya erat-erat.
Tak terduga. Tubuh pria itu yang sudah berada di sisi lain pagar menjadi beban seketika. Rantai yang mengikat keduanya menegang kencang.
Srek! Bruk!
Pak Kardi terseret dan terbanting. Keduanya kini tergantung di sisi pagar yang berbeda, seperti boneka yang diikat tali, mereka sama-sama terjerat rantai. Punggung mereka menempel pada besi pagar dengan posisi terbalik. Tak satu pun bisa berlari, tak satu pun bisa melepaskan diri.
"Tolong! Ada penyusup! Tolong!" teriak Pak Kardi dengan sisa napas sambil menahan guncangan rantai besi karena pria dibalik gerbang meronta berusaha melepaskan diri.
……..
"Tolong!" teriakan itu terdengar semakin jelas dari gudang C. Sari segera berlari keluar meninggalkan Udin dan semua kekacauan disana.
"Pak Kardi?!" Sari terkejut melihat pak Kardi tergelantung di pagar sisi dalam Pabrik. "Apa yang terjadi?"
"Penyusup! Dibalik pagar, orang yang kulihat tadi juga tergelantung!" geram Pak Kardi. "Tahan dia, Mbak Sari! Cepat!"
Pak Kardi segera melepaskan lilitan rantai dari pinggangnya. Sementara itu, Sari berlari ke pos satpam di dekat gerbang. Ia meraih kunci gembok gerbang manual, lalu membukanya dengan cepat.
Begitu gerbang terbuka sedikit, pemandangan di luar langsung terlihat jelas di bawah sorot lampu jalan.
Benar. Pria asing itu tergantung di sisi luar pagar. Kaki kirinya masih terjerat rantai, dan tubuhnya tersangkut di besi pagar. Ia mendengus kesal, berupaya melepaskan diri, tetapi sia-sia. Rantai itu mengikatnya terlalu kuat.
Sari tidak membuang waktu. Pak Kardi dn Sari keluar, lalu melilitkan sisa rantai itu mengelilingi dada dan lengan pria itu, menguncinya seperti tahanan.
Tepat saat itu, suara mesin mobil terdengar melambat di sisi jalan.
Sari menoleh. Kaca jendela mobil hitam itu turun perlahan.
Pemilik mobil menatap ke arah mereka dengan dahi mengernyit. Pandangannya aneh, melihat Sari yang menuntun seorang pria dengan rantai besi melilit tubuhnya.
"Tolong buka gerbangnya," ucap pria itu datar.
Pak Kardi segera menghampiri. Ia menunduk hormat. "Selamat malam, Pak Anto," sapanya. Sari pun ikut menunduk. "Selamat malam, Pak."
Anto mengangguk singkat. Ia memarkirkan mobilnya di halaman, lalu turun dan berjalan mendekati mereka bertiga.
Matanya menatap dari ujung kaki sampai kepala pria asing yang masih terikat rantai itu.
"Ada apa ini?" tanyanya. Suaranya tenang, tetapi berwibawa. "Siapa dia?"
“Penyusup, Pak!” lapor Pak Kardi tegas.
Bersamaan dengan itu, dari arah Gudang C muncul Udin dan Pak Budi yang lemas dipunggungnya. Napas Udin tersengal dan wajahnya pucat karena panik, sementara di kaki kiri Pak Budi, darah segar masih menetes.
Tiga kelompok kini berada di satu titik. Sari bersama Pak Kardi dan pria asing di dekat pagar, Pak Anto berdiri menunggu penjelasan Sari, serta Udin yang berlari kecil menuju pintu gerbang dengan ayahnya dipunggung.
Dari belakang, dengan langkah pincang dan tubuh berlumuran darah, Darman keluar dari Gudang C dengan wajah dipenuhi kebencian. Pistolnya telah ia ambil kembali dari bawah mesin produksi.
Sasarannya terarah pada punggung Pak Budi yang sedang digendong Udin.
Dor! Dor!
Letusan senjata api sekali lagi membelah kesunyian malam di pabrik itu, membuat beberapa karyawan keluar dari messnya.
Tubuh Pak Budi di punggung Udin tersentak keras. Napasnya tercekat.
"Ugh..."
Darah hangat menyembur deras dari punggung dan lehernya, langsung merembes membasahi kaos Udin. Tubuh itu memberat.
"Bapak!" teriak Udin sekuat tenaga. Suaranya pecah. Tubuhnya ikut tersentak karena hentakan peluru dan tubuh ayahnya yang mendadak menjadi beban mati.
Udin jatuh berlutut menghantam aspal. Debu dan kerikil melukai lututnya, tapi ia tidak merasakannya.
Dengan cepat, Udin segera berbalik, memangku tubuh sang ayah, lalu memeluknya, dilihatnya punggung dan leher ayahnya sudah penuh dengan darah.
Pak Budi membuka mata dengan susah payah. Pupilnya mulai mengabur. Dengan sisa tenaga, ia mengangkat tangan yang dingin dan berlumuran darah. “Din….”
Telapak itu menyentuh pipi Udin. Sentuhannya lemah, tetapi terasa paling hangat di dunia.
"Udin..." bisiknya, suaranya nyaris hilang. "Jagoan Bapak... kejarlah kebenaran... meskipun harus ke Antartika...."
Sebuah senyum tipis terukir di bibir Pak Budi yang berlumuran darah. Lalu, tangan yang mengusap pipi Udin itu terkulai lemas ke tanah.
Dunia Udin hancur seketika.
"Bapak! Tidak!" Jeritan Udin menggema, mengguncang seluruh halaman pabrik. Ia mengangkat wajahnya ke langit, meraung seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.
Amarahnya meledak. Ia bangkit dengan mata merah menyala. Tanpa pikir panjang, ia berbalik, menatap lurus ke arah Darman, hendak menerjangnya dengan tangan kosong.
Tapi sebuah tangan kuat menahannya dari belakang. "Cukup," kata Pak Anto. Suaranya rendah, dengan tatapan iba, menahan bahu Udin erat. "Kamu bukan tandingan Darman."
Udin meronta, tetapi tenaga Anto terlalu kuat.
Anto lalu menoleh tajam ke dua anak buahnya. "Ringkus Darman! Sekarang juga!"
...****************...
Bersambung