Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat yang Datang Melepas Rindu
Empat puluh menit kemudian, Kenan tiba di gedung perkantoran yang megah itu. Begitu ia melangkah masuk, seluruh karyawan yang melihatnya langsung berdiri memberi hormat.
“Selamat pagi, Pak Kenan.”
“Pagi.”
“Selamat datang, Pak.”
Kenan hanya menjawab dengan anggukan singkat sambil terus berjalan menuju ruang rapat utama. Di dalam ruangan yang luas itu, kepala cabang beserta para manajer divisi sudah menunggu dengan rapi di tempat duduk masing-masing.
“Selamat pagi, Pak Kenan.”
“Pagi.”
Kenan langsung duduk di kursi kepala, lalu membuka laptopnya dengan gerakan cepat. “Baiklah, kita mulai rapatnya sekarang.”
Layar proyektor di depan ruangan pun menyala, menampilkan data perkembangan kinerja perusahaan. Kenan berdiri di depan layar, memimpin jalannya rapat dengan gaya yang tegas dan berwibawa.
“Target pendapatan kuartal ini harus tercapai sesuai rencana, tidak boleh ada penundaan,” ucapnya tegas.
Salah satu manajer mengangguk mantap. “Siap, Pak.”
“Untuk divisi pemasaran,” lanjut Kenan. “Perbanyak pendekatan dan layanan kepada klien lama yang sudah bekerja sama selama ini. Jangan hanya sibuk mencari klien baru sampai melupakan yang sudah ada.”
“Baik, akan kami laksanakan,” jawab kepala divisi.
“Divisi operasional,” lanjutnya lagi. “Pastikan semua proyek yang sedang berjalan sesuai jadwal dan standar kualitas yang ditetapkan. Jangan sampai ada kelalaian sedikit pun.”
“Siap, Pak.”
Kenan menoleh ke arah kepala cabang. “Saya ingin laporan perkembangan harian dikirim ke ponsel saya setiap sore hari. Saya ingin tahu detailnya, bukan sekadar angka saja.”
“Siap, Pak Kenan.”
Kenan menatap seluruh peserta rapat satu per satu, suaranya terdengar berat namun jelas. “Ingat, saya tidak sedang mencari alasan mengapa target tidak tercapai. Saya hanya mencari solusi dan cara terbaik untuk menyelesaikannya. Paham?”
Seluruh peserta menjawab serempak dengan nada hormat. “Paham, Pak!”
Sementara itu, suasana di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Sentral Medika tetap sibuk dan dinamis seperti biasa. Kinasih sudah mengenakan jas operasi dan sarung tangan medis, berdiri di samping ranjang pasien sambil memeriksa kondisi pernapasannya.
“Pak, tarik napas pelan-pelan dan hembuskan perlahan lewat mulut,” arah Kinasih dengan suara tenang.
“Baik, Dok,” jawab pasien itu sambil mengikuti petunjuknya.
“Bagus sekali, kondisinya mulai membaik.”
Tak lama kemudian, seorang perawat mendekat membawa berkas rekam medis. “Dokter Kinasih, pasien yang harus dipindahkan ke ruang observasi sudah siap untuk diperiksa.”
“Baik, saya segera ke sana,” jawab Kinasih.
Meski perutnya sudah semakin membesar dan membuat gerakannya sedikit lebih lambat dari biasanya, Kinasih tetap bekerja dengan penuh ketelitian dan tanggung jawab. Ia tetap mengikuti anjuran dokter untuk tidak memaksakan tenaga; jika merasa pusing atau pegal, ia akan duduk sejenak di ruang istirahat sebelum melanjutkan tugasnya kembali.
Seorang perawat yang melihatnya berjalan agak lambat segera menghampiri dengan senyum perhatian. “Dok, kalau sudah terasa lelah, jangan sungkan bilang saja ke kami. Kami siap membantu membagi tugasnya.”
Kinasih membalas senyum itu dengan rasa terima kasih. “Pasti, terima kasih banyak atas bantuannya.”
“Sama-sama, Dok. Kami ingin Dokter dan calon bayinya tetap sehat.”
Kinasih mengangguk, lalu melangkah kembali menuju ruang perawatan. Di balik rasa lelah yang mulai lebih mudah datang seiring bertambahnya usia kandungan, ia tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, memberikan perhatian terbaik kepada setiap pasien yang membutuhkan pertolongan darinya.
Jam makan siang akhirnya tiba. Suasana kantin Rumah Sakit Sentral Medika mulai terasa ramai, dipenuhi oleh dokter, perawat, dan seluruh tenaga medis yang baru saja menyelesaikan tugasnya menangani pasien sejak pagi.
Kinasih duduk bersama beberapa rekan dokter sambil menikmati makan siangnya dengan lahap.
“Dok Kinasih, supnya sudah habis juga?” goda salah satu temannya sambil tersenyum.
Kinasih tertawa kecil. “Sudah dong. Rasanya perut ini sudah keroncongan dari tadi pagi, makanya makan jadi semangat.”
“Nah, baguslah begitu. Jangan suka menunda-nunda makan, apalagi sekarang sedang mengandung,” nasihat temannya lagi.
“Iya, iya… jangan cerewet terus dong,” jawab Kinasih sambil tersenyum, membuat mereka semua tertawa bersama.
Namun, tawa itu terhenti seketika ketika sebuah suara memanggil dari kejauhan.
“Nash!”
Kinasih spontan menoleh ke arah sumber suara, matanya langsung terbelalak tak percaya.
“Eh?”
“Nash!”
Wanita itu melambaikan tangan dengan semangat sambil berjalan mendekat.
“Amara?!” seru Kinasih dengan nada kaget sekaligus senang. Ia langsung berdiri menyambut kedatangan sahabatnya itu. “Ya Allah… kamu ngapain ada di sini?”
Amara tertawa lebar, lalu menjawab santai. “Masa nggak boleh aku datang ke sini?”
Tanpa berpikir panjang, keduanya langsung berpelukan erat, melepaskan rasa rindu yang sudah lama terpendam.
“Aku kangen banget sama kamu,” ucap Amara sambil memeluk bahu Kinasih.
“Aku juga,” jawab Kinasih dengan suara yang sedikit terharu.
Setelah melepaskan pelukan, Kinasih menatap Amara dari ujung kepala hingga kaki. “Ya ampun, makin cantik saja rupamu sekarang.”
Amara hanya menyeringai bangga. “Kamu juga, tetap terlihat cantik meski sedang mengandung.”
Ia lalu melirik ke arah perut Kinasih yang sudah terlihat jelas membesar, lalu membungkuk sedikit dan berbicara lembut. “Halo, dedek bayi… tante Amara datang menjenguk.”
Kinasih terkekeh mendengarnya. “Belum lahir saja sudah diajak mengobrol.”
“Ya harus mulai kenalan dari sekarang dong, biar nanti sudah akrab begitu lahir,” jawab Amara santai.
Melihat kedatangan tamu, rekan-rekan dokter Kinasih pun segera berdiri dengan sopan. “Kalau begitu, kami pamit duluan ya, Dok.”
“Iya, silakan. Terima kasih,” jawab Kinasih.
Setelah teman-temannya pergi, Kinasih mengajak Amara berpindah ke meja yang lebih sepi agar bisa mengobrol dengan leluasa. “Duduklah di sini.”
“Baiklah.”
Seorang pelayan kantin segera menghampiri mereka. “Mau pesan apa, Kak?”
“Es teh lemon saja satu,” jawab Amara ramah.
“Siap.”
Begitu pelayan pergi, Amara langsung menatap wajah Kinasih dengan pandangan yang penuh perhatian. “Bagaimana kabarmu sebenarnya?”
“Alhamdulillah baik-baik saja,” jawab Kinasih tenang.
“Sehat benar-benar?”
“Sehat.”
“Yakin?” tanya Amara lagi seolah belum puas.
Kinasih hanya mengangguk mantap. “Iya, aku yakin.”
Namun Amara tetap mengamati wajah sahabatnya itu. “Tapi menurutku kamu terlihat sedikit lebih kurus dan tampak lelah, lho.”
“Itu cuma perasaanmu saja,” bantah Kinasih sambil tersenyum tipis.
“Bukan perasaan. Aku tahu betul wajahmu. Kamu pasti terlalu memaksakan diri bekerja,” tegur Amara lembut.
Kinasih hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Namanya juga tugas di Instalasi Gawat Darurat, memang begitulah jadinya.”
Amara menghela napas panjang sambil menggeleng. “Masih saja keras kepala seperti dulu.”
“Kamu sendiri, kenapa bisa ada di Surabaya? Kan biasanya bertugas di rumah sakit dekat rumahmu?” tanya Kinasih mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh iya, aku belum sempat ceritakan,” jawab Amara baru teringat. “Aku datang ke sini untuk mengikuti seminar kedokteran selama dua hari ini. Tadi kegiatannya selesai lebih cepat dari jadwal.”
“Wah, pantesan tiba-tiba muncul di sini,” gumam Kinasih mengerti.
“Setelah selesai, aku langsung teringat kamu. Jadi tanpa berpikir panjang, aku langsung meluncur ke sini,” lanjut Amara dengan senyum tulus.
Kinasih tertegun sesaat, lalu wajahnya dipenuhi rasa haru. “Segitunya sampai langsung datang menjenguk?”
“Tentu saja. Kamu itu sahabat terbaikku sejak kuliah dulu. Mana mungkin aku datang ke kota ini tapi tidak menemuimu,” jawab Amara tegas.
Kinasih lalu menggenggam tangan Amara dengan lembut. “Terima kasih banyak ya, Mara.”