NovelToon NovelToon
Pewaris Kaisar Es Jiang Yuan

Pewaris Kaisar Es Jiang Yuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Timur / Action
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.

Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.

Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Munculnya Jiang Yuan

Tang San dan Tang Ling saling bertukar pandang, lalu tanpa peringatan, mereka melesat maju. Gerakan mereka cepat dan mematikan, membelah udara dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata telanjang.

Tang San melancarkan serangan pertamanya pada Ruan Mei.

Tinjunya yang dilapisi Dou Qi berwarna merah menyala mengarah tepat ke wajah Ruan Mei, namun wanita itu dengan sigap menghindar dengan memiringkan tubuhnya ke samping. Ujung tinju Tang San hanya menyabet udara kosong.

Namun Tang San tidak berhenti. Ia terus menyerang dengan membabi buta, setiap pukulannya diikuti oleh ledakan energi kecil yang membuat tanah di sekitar mereka berlubang.

"Tinju Harimau Api!" serunya.

Dou Qi merah menyala di tinjunya membentuk wujud harimau yang mengaum, melesat menerjang Ruan Mei dengan kecepatan luar biasa.

Cakar-cakar energi membara itu siap mencabik-cabik siapa pun yang berada di jalurnya.

Ruan Mei mundur beberapa langkah dengan cepat. Kedua tangannya terangkat ke atas, Dou Qi biru keperakan berkumpul di telapak tangannya.

"Hukuman Dewa Petir!" serunya.

Dari langit malam yang gelap, sambaran petir biru menyambar turun dengan kecepatan kilat.

Petir itu menghantam tepat di tengah harimau energi Tang San, menciptakan ledakan besar yang memantulkan serangan balik ke arah pria itu.

"Gharrrghh!" Tang San terpental mundur, tubuhnya terseret di tanah hingga punggungnya membentur batang pohon besar.

Ia mengerang kesakitan, ekspresi percaya dirinya kini berganti menjadi amarah yang membara.

Sementara itu di sisi lain, Feng Yun berhadapan dengan Tang Ling. Kondisinya tidak begitu baik.

Tang Ling bergerak dengan kecepatan yang mengesankan, setiap serangannya datang bertubi-tubi tanpa jeda.

Feng Yun dipaksa untuk bertarung menggunakan seni bela diri jarak dekat, tangannya bergerak cepat untuk menangkis setiap pukulan dan tendangan yang datang.

Namun, kecepatan Tang Ling sedikit di atasnya.

Bug!

Sebuah pukulan mendarat tepat di pipi Feng Yun, membuat wajah cantiknya terpelanting ke samping. Sebelum ia sempat pulih, sebuah tendangan mengenai perutnya, memaksanya mundur beberapa langkah.

Bugh!

Pukulan lain mendarat di dagunya, membuat Feng Yun hampir tersungkur ke tanah.

Namun wanita itu tidak menyerah. Ia mengatupkan giginya, mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya.

"Haa!"

Pukulannya yang diselimuti Dou Qi keunguan melesat dengan kecepatan maksimal, mengenai dada Tang Ling dan memukul mundur wanita itu beberapa langkah.

Tang Ling terhuyung, ekspresi terkejut sesaat terlihat di wajahnya sebelum kembali berubah menjadi dingin.

"Lumayan!" ucapnya, mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah. "Tapi tidak cukup!"

Tang Ling kembali melesat, kali ini dengan kecepatan yang lebih tinggi. Tangannya terbentuk menjadi cakar, jari-jarinya melengkung seperti cakar naga yang siap mencabik mangsanya.

"Cakar Naga Terbang!"

Cakaran energi berwarna keemasan melesat di udara, meninggalkan bekas cakaran besar yang berkilauan.

Feng Yun berhasil menghindar dengan melompat ke samping, namun ujung cakaran itu masih mengenai lengannya, merobek lengan baju dan meninggalkan luka goresan yang mengeluarkan darah.

Feng Yun terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Kelelahan mulai terasa di sekujur tubuhnya. Ia melompat mundur cukup jauh, mencoba mencari jarak aman.

Sampai akhirnya, punggungnya bertemu dengan punggung Ruan Mei.

Keduanya kini terpojok. Tang San di depan, Tang Ling di belakang. Mereka berdiri saling membelakangi, mata mereka tetap waspada terhadap setiap gerakan lawan.

Dan di kejauhan, Tang Wu masih berdiri dengan tenang, mengamati pertarungan dengan ekspresi menghibur. Ia belum bergerak sama sekali, dan itu adalah hal yang paling mengancam.

"Hahaha!" suara Tang Wu menggema di antara pepohonan hutan. "Kalian berdua cukup tangguh, aku akui itu. Tapi sia-sia saja. Cepat serahkan Tulang Phoenix Abadi, atau kalian mati!"

"Phei!" Feng Yun meludah ke samping, darah dan ludah bercampur di bibirnya yang membengkak. "Kau saja yang mati!"

Merasa kesal karena dihina, Tang Wu langsung marah. Ekspresi wajahnya yang semula tenang kini berubah menjadi dingin dan mematikan.

"Bunuh mereka!" perintahnya dengan suara dingin.

Tang Ling dan Tang San akhirnya melesat ke depan secara bersamaan. Dou Qi mereka berkobar dengan intensitas penuh, siap mengakhiri nyawa kedua wanita yang sudah kelelahan itu.

"Hiaaa!"

"Haaa!"

Namun tepat saat itu, sebuah ledakan besar terjadi di antara mereka.

Ledakan!

Gelombang energi yang dahsyat menyebar ke segala arah, memaksa Tang Ling, Tang San, dan bahkan Tang Wu untuk terpental mundur beberapa langkah.

Debu dan serpihan tanah beterbangan ke udara, menciptakan kabut tebal yang menutupi seluruh area.

Mereka semua menatap ke arah pusat ledakan, mencoba melihat siapa yang berani ikut campur dalam urusan Keluarga Tang.

"Siapa! Berani-beraninya ikut campur!" seru Tang Wu, suaranya bergetar karena amarah dan sedikit keterkejutan.

Saat debu mulai menghilang, sosok pemuda di balik kabut itu perlahan-lahan mulai terlihat.

Tubuhnya yang tegap berdiri dengan tenang di tengah-tengah hancurnya tanah di sekitarnya. Jubah hitamnya berkibar pelan tertiup angin malam, rambutnya yang diikat rapi ke belakang tidak bergerak sedikit pun.

Ia adalah Jiang Yuan.

Di belakang Jiang Yuan, Feng Yun dan Ruan Mei sudah berlutut. Tubuh mereka gemetar karena kelelahan, napas mereka pendek dan tidak teratur. Namun di mata mereka, ada cahaya kelegaan yang tak terbantahkan.

"Kau terlambat, bodoh!" ucap Ruan Mei, suaranya serak namun masih menyimpan nada kesal yang khas.

Jiang Yuan berbalik perlahan. Di bawah sinar rembulan yang tembus di antara dedaunan, wajahnya yang tampan terlihat tenang dan terkendali. Seulas senyuman tipis menghiasi bibirnya.

Tangannya terulur, menyerahkan selembar kertas pada Ruan Mei. Kertas itu berkilauan samar, seolah dilapisi oleh energi Dou Qi yang halus.

"Bawa Tulang Phoenix Abadi pergi," ucapnya, suaranya rendah namun jelas terdengar di antara kesunyian hutan yang mencekam.

Ruan Mei meraih kertas itu dengan tangan gemetar. Matanya yang biru jernih menatap Jiang Yuan dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara kekhawatiran, kemarahan, dan sesuatu yang lain yang bahkan ia sendiri tidak mau mengakuinya.

"Tapi kau—"

"Pergilah." Jiang Yuan memotongnya dengan tegas, suaranya tidak meninggi namun penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Aku akan menahan mereka."

Lalu ia kembali berbalik menghadap Tang Wu dan dua pengikutnya. Punggungnya yang tegap menjadi perisai terakhir bagi kedua wanita di belakangnya.

"Kau pikir kau bisa menghentikan kami sendirian?" Tang Wu tertawa, namun tawanya tidak mencapai matanya. "Bocah Ranah Dou Shi yang lemah?"

Jiang Yuan tidak menjawab. Ia hanya membiarkan Dou Qi di dalam tubuhnya mengalir, mengikuti aliran yang diajarkan oleh Bing Bi.

Hawa dingin mulai menyebar dari tubuhnya, membuat dedaunan di dekatnya mulai dilapisi oleh embun beku yang berkilauan.

Di belakangnya, Ruan Mei akhirnya berdiri, menarik Feng Yun untuk bangkit. Dengan ragu, ia menatap punggung Jiang Yuan untuk terakhir kalinya.

"Jangan mati, bodoh," bisiknya pelan, sebelum akhirnya berbalik dan melarikan diri bersama Feng Yun ke dalam kegelapan hutan.

Jiang Yuan mendengar bisikan itu. Seulas senyuman tipis kembali muncul di sudut bibirnya.

'Tenanglah,' pikirnya dalam hati. 'Aku masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan.'

Di hadapannya, tiga kultivator Keluarga Tang bersiap untuk menyerang. Namun di matanya, tidak ada sedikit pun rasa takut.

Hanya tekad yang dingin seperti es.​

1
yayat
sungguh kuat mental jian
yayat
dapat bonus extra ni dari tetua ning
Cecilia: tinggal tunggu mainnya😋
total 1 replies
emg gw pikirin?
yh, ini mc ga naif, ga asal ambil harta, best deh
emg gw pikirin?
mc msi cool2 dsnii
emg gw pikirin?
suka dchhh sama mc gni
Gege
belom kunjung ada adegan kulit bertemu kulit dan bulu bertemu dengan bulu dalam adegan kultivasi ganda untuk meningkatkan kekuatan sang MC..💪😄🤣🤭
Cecilia: hampir ini🗿 dikit lagi, besok keknya
total 1 replies
Cecilia
besok ku up sampe bab 40
yayat
ditunggu
Cecilia
letsgooo, tungguin next bab gaes
Tsumuri Makabe
bagus, mc op, licik
Tsumuri Makabe
lesgooo jiang yuann
Tsumuri Makabe
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Tsumuri Makabe
/Determined//Determined//Determined/
Tsumuri Makabe
hmmm, awal yg bagus
asammanis
kurus dagingnya dikit
yayat
apa ni yg diminta ga mungkin minta nganu kn haha
Gege
di tunggu proses penyatuan yin yang dalam tajuk kultivasi ganda mempraktekkan isi kitab kamasutra 99 gerakan, guna memanen energi..🤣😄..makin banyak hareem makin kuwatt MC nyaaaah...💪
Cecilia: nantikan aja bab 39nya wkwk, bentar lagi🗿
total 1 replies
yayat
wah hal apa ni lanjut
Fajar Fathur rizky
gambar wang ning thor
Cecilia: ntar di bab 39 pas mereka nganu
total 1 replies
Zed Wara
13. Da da
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!