NovelToon NovelToon
Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.

Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.

Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.

"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"

Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."

Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3. DEMI SINTA

Robinson masih berdiri di ruang televisi selama beberapa saat setelah kepergian Rebeca. Pandangannya kosong menatap tangga tempat putrinya menghilang.

Ia mengerti kemarahan Rebeca.

Selama bertahun-tahun, ia terlalu fokus membesarkan perusahaan hingga lupa bahwa putrinya juga membutuhkan seorang ayah, bukan hanya kartu kredit tanpa batas dan segala fasilitas mewah.

Dengan langkah berat, Robinson akhirnya beranjak menuju kamarnya yang berada di lantai dua, di sisi lain rumah. Kamar itu terpisah dari area kamar Rebeca, dengan tangga pribadi yang langsung terhubung ke sayap utama kediaman.

Sesampainya di dalam kamar yang luas dan elegan itu, Robinson melepaskan jasnya lalu menggantungnya di dekat lemari.

Suara notifikasi ponsel memecah keheningan. Robinson mengambil ponsel dari saku celananya. Saat melihat nama pengirim pesan tersebut, matanya sedikit melebar. "Cika." Suaranya nyaris memekik. Dengan cepat ia membuka pesan itu.

Cika: Pak Robinson, apakah Bapak punya waktu malam ini? Saya ingin bertemu dan membicarakan tawaran Bapak tadi sore.

Robinson terdiam beberapa detik. Ia sudah menduga Cika akan menghubunginya cepat atau lambat. Namun, ia tidak menyangka gadis itu mengambil keputusan untuk bertemu secepat ini.

Perlahan, ia mengetik balasan.

"Baik. Setelah makan malam, kita bertemu di Restoran Oshima. Saya akan memesan ruang VIP agar kita bisa berbicara dengan tenang."

Beberapa detik kemudian, tanda pesan telah terbaca. Robinson menatap layar ponselnya dengan wajah serius.

Malam ini kemungkinan akan menentukan segalanya.

Jika Cika menerima tawarannya, maka ia bukan hanya mendapatkan seorang istri. Tapi ia juga akan punya seseorang yang bisa mengawasi Rebeca sesuai rencananya.

Robinson menutup mata sejenak. "Aku harus bisa menghadapi kemarahan Rebeca." Ia membuang napas kasar. Lalu pergi ke kamar mandi.

***

Di rumah sederhananya, Cika duduk sendirian di tepi ranjang kecil di kamarnya. Lampu kamar yang redup membuat bayangan wajahnya terlihat semakin lelah.

Ponselnya masih berada dalam genggaman. Pesan terakhir dari Robinson terus ia tatap, seakan berharap kalimat di layar itu berubah dan memberinya jalan lain. Namun tidak ada. Tak ada keajaiban, atau pun kerabatnya yang datang membantu.

Tidak ada tangan yang mengulurkan bantuan tanpa imbalan.

Cika menutup mata dan menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.

"Ini demi Sinta," bisiknya pelan. Kalimat itu terus ia ulang dalam hati, seperti sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang akan diambilnya adalah keputusan yang benar. Bagaimanapun juga, ia sudah berusaha sekuat tenaga.

Sejak ayah mereka meninggal, dunia Cika seolah runtuh.

Ibunya yang tidak sanggup menjalani hidup susah memilih menikah lagi dengan pria lain dan memiliki keluarga baru. Awalnya Cika masih berharap wanita yang telah melahirkannya itu tetap menyayangi dirinya dan Sinta.

Namun kenyataan jauh lebih menyakitkan.

Ingatan Cika kembali pada hari saat ia datang ke rumah ibunya dengan wajah penuh harapan.

Hari ketika dokter mengatakan kondisi Sinta membutuhkan pengobatan yang lebih serius.

Dengan tangan gemetar, ia meminta bantuan.

"Bu, Sinta sakit. Aku mohon, bantu kami. Dia anak Ibu juga."

Namun yang ia dapatkan bukan pelukan. Bukan perhatian atau air mata seorang ibu yang khawatir pada anaknya.

Yang ia dapatkan hanyalah tatapan dingin. "Jangan datang lagi ke rumah ini, Cika. Kamu dan Sinta bukan tanggung jawab Ibu lagi. Ibu sudah punya keluarga sendiri."

Saat itu, dunia Cika benar-benar terasa berhenti. Wanita yang seharusnya menjadi tempatnya pulang justru menutup pintu di depan wajahnya.

Dan yang lebih menyakitkan, ibunya mengusir mereka seolah mereka adalah orang asing.

Cika membuka matanya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.

"Sinta hanya punya aku ..." bisiknya dengan suara bergetar. Ia teringat wajah adiknya di rumah sakit.

Tubuh kecil yang semakin kurus.

Wajah yang semakin pucat. Rambut yang mulai menipis karena perjuangan melawan penyakitnya.

Namun anak itu masih bisa tersenyum dan berkata bahwa ia tidak ingin menjadi beban. Memikirkan hal itu membuat hati Cika seperti diremas.

"Kalau aku harus mengorbankan kebahagiaanku agar Sinta bisa hidup, aku akan melakukannya." Kalimat itu keluar dengan mantap. Bukan karena ia tidak takut, karena ia tidak menyadari bahwa ia akan menikah dengan pria yang jauh lebih tua darinya. Dan bukan pula karena ia menginginkan harta keluarga Alexander.

Ia hanya seorang kakak yang tidak sanggup kehilangan satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.

Cika menghapus air matanya, lalu berdiri dari tempat tidur. Ia membuka lemari dan menatap beberapa pakaian sederhana yang tergantung rapi.

Malam ini, ia akan bertemu Robinson.

Dan ia akan menyerahkan jawaban yang pasti akan mengubah seluruh jalan hidupnya. "Tuhan, lancarkan semuanya. Semoga pilihan yang kuambil tidak menimbulkan masalah di kemudian hari."

***

Di kediaman keluarga Alexander, suasana ruang makan yang luas dan mewah terasa begitu sunyi.

Di atas meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan mahal, hanya ada dua orang yang duduk berhadapan.

Robinson dan Rebeca.

Seperti malam-malam sebelumnya, tidak ada percakapan hangat antara ayah dan anak itu. Yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan garpu yang sesekali menyentuh piring.

Robinson sesekali melirik putri tunggalnya. Ia ingin memulai pembicaraan, ingin memperbaiki hubungan mereka yang selama ini renggang.

Namun setiap kali ingin berbicara, ia selalu merasa ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka.

Tiba-tiba, Rebeca menghentikan makannya. "Pa."

Robinson mengangkat kepala. "Ya?"

"Aku kangen Mama."

Gerakan tangan Robinson yang sedang memegang garpu terhenti. Tatapannya berubah sedikit dalam. "Kenapa tiba-tiba berkata begitu?"

Rebeca menunduk menatap makanannya. "Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."

Robinson menarik napas pelan. "Tapi mamamu sudah pindah ke luar negeri."

"Aku tahu."

Rebeca langsung menatap ayahnya.

"Karena itu aku ingin pergi ke Korea saat libur semester nanti untuk menemuinya."

Robinson terdiam sejenak. Permintaan itu sebenarnya tidak sulit untuk dipenuhi. Namun setiap kali nama mantan istrinya muncul, ada sesuatu yang selalu membuat hatinya terasa berat. Bukan karena ia masih memiliki perasaan pada wanita itu, melainkan karena ia masih mengingat bagaimana perpisahan mereka meninggalkan luka yang cukup dalam.

"Boleh, kan, Pa?" tanya Rebeca lagi.

Robinson menatap putrinya. "Nanti Papa pikirkan dulu."

Jawaban itu langsung mengubah ekspresi Rebeca. Keningnya berkerut kecewa. "Pikirkan lagi?" ulangnya. "Untuk bertemu Mama saja Papa masih harus berpikir?"

"Rebeca, bukan begitu maksud Papa."

"Terserah." Gadis itu meletakkan alat makannya sedikit lebih keras dari biasanya. "Nafsu makanku hilang."

"Beca-"

Namun seperti biasa, gadis itu tidak memberi kesempatan Robinson menjelaskan. Ia bangkit dari kursinya.

"Selamat malam, Pa." Tanpa menunggu jawaban, Rebeca berjalan meninggalkan ruang makan dan menaiki tangga menuju kamarnya.

Robinson hanya bisa memandang punggung putrinya hingga menghilang.

Ruangan kembali hening. Jauh lebih hening dari sebelumnya.

Pria yang mampu menghadapi rapat dengan puluhan pengusaha besar itu kini justru tidak tahu bagaimana menghadapi putrinya sendiri.

Ia menghela napas berat. "Papa sudah gagal menjadi tempatmu bercerita, Rebeca," gumamnya lirih.

Setelah beberapa menit duduk dalam diam, Robinson akhirnya menyudahi makan malamnya. Ia mengambil jas yang tadi ia lepaskan dan mengenakannya kembali. Malam ini, ia memiliki pertemuan penting. "Aku harus segera berangkat ke resto Oshima." Robinson beranjak dari ruang makan.

***

Robinson tiba lebih dulu di restoran Oshima. Ia langsung menuju ruang VIP yang sudah dipesan agar pembicaraan mereka tidak terganggu oleh orang lain.

Di dalam ruangan yang tenang itu, Robinson duduk dengan kedua tangan bertaut di atas meja. Tatapannya sesekali mengarah ke pintu. Meski terlihat tenang di luar, pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan satu hal.

Apa keputusan Cika?

Apakah gadis itu akan menolak dan tetap mempertahankan harga dirinya?

Atau memilih jalan yang akan mengubah seluruh hidupnya?

Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan di pintu. "Masuk," ujar Robinson.

Pintu terbuka perlahan. Cika masuk dengan langkah pelan. Malam itu, ia mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Tidak ada perhiasan mahal atau riasan yang mencolok. Hanya sebuah blus polos dan rok panjang dengan rambut yang dibiarkan tergerai rapi. Namun kesederhanaan itu justru membuat kecantikan alaminya semakin terlihat.

Untuk sesaat, Robinson hanya menatap gadis di hadapannya. Bukan karena ketertarikan seorang pria kepada wanita, tetapi karena ia sekali lagi melihat kesederhanaan dan keteguhan yang membuatnya memilih Cika.

"Silakan duduk, Cika," ucap Robinson sambil menunjuk kursi di depannya.

"Terima kasih, Pak." Cika duduk dengan kedua tangan bertaut di atas pangkuannya.

"Kamu sudah makan malam?"

Cika mengangguk pelan. "Sudah, Pak."

"Bagus."

Setelah itu, suasana kembali hening selama beberapa detik.

Keduanya tahu alasan pertemuan malam itu.

Tidak ada lagi pembicaraan basa-basi yang perlu diperpanjang.

Robinson menatap Cika dengan serius.

"Jadi ... apakah kamu sudah mendapatkan jawaban?"

Cika menarik napas panjang. Ia teringat wajah Sinta yang pucat di ranjang rumah sakit. Teringat bagaimana adiknya menggenggam tangannya sambil berkata takut meninggalkannya.

Teringat bagaimana ibunya sendiri menutup pintu dan membiarkan mereka berjuang sendirian. Perlahan, Cika mengangguk. "Saya sudah memutuskan, Pak."

Jantung Robinson berdetak lebih berat.

"Apa jawabanmu?"

Cika menatap pria di hadapannya. Mata gadis itu berkaca-kaca, tetapi tatapannya tetap teguh. "Saya bersedia menikah dengan Bapak."

Kalimat itu menggantung di udara.

Robinson terdiam. Meski ia telah berharap mendengar jawaban tersebut, tetap saja ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika kenyataan itu benar-benar terjadi. Ia tahu mulai malam ini, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.

Cika baru saja menyerahkan masa mudanya demi menyelamatkan adiknya. Dan Robinson baru saja membawa seorang gadis sederhana masuk ke dalam keluarga yang penuh dengan konflik. Terutama dengan putrinya sendiri. "Cika, maafkan saya," bisiknya dalam hati.

Sementara Cika menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai jatuh. Dalam hatinya, ia hanya memiliki satu harapan. "Ini semua demi Sinta. Adikku harus sembuh."

1
PengGeng EN SifHa
Gkpp cika...seru kok pacaran setelah nikah...malu²in malah...seperti q dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
PengGeng EN SifHa: sampai sekarangpun masih malu apabila tlf thooor🫣🫣🫣 pdhl udah 17thn lo
total 2 replies
PengGeng EN SifHa
tapi jangan jumawa dulu enteeee ELGAAARR...ada satpam gila di belakang becca nantinya..siap lagi kalau bukan si CIKA ..MAMUD nya BECCA...
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Popo Hanipo
udah sebaik itu masak iya gak ada rasa kagum dan berakhir jatuh cinta
Ama Apr: pasti ada🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
logika aja seorang artis tiba2 chat tlpn penggemar secara terus2an itu nggak wajar sekarang sudah mulai ngatur outfit pasti ada niat terselubung ini pasti terinspirasi artis yg lagi viral ya yg menikah sama penggemar ,,yg skrg lagi ada masalah sama suaminya 😄
Ama Apr: hehe patut dicuraigai ya kk🤭
total 1 replies
Popo Hanipo
jangan ketemu sekarang nanti gagal,,ketemu nanti aja kalo bapakmu sudah menikah
Ama Apr: Iya, nanti Beca ngamuk
total 1 replies
Nice1808
parah si beca jatuh sendiri nyalahin cika, loe sehat beca🤣🤣🤣
Ama Apr: dia otaknya rada nyengsol🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!