Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
Dua bulan telah berlalu.
Musim dingin di Berlin masih terasa menusuk hingga ke tulang. Di sebuah rumah sakit swasta yang terkenal akan teknologi bedah rekonstruksinya, seorang pria berdiri di depan ruang perawatan VIP sejak pagi.
Elang Anderson, Pria itu tampak gelisah. Tatapannya terus tertuju pada pintu kamar yang masih tertutup rapat.
Sudah dua bulan.
Dua bulan sejak Amelia menjalani prosedur operasi plastik yang panjang dan melelahkan.
Dua bulan pula Elang hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit itu. Bahkan, beberapa kali dokter memintanya pulang untuk beristirahat. Namun, ia selalu menolak karena di balik pintu itu terdapat seseorang yang telah berjanji akan ia lindungi.
Seseorang yang hidupnya telah dihancurkan oleh pengkhianatan.
"Kamu terlihat lebih gugup daripada pasiennya." Suara seorang dokter membuat Elang menoleh.
Dokter Hans Müller tersenyum tipis sambil memeriksa berkas medis. Dokter Hans, adalah salah satu dokter keluarga Vasillo yang dipercayakan oleh Elang, mampu melakukan operasi besar ini.
Elang berdehem pelan. "Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar."
Dokter terkekeh. "Operasinya berhasil. Itu sudah kukatakan berkali-kali."
"Tetap saja."
Dokter menggeleng pelan. "Tuan Elang, pasien Anda pulih jauh lebih cepat dari perkiraan kami. Bekas operasi hampir sempurna. Hari ini perbannya bisa dilepas."
Jantung Elang mendadak berdegup lebih cepat. Hari yang ditunggu, akhirnya tiba juga. Selama dua bulan terakhir, Amelia selalu menutupi wajahnya dengan perban. Ia hanya bisa melihat matanya. Hari ini akan menjadi pertama kalinya ia melihat hasil akhir operasi tersebut.
Entah mengapa, perasaan aneh muncul di dalam dadanya. Perasaan yang sulit dijelaskan. Ia senang karena Amelia akhirnya mendapatkan kesempatan memulai hidup baru.
Namun, di sisi lain ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Karena setelah hari ini, wajah Amelia yang dikenalnya selama bertahun-tahun akan benar-benar hilang. Digantikan oleh wajah baru.
"Apakah kamu menyesal?" tanya dokter tiba-tiba.
Elang mengernyit. "Menyesal?"
"Membiarkannya melakukan operasi ini."
Pria itu terdiam, tatapannya kembali tertuju pada pintu kamar. Sesaat bayangan Amelia muncul di kepalanya. Wanita yang menangis hingga kehilangan kesadaran di rumah sakit. Wanita yang memohon agar bayinya dikembalikan.
Wanita yang kehilangan keluarga, cinta, dan warisan orang tuanya dalam waktu bersamaan.
Perlahan Elang menggeleng. "Tidak."
Mungkin ada sebagian dirinya yang ingin menghentikan Amelia saat itu. Mungkin ada sebagian dirinya yang ingin membawa wanita itu jauh dari semua masalah dan memulai hidup baru. Namun, ia tahu. Amelia tidak akan pernah bisa melupakan semuanya.
Tidak selama Evan dan Carolin masih hidup dengan bahagia. Tidak selama putrinya berada di tangan mereka. Tidak selama keadilan belum ditegakkan.
"Aku hanya khawatir."
Dokter mengangguk mengerti. "Itu wajar. Tapi terkadang seseorang harus kehilangan dirinya terlebih dahulu sebelum menemukan siapa dirinya sebenarnya."
Elang terdiam.
Beberapa menit kemudian.
Seorang perawat keluar dari kamar. "Dokter."
Dokter Hans langsung berdiri. "Kita bisa memulainya."
Jantung Elang kembali menegang. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal. Ia mengikuti dokter memasuki ruangan. Amelia duduk di atas ranjang. Tubuhnya tampak lebih sehat dibanding dua bulan lalu. Warna wajahnya tidak lagi sepucat saat pertama kali datang ke Berlin.
Namun, sorot matanya berbeda. Tidak ada lagi kelembutan yang dulu selalu terlihat. Kini hanya tersisa ketenangan yang dingin. Tatapan seorang wanita yang telah kehilangan segalanya.
Amelia menoleh ketika melihat Elang masuk. Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Kau datang."
"Tentu." Jawaban Elang terdengar cepat.
Amelia terkekeh pelan. Sudah lama sekali ia tidak tertawa. Meski hanya sebentar. Dokter mulai membuka perban yang membalut wajahnya. Lapisan demi lapisan perban mulai dilepas.
Jantung Elang berdetak semakin keras. Bahkan, dirinya sendiri tidak mengerti kenapa ia segugup ini. Mungkin karena setelah hari ini tidak akan ada jalan kembali. Mungkin karena setelah hari ini Amelia Hartono akan menghilang dari dunia.
Beberapa menit kemudian.
Perban terakhir akhirnya terlepas.
Dokter tersenyum puas. "Operasinya sempurna."
Amelia menahan napas. Begitu pula Elang, perlahan wanita itu menoleh ke arah cermin yang berada di samping tempat tidur.
Dan untuk pertama kalinya, dia melihat wajah barunya. Mata Amelia langsung membesar. Tangannya terangkat menyentuh pipinya sendiri. Tidak ada lagi wajah yang selama ini dikenalnya. Tidak ada lagi sosok Amelia Hartono yang pernah ditipu dan dihancurkan.
Di dalam cermin berdiri wanita lain. Wanita yang lebih dewasa. Air mata perlahan memenuhi matanya. Bukan karena sedih, melainkan karena ia sadar sesuatu. Amelia Hartono benar-benar telah mati. Wajah barunya kini, akan menjadi mimpi buruk bagi Evan Cristian dan Carolin Baskara.
Sementara itu, Elang hanya terdiam. Tatapannya terpaku pada wajah baru Amelia. Namun, satu hal yang dia tahu wajah yang membuatnya jatuh cinta setiap saat kini benar-benar hilang, sekali lagi Elang kehilangan sosok Amelia dari wajahnya.
Sampai akhirnya Amelia menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu. "Bagaimana?" Suara wanita itu terdengar pelan.
Elang terdiam beberapa detik. Lalu tersenyum tipis.
"Kamu akan membuat mereka tidak pernah mengenalimu."
Amelia menatap pantulan dirinya sekali lagi. Tatapannya perlahan berubah dingin.
"Bagus." Ia mengepalkan tangannya.
Keesokan paginya.
Sinar matahari menembus jendela kamar perawatan VIP tempat Amelia menjalani masa pemulihan pasca operasi plastik.
Wanita itu berdiri di depan cermin. Perban di wajahnya telah dilepas sehari sebelumnya. Meski masih terlihat sedikit pembengkakan di beberapa bagian, hasil operasinya sudah tampak jelas. Tak ada lagi sosok Amelia Hartono yang dulu dikenal banyak orang.
Kini yang terlihat adalah seorang wanita dengan wajah baru. Wajah yang akan menjadi senjata dalam rencana balas dendamnya.
"Kamu yakin mau pulang hari ini?" Suara Elang membuat Amelia menoleh. Pria itu sedang duduk di sofa dekat ranjang pasien sambil memperhatikannya.
Amelia mengangguk pelan. "Dokter bilang wajahku akan pulih sempurna sekitar seminggu lagi."
Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
"Selama seminggu itu aku bisa mempersiapkan semuanya di Jakarta."
Elang mengamatinya beberapa saat. Sejak operasi selesai, Amelia memang terlihat jauh lebih tenang.
"Aku sudah menyiapkan semuanya."
Amelia menoleh.
"Termasuk identitas barumu." Elang mengambil sebuah map hitam dari atas meja. Lalu menyerahkannya kepada Amelia. Wanita itu membuka map tersebut perlahan.
Di dalamnya terdapat kartu identitas, paspor, dokumen pendidikan, hingga riwayat pekerjaan yang telah disusun dengan sangat rapi.
Semua atas nama orang lain. Orang yang akan menggantikan Amelia Hartono.
"Aku tidak menyangka semuanya bisa selesai secepat ini."
"Aku punya tim yang sangat kompeten." Elang menjawab santai.
Amelia mengangguk pelan. Meski begitu, ia tetap merasa terharu. Sejak hari kehidupannya hancur, hanya Elang yang berdiri di sisinya. Hanya Elang yang tidak meninggalkannya.
Pria itu selalu ada tanpa meminta imbalan apa pun.
"Tidak perlu menatapku seperti itu."
Elang tiba-tiba berdeham, Amelia mengernyit.
"Seperti apa?"
"Seperti orang yang mau menangis."
Amelia terkekeh pelan. Suasana di antara mereka terasa sedikit ringan. Namun, ekspresi Elang kembali serius.
"Ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Keluarga Baskara."
Mendengar nama itu, senyum Amelia langsung menghilang. Tangannya tanpa sadar mengepal.
"Mereka kenapa?"
"Informasi yang kudapat kemarin sudah dikonfirmasi."
Elang membuka tablet di tangannya.
"Mereka sedang mencari ibu susu untuk cucu pertama keluarga Baskara."
Jantung Amelia langsung berdebar. Tanpa sadar tangannya menyentuh dadanya sendiri. Anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan. Anak yang direnggut dari pelukannya. Masih berada di keluarga itu. Masih hidup di bawah atap yang sama dengan Evan dan Carolin.
"Bagaimana kondisi ASI-mu?" Tanya Elang tiba-tiba.
Namun, begitu pertanyaan itu keluar, pria itu langsung memalingkan wajah. Ujung telinganya terlihat sedikit memerah. Amelia berkedip beberapa kali. Lalu, baru menyadari apa yang ditanyakan Elang.
Sedetik kemudian wajahnya ikut memanas.
"Emm..." Ia berdehem pelan.
"Masih lancar."
Elang tetap tidak menoleh. "Oh."
Suasana mendadak canggung. Amelia bahkan hampir tertawa melihat reaksi pria itu.
"Aku masih rutin melakukan pompa ASI." Jelasnya pelan. "Jadi produksinya belum berhenti."
Baru kali ini Elang berani menoleh lagi. "Itu bagus."
Amelia mengangguk. "Kalaupun nanti berkurang, aku bisa berkonsultasi dengan dokter dan mengonsumsi suplemen yang direkomendasikan untuk membantu mempertahankan produksinya."
Elang tampak lega mendengar jawaban tersebut.
"Kalau begitu peluangmu masuk ke keluarga Baskara jauh lebih besar."
Amelia menatap keluar jendela. Pikirannya melayang pada bayi perempuan yang telah dirampas darinya.
"Aku akan mendapatkannya kembali." Gumam Amelia pelan.
Elang mendengarnya, tetapi ada satu hal yang Elang takuti, Amelia kembali jatuh cinta pada Evan Cristian.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,