SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 KELUARGA MISKIN
"KUK-KURUYUUUK..."
Suara ayam menjadi alarm bangun tidur pagi untuk keluarga Pak Diki dan Bu Fitri setiap hari. Ayam jago milik mereka itu hampir selalu berkokok sekitar jam 04.30 subuh.
"Hoooaaam..." Bu Fitri terbangun dari tidurnya. Menggeliat pelan di atas kasur. Masih terasa godaan kuat untuk tidur lagi.
Tapi Bu Fitri segera bangun dari kasur. Ia menatap sesaat Pak Diki, suaminya, yang masih pulas.
Dan ia melihat anak perempuan satu-satunya, yang bernama Gendis, masih tidur pulas juga sambil memakai selimut kain sarung milik bapaknya.
"Pak, bangun Pak... Bangun..." ucapnya pada sang suami, sambil menggoyangkan tangan suaminya itu.
"Eeemmmhhh..." suara Pak Diki sambil menggeliat. Mengedipkan sedikit matanya.
"Bangun Pak, udah subuh. Nanti kesiangan loh..." tambah Bu Fitri.
"Eeemmmhhh... Iya Bu..." jawab Pak Diki sambil berusaha bangun, dan terduduk di kasur. Ia mengucek matanya yang masih terasa sangat mengantuk.
Kretek! Kretek!
Suara pinggang Pak Diki saat ia memutar pinggang yang terasa masih pegal, padahal semalam sebelum tidur Bu Fitri sudah memijatnya.
Pak Diki mencoba membangunkan Gendis, "Gendis... Bangun Nak, udah subuh."
Anak perempuannya itu masih tak bergeming. Masih tidur dengan pulasnya.
"Nak, bangun... Udah subuh, ayok... Nanti kamu kesiangan berangkat sekolahnya loh." ucap Pak Diki lagi.
"Eeemmmhhh... Bapaaak... Aku masih ngantuuuk..." ucap Gendis, masih sambil terpejam matanya.
"Eeeh... Ayok bangun. Nanti kesiangan. Yuk, bangun yuk."
Pak Diki melepas kain sarung yang menyelimuti tubuh anaknya itu.
"Eemmhh... Iya-iyaaa..." ucap Gendis. Kini mulai terbuka matanya. Berkedip-kedip.
Pak Diki segera beranjak dari kamar, menyusul istrinya yang sudah bangun duluan.
Gendis...
Masih terduduk di kasurnya...
Dengan memakai kaos lengan pendek yang terlihat sedikit berlubang di beberapa bagian. Dan juga rok panjang berwarna hitam yang tampak sedikit lusuh warnanya.
Gendis berusaha menurunkan kakinya dari atas kasur. Dan ia langsung berdiri perlahan.
Kemudian Gendis tampak berjalan pelan-pelan sambil tangan kanannya berusaha meraba-raba sekitar.
Gendis berusaha mencari di mana tongkatnya yang selalu menjadi "mata ketiga" dimana pun dan kapanpun ia berjalan.
Mata Gendis ini mengalami penyakit katarak sejak lahir. Menjadikan dirinya mengalami kebutaan lumayan parah sejak ia dilahirkan. Dan itu membuat tumbuh kembangnya lebih lambat dari pada anak-anak seusianya yang bermata normal dan sehat.
Orang tua Gendis tak melakukan pengobatan ke dokter spesialis, karena kondisi keluarga mereka yang berada di bawah garis kemiskinan.
Kemiskinan itu membuat Pak Diki dan Bu Fitri hanya bisa pasrah menerima kondisi cacat lahir anaknya itu. Tapi tetap berusaha memenuhi kebutuhan Gendis setiap hari dengan susah payah.
"Nah, ini dia..." ucap Gendis saat sudah menemukan tongkatnya yang disandarkan pada sebuah lemari di sudut kamar.
Gendis, sekarang sudah masuk sekolah SD, sudah kelas 2 SD dirinya.
Postur tubuhnya sedikit lebih tinggi dari pada teman-teman seusianya. Karena memang Pak Diki dan Bu Fitri juga memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dari pada orang-orang kebanyakan.
Kulit Gendis terlihat lebih putih dan bersih, mengikuti warna kulit sang Ibu. Dan juga rambutnya yang panjang menjuntai lurus persis juga seperti sang Ibu.
"Gendis..." panggil Bu Fitri pada anaknya itu yang sudah di dapur.
"Iya Bu..." Gendis pun meraba sebuah kursi kayu, dan langsung duduk di dekat sang Ibu.
"Ini, minum dulu..." ucap Bu Fitri sambil menaruh segelas air putih hangat di atas meja.
Gendis pun meraba pelan meja di depannya, dan langsung memegang gelas itu dengan ke dua tangannya. Langsung diminum perlahan olehnya.
Setiap pagi, hanya air putih hangat yang bisa disuguhkan oleh sang Ibu untuknya.
Suara gemeratak kayu kayu bakar terdengar di telinga Gendis, saat sang Ibu mulai menyalakan api di tungku tanah liat untuk memasak sarapan pagi ini. Dan langsung membumbung asap kayu bakar itu sampai menembus genteng rumah.
Suara guyuran air terdengar dari arah kamar mandi. Pak Diki sedang mandi sekarang. Karena ia harus segera bersiap untuk mengantar anaknya ke sekolah, sekaligus bersiap untuk bekerja.
Pekerjaan Pak Diki saat ini hanya sebatas kuli bangunan serabutan. Penghasilannya sangat tidak menentu.
Jika sedang banyak proyek bangunan, maka agak lumayan besar uang yang dibawa pulang. Tapi tak jarang pula tidak ada proyek bangunan sama sekali.
Membuat keluarga Gendis ini bisa sampai tidak memiliki uang sama sekali dalam beberapa waktu lamanya.
Benar-benar sebuah kondisi keluarga yang amat sederhana, atau bisa dikatakan benar-benar miskin.
"Uhukk!! Uhukk!!" suara Bu Fitri terbatuk, sambil terus mengipasi kayu bakar di depannya.
Lalu Bu Fitri berdiri, mengambil sebuah panci berisi air. Dan juga sudah ada beberapa potong singkong mentah di dalamnya.
Pagi ini, Bu Fitri hanya bisa menyuguhkan singkong rebus untuk sarapan untuk keluarganya. Tanpa lauk apapun.
Setelah panci berisi singkong mentah itu sudah ditaruh di atas tungku api, Bu Fitri berjalan ke meja.
Ia duduk di sebelah anaknya, Gendis.
"Nak..." ucap Bu Fitri sambil membelai lembut rambut anaknya itu.
"Iya Bu..." jawab Gendis.
"Hari ini kita makan singkong lagi ya Nak. Gak ada lauk atau sayuran lain soalnya." jelas Bu Fitri.
"Iya Bu, gak apa-apa..." jawab Gendis dengan tersenyum, sambil menatap sang Ibu dengan mata putihnya.
Sejenak, Bu Fitri memandangi wajah anaknya yang baru bangun tidur itu.
Langsung terasa menyayat hatinya, saat menyadari keluarganya mengalami kemiskinan. Sampai-sampai ia dan sang suami tak bisa memberikan pengobatan yang tepat untuk katarak mata Gendis.
Bu Fitri juga merasa semakin tak bisa berbuat banyak untuk membantu ekonomi keluarganya.
Karena sebab Bu Fitri juga hanya lulusan SD sama seperti Pak Diki, suaminya.
Sehingga untuk mencari pekerjaan, terasa amat sulit. Begitu juga yang dirasakan oleh Pak Diki.
Sehingga, alhasil, Pak Diki hanya bisa kerja serabutan sebagai kuli bangunan sekarang. Dan Bu Fitri juga hanya bisa mencari pekerjaan sebagai tukang cuci pakaian para tetangga jika sedang dibutuhkan saja.
"Bu?" suara Gendis memecah lamunan sang Ibu.
"Iya Nak? Kenapa?" tanya Bu Fitri.
"Em... Hari ini, aku disuruh bayar SPP Bu..." jawab Gendis.
Langsung tampak raut wajah Bu Fitri berubah saat mendengar ucapan Gendis itu. Sudah 7 bulan SPP anaknya itu belum dibayarkan.
"Iya Gendis, nanti ya kalau Bapak sama Ibu udah punya uang." kata Bu Fitri.
"Em... Bu... Tapi kata Pak Herman, kepala TU, harus cepet dibayar..."
"Iya iya... Nanti ya..." hanya itu yang bisa dijawab oleh Bu Fitri.
Dan selama 7 bulan ke belakang, jawaban itu yang selalu diulang olehnya, atau oleh Pak Diki.
"Aduh... Harus minjem ke siapa lagi?" gumam Bu Fitri dalam hati.
Jadi, selama ini, sudah banyak hutang keluarga Gendis kepada orang-orang. Jangankan untuk bayar SPP di sekolah SD Swasta Gendis, jangankan untuk bayar hutang, untuk bisa makan saja terasa sudah sangat sulit.
Krieeet...
Suara pintu kamar mandi terbuka, dan Pak Diki keluar. Sudah selesai dirinya mandi.
"Gendis, buruan mandi dulu, habis itu baru sarapan." ucap Pak Diki, sambil berjalan menuju kamar.
"Iya Pak..." jawab Gendis.
Dengan segera Gendis bangkit dari kursi, dan berjalan perlahan dengan tongkatnya, sambil meraba-raba dinding rumah yang terbuat dari papan kayu.
Gendis pun mencapai kamar mandi, dan langsung menutup pintunya dari dalam.
Sebelum ia melepas bajunya untuk mandi, terdengar suara obrolan ke dua orang tuanya di dapur.
"Pak... Hari ini Gendis harus bayar SPP sekolahnya." ucap sang Ibu.
"Bilang aja sama TU nya, kita belom punya uang." jawab sang Bapak.
Kemudian, sejenak mereka berdua saling diam. Gendis masih menguping dari dalam kamar mandi. Walau dirinya tak berniat sengaja menguping.
"Pak... Sampai kapan sih keluarga kita miskin begini?" kembali sang Ibu bertanya.
"Sabar Bu... Mau gimana lagi..." jawab sang Bapak.
"Sabar-sabar terus?! Sampe kapan sabarnya sih Pak?!" suara sang Ibu mulai sedikit meninggi.
"Ya terus mau gimana Bu?!" jawab sang Bapak dengan suara yang juga ikut meninggi.
Detik-detik suasana seperti ini sudah sangat sering di alami oleh Gendis. Selalu membuatnya sedih.
Dan itulah yang dirasakan oleh Gendis di dalam kamar mandi.
"Ya cari kerja yang lebih tinggi dong bayarannya Pak! Jangan cuma serabutan terus! Capek aku hidup miskin! Udah malu aku kalo harus ngutang terus sama orang-orang!" kata sang Ibu.
"Kamu tuh bisanya cuma ngeluh dan ngeluh terus Bu! Gak pernah ada solusi juga dari kamu!" bentak sang Bapak.
Semakin cepat detak jantung Gendis mendengarnya, raut wajahnya kini semakin sedih. Berkaca-kaca ke dua matanya yang buta itu.
"Kamu tuh yang jadi kepala keluarga cuma bisa pasrah-pasrah terus!" sang Ibu membentak balik.
"Kurang ajar kamu ya!" teriak sang Bapak.
Dan...
PLAKKK!!!
Terdengar suara tamparan sang Bapak ke pipi sang Ibu.
Gendis terkaget, dan langsung mengalir air matanya. Namun ia menahan suara tangisannya.
Dan terdengar suara pintu dapur yang dibanting dengan keras.
BRAKKK!!!
Pak Diki meninggalkan istrinya yang tertunduk sambil memegangi pipinya yang memerah di atas meja.
"Hiks hiks hiks..." suara tangisan sang Ibu terdengar oleh Gendis.
Gendis akhirnya keluar dari kamar mandi, tak jadi mandi dirinya.
Ia berjalan sambil meraba-raba, melupakan tongkatnya yang ia taruh di dalam kamar mandi.
Dengan air mata yang mengalir di ke dua pipinya, Gendis menyentuh pundak Ibunya.
Langsung Ibunya itu menoleh, masih memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan suaminya.
"Ibuuu... Hiks hiks..." gendis terisak.
Bu Fitri tidak menjawab, langsung dipeluk tubuh anaknya itu. Dan mereka berdua menangis terisak pelan.
Suasana pagi yang seharusnya penuh kehangatan, berubah menjadi pagi yang penuh kesedihan bagi Gendis...
😆😆 lanjut kak👍👍👍