❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 - Heartbeat
Setelah makan malam selesai, aku langsung membereskan meja makan dan mencuci piring.
Sementara itu, Javier masuk ke kamar mandi. Ibu kembali ke kamar untuk beristirahat, sedangkan Ayah kembali ke ruang tengah dan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah semua piring selesai dicuci, aku mengeringkan tanganku lalu pergi ke kamar ibu.
"Nay... Ada apa?" tanya Ibu begitu aku masuk.
"Nggak apa-apa. Aku cuma mau ngecek Ibu aja."
Aku mendekat ke ranjang.
"Ibu istirahat ya."
"Iya. Ini juga mau istirahat." Ibu tersenyum kecil. "Kamu juga istirahat. Dan kamu harus satu kamar sama Javier."
"Iya, Bu. Iya." Aku menghela napas. "Lagian di rumah ini kamar tidurnya cuma dua."
Ibu terkekeh pelan.
"Udah sekarang Ibu tidur."
Aku menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dengan rapi.
"Iya."
Ibu pun menutup mata.
Setelah memastikan Ibu nyaman, aku keluar kamar dan menuju ruang tengah.
Kulihat Ayah masih sibuk di depan laptopnya.
Aku langsung duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Ayah tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Aku nungguin Javier."
Ayah langsung menoleh.
Aku buru-buru melanjutkan.
"Aku mau gosok gigi sama cuci muka. Dia masih di kamar mandi."
"Oh..."
Ayah kembali fokus pada pekerjaannya.
Aku pun ikut diam.
Sesekali aku melirik ke arah lorong yang mengarah ke kamar mandi.
Lama sekali.
Apa yang Javier lakukan di kamar mandi?
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka.
Aku langsung berdiri.
Javier yang baru keluar dari kamar mandi terlihat sedikit terkejut melihatku berjalan cepat ke arahnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku mau pakai kamar mandinya."
"Oh..."
Aku langsung melewatinya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian aku selesai menggosok gigi dan mencuci muka.
Setelah mengeringkan wajah, aku keluar dan berniat langsung menuju kamar.
Namun saat melewati ruang tengah, kulihat Ayah dan Javier masih mengobrol.
Tepatnya, Ayah sedang menjelaskan sesuatu di layar laptopnya.
"Eh, Naya..."
Aku langsung berhenti.
"Hm?"
"Naya, ayo bawa suamimu ke kamar."
"Hah?"
Aku menatap Ayah tidak percaya.
"Lha bukannya kalian lagi ngobrol?"
"Nggak. Ini Javier cuma nanya soal pekerjaan Ayah."
Ayah lalu menoleh ke Javier.
"Javier, ayo sana ke kamar. Udah malam. Kamu harus istirahat."
"Ayah juga harus istirahat. Jangan begadang."
"Nggak. Tinggal sedikit lagi selesai kok." Ayah melambaikan tangan. "Habis ini Ayah langsung tidur."
Lalu beliau kembali menatap kami berdua.
"Nah, sekarang kalian juga sana. Ke kamar."
Aku dan Javier saling pandang sebentar.
Dengan terpaksa aku dan Javier akhirnya berjalan menuju kamar.
Begitu masuk ke kamar, bahkan sebelum aku sempat duduk di tepi ranjang, Javier sudah lebih dulu membuka suara.
"Nay... Kenapa kamu cerita ke Ibu kalau kemarin kita ketemu Ina?"
Aku menoleh ke arahnya.
"Soalnya Ibu penasaran kenapa aku nggak suka sama kamu."
"Hah?"
Javier langsung menatapku tidak percaya.
"Emang aku harus suka sama kamu, ya?" lanjutku. "Kita memang udah nikah. Udah jadi suami istri. Tapi emang aku harus suka sama kamu? Nggak, kan?"
Javier terdiam beberapa saat.
"Iya..." ucapnya akhirnya. "Tapi kenapa harus bahas Ina? Aku jadi nggak enak sama Ibu dan Ayah."
"Nggak usah nggak enak gitu." Aku mengangkat bahu. "Kan kita memang nggak saling suka."
Javier langsung menghela napas.
"Mas, aku penasaran." Aku menatapnya. "Beneran kamu udah nggak suka sama dia?"
"Iya."
"Yakin?"
"Iya."
"Serius?"
"Iya."
"Seratus persen?"
Javier memejamkan mata sesaat.
"Berapa kali aku harus bilang sih?"
"Ya soalnya kalian pacaran lama. Kalian udah melewati banyak hal bersama. Pasti nggak segampang itu dilupain."
"Aku memang nggak lupa kalau aku dan Ina pernah pacaran."
Aku langsung menatapnya.
"Ina pernah mengisi hari-hariku dulu. Itu fakta."
Aku terdiam.
"Tapi kalau masih ada di hatiku, nggak."
Javier menggeleng pelan.
"Sejak aku sibuk mengurus Ruang Rindu, pelan-pelan aku menerima kenyataan. Aku udah menutup hati untuknya."
"Serius?"
"Iya."
"Segampang itu?"
"Awalnya nggak gampang."
Javier tersenyum tipis.
"Tapi kalau kita udah ikhlas, mau menerima keadaan, dan punya kegiatan yang membuat kita terus maju, lama-lama jadi lebih mudah."
Aku merenung sejenak.
"Tapi kayaknya aku bakal susah deh. Kalau harus ngelupain orang yang aku suka."
"Emang siapa orang yang kamu suka?"
Aku diam sebentar.
Lalu menjawab dengan santai.
"Mas Juna."
"Ya Allah, Naya..."
Aku langsung tersenyum.
"Dia lagi. Dia lagi."
"Kenapa?"
"Hei, ingat." Javier menunjuk dirinya sendiri. "Kamu itu udah nikah. Aku suami kamu."
"Dia kan orang yang aku suka."
"..."
"Dan kamu ingat juga." Aku balik menunjuk Javier. "Kamu bukan suami beneran. Kamu bukan orang yang aku cintai."
Javier langsung menghela napas panjang.
"Iya deh, iya."
Aku tersenyum puas.
"Susah kalau ngomong sama orang halu."
Senyumku langsung menghilang.
Aku menatapnya tajam.
"Kenapa kamu natap aku kayak gitu?"
"Nggak apa-apa."
Aku menyilangkan tangan di dada.
"Halu yang bikin bahagia dan nggak stres."
"Hei!"
Javier langsung protes.
"Halu itu termasuk orang stres."
"Siapa bilang?”
“Aku.”
“Emang kamu siapa? psikolog? Psikiater?”
“Itu pengetahuan umum ya.”
“Terserah lah. Yang penting aku nggak bunuh orang, nggak pakai obat-obatan terlarang, dan yang paling penting nggak merugikan orang lain.”
Aku menatap Javier.
"Kalau kamu merasa dirugikan, itu masalah kamu."
Javier kembali menghela napas panjang.
Untuk kesekian kalinya malam itu.
Dan entah kenapa, melihat ekspresi frustasinya justru membuatku sedikit senang.
"Udah lah." Javier mengusap wajahnya. "Kita jangan ngobrol lagi. Nggak akan ada habisnya. Mending tidur aja."
Aku langsung terkejut.
Tidur?
Aku buru-buru berjalan ke arah tempat tidur lalu merentangkan kedua tanganku.
"Kamu jangan tidur di sini."
Javier menatapku bingung.
"Terus di mana?"
"Di bawah."
"Di bawah?"
Aku mengangguk mantap.
Javier menatapku beberapa detik seolah memastikan aku sedang bercanda.
Sayangnya aku tidak bercanda.
"Kamu punya kasur lantai?"
Aku menggeleng.
"Kamu nyuruh aku tidur langsung di lantai?"
Aku kembali mengangguk.
"Astaga, Naya..." Javier menghela napas panjang. "Tega banget."
"Aku nggak mau seranjang sama kamu."
"Kenapa?"
"Nanti terjadi hal-hal yang nggak-nggak."
Javier langsung mengernyit.
"Hal-hal yang nggak-nggak apa?"
"Entah."
Aku memalingkan wajah.
"Kamu kan emang nggak bisa ditebak."
"Hei..." Javier langsung protes. "Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Waktu itu juga aku nggak ngapa-ngapain kamu, kan?"
"Mana aku tahu."
"Naya..."
Aku tetap bersikeras.
Javier kembali menghela napas.
"Ribet banget ya nikah sama orang yang nggak suka sama kita."
Aku langsung menoleh.
"Ya udah sana nikah sama orang yang kamu sukai."
"Nggak ada."
"Apa?"
"Nggak ada orang yang aku sukai. Sejak putus sama Ina, nggak ada lagi orang yang aku suka."
Nama itu lagi.
Entah kenapa aku kembali memikirkannya.
"Mas..."
"Hm?"
"Kenapa dulu kamu suka sama Devina?"
Javier langsung menatapku.
"Kenapa kamu nanya itu?"
"Penasaran aja."
Aku mengangkat bahu.
"Aku cuma pengen tahu apa yang bikin kamu suka sama dia."
"Terus kalau udah tahu?"
"Nggak ngapa-ngapain. Aku cuma penasaran. Kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa."
Hening beberapa detik.
"Aku suka sama Ina karena dia baik."
Aku langsung menoleh.
"Dia perhatian."
Javier tersenyum tipis seolah sedang mengingat sesuatu.
"Dan yang paling penting, dia mendukung impianku."
Aku terdiam.
Mendukung impian.
Entah kenapa kata-kata itu terus terngiang di kepalaku.
Sementara aku masih sibuk memikirkan apa yang pernah dilakukan Devina untuk Javier, tanganku justru bergerak mengambil beberapa sajadah yang ada di lemari.
Lalu aku menggelarnya satu per satu di lantai.
Javier yang melihatku langsung mengernyit.
"Itu buat apa?"
"Buat tidur kamu."
"Hah?"
Aku merapikan sajadah terakhir.
"Nih."
Javier menatap lantai.
Lalu menatapku.
Lalu menatap lantai lagi.
"Ya Allah, Naya... Kamu bener-bener tega ya."
"Aku masih baik hati lho ngasih sajadah."
Javier hanya menggelengkan kepala.
Lalu aku mengambil bantal di ranjang dan selimut dari lemari, kemudian melemparkannya ke atas sajadah yang sudah kugelar.
Javier menatap bantal dan selimut itu.
"Udah tidur aja."
"Ya Allah..." Javier mengusap wajahnya. "Kenapa pernikahan hamba seperti ini?"
Aku langsung mendengus.
"Kalau kamu udah nggak kuat, ya udah cerai aja!"
"Shh!"
Javier langsung panik.
Sebelum aku sempat bereaksi, ia melangkah cepat ke arahku dan menutup mulutku dengan tangannya.
Aku langsung terdiam.
Mataku membulat.
"Jangan keras-keras ngomongnya," bisiknya. "Kalau orang tua kamu denger gimana?"
Aku tidak menjawab.
Karena aku memang tidak bisa menjawab.
Mulutku masih tertutup oleh tangannya.
Lalu Javier menatapku.
Aku menatap balik.
Untuk beberapa detik, kami hanya saling menatap dalam diam.
Entah kenapa jantungku tiba-tiba berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.
Deg.
Deg.
Deg.
Aku bahkan bisa mendengar suara detaknya sendiri.
Menyadari apa yang sedang terjadi, Javier langsung menarik tangannya.
"Maaf."
Ia segera menjauh.
Aku masih diam di tempat.
Sementara Javier berjalan ke arah sajadah lalu merebahkan tubuhnya di atasnya.
Setelah menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya, ia memiringkan badan membelakangiku.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan aku...
Aku masih belum bisa bergerak.
Aku mengangkat tangan dan menempelkannya di dada.
Detak jantungku masih berantakan.
Ada apa denganku?
Kenapa jantungku seperti ini lagi?
Kenapa setiap bertatapan dengan Javier rasanya mirip saat melihat senyum manis Lee Jun-ha yang dulu bisa membuatku meleleh?
Aku menggeleng pelan.
Tidak.
Ini pasti karena aku tidak pernah melakukan kontak fisik berlebihan dengan laki-laki.
Sudah pasti karena itu.
Tidak ada alasan lain.
Memang karena itu.
Iya, kan?