Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Akar yang Tak Dapat Dilihat
Waktu seakan berjalan lebih lembut di Karimun setelah kepulangan mereka. Matahari terbit dan terbenam dengan kesetiaan yang tak pernah berubah, ombak terus menyapu pasir membawa serta kesegaran dan ketabahan. Rumah kayu itu tetap berdiri kokoh di tepi pantai, namun kini terasa lebih luas — karena di dalamnya tak hanya tinggal Laras, Dika, dan Bayu, melainkan juga puluhan kisah, harapan, dan kenangan yang terus tumbuh subur bagai tanaman yang disiram dengan kasih sayang.
Bayu kini berusia tiga belas tahun. Tubuhnya terus menjulang, bahunya semakin tegap, dan langkah kakinya semakin mantap — seolah setiap langkahnya membawa beban kesadaran yang lebih berat dari usianya. Perjalanan ke Negeri Awan telah mengubahnya. Bukan mengubah hatinya, melainkan membukakan matanya lebar-lebar. Ia kini paham bahwa kedamaian yang mereka nikmati di Karimun bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil dari keteguhan hati, pengorbanan, dan kebaikan yang terus ditanam tanpa henti.
Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, Bayu sudah bangun. Ia membersihkan halaman, mengambil air dari sumur, lalu duduk di beranda menatap laut yang masih diselimuti kabut tipis. Kadang ia berlatih gerakan-gerakan sederhana yang diajarkan Dika — bukan untuk melukai, melainkan untuk melindungi diri dan menjaga keseimbangan. Kadang ia hanya duduk diam, menatap cakrawala yang perlahan terang, seolah sedang berbicara dengan masa depan yang belum terlihat.
Suatu pagi, saat Laras sedang menyusun tanaman obat di halaman belakang, Bayu datang mendekat. Ia berdiri diam sejenak, memperhatikan cara ibunya memilah dan menyusun dedaunan dengan penuh kehati-hatian dan ketelitian.
"Ibu..." panggilnya pelan.
Laras menoleh, menyambutnya dengan senyum hangat yang selalu mampu menenangkan segala gelisah di hati putranya. "Ada apa, Nak? Pagi ini terlihat berfikir berat."
Bayu duduk di sebelahnya, menatap tanaman-tanaman itu sebentar sebelum berbicara.
"Di Negeri Awan, Ibu berkata... bahwa penguasa meminta orang mengikutinya agar selamat, sedangkan pelindung berjalan duluan agar yang lain aman." Bayu berhenti sejenak, lalu menatap tajam ke mata ibunya. "Jika suatu hari nanti... ada bahaya datang ke sini. Apakah Ibu akan pergi duluan?"
Laras terdiam. Pertanyaan itu sederhana, namun terasa berat menekan dada. Ia meletakkan daun di tangannya perlahan, lalu menatap lurus ke mata putranya yang bening namun penuh kesungguhan.
"Jika itu yang diperlukan agar kalian aman..." jawab Laras pelan namun tegas. "Ya. Aku akan pergi duluan."
"Kalau begitu," potong Bayu cepat, suaranya tak bergetar sedikit pun. "Maka aku akan berjalan di belakangmu. Agar saat Ibu lelah, aku bisa menggantikan langkah Ibu. Dan jika ada yang menyerang dari belakang... aku akan menahannya."
Napas Laras tertahan. Matanya perlahan berkaca-kaca. Ia meraih tangan putranya, meremasnya dengan lembut namun penuh rasa haru yang meluap-luap. Di hadapannya bukan lagi anak kecil yang dulu digendongnya dengan penuh kekhawatiran. Di hadapannya kini berdiri seorang pemuda yang jiwanya telah ditempa oleh pengalaman, kebaikan, dan keteguhan hati.
"Bayu..." panggilnya lembut. "Kau tidak perlu menanggung beban itu sendirian."
"Aku tahu, Ibu." Bayu tersenyum — senyum yang mirip sekali dengan senyum Dika. "Karena Ayah juga akan ada di samping kita. Dan kita bertiga... satu jiwa, satu tujuan. Bukan begitu?"
Laras mengangguk, air mata bahagia menetes perlahan membasahi pipinya. "Benar. Kita bertiga. Selamanya."
Namun, kedamaian itu tak berarti ketiadaan ujian. Justru sebaliknya — semakin kuat akar yang tumbuh, semakin kencang pula angin yang datang menguji keteguhannya.
Beberapa hari kemudian, seorang lelaki asing tiba di Karimun. Ia datang dengan perahu nelayan yang tampak rapuh, berpakaian sederhana, namun gerak-geriknya memperlihatkan kebiasaan hidup yang berbeda — tegap, waspada, dan penuh perhitungan. Ia tidak membawa senjata yang tampak terang-terangan, namun matanya yang tajam seolah mampu menembus setiap topeng yang dikenakan orang.
Lelaki itu datang tepat saat matahari mulai terbenam, menyusuri jalan setapak menuju rumah kayu Laras. Warga desa yang melihatnya merasa aneh — ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan mata lelaki itu, sesuatu yang membuat mereka merasa tak nyaman, namun tak bisa dikatakan apa.
Saat lelaki itu mengetuk pintu, Laras sendiri yang membukanya. Begitu pandangan mereka bertemu, keduanya terdiam dalam waktu yang cukup lama. Laras menatapnya lekat-lekat, napasnya tertahan, dan seluruh tubuhnya menegang seketika.
Lelaki itu menunduk perlahan, lalu memberi salam dengan cara yang sangat kuno — cara yang sudah tak digunakan orang biasa selama puluhan tahun.
"Salam sejahtera untuk Ibu Laras," ucapnya dengan suara yang dalam dan tenang. "Aku datang dari jauh. Membawa pesan yang tak tertulis."
Laras masih berdiri diam, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan — campuran antara rasa tak percaya, kewaspadaan, dan harapan yang berusaha ditahan.
"Masuklah," ucapnya akhirnya, sambil memberi isyarat agar Dika menutup pintu rapat-rapat.
Di dalam ruangan, lelaki itu duduk di ujung meja kayu tua. Dika berdiri di samping Laras, tangannya erat menggenggam bahu istrinya — sebuah dukungan tanpa kata yang Laras pahami sepenuhnya. Bayu berdiri tak jauh dari mereka, berdiri tegak, matanya tak lepas dari wajah tamu asing itu.
"Aku adalah pengikut setia sisa-sisa pengawal Kerajaan Selatan," buka lelaki itu pelan. Matanya menatap lurus ke wajah Laras. "Aku datang membawa kabar... tentang Paman Sena."
Nama itu begitu lama tak terdengar, sehingga seketika seluruh ruangan terasa berhenti berputar. Laras maju selangkah, suaranya sedikit bergetar saat bertanya:
"Kau... mengenalnya?"
"Aku bersamanya hingga hari-hari terakhirnya," jawab lelaki itu dengan menundukkan pandangan. "Beliau hidup dalam persembunyian selama bertahun-tahun. Beliau terus melacak jejak musuh yang Ibu sebutkan dalam pesannya. Dan beliau... beliau wafat dua tahun lalu, di sebuah gua tak jauh dari sini."
Hening menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara napas mereka yang perlahan menjadi berat. Laras menutup matanya rapat-rapat. Dadanya terasa sesak, namun bukan karena kesedihan semata — ada rasa syukur yang bercampur dengan rasa hormat yang mendalam. Sena hidup. Ia setia hingga akhir napasnya. Ia tidak pernah lari. Ia tidak pernah menyerah.
"Sebelum wafat," lanjut lelaki itu sambil mengeluarkan sebilah benda yang terbungkus kain sutra kusam dari balik jubahnya, "Beliau berpesan: jika suatu hari kau menemukan Laras, berikanlah ini padanya. Dan sampaikan... bahwa tugasnya belum selesai. Bahwa ancaman yang disebutkannya masih ada. Bahwa mereka sedang bersiap kembali."
Laras menerima benda itu dengan tangan gemetar. Perlahan ia membuka kain pembungkusnya. Di dalamnya terhampar sebuah jimat berbentuk matahari terbuat dari emas yang sudah kusam — jimat yang dulu dikenakan oleh pemimpin tertinggi pengawal kerajaan.
"Sena..." bisik Laras pelan, air mata jatuh membasahi punggung tangannya. "Terima kasih. Terima kasih telah tetap setia."
Lelaki itu menatap Laras dengan tatapan yang kini tampak lebih serius. "Ada hal lain yang perlu Ibu ketahui. Sena menemukan bukti bahwa musuh-musuh itu tidak hanya berniat membalas dendam. Mereka mencari sesuatu — sesuatu yang sangat berharga, yang konon menyimpan kekuatan luar biasa. Sesuatu yang dulu dipercaya disembunyikan oleh leluhur Ibu."
Laras menatap jimat di tangannya. Jantungnya berdegup kencang. "Apa yang mereka cari?"
"Kunci Kerajaan," jawab lelaki itu pelan namun tegas. "Kabarnya, siapa yang memegang kunci itu, ia dapat menguasai seluruh wilayah bekas kekuasaan Kerajaan Selatan. Dan mereka percaya... Ibu adalah satu-satunya orang yang tahu di mana letaknya."
Keheningan yang berat menyelimuti ruangan. Dika melangkah maju, menatap tajam ke arah tamu itu. "Dan kau? Apa tujuanmu datang membawa semua ini?"
Lelaki itu berdiri perlahan, menatap mereka bertiga dengan tulus. "Aku datang bukan untuk mengambil, dan bukan juga untuk memaksa. Aku datang karena Sena berpesan: Laras bukan lagi Ratu Pedang. Ia kini adalah Ibu dan Pelindung. Maka beritahulah ia kebenaran, agar ia dapat bersiap melindungi apa yang dicintainya."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan:
"Mereka belum tahu apakah Ibu memegang kunci itu atau tidak. Namun mereka pasti akan datang ke sini. Cepat atau lambat. Dan saat itu terjadi... mereka tidak akan segan-segan menggunakan segala cara."
Setelah menyampaikan pesan itu, lelaki itu berpamitan. Ia menolak bermalam atau menerima makanan apa pun. "Aku harus kembali. Jika mereka mengetahui aku datang ke sini, akan membahayakan Ibu dan keluargamu." Sebelum pergi, ia menatap Bayu yang berdiri diam di pojok ruangan, lalu tersenyum tipis. "Jagalah kedua orang tuamu, Nak. Dunia luar sedang berubah menjadi gelap kembali."
Pintu tertutup. Kini hanya tersisa mereka bertiga dalam keheningan malam yang perlahan merambat masuk.
Laras masih memegang jimat itu erat-erat. Pikirannya berputar cepat. Kunci Kerajaan... Ia pernah mendengar cerita itu sewaktu kecil. Sebuah benda peninggalan leluhur yang konon menyatukan kekuatan seluruh negeri. Namun ia selalu menganggap itu sekadar dongeng pengantar tidur. Tak pernah ia menyangka... bahwa hal itu benar-benar ada. Dan bahwa orang-orang itu mencarinya hingga ke hari ini.
"Ibu..." Bayu melangkah mendekat, suaranya memecah keheningan. "Apakah benda yang mereka cari itu... benar-benar ada?"
Laras menghela napas panjang, lalu menatap putranya dengan tatapan yang penuh makna.
"Aku tidak tahu dengan pasti, Bayu. Namun aku tahu satu hal..." Laras menatap jimat di tangannya, lalu menatap suami dan anaknya. "Yang mereka cari itu bukanlah benda. Yang mereka cari adalah kekuasaan. Mereka percaya benda itu memberi kekuatan. Padahal..."
Laras berhenti, lalu meletakkan jimat itu di atas meja kayu tua dengan lembut.
"Padahal kekuatan sejati tidak pernah tersimpan di dalam batu atau emas. Kekuatan sejati ada di hati orang-orang yang saling menjaga. Di ikatan yang tak dapat diputus oleh pedang atau emas. Dan itulah... itulah kunci yang sesungguhnya."
Dika meletakkan lengannya di bahu Laras, lalu menatap mereka berdua. "Maka saat mereka datang — dan mereka pasti akan datang — kita tidak akan melawan mereka dengan senjata semata. Kita akan melawan mereka dengan apa yang tak mereka miliki: kesatuan, kebenaran, dan keberanian untuk tetap baik meski diancam bahaya."
Malam itu, Laras terjaga cukup lama. Ia duduk di beranda, menatap laut yang gelap bergelombang diterpa angin malam. Di sampingnya kini berdiri Bayu. Anak itu tak tidur. Ia datang mendekat tanpa suara, lalu berdiri diam di samping ibunya.
"Ibu..." panggilnya pelan. "Apakah Ibu takut?"
Laras menoleh, melihat wajah putranya yang disinari cahaya rembulan yang redup. Matanya jernih, namun siap menerima apa pun yang akan dikatakan.
"Dulu aku takut, Bayu. Dulu aku takut kehilangan nyawaku." Laras tersenyum tipis, lalu menatap kembali ke arah laut yang gelap. "Namun sekarang... aku takut kehilangan kalian. Dan justru karena itulah aku tidak boleh gentar. Karena rasa takut itu... ia adalah kekuatan yang menyembunyikan kelemahan kita."
Bayu terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara yang tenang namun tegas:
"Kalau begitu, jangan takut, Ibu. Karena selama kita bersama... apa pun yang datang, kita akan menghadapinya bersama-sama. Seperti yang Ayah katakan — satu jiwa, satu tujuan."
Laras menatap putranya lekat-lekat. Di bawah sinar rembulan yang pucat itu, ia menyadari sesuatu yang mendalam. Bahwa meskipun ancaman itu nyata, meskipun bahaya itu pasti datang... ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri Dika, yang tak pernah goyah. Dan di hadapannya, tumbuh seorang pemuda yang hatinya lebih kuat daripada pedang apa pun yang pernah ia miliki.
Malam itu, Laras berjanji dalam hatinya. Ia tidak akan lari. Ia tidak akan bersembunyi. Ia akan berdiri tegak, menjaga apa yang dicintainya, dan melindungi kedamaian yang telah mereka bangun dengan keringat dan air mata.
Dan di kejauhan, di balik kegelapan laut yang luas, bayangan-bayangan itu perlahan bergerak mendekat. Mereka membawa niat buruk, keserakahan, dan ambisi yang tak mengenal belas kasihan. Namun mereka belum tahu — bahwa di pulau kecil itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada semua kekuatan yang mereka bayangkan. Sesuatu yang tak dapat diambil, dirampas, atau dimusnahkan.
Sesuatu yang berakar begitu dalam... sehingga badai sekuat apa pun tak akan mampu merobohkannya.
bersambung...