NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:412
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengapa aku cemburu

“Setidaknya harus senada di depan orang lain.”

Valerie mendengus pelan.

“Baiklah, kamu lebih memahami situsnya daripada aku.”

Damian menatap Valerie sekilas.

“Tepat sekali.”

Valerie memutar matanya sambil tersenyum kecil.

Tanpa mereka sadari, perlahan-lahan hubungan yang awalnya hanya didasari sebuah kontrak mulai berubah. Mereka mulai belajar menerima kehadiran satu sama lainnya.

•●✿●•

Hari resepsi akhirnya tiba.

Sejak pagi, mansion keluarga Robert dipenuhi kesibukan.

Luna, pelayan pribadi Valerie, telah menghabiskan hampir dua jam untuk meriasnya. Dengan sentuhan tangan yang teliti, ia menata rambut Valerie, menyempurnakan riasan wajahnya, hingga penampilan Valerie tampak anggun dan memukau.

Rambut panjangnya ditata setengah terurai, dihiasi aksesori kecil berwarna perak. Sementara gaun violet pilihannya membalut tubuh rampingnya dengan anggun.

Luna tersenyum puas melihat hasil karyanya.

“Nona Muda benar-benar cantik.”

Valerie tersenyum kecil.

“Terima kasih.”

“Kamu membantuku menjadi sempurna, bahkan aku hampir tidak mengenali diriku sendiri.”

Luna tertawa pelan.

“Itu karena Nona selalu tampil sederhana.”

Valerie menarik napas panjang sebelum akhirnya keluar dari kamar, dengan perlahan ia menuruni anak tangga. Namun langkahnya mendadak terhenti. Di ruang tengah, berdiri seorang pria dengan postur tubuh yang begitu familiar. Badannya tinggi, tegap, bahunya bidang, dan kharismanya begitu kuat.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam elegan dengan aksen violet yang senada dengan gaun Valerie. Sebuah topeng hitam menutupi sebagian wajahnya. Saat itu, pria tersebut sedang menundukkan kepala sambil merapikan lengan kemejanya.

Dan entah mengapa, pemandangan itu terasa sangat akrab. Begitu akrab hingga membuat jantung Valerie berdetak lebih cepat, mata Valerie mulai berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar.

“Hazel...?”

Pria itu belum sempat menoleh.

Valerie sudah berlari lalu, tanpa berpikir panjang, ia memeluk tubuh pria itu erat.

“Hazel!”

Pria itu tampak terkejut.

Valerie memejamkan matanya.

“Kamu kemana saja?”

“Kenapa kamu meninggalkanku sendirian?”

Pelukan Valerie semakin erat, air matanya mulai jatuh.

Sementara pria itu hanya terdiam.

Beberapa detik kemudian, ia perlahan mengangkat tangannya. Lalu melepaskan topeng hitam yang dikenakannya.

“Valerie.”

Suara yang terdengar itu bukan suara Hazel.

Valerie perlahan mengangkat kepalanya. Matanya membulat, tubuhnya langsung menegang.

“Damian?”

Pria itu menghela napas kecil.

“Kenapa?”

Valerie segera melepaskan pelukannya lalu melangkah mundur beberapa langkah, wajahnya memerah karena malu.

Valerie mulai membatin.

Bagaimana mungkin aku salah mengira orang?

Bagaimana mungkin Hazel bisa menjadi nyata?

Bagaimana mungkin pria yang hanya ada dalam mimpiku tiba-tiba muncul di hadapanku?

Valerie mulai merasa malu, karena Ia baru saja memeluk Damian sambil menangis. Valerie menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

“Damian.”

“Aku minta maaf, aku...”

Damian memasang ekspresi datar.

“Aku sudah mengatakannya, jangan terlalu banyak menghayal.”

Valerie menundukkan kepala.

“Maaf.”

“Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman.”

“Aku...”

Ia terdiam sesaat.

“Aku pikir...”

Damian mengangkat sebelah alis.

“Kamu pikir aku adalah cinta pertamamu?”

Valerie langsung tersedak.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Damian menatapnya beberapa saat.

Kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Iya, tidak apa-apa.”

Valerie memejamkan mata rapat-rapat, ia berharap bisa lenyap saat itu juga.

Damian merapikan kembali jasnya.

“Kamu membuatku tersanjung.”

Valerie menatapnya bingung.

“Tersanjung?”

Damian mengangguk pelan.

“Seleramu cukup bagus.”

“Hazel yang kamu sebut ternyata mirip denganku, tampan, tinggi, dan berotot.”

Valerie membelalakkan matanya.

Damian melanjutkan dengan nada tenang.

“Secara tidak langsung, kamu mengakui ketampanan ku.”

Dia membuatku mual berkali-kali.

Ucapa Valerie dalam hatinya, dengan tatapan kesal.

Sementara Damian hanya tersenyum tipis, senyum kecil yang jarang sekali ia tunjukkan. Mereka melangkah menuju area parkir mansion. Damian berjalan lebih dulu, sementara Valerie mengikuti dari belakang sambil sesekali merapikan gaun violet yang dikenakannya.

Setelah tiba di samping mobil, Damian membukakan pintu untuk Valerie.

“Terima kasih,” ucap Valerie pelan.

Damian hanya mengangguk singkat sebelum berjalan menuju sisi pengemudi. Tak lama kemudian, mobil melaju meninggalkan mansion menuju lokasi resepsi. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa tenang.

Valerie beberapa kali menatap Damian diam-diam. Entah mengapa, sejak kejadian sore tadi, bayangan tentang Hazel dan Damian terus bercampur di dalam pikirannya. Namun ia segera menggeleng pelan, mengusir pikirannya yang aneh.

Sesampainya di lokasi acara, seorang pelayan segera membuka pintu mobil. Valerie mengenakan topeng elegan berwarna violet yang senada dengan gaunnya. Topeng itu dihiasi ornamen perak kecil yang membuat penampilannya tampak semakin anggun dan misterius.

Valerie baru saja hendak turun ketika sebuah tangan terulur ke arahnya.

Damian.

Pria itu berdiri tegap dengan topeng hitam yang kembali menutupi sebagian wajahnya.

Tatapannya tenang.

Valerie sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya meletakkan tangannya di atas telapak tangan Damian Ia mulai menyadari kalau postur tubuh Damian dan Hazel benar-benar sama. Jemari Damian menggenggamnya dengan sopan.

Valerie tersenyum.

“Terima kasih.”

Keduanya kemudian berjalan berdampingan memasuki gedung resepsi. Begitu mereka masuk ke dalam aula, perhatian para tamu langsung tertuju pada pasangan itu.

Bisik-bisik pelan mulai terdengar.

“Itu Damian Robert?”

“Akhirnya dia mau menikah.”

“Istrinya masih muda dan katanya sangat cantik.”

“Ini pertama kali aku melihatnya.”

Valerie sedikit gugup menghadapi begitu banyak tatapan. Namun Damian tetap berjalan dengan tenang, seolah sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.

Tak lama kemudian, kedua orang tua pengantin menyambut kedatangan mereka dengan hangat.

“Damian, akhirnya kamu datang.”

Pria itu tersenyum sopan.

“Selamat atas pernikahan putra kalian.”

“Terima kasih.”

Tatapan mereka kemudian beralih kepada Valerie.

“Ini istriku, Valerie Robert.”

Valerie tersenyum ramah.

“Senang bertemu dengan Anda.”

“Kami juga senang bertemu denganmu.”

Salah satu dari mereka tersenyum.

“Kami tidak melihat kalian saat pemberkatan putra kami.”

Damian menjawab dengan tenang.

“Maaf, saat itu Valerie sedang dalam masa pemulihan setelah sakit.”

“Aku memilih untuk menunda aktivitas kami.”

Mendengar itu, Valerie sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Damian akan menjelaskan dengan nada yang begitu perhatian.

Namun ia hanya tersenyum kecil.

Setelah berbincang beberapa saat, Damian mengajak Valerie menuju meja yang telah disediakan. Tak lama kemudian, dua orang datang menghampiri mereka. Seorang pria tampan dengan aura hangat dan senyum ramah, ditemani seorang wanita cantik yang elegan.

Damian berdiri.

“Kak.”

Pria itu tertawa kecil.

“Kami akhirnya bertemu juga dengan pengantin baru keluarga Robert.”

Damian memperkenalkan mereka.

“Valerie, ini kakakku, Harrison Robert."

“Dan istrinya, Jennifer Robert.”

Valerie tersenyum sopan.

“Senang bertemu dengan kalian Kakak Ipar.”

Jennifer langsung menggenggam tangan Valerie hangat.

“Kami sudah sering mendengar tentangmu.”

“Akhirnya, aku memiliki Adik Ipar secantik dirimu.”

Valerie tersipu malu.

“Terima kasih.”

Jennifer tersenyum lembut.

“Mulai sekarang kita keluarga.”

Valerie mengangguk pelan.

Akhirnya, ia merasakan sedikit kehangatan dalam keluarga barunya.

Saat pesta berlangsung meriah, tiba-tiba seorang wanita cantik bergaun merah anggur berjalan mendekati Damian dengan senyum cerah di wajahnya.

Begitu sampai di hadapan Damian, wanita itu langsung memeluknya dengan akrab. Damian juga tersenyum kepada wanita itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!