Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Kejailan Arjuna
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, dan Laila sudah bersiap bergegas menuju tempat parkir. Ia harus segera pulang, berganti pakaian, dan bersiap untuk bekerja di Kafe 28 nanti malam. Namun begitu sampai di depan motor maticnya, matanya terbelalak kaget...kedua ban kendaraannya kempes semua, bahkan terlihat bekas tusukan kecil yang jelas-jelas disengaja.
Laila menghela napas panjang sambil menahan emosi. Mau tidak mau, ia harus mendorong motor itu seberat apa pun sampai menemukan bengkel terdekat. Jalanan masih ramai siswa yang pulang, dan ia berjalan perlahan sambil mengerahkan tenaga sekuat tenaga.
Belum sampai sejauh dua ratus meter, suara menderu motor sport mendekat dari belakang. Arjuna melaju perlahan, menyamakan kecepatan dengan langkah Laila, lalu melirik sambil tersenyum tengil.
“Wah, motornya kenapa Neng? Mogok atau lagi diet angin nih?” godanya santai.
Laila hanya membalas dengusan kasar tanpa menoleh sedikit pun. Sudah bisa ditebak siapa pelakunya...siapa lagi kalau bukan Arjuna Baskoro, tidak ada orang lain yang punya alasan dan keberanian mengganggunya sampai sejauh ini.
Ia terus mendorong meski keringat mulai membasahi dahi dan punggungnya. Rasanya sangat berat, roda yang kempes membuat motor terasa dua kali lipat lebih berat dari biasanya.
Tiba-tiba Arjuna memutar arah dan memotong jalan tepat di depan Laila, menghalangi langkah gadis itu. Kesabaran Laila yang sudah menipis sejak tadi akhirnya habis. Ia berhenti mendorong, menatap tajam ke arah Arjuna yang hanya duduk santai di atas motor sambil bersedekap dada.
“Mau lo apa sih?! Kenapa selalu cari gara-gara sama gue?!” bentak Laila kesal. “Ini pasti ulah lo kan? Siapa lagi kalau bukan lo yang kerjaannya gangguin gue terus!”
Arjuna hanya diam, matanya menyipit menikmati ekspresi wajah Laila yang memerah menahan marah. Inilah yang ditunggunya melihat gadis itu marah dan mengomel padanya. Aneh rasanya, biasanya kalau mantan-mantannya marah, Arjuna akan menjawab dengan kata-kata pedas dan menjauh, tapi melihat Laila marah justru membuat hatinya terasa gemas dan ingin terus melihatnya.
Laila makin kesal melihat Arjuna yang hanya memandang tanpa bicara. Ia langsung menstandarkan motornya, lalu melangkah mendekat. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat sepatunya dan menginjak kaki Arjuna sekuat tenaga.
“AARGGHH!!”
Arjuna berteriak kesakitan sambil langsung memegangi kakinya yang terinjak. “Apaan sih?! main injek injek aja!”
“Siapa suruh lo yang kempesin ban motor gue!” sergah Laila sambil bertolak pinggang.
Arjuna segera turun dari motornya, berdiri tegak di hadapan Laila yang tingginya hanya sampai dada pemuda itu. “Dih main tuduh tuduh aja.”
“Emang bener kan lo yang ngelakuin? nggak usah pura-pura nggak tahu deh!” nyolot Laila tidak mau kalah.
Arjuna tersenyum kecil, lalu tangannya ikut bertolak pinggang seperti Laila dan kepalanya menunduk sedikit ke arah Laila yang memang tinggi gadis itu hanya sebatas dadanya “Lah, ya emang bener gue yang ngelakuin. Makanya sekarang naik ke motor gue, biar motor lo nanti dibawa ke bengkel sama anak buah gue.”
Laila tertegun linglung mendengar kalimat itu. “Hah?”
Belum sempat ia bertanya lagi, Arjuna bersiul keras. Dari balik pohon di pinggir jalan, muncul seorang pria bertubuh besar dengan tato memenuhi kedua lengannya. Penampilannya persis seperti preman jalanan, membuat Laila mundur selangkah kaget.
Namun sebelum ia bisa berteriak minta tolong, Arjuna dengan gerakan cepat mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkannya di jok belakang motornya seolah mengangkat karung beras.
“Bro, nitip motor cewek gue ya. Benerin sampai bener terus nanti langsung antarkan ke rumahnya,” titah Arjuna dengan nada tegas.
Pria bertato itu mengangguk mantap. “Siap, Bos! Aman terkendali!”
Arjuna segera menaiki motornya, memakai helm, lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Laila masih duduk membeku di belakang, otaknya masih mencerna kejadian yang berlangsung terlalu cepat. kemudian Laila baru tersadar apa yang terjadi, ia mulai berontak dan memukul punggung Arjuna.
“BERHENTI! GUE BILANG BERHENTI SEKARANG !” teriaknya sekuat tenaga agar didengar di tengah angin.
Namun bukannya berhenti, Arjuna malah menambah sedikit kecepatannya. Karena takut terjatuh, Laila secara refleks memeluk pinggang Arjuna erat-erat, wajahnya menempel di punggung bidang itu. Arjuna merasakan pelukan itu dan tersenyum puas sepanjang perjalanan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah taman luas yang asri, dikelilingi pohon rindang dan bunga-bunga yang bermekaran. Tempat itu sangat sepi dan tenang, jarang diketahui orang. Begitu motor berhenti, Laila segera turun sambil terus mengomel.
“Udah puas lo nyulik gue? Apasih tujuan lo bawa gue ke sini?”
Arjuna melepas helmnya, lalu menoleh sambil tersenyum santai. “Daripada lo terus ngomel di jalan, mending gue ajak lihat tempat indah ini. Lo pasti belum pernah ke sini, kan?”
Laila menoleh mengamati sekelilingnya. Benar saja, taman itu sangat indah, bersih, dan udaranya terasa segar sekali. Sekejap matanya terpesona, tapi ingatannya langsung melayang pada kewajibannya.
“Gue nggak peduli seindah apa pun tempat ini! Gue nggak punya waktu buat jalan-jalan. Gue harus kerja malam ini, cepat antar gue pulang sekarang! kalau lo ngga mau...gue bisa pulang sendiri” ucapnya tegas sambil berbalik ingin pergi.
Namun Arjuna lebih cepat menarik pergelangan tangannya dengan lembut tapi pasti. “Lo hari ini libur kerja.”
Laila mengerutkan kening, menarik tangannya dengan kuat. “Libur apa? Gue nggak pernah minta libur sama pemilik kafe! Lepasin tangan gue, gue harus pergi!”
Arjuna tidak melepaskannya, malah menariknya perlahan menuju bangku panjang di bawah pohon yang teduh. “Udah, tenang saja. Gue udah urus semuanya. Hari ini lo libur, nggak usah mikirin apa pun selain duduk dan temenin gue di sini.”
Laila tertegun, tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Ia menatap wajah Arjuna yang tampak serius, lalu menyadari bahwa entah bagaimana, pemuda itu selalu punya cara untuk mengatur segala sesuatunya sesuai keinginannya.