NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesuatu yang Tak Diinginkan

Dada Takahiro naik turun, napasnya memburu beradu dengan tetesan air yang mengalir dari ujung rambutnya. Pikirannya sekarang sepenuhnya kosong dari urusan game. Otaknya berputar keras, mencari celah pelarian dari amukan wanita paruh baya di hadapannya ini.

Melalui celah di balik tubuh ibunya, ekor matanya menangkap pendaran cahaya dari monitor yang belum mati. Niat licik sempat melintas di kepalanya. Sebuah taktik klasik menunjuk ke arah layar untuk mengalihkan perhatian sang ibu.

Namun, rahangnya kembali mengeras. Ia menelan ludah, mengurungkan niat. Kalau jurus itu gagal, omelan ibunya jelas akan bertambah panjang.

Melihat anaknya hanya diam terpaku dengan tatapan kosong, raut kesal sang ibu perlahan mengendur, tergantikan oleh helaan napas panjang.

"Tadi siang teman-teman kamu datang kemari, Ibu nggak tahu apa tujuan mereka, yang pasti... mereka ngasih ini ke Ibu."

Tangan berkeriput itu merogoh saku celemeknya, menarik keluar sebuah amplop cokelat kecil yang pinggirannya tampak sedikit kusam.

Di bagian depan kertas itu, tertera sebuah kalimat yang tertulis dengan tinta hitam pekat. 'Kehidupan yang bahagia akan datang untukmu, lalu berakhir dengan kematian tragis yang akan menjemputmu.'

"Ibu nggak ngerti apa makna arti dari tulisan ini. Bisa tolong kamu jelaskan, Takahiro?"

Kalimat bernada ancaman itu sukses menarik Takahiro sepenuhnya dari sisa-sisa kantuk. Matanya membelalak. Dengan gerakan refleks, ia menyingkap selimut yang sudah basah, melompat dari tepi kasur, dan langsung merebut amplop itu dari tangan ibunya.

"I-ini bukan apa-apa kok, Bu," jawabnya ragu. Tiba-tiba saja bingkisan itu sudah disembunyikan di balik punggungnya, disusul tawa sumbang yang dipaksakan. "Ini cuma tulisan biasa yang nggak ada artinya. Hehe."

Kerutan di dahi ibunya bertambah, jelas tak termakan oleh alasan murahan dari putranya. Baru saja wanita itu hendak membuka mulut untuk mencecar, Takahiro bergerak lebih cepat. Ia mencengkeram kedua pundak ibunya pelan, memutar tubuh wanita itu menghadap pintu keluar, dan mulai mendorongnya melangkah menjauh.

"Aku kan udah bilang, ini cuma tulisan biasa. Jadi Ibu nggak perlu khawatir."

"Tapi, Nak—"

Dorongan halus namun pasti itu berhasil membawa sang ibu keluar dari ambang pintu. Tanpa memberi jeda bernapas, daun pintu langsung mengayun tertutup.

"Bye, Bu."

Klik. Terdengar suara slot kunci yang diputar dari dalam.

Di luar, sang ibu hanya bisa mendengkus menatap permukaan pintu kayu yang kini membentenginya. Tiba-tiba, ingatannya kembali disengat oleh suara cekikikan dua gadis yang ia dengar dari balik pintu ini sebelumnya. Ia sama sekali belum sempat menanyakan kejanggalan itu! Bibirnya tergigit. Kalau rasa penasaran ini dibiarkan menggantung, ia pasti tak akan bisa tidur lelap.

Tapi, menggedor pintu sekarang pun percuma. Putranya itu bagai kerang tertutup rapat jika sudah menyangkut urusan pribadinya.

'Sebaiknya biar aku ungkap sendiri kebenarannya!' batinnya membulatkan tekad. Mengabaikan firasat aneh yang sedari tadi mengganggu perasaannya, ia akhirnya memutar tumit, melangkah gontai turun ke bawah untuk menyelesaikan dapur yang masih berantakan.

Di dalam kamar...

Suasana berubah drastis. Tak ada lagi tawa canggung atau langkah terburu-buru. Takahiro berdiri mematung. Tatapannya terkunci pada amplop cokelat di tangannya. Ia mengerti betul betapa gelapnya makna tulisan itu, namun kejanggalan di otaknya berputar lebih cepat.

'Kata Ibu ini dari temanku... tapi siapa?' gumamnya di dalam hati, memeras otak untuk mengingat deretan nama teman dunia nyata yang bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Tak satu pun dari mereka yang ia tahu punya selera humor segila ini.

'Ah... persetan dengan si pengirim! Lebih baik aku buka saja, apa isi dari amplop ini.'

Kamar kembali hening. Hanya irama detak jarum jam dinding dan dengungan kipas CPU komputer yang meramaikan kesunyian.

Jari Takahiro baru saja menyentuh lipatan penutup amplop, menarik pelekatnya dengan hati-hati. Tiba-tiba, suara mekanis wanita terdengar nyaring dari speaker komputer di belakangnya.

'Selamat datang kembali di dunia Terrovia, maaf atas ketidaknyamanan yang Anda alami. Server sudah kami perbaiki. Silakan—'

Takahiro menoleh ke arah meja. Dari posisi ia berdiri, layar monitor itu terlihat jelas. Teks notifikasi sistem bergerak liar, patah-patah dengan warna yang saling bertabrakan—glitch yang sama persis seperti yang menampakkan wujud saat ia masih terlelap tadi.

'Game aneh! Kenapa tiba-tiba glitch nggak jelas?' rutuknya dalam batin.

Merasa layar monitornya hanya sedang rusak atau server-nya kumat, ia mengedikkan bahu. Masa bodoh dengan Terrovia. Ia kembali menunduk, mengalihkan fokus pada amplop cokelat di tangan, bersiap membuka isinya.

Namun, bencana itu tak mengetuk pintu.

Tanpa peringatan, layar monitor meledakkan pendaran cahaya putih pekat. Tak ada suara gemuruh, tak ada ledakan. Hanya sebuah pusaran cahaya tanpa suara yang seketika memutar dan membesar. Gravitasi ruangan seolah ditarik paksa.

"Ugh—!" Takahiro tak sempat menghindar saat pusaran itu tiba-tiba menyedot tubuhnya layaknya penyedot debu raksasa.

Dengan panik, ia melempar amplop itu entah ke mana dan menyambar tepian meja komputer. Jari-jarinya mencengkeram erat ujung kayu, hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha keras melawan tarikan anomali tersebut.

Namun, kekuatan pusaran itu terlalu buas. Angin yang tercipta meluluhlantakkan seisi kamar. Poster di dinding robek, bantal kasur, kursi, dan tumpukan buku beterbangan melesat ke dalam cahaya putih itu, tertelan tak bersisa.

Otot-otot lengan Takahiro mulai gemetar hebat. Keringat dingin bercampur sisa air basahan di wajahnya menetes. Cengkeramannya berangsur melemah akibat kehabisan tenaga. Satu per satu jarinya yang kebas terlepas dari meja.

Dan tepat saat pertahanannya runtuh, tubuh pemuda itu terlempar bebas, terhisap langsung ke inti pusaran.

Wush... blip!

Seketika pusaran portal itu menyusut tajam ke dalam monitor dan menutup dengan sendirinya. Layar kembali normal menyisakan menu utama permainan. Namun kamarnya tak lagi sama, berantakan bagai kapal pecah yang baru saja dijarah habis-habisan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!