NovelToon NovelToon
Ustadz Farhan, Kapan Mau Nikahin Aku?

Ustadz Farhan, Kapan Mau Nikahin Aku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Cintapertama / Mengubah Takdir / Berbaikan
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Razi Maulidi

Kisah seorang gadis yang cuek akan belajar agama kini berubah drastis di karenakan seorang ustadz mulai masuk ke pesantren itu.. kira kira ada apa ya?? Kenapa bisa berubah begitu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razi Maulidi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Mencoba Membangun Harapan

Bab 11. Mencoba Membangun Harapan

Farhan berdiri terpaku, udara seolah tersedot keluar dari paru-parunya. Mendengar suara Bibi Ipar paman Tina, seorang wanita yang selalu ia hindari dalam percakapan keluarga langsung dari corong telepon, rasanya seperti menghadapi ujian akhir yang tidak terduga dan sangat pribadi.

Paman Tina, yang baru saja menutup telepon, menatap Farhan dengan ekspresi campuran antara kemenangan tipis dan kehati-hatian seorang penguji.

"Itu bibi Rina, istri dari sepupu Bapaknya. Dia yang paling vokal menentangmu, Farhan. Dia yang selama ini menjagakan keponakannya," ujar paman Tina, suaranya datar. "Dia menginginkan konfrontasi sekarang, di wilayah yang dia anggap netral di seberang rumah ini, di rumahnya sendiri."

Ustadz Farhan merasakan adrenalin membakar pembuluh darahnya. Ia baru saja membuktikan integritasnya secara finansial di hadapan paman Tina, dan sekarang ia harus menghadapi oposisi paling keras dari keluarga besar, sendirian.

Ini bukan lagi soal lamaran, ini soal membuktikan bahwa aku layak melawan opini publik, pikir Farhan.

"Dia bilang dia sudah menyiapkan kamar kosong di seberang rumah?" tanya Farhan, mencoba memahami implikasi sarkasme itu.

"Ya. Dia ingin melihat proposalmu, Farhan. Dia ingin melihat apakah seorang mantan Ustadz bisa menjadi tulang punggung tanpa keagungan jabatan. Dia ingin memancing reaksimu saat harga dirimu dipertanyakan secara langsung." Paman Tina bersandar, matanya mengamati setiap detail reaksi Farhan. "Aku tidak memaksamu, Nak. Jika kau pergi sekarang, aku masih akan menghormati proses tiga bulan itu, dan kita akan bicara lagi nanti."

Ustadz Farhan menarik napas dalam-dalam, mengingat wajah Tina di asrama, wajah yang kini berada di bawah tekanan sosial yang luar biasa karena dirinya. Ia tidak bisa lagi mundur atau meminta waktu. Waktu adalah kemewahan yang sudah ia habiskan saat ia memilih untuk meninggalkan pondok.

"Saya akan pergi sekarang, Pak," kata Farhan, mengambil map proposalnya yang tebal. Ia merapikan kemeja batiknya. "Jika saya tidak menghadapi ujian ini sekarang, bagaimana saya bisa menjamin Tina akan aman dari intrik keluarga di masa depan?"

Paman Tina mengangguk puas, kali ini tanpa keraguan sedikit pun. "Pergi, Nak. Tunjukkan padanya bahwa pengorbananmu itu bukan pengorbanan sia-sia. Jika kau berhasil meyakinkannya, maka restu keluargaku akan mengikuti."

*

Lima belas menit kemudian, Farhan berdiri di depan gerbang besi sebuah rumah megah yang terletak persis di seberang jalan dari kediaman orang tua Tina. Rumah itu tampak lebih modern dan mencolok. Ini adalah rumah Bibi Ipar Bapak Tina.

Farhan menggenggam map proposal itu erat-erat. Jantungnya berdetak cepat, namun kini ia mengendalikan iramanya dengan teknik pernapasan yang ia pelajari saat masa-masa sulit di pondok. Ia bukan lagi seorang Ustadz yang didukung otoritas; ia hanyalah seorang pemuda yang sedang mengajukan diri untuk sebuah posisi paling penting: suami dari wanita yang dicintainya.

Ia menekan bel pintu. Tak lama, pintu terbuka. Wanita yang menyambutnya, bibi Rina, adalah sosok yang flamboyan, mengenakan daster sutra mahal dan kalung emas mencolok. Matanya memancarkan tatapan menghakimi yang ia harapkan.

"Nah, ini dia mantan Ustadz Farhan," sapa bibi Rina, suaranya nyaring dan penuh ejekan yang tertahan. Ia tidak mengundangnya masuk, ia hanya berdiri di ambang pintu, menahan Farhan di teras. "Silakan masuk ke ruang tamu. Aku sudah siapkan kursi kosong di sebelah sofa. Itu kursi untuk masa depan Tina, yang seharusnya ditempati keponakanku yang punya koneksi ke pelabuhan ikan."

Farhan memasuki rumah itu. Ruangan itu terasa panas, dipenuhi aroma parfum menyengat. Di sofa, duduklah keponakan saudagar yang dimaksud, seorang pemuda yang lebih muda dari Farhan, tampak santai dan percaya diri, memegang ponsel terbaru.

"Selamat sore, Tante, Mas..." Farhan memberi salam formal.

"Panggil saja aku Rina," potongnya. "Dan jangan 'Mas' kepada si bocah ini. Dia bahkan bukan Ustadz lagi. Duduk."

Farhan duduk di kursi tunggal yang dimaksud, terpisah dari sofa utama. Ia meletakkan map cokelatnya di pangkuan. Di seberang sofa, paman Tina, yang diam-diam mengawasi dari jendela rumahnya, tampak tegang.

"Kau sudah dengar, Farhan? Bapakmu sudah melakukan investigasi," Rina memulai, menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Kami tahu kau pria yang baik. Tapi baik saja tidak membuatmu bisa memberi makan Tina. Di mana jaminanmu? Tiga bulan? Kau pikir tiga bulan cukup untuk membangun karier dari nol setelah kau dicabut lisensimu?"

"Saya tidak dicabut lisensinya, Tante. Saya mengundurkan diri terhormat," koreksi Farhan, suaranya tenang.

"Sama saja!" Rina tertawa kecil. "Kau tidak laku di tempatmu, maka kau melarikan diri ke sini dengan harapan paman Tina kasihan. Tunjukkan pada saya, Farhan. Tunjukkan rencana digital bodohmu itu. Saya ingin melihat angka, bukan mimpi basah!"

Ustadz Farhan membuka map itu. Ini adalah saatnya. Ia menarik napas, memvisualisasikan Tina yang memegang kain bersulam darah, dan ia tahu ia harus menang untuk Tina.

Ia mulai menjelaskan proyek dakwah digitalnya, menyoroti potensi monetisasi konten edukatif yang ia kembangkan selama masa cuti administrasi. Ia menjelaskan bagaimana Lembaga Kajian X yang menawarinya pekerjaan paruh waktu itu adalah jembatan untuk mendapatkan koneksi dakwah yang lebih luas, bukan sekadar pekerjaan recehan.

"Saat ini, proyek digital ini menghasilkan pendapatan bersih lima juta per bulan, Tante. Itu baru awal. Target enam bulan ke depan adalah dua puluh juta, karena saya akan meluncurkan kursus daring premium. Dan ini, kontrak kerja paruh waktu saya di Lembaga Kajian X, terlampir dengan rincian tunjangan dan potensi kenaikan setelah enam bulan menjadi staf tetap."

Farhan menunjuk ke bagian yang merinci biaya hidup sederhana yang ia anggarkan untuk mereka. Ia berbicara tentang masa depan dengan logika, bukan hanya dengan janji agama.

Keponakan saudagar itu, yang sedari tadi sibuk bermain game, sesekali melirik Farhan dengan pandangan meremehkan, tetapi ia tidak menyela.

Rina, sang Bibi Ipar, meneliti setiap lembar dokumen. Matanya menyipit, mencari celah. Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti ruangan, hanya dipecah oleh suara gesekan kertas.

"Lima juta? Itu bahkan belum cukup untuk biaya sewa apartemen yang layak di kota ini, Farhan!" Rina meletakkan dokumen itu di meja kopi, wajahnya kembali menyala. "Kau pikir Tina pantas hidup seperti pengemis di kota karena kau ingin mempertahankan martabat sebagai pemuda yang pernah jadi ustadz?"

"Tina pantas mendapatkan kebahagiaan dan suami yang jujur, Tante," balas Farhan, kini berdiri. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Rina langsung. "Dan saya tidak sedang meminta Tante membiayai hidup kami. Saya meminta Tante menghargai pilihan Tina dan pamannya."

"Menghargai? Kalau kau serius, kau tidak akan membuat pamannya harus memohon di hadapan kerabatnya sendiri! Pria sejati akan datang dengan kepastian!" Rina menunjuk ke arah keponakannya yang diam. "Lihat dia! Dia sudah punya warisan dan stabilitas!"

Tiba-tiba, Paman Tina muncul di pintu ruang tamu, suaranya menggema, mengakhiri perdebatan yang memanas itu.

"Cukup, Rina." Paman Tina melangkah masuk, ekspresinya lelah namun tegas. Ia berjalan lurus menuju meja kopi, mengambil map proposal Farhan.

Ia membolak-balik dokumen itu sejenak, lalu menatap Farhan dengan mata yang kini penuh apresiasi bercampur dengan keraguan terakhir.

"Farhan," kata Paman Tina, nadanya berbeda tidak lagi menuntut, namun meminta. "Proposal ini bagus. Sangat terstruktur. Tapi kau tahu, ini dunia nyata. Aku butuh konfirmasi yang lebih kuat dari mulut orang yang pernah menjadi rekanmu, bukan dari rekan yang hanya membaca proposalmu."

Paman Tina mengambil ponselnya yang ada di saku. Farhan menahan napas. Ini bukan lagi tentang Bibi Ipar. Ini adalah permintaan pamannya sendiri.

"Aku akan menghubungi kolega lamamu di luar daerah. Mereka yang tahu reputasimu sebelum masalah di Pondok itu muncul. Ini adalah verifikasi terakhirku. Tunggu kabar dariku."

Rina mendengus kesal, "Bapakmu selalu saja begitu! Selalu memberi harapan palsu!"

Paman Tina mengabaikan saudara iparnya. Ia menatap Farhan. "Tiga hari. Aku akan meneleponmu dalam tiga hari. Jika konfirmasi itu positif, kita akan bicara pernikahan dengan santai. Jika tidak..." Paman Tina tidak melanjutkan ancamannya.

Ustadz Farhan mengangguk, menerima nasib untuk menjalani tiga hari penyiksaan tanpa kabar. Ia membungkuk hormat pada Rina, yang hanya melambaikan tangan dengan jijik. Saat ia berbalik menuju pintu, paman Tina menahan lengannya lagi.

"Tunggu sebentar, Farhan," ulang paman Tina, suaranya kini lebih rendah, penuh rahasia. "Aku butuh waktu tiga hari untuk menelepon kolega-kolega itu. Tapi aku juga perlu memastikan Tina tidak bertindak gegabah selama masa penantian ini."

Paman Tina menghela napas. "Saat aku meneleponmu nanti, aku tidak akan menanyakan kabar Tina. Aku akan menanyakan mengenai rencana pribadimu dalam tiga bulan ke depan. Setelah itu, aku akan mengizinkanmu bertemu dengannya sebentar, di sini, di ruang tamu ini. Ini akan menjadi pertemuan pertama kalian sejak kau mengundurkan diri. Anggap itu hadiah atas keberanianmu hari ini."

Jantung Farhan melonjak. Bertemu Tina. Setelah semua badai ini, pertemuan singkat yang sah. Itu adalah janji yang lebih berharga daripada emas.

Ia meninggalkan rumah itu dengan energi baru, meski tekanan tiga hari penantian itu terasa menggerogot. Begitu ia berjalan keluar, ia melihat ke seberang jalan, ke arah Pondok, berharap Tina merasakan getaran yang sama.

*

Di asrama, Tina baru saja selesai makan malam, menikmati keheningan relatifnya. Ustadzah Senior masuk ke kamarnya dengan ekspresi serius.

"Tina, Pamanmu sudah menghubungi. Dia melakukan verifikasi akhir."

Tina berdiri tegak, siap menerima hukuman atau karunia.

"Verifikasinya positif, Nak. Pamanmu tampaknya sudah mulai condong ke arah penerimaan. Tapi ada satu syarat lagi."

"Apa itu, Ustadzah?"

"Bapakmu meminta Farhan untuk datang lagi, tetapi bukan di sini. Di rumahnya. Dan dia meminta Farhan datang dengan proposal yang lebih konkret, karena dia harus menangkis serangan dari keluarga besar." Ustadzah Senior tampak lega. "Ini berita baik, Tina. Bapakmu mulai melihat Farhan sebagai pasangan hidup, bukan lagi sebagai masalah institusional."

"Lalu kapan paman akan memberitahu ustadz Farhan?" tanya Tina, air mata kelegaan mulai membasahi pelupuk matanya.

Ustadzah Senior tersenyum lembut, matanya kini menunjukkan simpati yang mendalam. "Pernahkah aku memberitahumu, Nak, betapa sulitnya Farhan saat ia melepaskan jabatannya?"

Tina menggeleng, matanya menatap Ustadzah Senior penuh harap.

"Ia tidak hanya kehilangan gelar. Ia kehilangan tempat bernaung. Ia datang ke kota, tidak punya siapa-siapa. Pamamu telah berhasil membuatnya sadar bahwa ia harus berdiri sendiri secara finansial dalam tiga bulan." Ustadzah Senior mendekat, menghela napas. "Aku tahu ini berat bagimu. Tapi demi pernikahan kalian, aku hanya ingin kau siap menerima tantangan berikutnya."

"Ustadzah, saya siap menghadapi apa pun," ujar Tina, suaranya mantap.

"Bagus. Karena setelah pertemuan di rumah Bapakmu nanti, Farhan akan mendapat misi baru: membuktikan diri dalam tiga bulan. Dan setelah itu, Tina, saat kau lulus, kau akan bertemu Farhan pertama kalinya setelah semua ini."

Ustadzah Senior menatap Tina dengan pandangan yang mengikat janji. "Dan setelah semua keraguan sirna, setelah semua hambatan terlampaui, dan setelah tiga bulan itu berlalu, Farhan dan kau akan diizinkan bertemu sebentar di ruang tamu. Pertemuan pertama kalian setelah semua pengorbanan ini."

Jantung Tina serasa melompat tinggi. Pertemuan itu. Momen yang membenarkan semua keheningan dan kesendiriannya. Ia bisa membayangkan betapa lega dan bahagianya Farhan saat melihatnya.

"Kapan pertemuan itu, Ustadzah?" bisik Tina, hampir tidak berani bernapas.

Ustadzah Senior menatap jam dinding kuningan tua di ruangan itu, yang berdetak sangat lambat. "Beberapa jam setelah Bapakmu memberikannya waktu untuk bersiap. Pertemuan itu akan segera terjadi setelah Bapakmu meneleponnya besok pagi."

Tina memejamkan mata, membayangkan senyum Farhan saat mereka akhirnya bertemu tanpa tembok, tanpa pengawasan, hanya berdua. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan rasa bahagia itu agar tidak meledak menjadi kegembiraan yang tidak pantas di lingkungan pondok.

Namun, Ustadzah Senior melanjutkan kalimatnya dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mendesak, seperti bel alarm yang berbunyi nyaring.

"Tapi Tina, ada yang harus kau ketahui sebelum kita menuju ke sana. Bapakmu meneleponku hari ini, dan ia sangat yakin. Ia akan memberikannya restu bersyarat. Tetapi saat ia menutup teleponnya, ia tidak mengucapkan selamat tinggal padaku. Ia berbisik, 'Saya akan mengizinkan mereka bertemu di ruang tamu, tapi aku juga ingin mereka tahu satu hal sebelum mereka bertemu secara resmi. Aku akan memastikan keponakan Rina itu tahu, bahwa Farhan telah menerima tiga bulan waktu untuk mencari pekerjaan. Aku ingin dia melihat Farhan bekerja keras demi putriku.' "

Ustadzah Senior berhenti sejenak, menatap Tina yang kini pucat pasi.

"Dan untuk memastikan keponakan Rina itu mengerti, Bapakmu memintaku untuk melakukan satu hal lagi besok pagi sebelum Farhan menelepon. Aku harus pergi ke rumah Rina, dan secara langsung menunjukkan kepadanya semua dokumen rencana kerja Farhan yang ia tunjukkan di sana. Bapakmu ingin Bibi Ipar itu melihat rencana Farhan dalam tiga bulan ke depan, secara rinci, agar dia tahu bahwa Farhan sungguh-sungguh bersaing dengannya."

Tina terperangah. Bukan hanya Pamannya yang menguji Farhan, kini seluruh keluarga besar melalui Bibi Ipar bapaknya akan secara resmi mengawasi setiap langkah Farhan selama tiga bulan masa percobaan itu.

"Jadi, saat ustadz Farhan dan saya bertemu nanti, ia bukan hanya lega karena restu didapat, ia akan berada di bawah pengawasan publik keluarga terberatnya?"

Ustadzah Senior mengangguk, tatapannya menembus jiwa Tina. "Ya, Nak. Ia baru saja memenangkan pertempuran institusi. Sekarang ia harus memenangkan perang duniawi. Dan kau, Tina, adalah hadiah terbesarnya. Tapi ingat, jangan biarkan sedikit pun kegoyahanmu menambah beban pengawasan itu padanya."

Tina menatap tangannya yang gemetar, memikirkan pertemuan singkat yang dihiasi janji tiga bulan pengawasan ekstrem. Ia ingin menangis karena bahagia telah mendapatkan restu prinsip, namun ia juga merasa tercekik oleh rantai baru yang terbuat dari ekspektasi keluarga.

1
Oppo A1k
ustadz baru ya
Oppo A1k
seru nih
Oppo A1k
aku dukung deh cerita ini seru. bikin kita ketagihan baca. semangat terus untuk author....
Muda Wally Permata
ahhh cerita yang bagus
Muda Wally Permata
haduh Thor jariku tidak bisa berhenti untuk terus baca...😄
Muda Wally Permata
lanjut lagi yuk Thor
Muda Wally Permata
semakin kesini semakin bagus ceritanya.
Muda Wally Permata
lanjut Thor 🤣
Muda Wally Permata
lanjut Thor 🤭
Muda Wally Permata
nex lanjut Thor
Muda Wally Permata
Nex lanjut nulis lagi Thor
Muda Wally Permata
semangat thor
Muda Wally Permata
babnya kebalik ya Thor 😄🤭
Muda Wally Permata
kok langsung bab 22 Thor
Muda Wally Permata
memang cari gara gara ya bibi Rina itu
Muda Wally Permata
pada akhirnya paman setuju. tapi kenapa si Rina itu tidak setuju
Muda Wally Permata
kok ga kelar2 sih .🤭😄
Muda Wally Permata
semangat lah untukmu Tina
Muda Wally Permata
cobaan mu banyak banget Tina..🤭👍
Muda Wally Permata
yuk ahh lanjut baca lagi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!