Intan adalah gadis yang lugu dan baik hati, dia selalu membantu ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Intan bersama ibunya hanya orang biasa yang tidak memiliki keluarga dan beruntung mereka bertemu dengan bu Ratna yang membawa mereka kerumah nya dan bekerja di sana.
Ratna yang berusia 18 tahun itu nampak cekatan membantu ibunya. Sikap sopan dan paruhnya membantu Ratna dan suami Agung begitu menyukai Intan, 5 tahun sudah berlalu kini intan sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
Di mana kisah yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, kisah pencinta dan tanpa restu akan terlibat dalam kehidupan nya.
Saat pertemuan nya dengan anak tunggal keluarga Wicana yang sudah menampung nya dan ibunya selamat bertahun-tahun lama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lembayung Senjaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamitan
Hari ini Intan berencana untuk pamit pada keluarga Cendana. Dia sudah memutuskan untuk pergi dan memulai lembaran baru kehidupan nya, dia tidak bisa terus bergantung pada keluarga itu.
Setelah menyiapkan semua sarapan bersama dengan pelayan baru di rumah itu gadis itu juga membereskan beberapa barang barang nya dan ibunya yang tidak seberapa itu, Intan menatap sekeliling kamar rumah kecil itu mengingat bagaimana dia dan ibunya bangkit berdua.
" Ibu, Intan pamit yah Intan akan memulai hidup baru di luar sana tanpa ibu tanpa orang lain dan Intan akan berusaha untuk belajar hidup dengan sangat baik. " Gumam gadis itu membawa tas tas nya.
Ruang makan keluarga Cendana
" Kayaknya beda rasa nya, ini siapa yang masak?. " Celetuk Silla dan menatap pelayan yang masih berada di sana.
" Intan nona, pagi pagi dia sudah menyiapkan semua nya. " Gumam nya pelan.
" Intan, apa dia sudah bisa menerima semua nya pa?. " Ratna menatap suaminya yang juga menatapnya.
" Bagus dong bun, gadis itu memang harus move on dan memulai hidup nya lebih baik lagi. Terlalu terpuruk juga tidak baik untuk nya ada masa depan yang harus dia perjuangkan. " Silla tersenyum diam diam mungkin ucapannya kemarin bisa langsung di terima oleh gadis itu.
" Bagus lah jika dia bisa langsung memahami maksud ku, 1 teman baru akan menambah hidup ku lebih berwarna. " Batin Silla.
Intan diam menatap mereka yang nampak menyukai masakan nya. Senyuman sedih terukir di wajahnya yang masih sendu, sangat berat untuk nya melepas keluarga itu tapi dia sendiri sadar diri jika mereka hanya lah orang lain dan hanya akan merepotkan saja jika dia tetap berada di sana.
" Gak papa, kata dokter Silla suatu saat nanti aku juga akan memiliki keluarga dan keluarga ku akan jauh lebih banyak lagi. " Batin Intan.
Intan berjalan mendekati mereka dan langsung membuat mereka terkejut dengan kehadiran nya bersama dengan tas tas besar di tangannya, Intan tersenyum lebar melihat Ratna yang langsung menghampiri nya.
" Intan, kamu mau kemana dengan tas tas besar ini haaa?. " Ratna menjatuhkan tas tas itu dengan penuh tanda tanya.
" Tugas Intan sudah selesai nyonya, sekarang waktu nya Intan pamit pergi dan izinkan Intan untuk membuka lembaran baru memulai kehidupan Intan sendiri di luar sana. " Ratna menggenggam tangan Intan dengan lembut.
" Kamu mau pergi kemana, kehadiran kamu di sini sudah seperti keluarga bagi kami sayang. Lagian kamu akan sendiri di sana kalau.. "
" Tidak akan terjadi apapun kok pada Intan, Intan janji sesekali Intan akan ke sini mengunjungi kalian. Intan mohon Intan hanya ingin kehidupan Intan kembali nyonya, di sini terlalu banyak kenangan bersama ibu Intan benar-benar bisa gila jika seperti ini terus. " Gumam nya pelan membuat Ratna tidak bisa berkata yang lain.
" Dokter Silla benar, jika kita tidak berlajar menerima sebuah kesakitan makan seumur hidup kita akan merasakan nya. Nanti kita juga akan mendapatkan kembali keluarga itu dan mungkin akan jauh lebih utuh dari sebelum nya. " Intan menatap Silla yang diam.
" Aku baru saja bertemu dengan mu Intan dan kita berjanji akan menjadi teman, sekarang kamu malah mau pergi setelah mendengar ucapannya?. " Silla mendekati Intan.
" Tidak seperti itu dokter Silla.. "
" Siapa yang mengizinkan mu memanggilku dokter haaa, aku tidak mengizinkan nya. " Intan terkekeh dia sedih namun dia juga bahagia memiliki teman baru yang baik seperti Silla setelah mendapat teman terbaik seperti Mahendra.
" Aku harus pergi, hidup ku akan jauh lebih baik jika aku tidak berada dalam lingkup kesedihan ku. Di sini aku hanya akan terus mengingat ibu dan di tempat baru mungkin aku akan jauh lebih mudah melupakan nya sejenak. "
" Saya dan papa nya Mahendra sendiri gak bisa melarang mu Intan karena itu adalah pilihan mu nak, tapi percayalah jika kamu mau kemana datang lah kesini pintu rumah ini akan tetap terbuka lebar untuk kamu. " Ratna memeluk erat gadis itu.
" Terima kasih nyonya dan tuan Agung yang sudah menolong saya dan ibu 6 tahun lalu dan Terima kasih dokter Silla karena anda saya bisa maju lebih baik sekarang. " Gumam Intan berpamitan.
" Semoga kita bisa bertemu lagi Intan dengan versi terbaik dari kamu. "
" Emzzz, pasti Terima kasih dokter. "
" Intan... " Agung memanggil gadis itu pelan.
Intan mendekati Agung yang duduk di kursinya dengan mata yang berair.
" Kamu adalah anak kami sama seperti Mahendra kesedihan mu adalah kesedihan kamu juga, semoga dengan ini semua kamu akan benar-benar mendapatkan versi terbaik mu dan kamu akan menunggu itu. Terima ini, ini adalah tabungan khusus yang saya buat untuk kamu selama 6 tahun ini. " Intan nampak terkejut saat Agung memberikan sebuah kartu padanya.
" Intan sebenarnya kami ingin melanjutkan sekolah mu tapi karena kamu tidak mau jadi kami menabung sedikit demi sedikit untuk masa depan kamu, mungkin suatu saat nanti kamu butuh uang itu. Terima lah anggap itu bonus dari kerja keras mu di rumah ini. " Timpal Ratna membuat Intan tak percaya jika memang begitu memikirkan dirinya dan masa depan nya.
" Terima kasih banyak tuan dan nyonya, Intan berhutang banyak pada kalian semoga suatu saat nanti Intan bisa membalas kalian. "
" Amin. " Ucap mereka bersama.
" Intan tidak menuggu kepulangan Mahendra dulu?. " Ucap Ratna menghampiri gadis itu.
" Tidak usah nyonya, taksi yang Intan pesan sudah menunggu lama di gerbang depan. Kak Mahen juga pasti masih sibuk dan lelah Intan tidak menganggu nya, Intan pamit pada kalian semua Terima kasih. " Mereka berpeluk sebelum Intan benar-benar pergi dari rumah itu.
Rumah itu seketika hening tanpa suara
" Hemz, papa berangkat ke kantor dulu bun. Silla om pergi dulu yah nanti kalau kamu mau jalan jalan ajak saja Mahendra seperti hari ini tidak ada kerjaan di kantor nya. " Ucap Agung sebelum pergi.
" Hati hati pa. " Agung mencium kening Ratna kemudian pergi berlalu. Silla hanya tersenyum melihat hubungan mesra kedua orang yang ada di depan nya itu yang sama sekali tidak berubah.
" Tante dan om memang yang terbaik, selalu menjadi contoh yang pas untuk anak anaknya ". Gumam Silla membuat Ratna tersenyum.
Drdrdr
Ponsel Ratna berdering terlihat seseorang menghubungi nya.
" Hallo pak Marco, iya ada apa?.
. ...
" Apartemen?. "
....
" Di mana, untuk apa anak itu membeli sebuah Apartemen baru?. "
....
" Baik, Terima kasih pak Marco. " Ratna memicingkan alis nya.
" Ada apa tante?. "
" Mahendra beli Apartemen di puncak, untuk apa dan siapa yang dia belikan. Anak itu memang kadang kadang apa dia mau menetap di puncak tapi jauh sekali dari kantor?. "
" Mungkin untuk sesekali liburan aja tan, lagian puncak juga bagus untuk punya Apartemen di sana. " Seru Silla.
" Entah lah, sampai sekarang anak itu juga belum pulang. Kemana dia sebenernya memang dasar tidak berubah sukanya menghilang entah kemana. " Silla hanya tertawa pelan melihat Ratna.