Ryden Vale, seorang remaja biasa yang tewas tertabrak truk, terbangun kembali di dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita — dunia One Piece. Ia mendapati dirinya menghuni tubuh baru: rambut putih, mata merah darah, dan jubah putih berlambang bulan sabit terbalik yang kelak menjadi ciri khasnya. Di sebuah pulau terpencil di East Blue, ia menemukan Rift Rift no Mi, Buah Iblis misterius yang memberinya kekuatan untuk merobek, melipat, dan berpindah lewat ruang itu sendiri — sekaligus sebuah Sistem Login Harian yang diam-diam menempanya menjadi lebih kuat, hari demi hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Ryden mengambil jarak, melompat mundur beberapa meter menggunakan sisa staminanya untuk Teleportasi terakhir. Groth mengejar dengan geram, kapaknya terangkat tinggi bersiap memberikan pukulan mematikan.
"Lari kemana pun kau, hasilnya akan sama!" teriak Groth, melesat maju dengan kecepatan penuh.
Namun Ryden tidak bermaksud lari. Ia berdiri tegak, kedua tangannya terentang, memusatkan seluruh konsentrasi yang tersisa. Udara di sekeliling kaki Groth mulai bergetar hebat, retakan-retakan kecil muncul membentuk pola melingkar di tanah geladak kapal—kali ini bukan untuk menyerang, melainkan untuk meremukkan ruang di sekitar targetnya.
"Remukan Ruang!" seru Ryden, mengerahkan seluruh sisa tenaganya.
Ruang di sekitar kaki Groth tiba-tiba melipat dan mengerut seperti kertas yang diremas kasar oleh tangan tak kasat mata. Groth berteriak kesakitan saat tekanan dahsyat itu mencengkeram tubuh bagian bawahnya, membuat pergerakannya seketika terhenti total, terjebak dalam ruang yang menyempit secara paksa.
"A-apa ini?! Aku tidak bisa bergerak!" Groth meronta panik, wajahnya memerah menahan tekanan luar biasa yang mencengkeram tubuhnya.
Ini adalah kesempatan yang telah Ryden tunggu. Dengan sisa tenaga yang ada, ia melesat maju, mengumpulkan energi terakhir pada kepalan tangan kanannya yang kini diselimuti retakan-retakan kecil berkilau tajam seperti pecahan kaca hidup.
"Ini belum selesai!" Ryden melompat, kepalan tangannya menghantam telak dada Groth yang masih terjebak, disertai ledakan kecil dari retakan yang pecah pada titik tumbukan. Groth terpental jauh ke belakang, menabrak tiang layar kapal besarnya sendiri hingga roboh berderak keras, sebelum akhirnya ambruk tak sadarkan diri di geladak.
Keheningan menyelimuti kabut selama beberapa detik, hanya terdengar suara napas Ryden yang memburu keras, tubuhnya limbung menahan kelelahan luar biasa dari penggunaan dua kekuatan besar secara berurutan.
Para anak buah Groth yang menyaksikan kekalahan telak kapten mereka langsung panik, buru-buru menarik mundur kapal-kapal kecil mereka, menghilang tergesa-gesa ke dalam kabut tanpa berani melancarkan serangan balasan.
Ryden jatuh terduduk di geladak, dadanya naik turun cepat, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Sebuah notifikasi kecil muncul di sudut penglihatannya, layar Sistem transparan yang selalu setia mengikutinya.
[SISTEM LOGIN HARIAN]
Pencapaian Baru: Mengalahkan Bajak Laut Bertingkat Tinggi
Hadiah: Buku Panduan Dasar Pengendalian Haki Tenaga
Bonus: Skill Tersembunyi Rift Rift no Mi — Progres Terdeteksi (23%)
Mata Ryden membelalak membaca baris terakhir. Skill tersembunyi... akhirnya ada progresnya?
Elira berlari keluar dari kabin begitu keributan mereda, menghambur mendekati Ryden yang masih terduduk lemas.
"Ryden! Kau tidak apa-apa?!"
"Aku baik-baik saja," jawab Ryden lemah, seulas senyum lelah namun puas terukir di wajahnya. "Hanya... butuh istirahat panjang setelah ini."
Elira membantu memapahnya berdiri, wajahnya masih pucat namun matanya kini dipenuhi kekaguman yang tak tersembunyikan. Di kejauhan, kabut mulai menipis, memperlihatkan langit senja kemerahan yang menandakan badai—baik secara harfiah maupun kiasan—telah berlalu, setidaknya untuk saat ini.
Skill keempat mulai menunjukkan progres, pikir Ryden sambil menatap layar Sistemnya sekali lagi sebelum menutupnya. Pertarungan ini... mungkin menjadi titik balik yang penting bagi perjalananku selanjutnya.
Ia memandang kapal besar Groth yang masih terapung diam di kejauhan, kaptennya tergeletak tak berdaya di geladak yang berantakan. Ryden sempat mempertimbangkan untuk menyita sebagian perbekalan dari kapal itu—air bersih dan makanan selalu berharga di lautan luas—namun tubuhnya sudah terlalu lelah untuk melakukan perjalanan tambahan.
"Kita lanjutkan saja perjalanan," ucapnya pada Elira, suaranya masih sedikit lemah. "Aku butuh istirahat, dan sepertinya pulau berpenghuni terdekat masih beberapa jam lagi."
Elira mengangguk cepat, membantu Ryden kembali ke dalam kabin sambil sesekali melirik ke arah kapal Groth yang perlahan menghilang ditelan kabut yang mulai menipis. "Kau benar-benar hebat tadi," gumamnya pelan, nada kagum masih terasa jelas dalam suaranya. "Aku belum pernah melihat sesuatu seperti itu seumur hidupku."
"Masih banyak yang harus kupelajari," jawab Ryden sambil merebahkan diri di dalam kabin sempit, matanya mulai terasa berat. "Kekuatan ini punya batasan yang harus terus kudorong lebih jauh."
Sebelum benar-benar tertidur, pikirannya sempat melayang pada satu pertanyaan yang mengganjal—bajak laut seperti Groth, yang sama sekali tidak ada dalam ingatannya tentang kisah asli, menandakan bahwa perairan ini kini dipenuhi ancaman-ancaman baru yang tak terduga.
Dunia yang ia kenal benar-benar sudah berubah, dan ia harus semakin waspada di setiap langkah perjalanannya ke depan.
Malam itu, kapal kecil mereka melaju tenang menembus sisa kabut yang menipis, membawa dua pendatang dari dunia yang jauh berbeda menuju babak petualangan berikutnya yang masih menunggu di depan.