Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Yang Terkuak
Malam yang gelap menyelimuti langit. Sebuah SUV hitam berkecepatan tinggi meluncur membelah jalanan pinggiran kota yang sepi, menjauh dari gemerlap gedung-gedung bertingkat. Di dalam mobil, suasana begitu hening hingga suara napas pun terasa menggema.
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Aisha pelan, akhirnya memecahkan keheningan.
Devan membuka matanya, menatap Aisha dengan kilatan mata gelapnya.
"Ke tempat di mana Hukum Alister berlaku, bukan hukum negara. Markas utama bisnis bawah tanahku."
Aisha menelan ludah.
"Kenapa... kenapa aku harus ikut?"
"Karena malam ini Hendra akan mencoba menjualmu untuk kedua kalinya," jawab Devan dingin, tanpa tendeng aling-aling.
"Dan aku ingin kamu menyaksikan sendiri dengan mata kepala mu, seberapa murah harga dirimu di mata pria yang kamu sebut 'Papa' selama dua puluh tahun ini."
Kata-kata Devan bagaikan sembilu, namun Aisha tidak membantah. Ada rasa takut yang merayap di dadanya, tetapi rasa haus akan kebenaran kini jauh lebih besar.
Mobil berhenti di sebuah kompleks pergudangan tua di kawasan pelabuhan. Di luar tampak seperti bangunan terbengkalai, namun begitu melewati pintu besi raksasa yang dijaga puluhan pria berbadan tegap dan bersenjata api, pemandangan di dalamnya berubah drastis.
Sebuah klub dan kasino eksklusif bawah tanah yang sangat luas terhampar di balik dinding beton tebal. Lampu gantung kristal yang remang-remang, meja-meja judi bernilai miliaran, dan orang-orang ber-jas mahal memenuhi ruangan. Ini adalah tempat para penguasa kegelapan bertransaksi.
Devan turun dari mobil dan langsung menggenggam jemari Aisha. Cengkeramannya hangat dan sangat kuat, seolah menegaskan bahwa di tempat paling berbahaya ini sekalipun, Aisha berada dalam perlindungannya.
"Tetap di belakangku. Jangan lepaskan tanganku," bisik Devan tegas di dekat telinga Aisha.
Mereka berjalan menyusuri lorong khusus menuju sebuah ruangan VIP berdaun pintu ganda yang dijaga ketat oleh dua anak buah Devan. Ketika pintu dibuka, tampak Hendra sedang berdiri di tengah ruangan dengan raut wajah penuh kesombongan, didampingi oleh dua orang pengacara berjas necis yang membawa koper hitam.
Hendra tersentak kaget saat melihat Devan masuk bersama Aisha.
"Aisha?!" seru Hendra, keningnya berkerut.
"Tuan Devan, kenapa Anda membawa anak ini ke sini?!"
Devan tidak langsung menjawab. Dia menuntun Aisha untuk duduk di sofa kulit yang paling nyaman di ruangan itu, lalu berdiri di sampingnya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Aura intimidasi Devan seketika menguasai ruangan.
"Bukannya kamu yang meminta transaksi ini diselesaikan malam ini, Hendra?" sahut Devan dengan senyuman maut yang amat dingin.
"Aku membawa Aisha agar dia bisa melihat langsung bagaimana ayahnya menukarkan dirinya dengan lembaran saham."
Wajah Hendra sedikit memerah, namun keserakahannya menutupi rasa malunya. Pria paruh baya itu berdeham, menata kembali posisi jasnya.
"Tuan Devan, jangan berbelit-belit," ujar Hendra serakah.
"Perjanjian awal kita adalah Aisha melunasi hutang judi Clara sebesar lima puluh miliar. Tapi sekarang, pernikahan kalian sudah diberitakan ke seluruh negeri! Saham Alister Group melonjak naik gara-gara berita itu! Sebagai orang tua yang 'menyerahkan' Aisha pada Anda, saya berhak mendapatkan bagian dari keuntungan itu!"
Aisha yang duduk di sofa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Menyerahkan? Hendra bicara seolah-olah dirinya adalah seekor hewan ternak yang sedang ditawar di pasar.
"Lalu apa mau mu?" tanya Devan datar, memancing.
Hendra memberi isyarat pada pengacaranya untuk membuka koper dan mengeluarkan sebuah dokumen tebal.
"Serahkan lima persen saham Alister Group di anak perusahaan Jakarta Selatan kepada saya. Jika tidak, pengacara saya akan melaporkan Anda ke media atas dugaan tindak pidana penyekapan dan perdagangan orang terhadap Aisha! Pikirkan reputasi Alister Group, Tuan Muda!"
Ancamannya dilontarkan dengan begitu percaya diri. Hendra berpikir dia telah berhasil menyudutkan sang CEO Mafia muda itu.
Namun, yang terjadi selanjutnya di luar dugaan Hendra.
Devan justru tertawa. Suara tawa rendah dan sangat renyah yang terdengar luar biasa mengerikan di dalam ruangan yang sunyi itu.
"Penyekapan? Perdagangan orang?" Devan melangkah perlahan mendekati Hendra. Setiap langkahnya membuat para pengacara Hendra mundur ketakutan.
"Hendra... Hendra. Kamu benar-benar orang tua yang picik dan bodoh."
"A-Apa maksudmu?!" bentak Hendra, mulai panik melihat reaksi Devan yang sama sekali tidak takut.
Devan menoleh pada Aisha, menatap istrinya dengan tatapan lembut sejenak, sebelum kembali menatap Hendra dengan sorot mata membunuh.
"Aisha, dengarkan ini baik-baik," kata Devan, suaranya menggelegar di dalam ruangan.
"Pria yang kamu panggil Papa ini, dua hari yang lalu menandatangani dokumen penyerahan hak walimu sepenuhnya kepadaku dengan imbalan penghapusan hutang. Dan malam ini, dia mengancam akan menghancurkan namamu di media, memanfaatkan statusmu, hanya untuk mendapatkan saham perusahaan!"
Aisha menatap Hendra dengan mata berkaca-kaca, dadanya terasa seperti dihantam batu besar.
"Papa, apakah itu benar? Papa tega melakukan ini lagi padaku?"
Hendra yang terdesak mendelik benci pada Aisha. Topeng 'ayah penyayang' yang selama dua puluh tahun ini dipakainya akhirnya pecah sepenuhnya.
"Diam kamu, Aisha!" bentak Hendra kasar tanpa rasa penyesalan sedikit pun.
"Kamu itu cuma anak pungut yang kami selamatkan dari jalanan. Sudah sepatutnya kamu berguna untuk keluarga kami! Kamu harusnya sadar diri, kalau bukan karena kami yang mengambilmu dulu, kamu sudah mati di tepi jalan bersama orang tuamu yang miskin itu!"
DEG!
Kalimat itu terucap dari mulut Hendra tanpa disaring.
Aisha membeku. Seluruh persendiannya melemas. Rasa sakit akibat pengkhianatan itu akhirnya mencapai titik puncaknya. Semua kasih sayang, perhatian, dan rasa hormat yang dipupuknya selama dua puluh tahun untuk Hendra dan Sinta hancur berkeping-keping menjadi abu dalam detik itu juga.
Tepat saat air mata Aisha menetes, Devan bergerak kilat.
Brak!
Tanpa ada yang sempat melihat gerakannya, Devan sudah mencengkeram kerah baju Hendra dan menghempaskan tubuh pria paruh baya itu ke atas meja kaca hingga retak! Pengacara Hendra menjerit ketakutan dan lari keluar ruangan.
"Jangan pernah membentak istriku dengan mulut busukmu itu, Hendra!" histeris Devan, suaranya penuh amarah luar biasa.
Tatapan matanya merah membara, sepenuhnya dikuasai oleh kegelapan mafia yang selama ini dia tahan di depan Aisha.
Hendra terbatuk-batuk, ketakutan setengah mati saat melihat Devan merogoh sesuatu dari balik jasnya, sebuah pist*l berperedam suara yang berkilat dingin.
"T-Tuan Devan! Ampun! Jangan!" jerit Hendra gemetaran.
Devan menempelkan ujung pist*l yang dingin itu tepat di kening Hendra.
"Kamu pikir aku memberimu proyek dan menyetujui perjanjian ini karena aku takut padamu? Aku membiarkanmu melangkah sejauh ini hanya untuk mengumpulkan seluruh bukti kejahatan keuanganmu dan memancingmu ke sini!"
Devan tersenyum sangat dingin.
"Mulai malam ini, seluruh aset perusahanmu disita oleh Alister Group atas dugaan penipuan dokumen. Kamu tidak hanya bangkrut, Hendra, tapi kamu dan istri busukmu itu akan membusuk di penjara!"
Aisha berdiri dari sofa dengan tubuh bergetar hebat. Dia melihat bagaimana Devan berdiri sebagai penguasa, siap mengeksekusi pria yang telah merusak hidupnya. Namun di saat yang sama, Aisha melihat pist*l di tangan Devan.
"Devan, hentikan!" teriak Aisha lirih, suaranya menembus emosi gelap Devan.
Devan menghentikan pergerakan jarinya di pemicu senj4ta. Pria itu menoleh perlahan pada Aisha.
Aisha berjalan mendekat dengan air mata yang terus mengalir, namun matanya memancarkan ketegasan yang baru. Dia menatap Hendra yang mengerang ketakutan di bawah cengkeraman Devan, lalu beralih menatap Devan.
"Jangan kotori tanganmu untuk manusia seperti dia, Devan..." bisik Aisha, menyentuh lengan tegap Devan yang memegang senjata.
"Dia sudah bukan siapa-siapa lagi bagiku. Hubunganku dengan keluarga itu sudah resmi putus malam ini."
Devan menatap mata Aisha yang basah. Rasa amarah yang membakar dadanya perlahan mereda hanya karena sentuhan lembut dan tatapan gadis itu. Devan menghela napas kasar, lalu menurunkan senjatanya.
"Anak buahku akan menyerahkanmu ke polisi malam ini, Hendra," ucap Devan dingin, membuang tubuh Hendra ke lantai seperti sampah.
"Sampaikan salamku pada Sinta dan Clara. Nikmati kebangkrutan kalian."
Dua penjaga berbadan besar masuk dan menyeret Hendra yang menangis histeris keluar dari ruangan VIP.
Ruangan itu kembali hening. Hanya ada Devan dan Aisha yang berdiri berhadapan.
Aisha menunduk, bahunya berguncang pelan karena tangis yang akhirnya pecah. Beban dua puluh tahun hidup berpura-pura sebagai anak angkat yang berbakti akhirnya runtuh sepenuhnya.
Devan melangkah mendekat. Tanpa mengacungkan topeng dinginnya lagi, pria itu merengkuh tubuh mungil Aisha ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh. Dia mengusap lembut rambut hitam Aisha, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di dadanya.
"Sudah selesai, Aisha," bisik Devan dengan suara baritonnya yang sangat lembut dan sarat akan kepedulian mendalam.
"Mereka tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi. Aku berjanji."
Aisha membalas pelukan Devan erat-erat, menyandarkan seluruh kerapuhannya pada pria yang kini menjadi pelindung tunggalnya di dunia ini.
Namun, di tengah rasa aman yang melingkupinya, sebuah pertanyaan besar kembali terngiang di benak Aisha dari ucapan Hendra tadi: 'Kalau bukan karena kami yang mengambilmu dulu, kamu sudah mati di tepi jalan bersama orang tuamu yang miskin itu!'
Aisha mendongak dalam pelukan Devan, menatap rahang tegas pria itu. Apa yang sebenarnya terjadi pada orang tua kandungku dua puluh tahun lalu? Dan kenapa Devan begitu dendam pada Hendra?