NovelToon NovelToon
Skandal Di Balik Layar

Skandal Di Balik Layar

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Rahasia "Susu Formula" dan Aksi Konyol Tiga Jenderal

Kehidupan damai di kaki Gunung Salak yang bertabur cinta, kedamaian, dan keberhasilan film AJA DISPOSA FILM mendadak diuji oleh musuh baru yang jauh lebih mengerikan daripada Maya, Rober, atau gabungan seluruh media gosip ibu kota.

Musuh itu bernama: Mati Listrik Searah Desa dan Stok Susu Bayi yang Habis.

Malam itu, hujan deras mengguyur desa. Listrik padam total. Di dalam rumah panggung tua, situasi berubah chaos dalam hitungan detik. Putra Ajo yang berumur tiga bulan dan putri mungil Adam mendadak menangis bersahut-sahutan seperti duet paduan suara.

Juli dan Elsa panik. Setelah diperiksa, ternyata persediaan susu formula khusus pesanan dokter untuk kedua bayi mereka sudah ludes—karena kemarin tertukar dan tidak sengaja terbuang oleh Adam saat membereskan kotak perlengkapan bayi!

"Mas Adam!" pekik Juli dari dalam kamar sambil menggendong bayinya yang menangis kencang. "Ini gawat! Susu bayinya habis! Kan kemarin sudah aku suruh beli waktu di minimarket kota!"

Adam yang sedang menyeduh kopi di dapur langsung tersedak. "E-eh?! Bukannya sudah masuk ke dalam tas yang warna merah, Jul?"

"Tas merah itu isinya baju ganti kamu semua, Adam!" timpal Elsa yang keluar kamar sambil menimang bayinya yang ikut teriak. Elsa menatap Ajo dan Adam dengan pandangan menakutkan khas produser memarahi kru. "Ajo, Adam... pokoknya tidak mau tahu! Dalam waktu satu jam, susu formula khusus ini harus ada! Kalau tidak, kalian bertiga tidur di luar bareng ayam!"

Ajo, Adam, dan Jimi yang sedang duduk santai seketika menegakkan tubuh. Wajah mereka pucat pasi.

"M-maksudmu... kita harus cari susu bayi sekarang? Hujan-hujan begini?" tanya Adam gagap.

"SEKARANG!" seru Juli dan Elsa kompak dari dalam kamar.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, "Tiga Jenderal" yang dulu ditakuti di dunia perfilman nasional kini memakai jas hujan plastik kelinci warna-warni milik anak Jimi, lalu menerobos hujan deras malam-malam menggunakan mobil pickup tua milik perkebunan.

Satu jam kemudian, di Minimarket 24 Jam terdekat di jalan raya kecamatan.

Pintu kaca minimarket berdenting. Mas Kasir yang sedang mengantuk seketika membelalak kaget hingga pulpennya terjatuh.

Tiga pria bertubuh tegap melangkah masuk dengan napas tersengal-sengal. Mereka mengenakan jas hujan plastik warna pink, kuning, dan hijau cerah yang kebasahan. Wajah mereka penuh coretan jelaga hitam akibat tadi sempat dorong-mendorong mobil pickup yang mogok di jalan lumpur.

Adam—mantan Bos Distributor ternama—melangkah paling depan. Dengan gaya sok gagah padahal jas hujan plastiknya robek di bagian ketiak, ia menggebrak meja kasir secara dramatis.

"Mas! Dengarkan saya baik-baik!" bisik Adam dengan suara berat dan serius, matanya melotot. "Ini adalah misi hidup dan mati! Serahkan seluruh stok Susu Formula Bebas Lakto Soya Gold 3 yang ada di toko ini!"

Mas Kasir gemetar hebat, menyangka toko itu sedang dirampok oleh geng preman ber-jas hujan konyol. "A-ampun, Mas! Ambil saja uang di kasir, jangan lukai saya!"

Jimi langsung menepuk jidatnya, memotong cepat. "Bukan uangnya, Mas! Kami mau BELI susu bayi! Cepat, sebelum kami diusir dari rumah oleh istri kami!"

Ajo yang biasanya tenang kini ikut panik, sibuk mengacak-acak rak bagian susu bayi bersama Adam.

"Jo! Yang mana susunya?!" teriak Adam heboh sambil memegang dua kaleng susu yang berbeda warna. "Ini yang kotak merah atau yang gambar beruang pakai kacamata?!"

"Mana aku tahu, Dam! Baca komposisinya!" balas Ajo setengah berteriak, matanya mendelik membaca tulisan kecil di belakang kemasan menggunakan lampu senter ponselnya. "Ini ada tulisan DHA dan Omega 3! Apakah ini buat bayi atau buat ikan paus?!"

"Dua-duanya dibeli saja, Jo! Diborong semua!" seru Jimi yang sibuk membawa keranjang belanjaan menumpuk.

Saat sedang heboh-hebohnya memilih susu, pintu minimarket kembali terbuka. Dua wartawan majalah hiburan lokal yang kebetulan sedang berteduh dari hujan melangkah masuk. Mata mereka langsung membelalak melihat tiga pria konyol berpakaian plastik warna-warni di depan rak susu.

"Lho?! Itu kan... Pak Ajo dan Pak Adam?! CEO AJA DISPOSA FILM?!" bisik salah satu wartawan terkejut sambil buru-buru mengeluarkan kamera ponselnya.

CUPLEK! CUPLEK!

Kilatan lampu kamera ponsel menyala mendadak.

Adam yang sadar ada kamera langsung refleks membusungkan dada, merapikan jas hujan plastik pink-nya, lalu memegang dua kaleng susu bayi di kedua tangannya bagai memegang piala penghargaan FFI (Festival Film Indonesia).

"Ehem! Selamat malam, media!" pangkas Adam dengan senyum paling klimis dan percaya diri yang pernah ada, meski hidungnya agak kotor terkena oli mobil. "Ini adalah bentuk kepedulian AJA DISPOSA FILM dalam mendukung gizi balita nasional!"

Ajo dan Jimi yang melihat tingkah konyol Adam hanya bisa menutup wajah mereka dengan keranjang belanjaan, menahan malu yang teramat sangat.

Keesokan harinya.

Matahari pagi menyengat hangat di kaki Gunung Salak. Listrik desa sudah menyala kembali, dan suasana rumah panggung tua terasa begitu sejuk.

Di meja makan teras, Ajo, Adam, dan Jimi sedang duduk bersandar di kursi kayu dengan wajah lelah, mata menghitam akibat tidak tidur semalaman menjaga bayi yang kekenyangan susu.

Tiba-tiba, Rina melangkah keluar sambil membawa iPad-nya, diikuti Elsa dan Juli yang tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perut mereka.

"Mas Adam... Pak Ajo... Coba lihat ini," ujar Rina sambil menyodorkan layar iPad-nya.

Di layar, terpampang berita viral nomor satu di seluruh media sosial Indonesia:

TRENDING TOPIC: Tiga Jenderal Perfilman Indonesia Kepergok 'Merampok' Rak Susu Bayi Pakai Jas Hujan Plastik Pink Malam-Malam!

FOTO FOTO KONYOL ADAM HOLDING SUSU BAYI BAGAI PIALA FFI BIKIN NETIZEN TERPINGKAL-PINGKAL!

Ajo menepuk jidatnya pasrah, Jimi tersedak kopi hitamnya, sementara Adam yang tadinya sedang minum teh hangat langsung membelalakkan mata melihat fotonya berdiri gagah pakai jas hujan kelinci pink sambil memegang dua kaleng susu.

"ASTAGA! Wibawaku sebagai CEO runtuh lumat!" pekik Adam histeris, menyembunyikan wajahnya di bawah bantal sofa.

Juli melangkah mendekati suaminya, menyentuh bahu Adam lalu mencium pipinya dengan lembut dan manis. "Tapi bagi aku dan bayi kita... Mas Adam adalah Jenderal paling hebat di dunia."

Elsa pun merangkul Ajo dari belakang, mengelus dadanya yang bidang sambil tersenyum menggoda. "Dan kamu, Ajo... ternyata lebih jago cari susu bayi daripada mengarahkan sutradara di lokasi syuting."

Gelak tawa renyah kembali meledak di teras rumah panggung tua itu. Di bawah naungan langit Gunung Salak yang cerah, Tiga Jenderal menyadari satu hal: bahwa setelah melewati ribuan konflik dan penderitaan besar di kota, kebahagiaan paling nyata adalah saat-hal konyol dan sederhana bersama keluarga tercinta bisa membuat mereka tertawa selepas ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!