Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah yang memuncak...
Air sungai mengalir tenang, seakan tak peduli pada badai yang baru saja meledak di dada Rio. Langkah kakinya berat namun cepat, napasnya memburu, wajahnya memerah menahan amarah dan rasa sakit yang saling berebut ruang. Semua potongan teka-teki kini tersusun rapi tatapan penuh makna Adit, perhatian yang begitu dalam, kedekatan yang terasa begitu lama... Ternyata semuanya berakar dari masa lalu yang pernah ia miliki bersama Davina, tujuh tahun silam, sebelum Rio datang dan mengambilnya paksa.
Tujuh tahun... batinnya meraung. Cinta yang tak sempat usai, yang masih tersimpan rapi di hati Davina? Dan aku? Aku hanya datang dan menghancurkannya, lalu pergi tanpa menoleh, lalu kembali lagi saat semuanya nyata kembali utuh!
Pikiran itu bagai cakar tajam yang mengoyak pertahanannya. Ia tak rela. Tidak akan rela. Davina adalah miliknya,pernah menjadi istrinya, melahirkan putrinya, dan kini... Rio bersumpah dalam hati, tak akan membiarkan masa lalu itu merenggut apa yang sedang berusaha ia perjuangkan kembali.
Sesampainya di mobil, Rio membanting pintu hingga bergema. Tangan yang menggenggam setir bergetar hebat, urat-urat di lehernya menonjol. Tanpa sadar, kakinya menginjak gas dalam-dalam, melesatkan kendaraan itu membelah jalanan Kota C bagai anak panah yang melesat tak terkendali.
Sementara itu, di teras rumahnya yang masih terasa sepi, Davina berdiri mematung. Pikirannya terus kembali pada sorot mata Rio tadi,penuh luka, namun juga penuh tekad yang menakutkan. Ia menghela napas panjang, meremas jantungnya yang terasa sesak. Ada firasat buruk yang menyusup pelan, seakan badai besar baru saja bermula.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Adit: "Davina, hati-hati. Aku merasa Rio belum selesai. Jika ada apa-apa, hubungi aku. Aku takut dia melakukan hal yang tak terpikirkan karena emosinya."
Davina menatap layar itu lama, lalu mengetik pelan: "Aku tahu. Terima kasih, Dit. Jangan khawatir. Aku akan menjaga diri."
Namun kalimat itu baru saja terkirim, suara deru mesin mobil yang mendadak berhenti tepat di depan rumahnya membuat Davina menoleh cepat. Jantungnya berpacu kencang saat melihat Rio melompat turun dari mobil, wajahnya kusut, matanya menyala tajam, menatap lurus ke arahnya yang berdiri di ambang pintu.
Langkah Rio lebar dan cepat. Dalam sekejap ia sudah berdiri tepat di hadapan Davina, napasnya panas, dadanya naik turun.
"Rio... apa yang terjadi? Kenapa kau kembali?" tanya Davina mundur selangkah, terdesak hingga punggungnya menyentuh dinding.
Rio tak menjawab. Matanya menatap lekat mata Davina, seakan ingin menembus hingga ke dalam sanubarinya. Kemudian, suaranya terdengar berat dan bergetar, penuh amarah yang tertahan namun juga penuh kepedihan yang mendalam.
"Kau... kau menyembunyikannya dariku," ucap Rio pelan namun penuh tekanan, tangannya mencengkeram kusen pintu di samping bahu Davina, mengurungnya tanpa menyentuh sedikit pun. "Pria itu... Adit... dia adalah mantanmu. Cintamu tujuh tahun lalu. Orang yang tak pernah benar-benar hilang dari hatimu, bukan?"
Davina tertegun, wajahnya seketika pucat. Mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar. Bagaimana mungkin Rio tahu? Foto lama itu... siapa yang memberikannya?
"Kau diam saja?" tanya Rio lagi, suaranya meninggi, matanya berkaca-kaca menahan luapan emosi yang campur aduk. "Selama ini aku merasa asing bagimu karena dia masih ada di sana! Setiap kali kau menolaknya, setiap kali kau memasang tembok di antara kita... itu karena hatimu masih miliknya, bukan?!"
"Itu tidak benar!" seru Davina akhirnya, memberanikan diri menatap mata Rio. "Masa lalu itu sudah berlalu, Rio! Sudah lama sekali! Adit hanya teman, dia orang baik yang selalu ada saat aku kesulitan! Kau tak berhak menuduhku begitu!"
"Tak berhak?" Rio tertawa getir, air mata akhirnya lolos jatuh di pipinya. "Aku suamimu dulu, Davina! Ayah dari anakmu! Dan sekarang... saat aku berusaha kembali... ternyata aku harus bersaing dengan bayang-bayang cinta lamamu yang masih utuh setelah tujuh tahun! Kau bilang itu bukan urusanku? Bagaimana mungkin bukan urusanku, saat wanita yang kucintai kembali hatinya masih menjadi milik pria lain!"
Kalimat itu terucap begitu jujur, begitu tulus, hingga seketika membuat Davina terdiam seribu bahasa. Ia menatap Rio lekat-lekat—pria yang dulu dingin, kini berdiri memohon dengan segala kerendahan hati, hancur lebur oleh rasa takut kehilangan.
Rio menatapnya dalam-dalam, lalu suaranya melembut, penuh permohonan yang menyayat hati.
"Aku tahu aku salah... aku tahu aku terlambat... tapi kumohon, Davina... jangan kembali ke pelukannya. Beri aku kesempatan. Biarkan aku menebus semua kesalahanku. Biarkan aku menjadi pria yang pantas untukmu dan Zahra. Aku... aku mencintaimu, Davina. Lebih dari apa pun. Dan aku tak akan menyerah begitu saja. Bukan sekarang, bukan saat aku baru menyadari betapa berartinya kau bagiku."
Keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara napas yang terdengar berat. Davina menatap mata Rio yang penuh harap dan ketakutan. Di satu sisi, luka masa lalu masih membekas. Namun di sisi lain... pengakuan cinta Rio yang begitu tulus, disampaikan dengan penuh kepedihan itu... entah mengapa, membuat hatinya yang keras perlahan mulai merapuh.
Namun di sudut hati yang lain, Davina juga menyadari satu hal: perjuangan Rio baru saja dimulai. Dan di ujung jalan itu, Adit berdiri tegak, tak akan mundur begitu saja. Perang hati antara masa lalu dan masa depan kini baru saja meletus. Dan Davina... ia harus memilih, sebelum semuanya hancur berkeping-keping.
" aku dan kamu tidak cocok Rio..." Ucap Davina lirih. Rio seakan tidak terima apa saja baru dikatakan oleh Davina.Davina melihat mata Rio ada sulut amarah di dalam sana.
" Lantas ... menurutmu siapa yang cocok untuk berada di sampingmu dan zahra, Oh... aku tahu ! kau ingin Adit pemilik yayasan mantan mu itu menjadi suamimu dan ayah untuk zahra ! Rio tidak bisa lagi membendung amarahnya." Ayo katakan... jangan diam saja.Rio memegang bahu Davina dan tanpa sadar ia menekannya dengan kuat.
" Rio lepas , kamu kenapa sih ...!, jangan melampaui batas... " Ucap Davina tersulut emosi.Ia tidak terima Rio menyudutkannya.Ia melepas cengkreman Rio di bahunya dan Tangan Davina mendarat di pipi Rio.
" jangan pernah nuduh aku , aku bukan seperti kamu ya ....! Ucap Davina.Rio terkejut melihat Davina menamparnya dan ini baru pertama kali Davina menamparnya.Rio memegang pipinya yang panas akibat tamparan Davina.
" Davina ...kau itu ibu untuk anakku , jadi tolong jaga sikapmu di luar sana dan kita belum bercerai dan kita masih sah secara agama.Dan aku tidak ada menceraikanmu ...! Ucap Rio.
Davina tidak menggubris omongan Rio ,ia berjalan menutup pintu.Perlahan air mata Davina jatuh.Ia merasakan dadanya sakit sekali.Ia menahan isak tangisnya,Betapa egoisnya Rio, bahkan sampai menuduhnya masih mencintai Adit.
Apartemen Adit di Kota C
Adit sedang memeriksa berkas kantor , namun dia sama sekali tidak bisa fokus.Ia masih saja ingat dengan pertemuan tadi , di Paud Alghajaly.
Ia melempar pulpen di tangannya asal, lagi - lagi ia merasa kalah.Namun kali ini Adit bertekad ia tidak akan membiarkan Davina kembali kepelukan mantan suaminya.Ia ingin menang merebut hati Davina , dan ingin menang kembali di hati Davina seorang.
Ia membuka laci meja itu, ia melihaf sebuah foto seorang gadis cantik rambut panjang tersenyum berdiri sambil memegang boneka.Ia sangat terlihat cantik.Adit mengusap foto itu dengan lembut.
" Aku tidak akan membiarkanmu , bersama orang lain lagi " Ucap Adit.