NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: tamat
Genre:Vampir / Thriller / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

Vol. 1: Arc 1 - 3 (Complete)

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 10: Hasil Dari Latihan

Lima hari berlalu sejak Alice melakukan rutinitas harian seperti; joging, sit-up, squad jump, dan push-up.

Kali ini, di waktu fajar ia sedang melakukan joging mengitari air mancur yang skalanya kecil—tidak kelelahan di putaran ke-20 melainkan sudah lebih baik melebihi sebelumnya.

Kakinya juga tidak terasa lelah, baik dari betis maupun telapak kaki, keduanya tetap mampu melakukan joging dengan sepatu putihnya tanpa heels.

"Meskipun ini baru lima hari, aku sudah merasa staminaku bertambah."

ia mengakui kalau dirinya tidak lagi kelelahan, sekarang sudah mendapat 50 putaran, rekor yang belum pernah dimilikinya saat pertama kali melakukannya.

Tapi meskipun begitu, ia tetap melakukan joging untuk mengetahui sejauh mana kakinya mencapai batasnya.

Tidak jauh dari tempatnya berlari, disalah satu jendela di lantai dua—memperlihatkan seorang pria yang memperhatikannya berlari di sekitar air mancur membuatnya tersenyum kecil, tatapannya fokus pada sosok gadis kecil itu yang tetap melakukan joging.

"Dia tidak menyerah ya."

Bagi pria itu—Gerald, orang yang biasanya melakukan sesuatu yang dapat membuat mereka tersiksa karena aktivitasnya sendiri, kebanyakan dari mereka langsung menyerah dan memilih untuk tidak melanjutkannya, tapi gadis kecil itu sepertinya tidak menunjukkannya sama sekali.

Sebaliknya, ia justru tetap melakukan rutinitasnya dengan melakukan olahraga joging di sekitar air mancur meskipun keringat membasahi wajah dan tubuhnya, bahkan gaun kasualnya sepanjang lutut.

"Semoga saja kau tidak menyerah sama sekali, Nona."

Kembali melanjutkan langkahnya, ia tidak ingin menetap di jendela karena takut ketahuan memperhatikannya—memilih untuk kembali ke tugasnya sebagai penasihat raja dengan mengerjakan beberapa tugas yang diberikan raja padanya.

Menyudahi melakukan joging ketika mencapai 70 putaran mengitari air mancur, gadis kecil itu—Alice, duduk di kursi taman dekat dengan pekarangan bunga dan air mancur di jalan setapak untuk mengistirahatkan tubuhnya merasakan angin sepoi-sepoi di waktu fajar.

"Kakiku tidak bisa melanjutkannya... itu artinya aku sudah mencapai batas ya."

Selagi menikmati udara segar di waktu fajar, perlahan-lahan matanya mengantuk.

"Sepertinya aku harus... mengatur ulang.... tentang...."

Sebelum dapat menyelesaikan kata-katanya, ia memejamkan matanya yang terlelap tidur di kursi taman, bersandar tanpa menunjukkan sikap waspada karena ia yakin ia baik-baik saja selama ada para ksatria diluar kastil yang memperhatikannya.

•••••

Alice POV

"Uwah... banyak sekali pria ikemen."

Hari itu, aku yang selalu menghabiskan waktu sepulang sekolah di rumah dengan membaca komik maupun novel terkagum pada pria ikemen yang selalu memiliki paras tampan dan sikap mereka yang keren membuatku membayangkan bagaimana rasanya jikalau aku jadi heroine menggantikan heroine yang ada di cerita tersebut.

Membayangkannya saja sudah membuatku kegirangan, apalagi jika itu menjadi kenyataan maka impian para gadis sudah pasti terwujud.

Lagipula gadis mana yang tidak memimpikan hal sama sepertiku sejak mereka menjadi otaku? Itu mustahil, bukan?

Jika gadis tersebut orang biasa mungkin aku bisa percaya kalau mereka tidak pernah memiliki imajinasi liar tentang dirinya bersama pria ikemen yang mereka inginkan, tapi untuk kasus gadis otaku, kurasa mana ada orang yang tidak menginginkannya hanya dengan mengimajinasikan pemikiran mereka.

Ah...

Andaikan aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh karakter heroine yang di sekitar mereka terdapat pria ikemen, mungkin itu seperti surga untukku untuk bisa menjadi kenyataan.

•••••

"....."

Tiba-tiba Alice terbangun dari mimpinya yang dirasanya tidak lama setelah cahaya mentari di pukul 06:00 mengenai wajahnya, ia memegang keningnya dengan wajah bertanya-tanya.

"Kenapa dari sekian banyak mimpi, aku malah memimpikan masa lalu suramku sebagai gadis otaku?"

Tidak ingin mengakui kalau ia pernah menjadi gadis bodoh yang tidak tahu-menahu kehidupan nyata, ia benar-benar mengutuk dirinya sebagai Nia di kehidupan sebelumnya karena melakukan imajinasi liar yang ia sendiri tidak pernah bayangkan untuk saat ini setelah merasakan kehidupan di dunia fantasi yang dirasakannya sekarang.

"Ya ampun."

Helaan nafas panjang terdengar darinya, ia benar-benar berharap masa lalu kelam sebagai gadis otaku sirna dari benaknya agar ia bisa melupakan dirinya yang menyedihkan sewaktu ia masih berada di SMP maupun SMA.

Segera berdiri lalu memasuki pintu masuk utama di depan kastil, ia dipersilahkan masuk oleh kedua ksatria yang berjaga didepan dengan membukakan pintu ganda besar di depan mereka untuknya masuk.

Begitu ia memasuki lobby, ia pergi menaiki tangga di sisi kanan yang melingkar dengan permadani karpet merah di anak tangga menuju lantai dua, dimana kamarnya berada.

"Meskipun aku hidup dengan kekuasaan dan kekayaan, entah mengapa hidupku tidak bebas seperti kehidupan lamaku dulu."

Bergumam pelan layaknya bernafas pada dirinya sendiri—yakin kalau ia seharusnya tidak mengeluhkan tentang masalah ini sama sekali.

Sejak dirinya menjadi penerus tahta, banyak dari mereka, para ksatria dan maid memandangnya dengan hormat, mengatakan dan bersikap dengan sopan seolah-olah ia seperti konglomerat di dunia lamanya.

Padahal ia tidak mementingkan status dan kedudukannya, ia hanya ingin setara dengan mereka namun ia menyadari kalau ia melakukan hal tersebut maka nama Keluarga Nishimura akan tercoreng nantinya karena sikap baiknya yang sama seperti ibunya di kalangan bangsawan dari fraksi lain seperti; Yamada dan Christina.

"Entah mengapa aku merasa seseorang mengikuti aku."

Terhenti sejenak, ia menoleh kebelakang dimana sekilas terlihat bayangan hitam yang tiba-tiba bersembunyi di lorong lain.

Kira-kira ukuran tingginya seukuran sama sepertinya, seorang gadis berambut putih, dengan kulit putih yang wajahnya menggemaskan, menduga kalau ia memata-matai dirinya selama ini.

"Jadi, aku tidak halusinasi ya."

Mengangguk setuju pada pemikirannya, ia kembali melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan gadis yang mengikutinya karena ia tahu kalau gadis tersebut tidak memiliki niat jahat, mengabaikannya daripada langsung berhadapan dengannya untuk menuntut penjelasan darinya yang tidak mungkin akan diberitahu padanya.

"Aku tidak bisa memperlihatkan gerakan mencurigakan sama sekali."

Jika sedikit saja gerakan mencurigakan diketahui, gadis berambut pirang itu yakin kalau gadis seusianya mengikutinya dan memata-matai dirinya akan mengetahui hal yang tidak biasa yang hanya dipikirkan olehnya—yang seharusnya memiliki pemikiran gadis kecil di umur 6 tahun.

"Kurasa lebih baik jika aku mengenalnya nanti."

Bergumam pelan layaknya bernafas, ada anggukan kecil darinya memperlihatkan bahwa ia akan meminta ibunya untuk mempertemukan dirinya dengan gadis itu agar bisa menjadi akrab sebagai teman untuk menghilangkan rasa penasarannya padanya.

Memasuki kamarnya, ia menghela nafas panjang lega karena tidak lagi diikuti dan dimata-matai oleh gadis itu—berharap gadis itu tidak mungkin berada diluar kamarnya untuk mendengarkan apa yang dilakukannya didalam kamarnya.

"Apakah ia menyadari keberadaan aku?"

Ada kegelisahan yang dirasakannya, ada ketakutan jikalau ia ketahuan maka gadis berambut pirang itu takkan lagi bersikap tidak waspada melainkan sebaliknya—sepenuhnya meningkatkan kewaspadaan agar ia tidak diikuti olehnya lagi.

"Apa yang akan kulakukan jika gagal nanti?"

Memegang kedua tangannya yang digenggam di hatinya, kekhawatirannya semakin jelas terlihat diwajahnya selagi ia menatap ke pintu kamar bertuliskan nama Nishimura Alice, takut kalau ia tidak bisa memata-matai dirinya lagi dapat membuat ibunya marah padanya.

Bayangan akan dimarahi oleh ibunya memenuhi benaknya, membuatnya gemetar—berharap hal tersebut tidak benar-benar terjadi agar ia bisa tetap dicintai dan disayangi oleh ibunya di saat ayahnya pergi bertugas di wilayah yang jauh yang jarang sekali pulang ke kastil untuk menemuinya.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang anak lelaki berambut bald fade abu-abu, sepasang mata amber—Ken, memandang Eri yang menatap ke pintu kamar Alice.

Ia mengepalkan tangannya dengan kuat berusaha untuk menahan emosi untuk tidak membuat Alice terganggu karena kesalahan Eri, ia hanya tetap diam sebelum akhirnya pergi tanpa berkonfrontasi langsung dengan gadis kecil itu didepan kamarnya.

"Apapun yang terjadi, aku takkan biarkan kau melakukan sesuatu padanya."

Ada tekad membara di sorot mata amber miliknya, ia menguatkan tekad—berjanji pada dirinya untuk melindungi Alice dari apapun yang mengganggunya bukan karena perintah ayahnya melainkan melakukannya karena ia kagum pada kegigihan yang dilakukan oleh Alice.

•••••

Ken POV

Hari itu, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Disaat pukul 06:45 pagi, aku tidak sengaja ditemani oleh beberapa maid untuk melihat-lihat lobby selagi aku mengambil jalan memutar, aku melihat pintu aula makan terbuka.

Didalam aula makan, aku melihat gadis kecil berambut pirang panjang yang tengah membantu para maid lain meletakkan piring berisikan sarapan pagi dengan beragam menu baik itu makanan dan minuman, tangannya terampil meskipun tubuhnya lemah dan rapuh.

Saat mengetahui kalau ia melakukannya tanpa mempedulikan status dan kedudukannya sebagai bangsawan, hatiku tergerak untuk tidak mengikuti perkataan ayahku yang menyuruhku untuk memanfaatkannya.

Ya, benar.

Mungkin aku akan menjadi satu-satunya anak lelaki yang tidak bisa diandalkan karena akan bertentangan dengan prinsip ayahku sebagai putranya, Yamada Edi, tapi aku tidak masalah.

Asalkan aku bisa membuat gadis itu hidup bahagia, aku akan melakukan apapun untuk melindungi ketenangannya meskipun aku harus mengotori tanganku dengan darah.

Hanya ini yang kuinginkan.

•••••

Di malam hari, Alice yang membuka pintu kamar ibunya, Luna, memasuki kamarnya selagi ibunya tengah sibuk mengerjakan tugasnya di meja kerjanya—duduk di kursi, tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.

"Bu, bisakah kita berbicara?"

"Ya."

Terhenti sejenak, pena yang terbuat dari bulu burung diletakkan di tinta hitam, ia menoleh ke putrinya yang terlihat ragu mengganggu pekerjaan ibunya.

Namun bukannya terganggu, ia membalas dengan senyuman kecil di wajahnya pada putrinya, raut wajahnya yang penasaran terlihat di ekspresinya.

"Ada apa, Sayang?"

"Ah..."

Dengan segera ia memeluk ibunya lalu menatapnya dengan mata berbinar-binar dengan wajah ceria.

"Bu, bisakah aku bertemu dengan anak-anak seusiaku?"

"Eh?" Ada keterkejutan dibalik wajahnya.

Ia tidak memperkirakan kalau putrinya akan mengatakan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya sejak awal, membuat hatinya terharu sekaligus bangga atas inisiatif putrinya.

Tapi, ia tidak boleh memperlihatkan emosinya. Ia harus tahu alasan putrinya menanyakan itu padanya.

"Kenapa kamu ingin mengenal mereka, Sayang?"

"Karena aku ingin memiliki teman. Aku bosan melakukan hal apapun sendirian, seperti; menemani Kakek, bermalas-malasan di kamar hingga tertidur."

Mendengar perkataan jujur dari putrinya yang menggemaskan, ibunya hanya tertawa pelan karena ia tidak menyangka kalau gadis kecil yang mirip sepertinya terlihat menggemaskan untuk berbicara mengenai aktivitasnya sehari-hari tanpa ditutupi sama sekali.

"Kenapa kamu tertawa, Bu?"

"Maaf...."

Menyeka air mata yang tidak sengaja terjatuh di pipinya, senyum kecilnya menatap ke putrinya.

"Jadi, kapan kamu ingin mengenal mereka?"

"Hmmm...."

Dalam diam, Alice memikirkan kapan ia bisa berkenalan dengan mereka.

Dirasa ia ingin mengatakan secepatnya, ia tidak bisa memaksa kehendaknya untuk mendorong ibunya melakukan sesuatu yang diluar pekerjaannya karena tugas ini dapat dijalani oleh kakeknya, Arga, hanya saja ia takut itu akan berakhir sebagai perintah yang terdengar seperti paksaan, bukan ketulusan untuk melakukannya demi inisiatif sendiri.

"Aku terserah padamu, Bu."

"Awww... kamu imut sekali, Putriku Tercinta."

Dipeluk putrinya dalam genggamannya, ia tidak bisa menahan diri selagi mengusap-usap pipinya di pipinya agar menghilangkan stres dari kerjaannya.

"Ternyata Ibu mirip Kakek ya."

Hanya bisa terperangah pada sikap ibunya yang selain tegas, ia benar-benar tidak menduga kalau buah jatuh tidak jauh dari pohon merupakan pribahasa yang benar-benar ada.

Buktinya, ibunya saat ini sama seperti kakeknya yang tidak bisa menahan kecintaannya padanya—membuatnya bingung apakah ia seimut dan semenggemaskan itu hingga layak dipeluk?

Meskipun memikirkan itu tidak ada gunanya, Alice menepis pemikirannya agar ia tidak penasaran atas hal yang tidak ada kaitannya dengan perkembangannya—itu seperti menyia-nyiakan waktunya di kesempatan keduanya.

^^^To be continued...^^^

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!