NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALASAN YANG HAMPIR TERLUPAKAN (2)

Dan disinilah Naya saat ini berada. Di hari pertamanya dirinya menjadi siswi SMA Perguruan TA untuk mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah, Naya memasuki gerbang dengan langkah penuh semangat. Seragam putih dengan logo SMA Perguruan TA di saku dada kirinya, rok rempel selutut bermotif kotak-kotak abu-abu biru tuanya masih terasa kaku karena baru pertama kali dipakai dengan kartu peserta tergantung di lehernya. Tentu saja tak lupa dengan tas punggung warna toskanya.

Halaman sekolah dipenuhi siswa-siswi baru yang tampak sama gugupnya. Beberapa sibuk mencari kelompok, sebagian lainnya berfoto di depan gedung utama. Para kakak kelas berdiri di berbagai sudut sambil membawa papan penunjuk.

Naya menarik napas panjang. Akhirnya, ia benar-benar berada di sekolah impiannya.

“Naya!” Seorang gadis tomboy nan manis berlari ke arahnya. Namanya Kimi, teman Naya sejak sekolah dasar yang secara kebetulan juga diterima di SMA Perguruan TA. Padahal jika melihat bagaimana mereka berdua berurusan dengan akademik rasanya sungguhlah mustahil bisa menembus sekolah dengan tes yang sangat ketat seperti SMA Perguruan TA. Mungkin Yang Maha Kuasa tidak tega melihat bagaimana mereka berjuang sekeras mungkin untuk membuktikan bahwa mereka mampu untuk menjadi salah satu siswi disana.

“Kita satu kelompok!” kata Kimi sambil menunjukkan kartu peserta.

“Serius?”

“Iya. Kelompok sembilan.”

Mereka segera berjalan menuju lapangan utama. Acara pembukaan berlangsung cukup lama, diawali dengan sambutan kepala sekolah, perkenalan guru, penjelasan tata tertib, kemudian penampilan berbagai ekstrakurikuler.

Naya menikmati semuanya hingga pembawa acara menyebutkan klub basket. Suara riuh langsung terdengar dari barisan siswa baru.

Beberapa anggota klub basket memasuki lapangan dengan mengenakan seragam pertandingan berwarna putih dengan garis biru tua di pinggirnya. Mereka menggiring bola secara bergantian, melakukan operan cepat, lalu menampilkan beberapa tembakan dari luar garis tiga angka.

Naya memperhatikan tanpa terlalu antusias. Ia tidak lagi mengingat nama-nama pemain yang pernah dilihatnya. Lagipula, Nara mungkin sudah lulus. Setahun sebelumnya, lelaki itu terlihat seperti siswa kelas dua belas.

Namun, suara teriakan dari sisi kanan lapangan mendadak semakin keras.

“Kak Nara!”

“Nara, lihat sini!”

“Kak Nara ganteng banget!”

Naya spontan menoleh. Seorang lelaki berjalan memasuki lapangan sambil memantulkan bola. Rambutnya kini tertata lebih rapi meskipun warna alami kecoklatannya tak berubah, tubuhnya terlihat lebih tinggi dan berisi, tetapi Naya langsung mengenali tatapan dan senyum itu. Nomor empat. Lelaki dari halte.

Nara.

Ingatan yang selama ini terkubur mendadak kembali dengan sangat jelas. Obrolan kecil di halte sambil menunggu hujan reda, tarikan pada tali tasnya, teguran tentang menyeberang jalan, serta senyum kecil sebelum pertandingan terputar kembali dalam benaknya.

Ternyata ia belum lulus.

Ternyata ia masih berada di sekolah ini.

Kimi mengguncang lengan Naya. “Itu Nara, kapten klub basket. Katanya dia paling terkenal di sekolah.”

Naya tidak menjawab. Pandangannya terpaku pada Nara yang berdiri di tengah lapangan. Dalam ingatannya, Nara adalah lelaki tenang yang tidak berlebihan ketika mendapat perhatian. Sosok yang lebih memilih memberikan bola kepada rekan setimnya daripada memamerkan kemampuan sendiri.

Namun, Nara yang berada di hadapannya saat ini tampak berbeda. Setelah berhasil memasukkan bola dari tengah lapangan, Nara membentangkan kedua tangan. Teriakan para siswa langsung meledak. Ia mengangkat dagu, lalu menunjuk salah satu kelompok penggemarnya di pinggir lapangan.

Sorakan semakin keras. Nara tersenyum lebar, seakan tidak hanya terbiasa dengan perhatian tersebut, tetapi juga sangat menikmatinya.

Ia kemudian mengambil bola lain dan bersiap melakukan tembakan. Sebelum melempar, ia menoleh ke arah para penggemarnya.

“Kalau masuk, suaranya harus lebih keras!” serunya.

Bola melayang dan masuk tepat ke dalam keranjang. Lapangan dipenuhi jeritan. Nara tertawa puas. Ia mendekat ke sisi lapangan dan menerima beberapa botol minuman yang disodorkan kepadanya. Dua siswi berebut memberikan handuk. Bukannya merasa canggung, Nara justru mengambil salah satunya sambil memberikan senyum yang membuat keduanya kembali berteriak.

Naya mengerutkan kening dalam. Entah mengapa, muncul rasa kecewa yang seharusnya tidak berhak ia rasakan. Mungkin karena selama ini, tanpa sadar, ia menyimpan gambaran tertentu tentang lelaki tersebut. Seorang senior yang sederhana, rendah hati, dan tidak peduli pada popularitas. Sosok yang sempat menjadi salah satu alasan tersembunyinya memilih SMA Perguruan TA.

Namun, melihat perilakunya sekarang, Naya merasa telah mengagumi orang yang salah.

“Itu orangnya memang selalu begitu?” tanya Naya.

Kimi mengangguk cepat. “Katanya, sih, makin parah sejak jadi kapten. Dia tahu dirinya terkenal. Pengikut media sosialnya banyak banget. Bahkan ada kelompok penggemarnya sendiri.”

“Kelompok penggemar?”

“Iya. Namanya Nara’s Fourth, karena nomor punggungnya empat, nomor ciri khas sebagai kapten dan Point Guard sang ahli strategi di klub basket SMA Perguruan TA.”

Naya hampir tertawa mendengarnya, tetapi rasa geli itu bercampur dengan ketidaksukaan. Di tengah lapangan, Nara kembali memamerkan kemampuannya. Ia menggiring bola melewati beberapa pemain, lalu melakukan lay up dengan gerakan yang sengaja dibuat dramatis. Ketika berhasil, ia menangkupkan tangan di telinga, meminta sorakan lebih keras.

Naya mengembuskan napas. Ternyata seseorang dapat berubah sejauh itu hanya dalam waktu tak sampai satu tahun. Atau mungkin Nara tidak pernah berubah, Nara yang dilihatnya saat ini adalah sosok Nara yang sebenarnya. Mungkin pada hari di halte itu dan pertandingan persahabatan dengan sekolah Kakaknya itu, Naya hanya melihat sebagian kecil dirinya dan membangun gambaran yang terlalu sempurna berdasarkan pertemuan singkat mereka. Mungkin karena pengaruh novel romansa yang sempat dibeli dan dibacanya sehingga imajinasinya tentang Nara mengkaburkannya dengan sosok sebenarnya seorang Nara.

“Sudahlah memang tidak boleh berekspektasi pada manusia…,” gumam Naya.

Kimi menoleh. “Kamu ngomong apa?”

“Nggak, nggak ngomong apa-apa.”

Naya berusaha mengalihkan pandangan. Ia membenarkan posisi kartu peserta dan memaksakan dirinya untuk memperhatikan penampilan ekstrakurikuler berikutnya. Mulai hari ini, ia memutuskan untuk melupakan Nara sekali lagi.

Ia datang ke SMA Perguruan TA untuk belajar dan meraih masa depan, bukan untuk mengagumi senior yang ternyata terlalu mencintai perhatian dari orang-orang disekelilingnya. Reksa, Kakaknya juga populer dan sama hebatnya dalam kemampuan bermain basket, namun sikapnya menghadapi penggemar sungguhlah bertolak belakang dengan Nara. Sudah paling benar jika ia mengagumi sosok kakak lelakinya itu dibandingkan orang lain, contohnya Nara.

***

Setelah seluruh penampilan berakhir, para siswa baru diminta berdiri untuk mengikuti tur sekolah. Kelompok sembilan mendapat giliran pertama mengunjungi gedung olahraga. Naya dan Kimi berjalan di bagian belakang barisan.

Ketika melewati koridor di samping lapangan basket, sebuah bola berwarna oranye menggelinding dan berhenti tepat di depan sepatu Naya.

“Boleh oper bolanya?”

Naya mengenali suara itu dan mengangkat kepala.

Nara berdiri beberapa meter di hadapannya. Keringat membasahi bagian depan rambutnya, sementara handuk putih melingkar di leher. Beberapa anggota klub basket berada di belakangnya.

Naya menendang bola perlahan ke arah Nara.

Lelaki itu menangkapnya dengan satu tangan. Awalnya, ia hendak langsung berbalik. Namun, tatapannya kembali kepada Naya. Keningnya sedikit berkerut, seperti sedang berusaha mengingat sesuatu.

Naya menahan napas sambil berkomat-kamit dalam diam berharap seniornya itu lupa tentang dirinya yang pernah bertemu dua kali dengan Nara.

“Sebentar,” kata Nara.

Ia berjalan mendekat. “Apakah kita pernah ketemu?”

Naya menatap wajah yang pernah menjadi salah satu alasan rahasianya belajar mati-matian agar diterima di sekolah itu. Kini, wajah yang sama justru menimbulkan rasa kesal.

“Mungkin Kakak salah orang,” jawab Naya datar.

Nara tidak langsung percaya. Matanya turun ke kartu nama di leher Naya sebelum Naya sempat menyembunyikan kartu tersebut

“Dahayu Nayanika Arutala,” bacanya sambil tersenyum kecil. Senyum yang sama seperti di halte waktu itu. “Nama yang cantik.”

“Aku ingat,” lanjut Nara. “Kamu anak yang kutemui dua kali, pertama di halte dan yang kedua hampir tertabrak karena sibuk main ponsel pada saat aku melakukan pertandingan persahabatan disini melawan SMA Garuda.”

Beberapa pemain basket di belakang Nara tertawa.

Wajah Naya langsung memanas.

“Aku nggak hampir tertabrak.”

“Masih menyangkal juga.”

Nara memantulkan bola sekali, kemudian menatap seragam Naya dari atas sampai bawah.

“Jadi akhirnya kamu masuk sini.”

Naya terdiam.

Ia tidak ingat pernah mengatakan kepada Nara bahwa dirinya ingin bersekolah di SMA Perguruan TA. Bahkan, saat pertemuan mereka di halte dan menuju tempat pertandingan basket persahabatan, percakapan berlangsung sangat singkat.

“Memangnya Kakak tahu aku mau masuk sini?”

“Dulu kamu lihat gedung sekolahnya seperti orang yang penuh ketakjuban.” Nara mengangkat bahu. “Mudah ditebak dari awal.”

Suara para penggemarnya kembali memanggil dari dalam lapangan.

“Kak Nara!”

Nara menoleh dan mengangkat tangan, memberikan isyarat bahwa ia akan segera kembali. Senyum puas kembali muncul di wajahnya saat namanya diteriakkan.

Pemandangan itu membuat kekaguman Naya yang sempat bangkit langsung menghilang.

“Selamat datang di Perguruan TA, Naya,” kata Nara. “Semoga kamu nggak menyesal masuk ke sini.”

Naya menatapnya tanpa senyum, “Belum sehari saja, aku sudah mulai mempertanyakannya.”

Alis Nara terangkat. Sebelum ia sempat bertanya, Naya berbalik dan mengejar kelompoknya. Kimi berjalan cepat di sampingnya dengan mata membesar.

“Naya! Kamu kenal Nara?”

“Nggak.”

“Tapi dia ingat nama kamu!” Kimi menggoyang-goyangkan lengan kanan Naya untuk meminta penjelasan lebih lanjut.

“Dia membaca kartu namaku.”

“Dia bilang kalian pernah ketemu.”

“Cuma kebetulan.”

Kimi terus mengajukan pertanyaan, tetapi Naya memilih mempercepat langkah. Di belakangnya, ia dapat mendengar suara tawa anggota klub basket dan sorakan para penggemar Nara.

Naya menggenggam tali tasnya erat. Hari pertamanya di SMA Perguruan TA seharusnya menjadi permulaan yang menyenangkan. Ia telah berhasil masuk ke sekolah impiannya, mengenakan seragam yang selama ini hanya dapat dibayangkannya, serta bersiap menjalani kehidupan baru menuju salah satu jenjang menuju dunia kedewasaan.

Namun semuanya mendadak berubah menjadi mimpi buruk. Sekolah impian itu ternyata menyimpan seseorang dari masa lalu Naya. Seseorang yang pernah ia kagumi. Seseorang yang kini membuatnya kesal hanya dalam waktu kurang dari lima menit dan berharap kedepannya tidak akan ditemuinya lagi. Bersabarlah untuk satu tahun kedepan Dahayu Nayanika Arutala! Ingat, jangan sampai masa depanmu menjadi terganggu hanya karena seorang Narain Shankara Naradipta!

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!