Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Vonis Tiga Tahun
Lampu ruang pemeriksaan terlalu putih.
Kirana duduk di kursi besi dengan selimut tipis menutupi bahunya. Gaun pengantin yang basah sudah diganti dengan pakaian tahanan sementara, tetapi rasa dingin dari malam hujan itu masih tertinggal di kulitnya. Di seberang meja, seorang penyidik perempuan membuka map berisi foto tempat kejadian.
"Kirana Li," ucap petugas itu, "kami akan mengulangi pertanyaan. Apa hubungan Anda dengan korban, Alexander Sim?"
Kirana menelan ludah. Suaranya serak karena terlalu banyak menangis dan menjelaskan.
"Dia kerabat keluarga tunangan saya."
"Reuben Sim?"
"Iya."
Petugas mencatat. "Kenapa Anda berada di gudang belakang rumah Boyantara malam itu?"
"Ada pesan dari Jessica." Kirana langsung menegakkan punggung. "Jessica Lim. Dia bilang Reuben menunggu saya di sana."
"Ponsel Anda belum ditemukan."
"Karena diambil." Tangan Kirana mengepal di bawah selimut. "Saya yakin diambil."
Petugas perempuan itu tidak mengejek. Ia hanya menatap Kirana dengan ekspresi datar yang lebih menyakitkan daripada ejekan.
"Saksi di rumah mengatakan Anda datang dari arah gudang dengan pakaian berlumur darah. Sidik jari Anda ditemukan pada batu yang diduga digunakan untuk memukul korban."
"Saya tidak menyentuh batu itu saat sadar."
"Tetapi sidik jari Anda ada di sana."
"Karena seseorang menekankan tangan saya saat saya pingsan." Napas Kirana mulai cepat. "Tolong cari Jessica. Tanya dia. Periksa kamera. Periksa ponsel saya."
Petugas membalik halaman. "Kamera di dekat gudang rusak sejak sore. Menurut teknisi rumah, listrik area belakang sempat padam."
Kirana merasa lantai bergerak di bawah kakinya.
Semuanya terlalu rapi.
Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
"Saya dijebak," katanya. Kali ini suaranya pelan. "Saya benar-benar dijebak."
Di sudut ruangan, pengacara bantuan hukum yang baru ditemuinya pagi itu hanya menghela napas. Pria itu tidak tua, tetapi wajahnya sudah lelah sebelum bekerja. Ia membuka berkas dengan gerakan lambat.
"Nona Kirana," katanya, "untuk saat ini, yang paling penting adalah kooperatif. Kalau Anda terus menyebut nama orang tanpa bukti, posisi Anda makin sulit."
Kirana menatapnya. "Jadi saya harus diam?"
"Saya tidak bilang begitu."
"Tapi Bapak tidak percaya saya."
Pengacara itu tidak menjawab.
Diamnya cukup.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti lorong tanpa ujung. Kirana mengulang cerita yang sama kepada penyidik berbeda. Ia menggambar ulang posisi gudang. Ia menyebut nama Jessica sampai lidahnya terasa kering. Ia meminta rekaman kamera. Ia meminta ponselnya dicari lagi.
Setiap permintaan kembali kepadanya dalam bentuk kalimat pendek.
Tidak ditemukan.
Tidak cukup bukti.
Saksi tidak mendukung.
Sementara itu, berita mulai bergerak lebih cepat daripada kebenaran.
Foto dirinya dengan gaun pengantin basah muncul di beberapa akun gosip. Judul-judulnya tajam. Calon pengantin membunuh keluarga konglomerat. Skandal berdarah di rumah Boyantara. Nama Kirana Li berubah menjadi bahan bisik-bisik yang dikunyah orang di warung kopi, grup WhatsApp keluarga, dan kolom komentar yang tidak pernah ia baca tetapi tetap melukainya.
Kabar itu sampai kepada Herman Li.
Ayah angkatnya, yang selama ini tidak banyak bicara tetapi pernah menjadi satu-satunya nama keluarga yang membuat Kirana merasa punya rumah, jatuh sakit setelah menonton berita. Serangan jantung, kata tetangga yang datang menjenguk ke kantor polisi. Rumah mereka yang kecil mendadak penuh tagihan dan orang-orang yang datang bukan untuk menolong, melainkan memastikan mereka tidak ikut terseret malu.
Sylvia Leng tidak datang membawa pakaian bersih.
Ia datang membawa wajah marah.
"Kamu benar-benar membawa sial ke keluarga ini," katanya dari balik ruang kunjungan. "Papa kamu masuk rumah sakit. Jonathan tidak bisa keluar rumah karena orang-orang membicarakan kita."
Kirana menggenggam gagang kursi. "Ibu, aku tidak melakukannya."
"Jangan panggil aku Ibu kalau ujungnya hanya minta dipercaya tanpa bukti."
Kalimat itu membuat Kirana diam.
Setelah Sylvia pergi, Kirana duduk lama di ruang tahanan sementara. Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang berputar sampai membuatnya mual.
Jika semua orang memilih tidak percaya, apakah kebenaran masih punya tempat untuk berdiri?
Bulan berganti dengan cepat di luar jendela jeruji, tetapi di dalam proses hukum, waktu terasa seperti pisau tumpul yang terus digesekkan ke tulang.
Sidang pertama di Pengadilan Negeri berlangsung dengan ruangan penuh pengunjung. Keluarga Sim duduk di barisan depan. Jessica hadir dengan pakaian hitam sederhana, wajahnya pucat, matanya sembap. Ia memegang tisu seolah kesedihannya terlalu besar untuk ditanggung.
Reuben duduk dua kursi darinya.
Kirana masuk dengan langkah pelan. Saat matanya mencari Reuben, pria itu menoleh sebentar, lalu segera mengalihkan pandangan.
Jessica dipanggil sebagai saksi. Ia berdiri dengan suara yang sengaja dibuat rapuh, mengaku melihat Kirana keluar dari arah belakang rumah dengan mata kosong dan gaun bernoda darah. Ia menangis saat menyebut nama Alexander Sim, lalu meminta maaf karena "tidak cukup cepat menolong". Ruang sidang bergerak bersama air matanya. Kirana melihat orang-orang mengangguk, seolah air mata lebih kuat daripada fakta yang hilang.
Di depan hakim, jaksa membacakan dakwaan dengan suara mantap. Pembunuhan. Motif pertengkaran. Bukti darah. Sidik jari. Kesaksian bahwa Kirana terlihat panik keluar dari area belakang.
Pengacara bantuan hukumnya berdiri dan menyampaikan pembelaan. Singkat. Terlalu singkat. Ia menyebut kliennya tidak mengakui perbuatan, meminta majelis hakim mempertimbangkan usia muda dan kondisi psikologis terdakwa.
Kirana menoleh kepadanya.
Kondisi psikologis?
Ia bukan orang yang kehilangan kendali. Ia korban.
Namun ketika ia ingin berdiri, petugas di sampingnya memberi isyarat agar ia tetap duduk.
Sidang demi sidang berjalan seperti itu. Bukti yang seharusnya menyelamatkannya tidak pernah muncul. Ponselnya tidak ditemukan. Kamera rusak. Saksi keluarga Sim berbicara hati-hati, semuanya menjaga nama keluarga lebih daripada mencari siapa yang benar-benar mengayunkan batu malam itu.
Pada sidang terakhir, Kirana diminta berbicara.
Ia berdiri. Kakinya gemetar, tetapi suaranya tidak lagi menangis.
"Saya tidak membunuh Alexander Sim," katanya. "Saya dijebak. Mungkin hari ini tidak ada yang percaya saya. Tapi suatu hari, orang yang melakukan ini akan berdiri di tempat yang sama seperti saya."
Ruang sidang sunyi.
Jessica menunduk. Reuben menatap lantai.
Hakim mengetuk berkas, lalu membacakan putusan.
Tiga tahun penjara.
Kirana mendengar angka itu seperti mendengar pintu besi ditutup dari dalam kepalanya.
Di belakang ruang sidang, Reuben bangkit. Untuk sesaat, Kirana mengira ia akan menoleh, akan mengatakan sesuatu, akan memberi tanda bahwa setidaknya ada bagian kecil dari dirinya yang masih ragu.
Namun Reuben hanya berjalan keluar.
Punggungnya lurus, dingin, dan jauh.
Jessica mengikutinya beberapa langkah di belakang.
Kirana tidak menangis lagi. Matanya kering sampai terasa sakit. Ketika petugas menyentuh sikunya, ia berjalan tanpa melawan. Suara palu sidang tadi masih berulang di telinganya, bercampur dengan suara hujan dari malam pernikahan yang tidak pernah selesai.
Tiga tahun kemudian, pintu Lembaga Pemasyarakatan terbuka pelan.
Kirana berdiri di ambangnya dengan tas kain kecil di tangan, rambut lebih panjang, tubuh lebih kurus, dan mata yang tidak lagi mencari siapa pun untuk mempercayainya.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔